Belajar dari Kopenhagen: Ambisi Rano Karno Mengubah Kota Tua Jakarta Menjadi Ikon Dunia yang Manusiawi
SuaraInfo — Jakarta tengah berada di persimpangan jalan menuju transformasi besar sebagai kota global. Dalam upaya menyelaraskan modernitas dengan warisan sejarah, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menoleh jauh ke arah utara Benua Eropa, tepatnya ke Kopenhagen, Denmark. Kota yang telah berdiri tegak selama lebih dari sembilan abad tersebut kini menjadi cetak biru bagi Jakarta dalam merumuskan kembali masa depan kawasan bersejarahnya, terutama di tengah ambisi besar melakukan revitalisasi menyeluruh terhadap Kota Tua.
Wakil Gubernur DKI Jakarta, Rano Karno, baru-baru ini melakukan kunjungan kerja strategis ke ibu kota Denmark tersebut. Langkah ini diambil bukan sekadar sebagai studi banding rutin, melainkan sebuah misi untuk menyerap esensi dari keberhasilan Kopenhagen dalam menyeimbangkan pelestarian warisan masa lalu dengan kebutuhan masyarakat modern yang dinamis. Menurut Rano, Kopenhagen adalah bukti nyata bahwa sebuah kota bisa tumbuh menjadi pusat ekonomi dunia tanpa harus menanggalkan identitas historisnya yang kuat.
Menghidupkan Kembali ‘Oud Batavia’ dengan Spirit Nordik
Dalam narasi pembangunan kota, kawasan bersejarah seringkali terjebak di antara dua pilihan sulit: dibiarkan lapuk dimakan usia atau dihancurkan demi pembangunan infrastruktur baru. Namun, Jakarta ingin mengambil jalan ketiga yang lebih bijaksana. Melalui penataan kawasan bersejarah yang terintegrasi, Pemprov DKI Jakarta berupaya menghadirkan ruang yang tidak hanya cantik secara visual, tetapi juga fungsional dan berkelanjutan.
Rano Karno menegaskan bahwa Kopenhagen memberikan inspirasi luar biasa mengenai bagaimana ruang-ruang publik dikelola dengan mengedepankan kualitas hidup warga. Kunjungan tersebut merupakan bagian dari upaya mempercepat transformasi Jakarta menjadi kota yang lebih hijau, nyaman, dan ramah terhadap setiap lapisan masyarakat. Fokus utama dari rencana besar ini adalah kawasan Kota Tua yang kini tengah bersiap memasuki babak baru dalam sejarah panjangnya.
Tim Khusus dan Payung Hukum Revitalisasi
Keseriusan Pemprov DKI Jakarta dalam menggarap proyek ini tercermin dari pembentukan tim khusus yang berlandaskan Keputusan Gubernur Nomor 1153 Tahun 2025. Dalam struktur tersebut, Wakil Gubernur sendiri yang memegang kendali sebagai Ketua Revitalisasi dan Penataan Kota Tua. Ini menandakan bahwa proyek ini memiliki prioritas tinggi dalam agenda pembangunan Jakarta sebagai Kota Global.
Pengerjaan kawasan ini tidak akan dilakukan secara eksklusif oleh pemerintah saja. Strategi yang diusung adalah kolaborasi lintas sektor yang melibatkan pemerintah pusat, pelaku usaha, berbagai komunitas kreatif, hingga sektor swasta. Tujuannya jelas: menciptakan sebuah kawasan yang inklusif, di mana sejarah tidak hanya dipandang sebagai benda mati di dalam museum, melainkan sebuah ruang hidup yang mampu menghidupi ekosistem ekonomi dan sosial di sekitarnya.
Memahami Filosofi ‘Livable City’ dari Kopenhagen
Dalam kunjungannya, Rano Karno mengadakan pertemuan mendalam dengan Andreas Kiel, Mayor of Employment, Integration, and Business untuk Kota Kopenhagen. Dalam pertemuan tersebut, kedua belah pihak mendiskusikan strategi pembangunan kota berkelanjutan (sustainable city) dan layak huni (livable city). Kopenhagen selama ini memang dikenal dunia karena kemampuannya menciptakan lingkungan yang sangat memanjakan pejalan kaki dan pengguna sepeda.
“Jakarta sedang memperkuat transformasi menuju kota global yang tidak hanya maju secara ekonomi, tetapi juga nyaman dihuni dan tetap memiliki identitas kuat yang berpihak pada kualitas hidup masyarakat,” ungkap Rano dalam pernyataan resminya. Poin penting yang digarisbawahi adalah bagaimana pembangunan berkelanjutan dapat dioptimalkan untuk meningkatkan pendapatan daerah tanpa mengorbankan kenyamanan warga.
Infrastruktur Hijau dan Ruang Publik yang Setara
Salah satu kunci sukses Kopenhagen yang ingin diadaptasi di Jakarta adalah pengembangan kawasan tepi air (waterfront) yang bersih dan ruang publik yang dapat diakses secara setara. Di Kopenhagen, ruang publik bukan sekadar lahan kosong, melainkan titik temu interaksi sosial yang dirancang dengan sangat detail untuk kenyamanan manusia, bukan kendaraan bermotor.
Jakarta berencana untuk mengadopsi pendekatan ini dengan menyesuaikannya pada karakter lokal. Diskusi dengan Pemerintah Kota Kopenhagen menyimpulkan bahwa konsep kota layak huni tidak bisa serta-merta disalin secara identik. Mengingat Jakarta adalah kota tropis dengan kelembapan tinggi, maka tantangannya adalah menghadirkan lebih banyak area teduh, vegetasi yang rimbun, serta ruang interaksi yang terlindung dari terik matahari namun tetap terbuka.
Beberapa poin utama yang dipelajari dari tata kelola Kopenhagen antara lain:
- Optimalisasi jalur sepeda yang aman dan terhubung dengan transportasi massal.
- Penyediaan ruang terbuka hijau yang berfungsi sebagai paru-paru kota sekaligus tempat rekreasi warga.
- Pengelolaan jejaring kota global untuk menarik investasi berkualitas yang ramah lingkungan.
- Penguatan ekonomi lokal melalui aktivasi ruang-ruang publik bersejarah.
Menuju Jakarta yang Lebih ‘Vibrant’
Transformasi Kota Tua Jakarta diharapkan menjadi pemicu bagi kawasan-kawasan lain di Jakarta untuk ikut berbenah. Dengan visi menjadikannya lebih vibrant atau bersemangat, kawasan ini diproyeksikan menjadi daya tarik wisata kelas dunia yang sejajar dengan kawasan bersejarah di Eropa, namun dengan cita rasa Nusantara yang kental.
Pengembangan ini juga mencakup aspek digitalisasi dan kemudahan berusaha di dalam kawasan, sehingga anak muda dan komunitas kreatif merasa memiliki tempat untuk berkarya. Pemerintah Kota Kopenhagen memberikan catatan penting bahwa identitas kota adalah aset termahal yang dimiliki sebuah bangsa. Oleh karena itu, dalam setiap jengkal pembangunan di Kota Tua, napas sejarah dari era Oud Batavia tetap akan dipertahankan sebagai fondasi utama.
Tantangan dan Harapan di Masa Depan
Membangun kota yang layak huni di tengah kepadatan Jakarta tentu bukan perkara mudah. Dibutuhkan konsistensi dalam penegakan aturan serta keberanian untuk melakukan perubahan radikal dalam tata ruang. Namun, dengan belajar dari keberhasilan Kopenhagen, Jakarta kini memiliki panduan yang lebih jelas tentang bagaimana seharusnya sebuah kota global memperlakukan warganya.
Harapannya, melalui sentuhan revitalisasi yang tepat, Jakarta tidak hanya akan dikenal sebagai pusat bisnis yang sibuk, tetapi juga sebagai kota yang memiliki jiwa, di mana setiap warganya dapat menikmati kualitas hidup yang lebih baik, menghirup udara yang lebih segar, dan bangga akan warisan sejarah yang tetap lestari di tengah kemajuan zaman.
Redaksi SuaraInfo akan terus memantau perkembangan proyek ambisius ini. Transformasi Jakarta adalah perjalanan panjang, dan langkah menuju Kopenhagen ini hanyalah awal dari sebuah revolusi urban yang akan mengubah wajah ibu kota kita tercinta untuk generasi mendatang.