Berantas Pungli di Berastagi: Polisi Amankan Pelaku Pemalakan Wisatawan di Pemandian Air Panas Doulu

Dimas Pratama | SuaraInfo
15 Jun 2026, 11:27 WIB
Berantas Pungli di Berastagi: Polisi Amankan Pelaku Pemalakan Wisatawan di Pemandian Air Panas Doulu

SuaraInfo — Kesejukan udara Berastagi yang seharusnya memberikan ketenangan bagi para pelancong, baru-baru ini kembali terusik oleh praktik ilegal yang mencederai citra keramahan Tanah Karo. Aksi pungutan liar atau pungli yang kerap meresahkan pengunjung di jalur wisata menuju Pemandian Air Panas Doulu akhirnya mendapat tindakan tegas dari aparat penegak hukum. Kepolisian Sektor (Polsek) Berastagi bergerak cepat merespons keluhan masyarakat dengan meringkus oknum-oknum yang mencoba mencari keuntungan pribadi di atas ketidaknyamanan wisatawan.

Kejadian ini menjadi pengingat pahit bahwa di tengah upaya pemerintah daerah meningkatkan potensi pariwisata Karo, masih ada segelintir pihak yang justru menghambat kemajuan tersebut. Penangkapan dua pria yang diduga kuat sebagai pelaku pungli pada Minggu (14/6/2026) menjadi sinyal keras bahwa tidak ada ruang bagi premanisme di kawasan wisata unggulan Sumatera Utara ini.

Kronologi Penangkapan: Drama Kejar-kejaran di Jalur Wisata

Penangkapan ini bukan tanpa hambatan. Petugas kepolisian yang sudah mengintai pergerakan pelaku harus terlibat dalam aksi pengejaran yang cukup dramatis. Berdasarkan keterangan resmi dari Kapolsek Berastagi, AKP Henry D. B. Tobing, tim opsnal diterjunkan ke lokasi setelah menerima banyak laporan mengenai pungutan liar yang terjadi di sepanjang jalur menuju objek wisata pemandian air panas yang tersohor tersebut.

Baca Juga Elevasi Kemewahan di Jantung Ibu Kota: Menyelami Pengalaman Staycation 360 Derajat di The Westin Jakarta
Elevasi Kemewahan di Jantung Ibu Kota: Menyelami Pengalaman Staycation 360 Derajat di The Westin Jakarta

Dua pria yang berhasil diamankan diketahui berinisial SS (44), seorang warga Desa Ketaren, Kecamatan Kabanjahe, serta ZS (32), yang merupakan warga lokal dari Desa Doulu, Kecamatan Berastagi. Keduanya diringkus saat tengah beraksi di depan sebuah warung yang terletak strategis di jalur masuk wisata. Kehadiran petugas berpakaian sipil rupanya sempat terendus oleh para pelaku yang mencoba melarikan diri saat hendak diperiksa.

“Begitu personel kami turun dari kendaraan untuk melakukan prosedur pemeriksaan, kedua terduga pelaku ini langsung berupaya melarikan diri ke arah pemukiman dan ladang warga. Namun, berkat kesigapan anggota di lapangan, pengejaran membuahkan hasil dan keduanya berhasil kami amankan tanpa perlawanan berarti setelah terkepung,” ujar AKP Henry saat memberikan keterangan kepada awak media.

Tindakan Tegas dan Proses Hukum yang Berjalan

Setelah berhasil ditangkap, SS dan ZS tidak langsung dilepaskan. Mereka segera digiring ke Mapolres Karo untuk menjalani rangkaian pemeriksaan intensif. Langkah ini diambil guna mendalami sejauh mana jaringan pungli ini beroperasi dan apakah ada keterlibatan pihak lain dalam praktik yang merugikan wisata Berastagi tersebut.

Baca Juga Eksotisme Malam di Pecinan Glodok: Transformasi Surga Kuliner Betawi Memperingati HUT ke-499 Kota Jakarta
Eksotisme Malam di Pecinan Glodok: Transformasi Surga Kuliner Betawi Memperingati HUT ke-499 Kota Jakarta

Pihak kepolisian menegaskan bahwa mereka tidak akan memberikan ruang bagi kompromi terkait tindakan premanisme. Bukti-bukti berupa uang tunai yang diduga hasil dari pemalakan terhadap wisatawan turut disita sebagai barang bukti. Proses hukum akan dilakukan sesuai dengan ketentuan yang berlaku agar memberikan efek jera, baik bagi pelaku maupun pihak lain yang berencana melakukan aksi serupa.

Kapolsek Henry juga menambahkan bahwa pengawasan di titik-titik rawan akan semakin ditingkatkan. Polsek Berastagi berencana untuk menempatkan personel secara berkala, baik secara terbuka maupun tertutup, demi memastikan kenyamanan para pengunjung yang ingin menikmati kehangatan belerang di kaki Gunung Sibayak.

Pungli: Benalu yang Merusak Citra Pariwisata Karo

Praktik pungli di Kabupaten Karo sebenarnya bukanlah isu baru, namun tetap menjadi masalah pelik yang sulit diberantas hingga akar-akarnya. Sebelum insiden di Doulu ini mencuat, jagat media sosial sempat dihebohkan dengan video viral yang menunjukkan aksi pungli di pintu masuk lokasi Sidebuk-debuk. Dalam rekaman tersebut, terlihat jelas kekecewaan para wisatawan yang dipaksa membayar biaya tambahan yang tidak resmi berkali-kali di titik yang berbeda.

Baca Juga Kepulangan Sang Penjahit Bendera Pusaka: Mengulas Rencana Pemindahan Makam Ibu Fatmawati ke Bengkulu
Kepulangan Sang Penjahit Bendera Pusaka: Mengulas Rencana Pemindahan Makam Ibu Fatmawati ke Bengkulu

Kondisi ini tentu sangat disayangkan, mengingat sektor pariwisata adalah salah satu tulang punggung ekonomi bagi masyarakat Karo. Adanya keamanan wisatawan yang terjamin seharusnya menjadi prioritas utama. Ketika seorang turis merasa diperas, pengalaman negatif tersebut akan tersebar luas di media sosial, yang secara langsung akan menurunkan minat orang lain untuk berkunjung ke Berastagi.

Ketegasan aparat kali ini diharapkan menjadi titik balik. Stigma negatif bahwa berwisata ke Karo identik dengan “banyak kutipan” harus segera dihapus. Hal ini sejalan dengan komitmen pimpinan daerah, termasuk ultimatum keras yang pernah disampaikan oleh Penjabat Gubernur Sumatera Utara terkait penertiban kawasan wisata dari segala bentuk pungutan ilegal.

Dampak Ekonomi dan Sosial dari Praktik Pungli

Jika dibiarkan, pungli akan berdampak sistemik. Wisatawan yang merasa tidak nyaman cenderung akan mempersingkat waktu kunjungannya atau bahkan memutuskan untuk tidak akan kembali lagi. Hal ini merugikan pemilik hotel, pengelola rumah makan, hingga pedagang souvenir di pasar buah Berastagi yang menggantungkan hidupnya dari jumlah kunjungan turis.

Baca Juga Lautan Biru Berpadu Euforia Juara: Pangandaran Banjir Wisatawan di Libur Panjang 2026
Lautan Biru Berpadu Euforia Juara: Pangandaran Banjir Wisatawan di Libur Panjang 2026

Selain itu, praktik pungli seringkali menciptakan kecemburuan sosial di tingkat lokal. Oknum yang melakukan pemalakan biasanya tidak memiliki izin resmi dan tidak menyetorkan hasil pungutannya ke kas daerah, sehingga tidak ada kontribusi nyata bagi pembangunan infrastruktur di desa tempat objek wisata tersebut berada. Oleh karena itu, dukungan masyarakat setempat sangat diperlukan untuk mengucilkan oknum-oknum yang justru merusak mata pencaharian warga sekitar dengan aksi premanisme mereka.

Upaya Bersama Menjaga Keamanan Objek Wisata

Kapolsek Berastagi mengimbau agar seluruh elemen masyarakat, mulai dari tokoh pemuda, perangkat desa, hingga para pelaku usaha pariwisata, bersatu padu menjaga situasi kamtibmas yang kondusif. Ia menekankan bahwa keamanan bukan hanya tanggung jawab kepolisian semata, melainkan kerja kolektif seluruh pemangku kepentingan.

“Kami mengajak semua pihak untuk menjaga citra positif pemandian air panas dan objek wisata lainnya di Karo. Jangan sampai karena ulah segelintir orang, ribuan warga yang mencari nafkah secara jujur di sektor pariwisata jadi terkena imbasnya. Jika masyarakat melihat atau mengalami langsung praktik pungli, jangan ragu untuk segera melapor kepada kami,” tegas AKP Henry.

Baca Juga Mengenal ‘Baginda Pemuka Bangsa’, Gelar Adat Sakral dari Keraton Kagungan Lampung untuk Presiden ke-7 RI
Mengenal ‘Baginda Pemuka Bangsa’, Gelar Adat Sakral dari Keraton Kagungan Lampung untuk Presiden ke-7 RI

Wisatawan juga diimbau untuk lebih berani bersuara. Dengan adanya platform media sosial dan saluran pengaduan resmi, setiap tindakan pungli dapat segera dilaporkan agar bisa ditindaklanjuti secara cepat oleh pihak berwenang. Transparansi dalam biaya masuk dan retribusi resmi yang dikelola oleh pemerintah daerah atau BUMDes juga harus terus disosialisasikan agar wisatawan tahu mana pembayaran yang sah dan mana yang merupakan pemerasan.

Menatap Masa Depan Pariwisata Berastagi yang Bersih

Langkah preventif dan represif yang dilakukan Polsek Berastagi ini diharapkan mampu mengembalikan kepercayaan publik. Berastagi, dengan pesona alamnya yang memukau, kearifan lokal budayanya, serta kekayaan hasil buminya, memiliki potensi besar untuk bersaing di kancah internasional. Namun, semua itu akan sia-sia jika masalah keamanan dasar seperti pungli tidak pernah tuntas diselesaikan.

Ke depan, diharapkan adanya sistem tiket elektronik atau pengawasan berbasis digital di setiap pintu masuk objek wisata untuk meminimalisir interaksi uang tunai secara langsung antara petugas dan pengunjung. Dengan sistem yang transparan, ruang gerak para oknum pungli akan semakin sempit, dan pendapatan daerah dari sektor pariwisata dapat optimal terserap untuk kesejahteraan masyarakat Karo secara luas.

Keberhasilan polisi menangkap SS dan ZS adalah kemenangan kecil dalam perang besar melawan premanisme di jalur wisata. Mari kita dukung langkah-langkah positif ini demi Berastagi yang lebih ramah, aman, dan nyaman bagi semua orang.

Dimas Pratama

Dimas Pratama

Penjelajah dunia yang gemar membagikan cerita perjalanan unik dan panduan budget travel. Menginspirasi petualangan Anda melalui Info Travel.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *