Tragedi di Sabana 2: Kisah Pilu Pendaki Wanita yang Menjadi Korban Predator Berkedok Pemandu di Gunung Merbabu
SuaraInfo — Dunia pendakian Indonesia kembali tercoreng oleh aksi tidak terpuji yang menimpa seorang pendaki wanita. Di balik keindahan sabana dan dinginnya udara puncak, terselip sebuah kisah kelam tentang pengkhianatan kepercayaan. Seorang pendaki berinisial F (26) harus menelan pil pahit setelah menjadi korban dugaan pelecehan seksual yang dilakukan oleh oknum pemandu pendakian yang ia sewa jasanya saat mendaki Gunung Merbabu.
Awal Mula Perkenalan di Jagat Maya
Kejadian traumatis ini bermula dari interaksi di media sosial X (dahulu Twitter). F, seorang pendaki asal Banjarnegara yang kini berdomisili di Purwokerto, berniat melakukan pendakian Gunung Merbabu. Karena keterbatasan waktu dan jadwal kerja yang padat, ia memutuskan untuk mencari jasa pemandu profesional demi kenyamanan dan keamanan perjalanannya.
Pilihannya jatuh pada sosok H (29), pria asal Grobogan yang kerap membagikan konten seputar dunia pendakian. Profil H yang tampak meyakinkan di media sosial membuat F menaruh kepercayaan penuh. Dalam percakapan awal, H mengaku sudah berpengalaman memandu private trip hingga ke Gunung Rinjani, sebuah klaim yang cukup untuk membuat pendaki manapun merasa tenang di bawah bimbingannya.
Modus Operasi dan Pergeseran Biaya
Namun, sejak awal rencana keberangkatan, sudah ada gelagat yang kurang mengenakkan. Awalnya, disepakati biaya private trip sebesar Rp 1 juta. Namun, secara sepihak H mengubah skema tersebut menjadi open trip, dengan dalih F tetap harus menanggung biaya administrasi, logistik, dan keperluan bersama yang totalnya tetap mencapai angka Rp 1 juta. Meskipun sempat merasa ada yang janggal, F tetap melanjutkan rencana tersebut karena ia sangat ingin mendaki di tengah kesibukan mutasi kerjanya.
“Kalau sekarang saya baru sadar bahwa itu adalah modus. Awalnya saya pikir dia memang membuka jasa profesional karena klaim pengalamannya membawa rombongan ke Rinjani,” ungkap F dalam kesaksiannya yang kini viral di media sosial. Harapan untuk mendapatkan keamanan dan kenyamanan justru menjadi pintu masuk menuju petaka yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Malam Kelam di Sabana 2 Merbabu
Perjalanan dimulai pada Jumat (29/5) melalui jalur Selo, Boyolali. Keduanya berangkat dari Yogyakarta menuju titik pendakian menggunakan sepeda motor. Target mereka adalah mendirikan kemah di Sabana 2, salah satu spot paling ikonik di Merbabu. Setelah perjalanan yang melelahkan, tenda berkapasitas empat orang didirikan di lokasi yang cukup terisolasi: di depan jurang dan di belakang semak-semak.
Di dalam tenda tersebut, tragedi itu terjadi. Setelah makan malam, F yang kelelahan segera beristirahat di dalam sleeping bag-nya. Suasana malam yang dingin dan sunyi di Gunung Merbabu berubah mencekam bagi F. Saat ia setengah terlelap, ia merasakan ada tangan yang mulai meraba bagian sensitif tubuhnya. F sempat menepis tangan tersebut, namun pelaku yang tak lain adalah pemandunya sendiri, terus mencoba melakukan aksi bejatnya berulang kali.
Terjepit Antara Ketakutan dan Bahaya Alam
F menggambarkan momen tersebut sebagai situasi yang sangat menekan secara psikologis. Ia ingin berteriak dan lari, namun posisi tenda yang tepat berada di depan jurang membuatnya merasa terpojok. Ada ketakutan luar biasa jika ia melakukan perlawanan yang agresif, situasi di luar tenda yang gelap dan berbahaya justru bisa mengancam nyawanya.
“Saya ingin menangis, ingin lari, tapi di depan tenda itu jurang. Saya takut kalau berteriak, orang malah mengira saya sedang mengalami freeze (hipotermia) atau hal lain, dan pelaku bisa saja melakukan hal yang lebih nekat,” kenang F dengan nada getir. Ia akhirnya hanya bisa merapatkan sleeping bag dan menyilangkan tangan di depan dada, mencoba melindungi diri sebisanya di tengah ketidakberdayaan.
Trauma Mendalam dan Proses Menuntut Keadilan
Keesokan harinya, F segera meminta untuk turun gunung. Namun, dalam perjalanan turun, mereka sempat tersesat sebelum akhirnya ditolong oleh pendaki lain yang menunjukkan jalur yang benar. Sepulangnya dari pendakian, kehidupan F tidak lagi sama. Ia mengalami trauma hebat yang membuatnya kehilangan nafsu makan, tidak bisa tidur, dan dilanda kegelisahan luar biasa. Bahkan, ia sempat harus menjalani perawatan medis dan mendapatkan infus karena kondisi fisiknya yang merosot tajam.
F tidak tinggal diam. Ia menceritakan kejadian ini kepada kakaknya dan meminta agar H ditemui untuk dimintai pertanggungjawaban. Pada Kamis (4/6), pertemuan dilakukan di sebuah tempat makan di Purwokerto. Alih-alih mengakui perbuatannya dan meminta maaf dengan tulus, H justru mencoba menyangkal kronologi kejadian dan menolak membuat video klarifikasi.
Mediasi Kepolisian dan Sanksi Sosial
Karena sikap pelaku yang tidak kooperatif, F sempat mengancam akan membawa kasus ini ke jalur hukum. Setelah melalui proses yang alot dan melibatkan mediasi di Polsek terdekat, H akhirnya bersedia membuat surat pernyataan maaf tertulis. Foto surat tersebut beserta pengakuan H kemudian diunggah di akun media sosial milik pelaku sebagai bentuk pengakuan publik.
Meski belum membawa kasus ini ke meja hijau secara resmi, F merasa bahwa sanksi sosial yang kini diterima pelaku sudah cukup berat. Identitas pelaku kini telah diketahui oleh komunitas pendaki luas, yang diharapkan dapat mencegah adanya korban-korban baru di masa depan. Kasus ini menjadi pengingat keras bagi para pendaki, terutama wanita, untuk selalu waspada dan lebih selektif dalam memilih pemandu gunung maupun rekan perjalanan di alam bebas.
Pentingnya Keamanan dalam Pendakian Solo dan Private
Kejadian yang menimpa F menyoroti pentingnya edukasi keamanan bagi para pendaki. Menggunakan jasa pemandu memang dianjurkan bagi pendaki pemula atau mereka yang ingin kenyamanan ekstra, namun melakukan riset mendalam terhadap kredibilitas penyedia jasa adalah hal yang wajib. Pastikan pemandu memiliki sertifikasi resmi atau berada di bawah naungan operator pendakian yang terpercaya.
Selain itu, bagi pendaki wanita yang melakukan private trip, sangat disarankan untuk mengajak minimal satu rekan yang sudah dikenal baik guna menghindari situasi berdua saja dengan orang yang baru dikenal di lokasi yang terpencil. Kasus ini kini menjadi bahan evaluasi bagi komunitas pendaki di seluruh Indonesia untuk menciptakan lingkungan kegiatan alam bebas yang aman dan inklusif bagi semua kalangan.