Ritual Wingit Malam Satu Suro: Persiapan Kebo Bule Kyai Slamet Mengawal Tradisi Keraton Kasunanan Surakarta

Dimas Pratama | SuaraInfo
14 Jun 2026, 09:27 WIB
Ritual Wingit Malam Satu Suro: Persiapan Kebo Bule Kyai Slamet Mengawal Tradisi Keraton Kasunanan Surakarta

SuaraInfo — Suasana mistis sekaligus khidmat mulai menyelimuti Kota Solo menjelang pergantian tahun dalam kalender Jawa. Sebagai jantung kebudayaan Jawa, Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat kini tengah sibuk bersiap menyambut tradisi tahunan yang paling dinanti, yakni Kirab Pusaka Malam Satu Suro. Salah satu elemen yang paling ikonik dan dianggap sakral dalam prosesi ini adalah kehadiran Mahesa Kyai Slamet, atau yang lebih dikenal masyarakat luas sebagai kebo bule.

Baru-baru ini, lima ekor kebo bule keturunan langsung dari pusaka Kyai Slamet akhirnya dilepaskan dari kandangnya. Langkah ini bukan sekadar aktivitas rutin, melainkan bagian dari ritual ‘Gladi Mahesa’ atau latihan fisik bagi para kerbau sebelum mereka mengemban tugas suci mengawal pusaka dalem mengitari tembok keraton pada Selasa (16/6) malam mendatang. Pelepasan ini menjadi sinyal kuat bahwa hajatan besar Malam Satu Suro Tahun Be 1960 sudah di depan mata.

Peregangan Otot Sang Pengawal Pusaka

Pelepasan lima ekor kebo bule ini dilakukan di kawasan Alun-alun Kidul Keraton Solo. Setelah sekian lama menghabiskan waktu di dalam kandang, hewan-hewan yang dianggap membawa berkah ini memerlukan adaptasi fisik sebelum menempuh rute kirab yang panjang dan dipadati ribuan warga. Serati Mahesa (pawang kerbau), Heri, menjelaskan bahwa prosesi keluar kandang ini akan berlangsung selama dua hari berturut-turut.

Baca Juga Menelusuri Jejak Waktu di Stasiun Bersejarah Jakarta: Dari Kemegahan Art Deco hingga Nadi Transportasi Modern
Menelusuri Jejak Waktu di Stasiun Bersejarah Jakarta: Dari Kemegahan Art Deco hingga Nadi Transportasi Modern

“Kami mengeluarkan mereka hari ini dan besok sebagai bentuk latihan jalan. Karena sudah cukup lama tidak keluar kandang, kaki-kaki mereka cenderung kaku. Dengan berjalan-jalan mengelilingi kawasan keraton, kami berharap otot mereka kembali lemas dan siap untuk berjalan jauh saat malam kirab nanti,” ujar Heri saat ditemui di sela-sela kegiatannya mendampingi para kerbau, Sabtu (13/6).

Menariknya, saat pertama kali menginjakkan kaki di tanah lapang Alun-alun Kidul, beberapa kerbau sempat menunjukkan kegembiraan yang meluap, bahkan ada yang mencoba berlari kecil. Namun, Heri mencatat bahwa ada pula yang gerakannya masih terlihat berat, sebuah indikasi bahwa latihan tradisi keraton Solo ini memang sangat diperlukan agar kesehatan hewan tetap terjaga.

Mengenal Lima Personel Mahesa Kyai Slamet

Dalam Gladi Mahesa kali ini, terdapat lima ekor kerbau yang disiapkan secara khusus. Formasi ini terdiri dari tiga ekor betina dan dua ekor jantan, masing-masing memiliki nama dan karakter yang berbeda-beda. Sosok yang paling senior adalah Nyai Paing yang kini menginjak usia 13 tahun. Ia didampingi oleh Ponco, Watin, Mugi, dan yang paling bungsu adalah Suro, kerbau muda yang baru berusia 3 tahun.

Baca Juga Denyut Nadi Udara Teheran Kembali Berdetak: Bandara Imam Khomeini Buka Rute Internasional di Tengah Ketidakpastian Global
Denyut Nadi Udara Teheran Kembali Berdetak: Bandara Imam Khomeini Buka Rute Internasional di Tengah Ketidakpastian Global

Layaknya manusia, para kerbau ini juga memiliki dinamika emosional. Heri mengungkapkan bahwa salah satu kerbau sempat terlihat sedikit rewel dan sulit diatur saat pertama kali dilepaskan. Hal ini dianggap wajar oleh para pawang, terutama jika ada kerbau yang sedang dalam masa birahi. Namun, dengan pengawasan ketat dari para Serati, kondisi tersebut biasanya dapat terkendali dalam satu atau dua hari latihan.

“Setelah dua hari berkeliling Keraton, pada hari Senin mereka akan diistirahatkan total. Ini penting untuk mengumpulkan energi sebelum Selasa malam mereka mengikuti puncak acara Kirab Pusaka Dalem,” tambah Heri menjelaskan jadwal ketat persiapan hewan sakral tersebut.

Perawatan Spesial dan Ritual Jamasan

Meskipun kedudukannya sangat istimewa dalam struktur kebudayaan Jawa, dari sisi konsumsi, kebo bule Kyai Slamet tidak menuntut pakan yang terlalu mewah. Menurut para pengurus, mereka rutin diberikan pakan alami berupa ketela pohon, jagung, serta rumput segar. Kekuatan utama mereka berasal dari perawatan yang dilakukan dengan penuh kasih sayang dan penuh penghormatan oleh para abdi dalem.

Baca Juga Eksklusivitas di Awan: Menikmati Staycation Premium di Trans Luxury Hotel Surabaya dengan Penawaran Terbatas
Eksklusivitas di Awan: Menikmati Staycation Premium di Trans Luxury Hotel Surabaya dengan Penawaran Terbatas

Namun, ada satu prosesi yang tidak boleh terlewatkan menjelang kirab, yaitu ritual Jamasan. Jamasan adalah proses memandikan atau menyucikan kerbau yang akan dilakukan pada sore hari sesaat sebelum kirab dimulai. Dalam kepercayaan masyarakat setempat, air bekas jamasan kebo bule ini seringkali menjadi rebutan karena dianggap membawa berkah tersendiri.

Status kebo bule sebagai keturunan Kyai Slamet memiliki akar sejarah yang kuat. Konon, nenek moyang kerbau-kerbau ini adalah hadiah dari Bupati Ponorogo kepada Sri Susuhunan Paku Buwono II. Warna kulit mereka yang albino (putih kemerahan) menjadikannya sangat unik dan berbeda dari kerbau pada umumnya, menjadikannya simbol kemurnian dan keselamatan (slamet).

Dawuh Dalem dan Pesan Ketertiban bagi Masyarakat

Pihak otoritas keraton memastikan bahwa seluruh rangkaian persiapan ini dilakukan atas perintah langsung dari Raja. Juru Bicara Paku Buwono (PB) XIV Purbaya, KPA Singonagoro, menegaskan bahwa Gladi Mahesa merupakan instruksi atau ‘Dawuh Dalem’ dari Sri Susuhunan Paku Buwono XIV. Tujuannya adalah untuk memastikan aspek teknis dan keamanan berjalan sempurna.

Baca Juga Menyingkap Pesona Bumi Nyiur Melambai: Harmoni Alam, Sejarah, dan Kuliner Khas Sulawesi Utara
Menyingkap Pesona Bumi Nyiur Melambai: Harmoni Alam, Sejarah, dan Kuliner Khas Sulawesi Utara

“Gladi Mahesa ini adalah bagian integral dari persiapan Hajad Dalem Kirab Pusaka Dalem Malam 1 Suro. Kita harus memastikan seluruh tahapan, mulai dari kesiapan fisik hewan hingga koordinasi para pengiring, dapat berjalan tertib, khidmat, dan sesuai jadwal yang telah ditetapkan oleh Keraton,” kata KPA Singonagoro.

Beliau juga memberikan imbauan khusus kepada masyarakat yang ingin menyaksikan rangkaian acara ini. Mengingat antusiasme warga yang selalu membeludak dalam setiap perayaan wisata budaya Solo, ketertiban menjadi kunci utama. Masyarakat diminta untuk menjaga jarak yang aman dari para kerbau dan menghormati jalannya prosesi adat tanpa mengganggu kekhusyukan para abdi dalem yang bertugas.

Warisan Budaya yang Terus Lestari

Kehadiran kebo bule dalam Kirab Malam Satu Suro bukan sekadar tontonan, melainkan sebuah refleksi tentang hubungan harmonis antara manusia, alam, dan pencipta. Keraton Solo terus berupaya menjaga warisan ini tetap otentik di tengah arus modernisasi. Bagi masyarakat Solo dan sekitarnya, melihat kebo bule berjalan tenang di tengah kegelapan malam dengan wangi kemenyan yang menyerbak adalah sebuah pengalaman spiritual yang mendalam.

Baca Juga Dilema Revitalisasi Keraton Solo: Upaya Penyelamatan Cagar Budaya di Tengah Badai Dualisme Takhta
Dilema Revitalisasi Keraton Solo: Upaya Penyelamatan Cagar Budaya di Tengah Badai Dualisme Takhta

Dengan dilakukannya Gladi Mahesa ini, Keraton Solo ingin memastikan bahwa tradisi yang sudah berusia ratusan tahun ini tetap terjaga kualitas dan kesakralannya. Kelancaran gladi dalam dua hari ke depan akan menjadi penentu kesuksesan kirab yang akan diikuti oleh ribuan abdi dalem dan disaksikan oleh jutaan pasang mata, baik secara langsung maupun melalui berbagai saluran media.

“Kami berharap seluruh rangkaian kegiatan, mulai dari persiapan hingga hari-H nanti, dapat berlangsung dengan lancar dan aman. Ini adalah identitas kita, warisan budaya bangsa yang harus kita jaga bersama-sama dengan penuh rasa hormat,” tutup KPA Singonagoro dengan penuh harap.

Dimas Pratama

Dimas Pratama

Penjelajah dunia yang gemar membagikan cerita perjalanan unik dan panduan budget travel. Menginspirasi petualangan Anda melalui Info Travel.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *