Jejak Tuan Sayan: Maestro Kanada yang Mewakafkan Hidupnya untuk Gamelan Bali
SuaraInfo — Di tengah rimbunnya lembah Sayan, Ubud, pada dekade 1930-an, sebuah simfoni kehidupan baru saja dimulai. Kala itu, Bali belum dipenuhi hiruk-pikuk pariwisata modern seperti sekarang. Pulau ini masih menjadi hamparan hijau yang mistis, tempat di mana setiap hembusan angin terasa membawa lantunan nada-nada perunggu dari kejauhan. Di sinilah, seorang pria asal Ontario, Kanada, bernama Colin McPhee, menemukan rumah jiwanya yang sesungguhnya.
Masyarakat setempat mengenalnya dengan sebutan hangat, “Tuan Sayan”. Sosoknya bukan sekadar turis asing yang singgah sesaat, melainkan seorang intelektual dan musisi yang jatuh cinta sedalam-dalamnya pada budaya Bali. Perjalanan hidupnya adalah sebuah narasi tentang bagaimana seni mampu meruntuhkan sekat-sekat geografis dan bahasa, menciptakan sebuah jembatan estetika yang masih dikagumi dunia hingga hari ini.
Awal Mula Sebuah Obsesi: Suara dari Gramofon
Semuanya bermula pada tahun 1930 di New York. Colin McPhee, yang kala itu merupakan seorang komposer muda berbakat, secara tidak sengaja mendengarkan beberapa piringan hitam gramofon yang berisi rekaman musik gamelan Bali. Bunyi dentuman gong yang dalam dan kelincahan permainan gangsa yang sinkopatik seketika menyihir akal sehatnya. Baginya, itu bukanlah sekadar musik tradisional, melainkan sebuah struktur matematis yang jenius sekaligus emosional.
Obsesi ini membawa McPhee melakukan perjalanan nekat melintasi samudera. Pada tahun 1931, bersama istrinya yang juga seorang antropolog ternama, Jane Belo, ia menginjakkan kaki di tanah Bali. Keputusannya sudah bulat: ia tidak hanya ingin mendengarkan, ia ingin menghirup, merasakan, dan mendokumentasikan bagaimana energi musik tersebut lahir dari kehidupan sehari-hari masyarakatnya.
Membangun Kehidupan di Banjar Kutuh
Setahun setelah kedatangannya, pada 1932, McPhee dan Belo memutuskan untuk membangun sebuah rumah tradisional yang megah namun bersahaja di Banjar Kutuh, Desa Sayan, Ubud. Lokasi ini dipilih bukan tanpa alasan; pemandangan lembah Ayung yang memukau memberikan ketenangan yang ia butuhkan untuk menulis dan meneliti. Di sinilah identitasnya sebagai “Tuan Sayan” mulai melekat.
McPhee segera menyadari bahwa di Bali, seni tidak berdiri sendiri. Seni dan budaya adalah napas dari setiap ritual. Ia menulis secara mendalam tentang bagaimana setiap upacara keagamaan, dari yang terkecil hingga yang paling kolosal, selalu melibatkan musik sebagai elemen sakral. Baginya, Bali adalah laboratorium estetika yang hidup, di mana musik adalah hukum alam yang ditaati oleh semua lapisan masyarakat.
Persahabatan dengan I Sampih: Sang Penari Legendaris
Salah satu babak paling emosional dalam kehidupan McPhee adalah pertemuannya dengan I Sampih. Sampih adalah seorang pemuda desa yang memiliki bakat alam luar biasa dalam menari. McPhee melihat potensi besar di balik keluwesan gerak pemuda ini. Melalui bimbingan dan dukungan McPhee, I Sampih tidak hanya menjadi penari lokal, tetapi berkembang menjadi sosok kharismatik yang membawa nama Bali ke kancah internasional.
Kisah persahabatan mereka adalah bukti nyata dari pertukaran budaya yang tulus. I Sampih kemudian bergabung dengan kelompok Gong Gunung Sari Peliatan, sebuah grup yang nantinya akan mengguncang panggung-panggung dunia di Eropa dan Amerika. Melalui mata McPhee, kita melihat bagaimana seorang bocah desa mampu bertransformasi menjadi representasi keagungan sejarah Ubud dan seni pertunjukan Bali.
Warisan Literasi: Dari ‘A House in Bali’ hingga ‘A Club of Small Men’
McPhee bukan hanya seorang pendengar yang baik, tetapi juga penulis yang handal. Bukunya yang fenomenal, A House in Bali, bukan sekadar memoar perjalanan. Buku tersebut adalah narasi puitis tentang kecintaan seorang manusia terhadap tanah yang asing namun terasa akrab. Ia menggambarkan dengan detail teknis namun tetap indah tentang bagaimana gamelan bekerja, tentang struktur ritme yang kompleks namun selaras dengan detak jantung.
Tak berhenti di sana, ia juga menerbitkan A Club of Small Men. Buku ini memiliki perspektif yang unik karena menyoroti sekelompok anak-anak di Sayan, berusia lima hingga delapan tahun, yang memiliki ambisi besar untuk membentuk kelompok musik sendiri. McPhee dengan penuh kasih menceritakan bagaimana anak-anak ini meniru gerakan ayah mereka, memukul bilah-bilah bambu, dan bermimpi untuk menjadi seniman besar. Karya ini memberikan pemahaman bahwa regenerasi seni di Bali terjadi secara alami melalui sistem sosial yang kuat.
Akademisi dan Dedikasi Akhir di UCLA
Setelah bertahun-tahun hidup di Bali, McPhee membawa pengetahuannya kembali ke Barat. Namun, Bali tidak pernah benar-benar meninggalkan hatinya. Pada tahun 1958, ia diangkat sebagai Profesor etnomusikologi di University of California Los Angeles (UCLA). Di sana, ia menjadi salah satu pionir yang memperkenalkan musik Timur ke dalam kurikulum akademis Barat dengan cara yang terhormat.
Hingga akhir hayatnya, McPhee mendedikasikan waktunya untuk menyusun The Music in Bali. Buku ini sering dianggap sebagai kitab suci bagi para peneliti musik tradisional. Meskipun buku ini diterbitkan secara anumerta pada tahun 1966—dua tahun setelah ia tiada—bantuan dari Dr. Mantle Hood memastikan bahwa warisan intelektual Tuan Sayan tetap utuh. Buku ini tetap menjadi studi komprehensif pertama dan terlengkap mengenai gamelan Bali dalam bahasa Inggris.
Kesimpulan: Sebuah Cinta yang Melampaui Zaman
Colin McPhee telah membuktikan bahwa wisata budaya yang sejati bukan hanya tentang melihat, tetapi tentang memahami dan memberi kembali. Ia tidak hanya mengambil inspirasi dari Bali, tetapi ia juga membantu mendokumentasikan dan melestarikan sebuah tradisi yang mungkin saja tergerus zaman jika tidak ada yang mencatatnya dengan penuh ketelitian.
Kini, jika Anda berkunjung ke Sayan, Ubud, mungkin jejak fisiknya sudah memudar seiring waktu. Namun, setiap kali suara gamelan mengalun di udara lembah, kita akan teringat pada Tuan Sayan—seorang warga dunia yang menemukan rumahnya di sela-sela nada perunggu, dan melalui tulisannya, ia mengajak dunia untuk jatuh cinta pada Bali, sekali lagi dan selamanya.