Mengenal ‘Baginda Pemuka Bangsa’, Gelar Adat Sakral dari Keraton Kagungan Lampung untuk Presiden ke-7 RI
SuaraInfo — Atmosfer khidmat dan penuh wibawa menyelimuti Kedatun Keagungan Lampung baru-baru ini. Dalam sebuah prosesi yang sarat akan nilai-nilai filosofis, Presiden ke-7 Republik Indonesia, Joko Widodo (Jokowi), secara resmi dianugerahi gelar adat kehormatan “Baginda Pemuka Bangsa”. Penghargaan ini diberikan oleh Keraton Kagungan Lampung sebagai bentuk apresiasi tertinggi atas dedikasi dan kepemimpinan beliau selama satu dekade menakhodai bangsa Indonesia.
Pemberian gelar ini bukanlah sekadar seremoni simbolis semata, melainkan sebuah pernyataan kultural yang mendalam. Penobatan ini diputuskan melalui musyawarah mufakat para penyimbang adat yang melihat sosok Jokowi sebagai figur yang telah memberikan kontribusi signifikan dalam menjaga stabilitas dan pembangunan nasional. Melalui tajuk Presiden Jokowi, pemberian gelar ini menjadi catatan sejarah baru dalam hubungan antara negara dan lembaga adat di Nusantara.
Filosofi di Balik Gelar ‘Baginda Pemuka Bangsa’
Sultan Seghayo Dipuncak Nur, Mawardi Harirama, menjelaskan bahwa gelar “Baginda Pemuka Bangsa” membawa beban moral dan spiritual yang besar. Secara harfiah, gelar ini menempatkan penerimanya pada posisi terhormat sebagai sosok yang dituakan dan dijadikan teladan dalam lingkup kebangsaan. “Baginda Pemuka Bangsa adalah gelar penghormatan kepada beliau sebagai Presiden RI ke-7. Maknanya, beliau ditempatkan sebagai pemuka bangsa yang diakui oleh adat,” ujar Mawardi dengan nada penuh penekanan.
Dalam kacamata adat Lampung, gelar ini mencerminkan pengakuan atas keberhasilan seorang pemimpin dalam menjaga kerukunan di tengah keberagaman. Keraton Kagungan Lampung memandang bahwa selama dua periode kepemimpinannya, Jokowi telah menunjukkan karakteristik pemimpin yang mampu merangkul berbagai lapisan masyarakat, selayaknya seorang pemuka yang mampu menyatukan berbagai perbedaan kepentingan demi kemajuan bersama.
Piil Pesenggiri: Landasan Budaya yang Kokoh
Penyematan gelar ini tidak terlepas dari falsafah hidup masyarakat Lampung yang dikenal dengan sebutan Piil Pesenggiri. Falsafah ini merupakan kompas moral yang mengatur perilaku dan interaksi sosial masyarakat Lampung. Salah satu pilar utama dalam Piil Pesenggiri adalah Nemui Nyimah, sebuah nilai yang menekankan pentingnya sikap terbuka, murah hati, serta menghormati setiap tamu yang datang dengan niat baik.
Implementasi dari nilai Nemui Nyimah inilah yang melandasi prosesi pengangkatan saudara terhadap Jokowi. Dengan mengangkat beliau sebagai bagian dari keluarga besar adat Lampung, Keraton Kagungan berupaya mempererat tali persaudaraan yang melampaui batas-batas formalitas kenegaraan. Hal ini juga menjadi media untuk memperkenalkan kekayaan budaya Indonesia yang sangat beragam namun tetap satu jalinan kuat.
Mawardi menambahkan bahwa tradisi ini kini dikemas sedemikian rupa agar tetap relevan dengan perkembangan zaman. “Prosesi ini kami laksanakan untuk menjaga budaya Lampung agar tetap lestari, sekaligus menjadi sarana untuk mempererat persatuan dan kesatuan bangsa di tengah dinamika politik yang ada,” tuturnya. Hal ini menunjukkan bahwa lembaga adat memiliki peran krusial dalam mendinginkan suasana nasional melalui pendekatan budaya.
Ritual Sakral: Dari Titah Adat hingga Tari Ngigel
Prosesi penobatan Jokowi dilakukan dengan mengikuti pakem-pakem adat yang sangat ketat. Mengenakan busana adat Lampung yang lengkap dan sarat ornamen bermakna, Jokowi tampak menyatu dengan lingkungan kedatun. Tahapan demi tahapan diikuti dengan penuh rasa hormat, mulai dari penyambutan di gerbang utama hingga pembacaan titah adat oleh para tetua.
Salah satu momen yang paling menarik perhatian adalah ketika Jokowi dipersilakan duduk di kursi adat Panca Haji. Kursi ini bukanlah furnitur biasa, melainkan simbol kedudukan dan tanggung jawab besar dalam tatanan adat. Tidak berhenti di situ, mantan Wali Kota Solo tersebut juga turut serta dalam tari Ngigel bersama para tokoh adat. Tarian ini melambangkan kegembiraan, kebersamaan, dan rasa syukur atas kehadiran sosok pemimpin di tengah-tengah rakyat.
Setiap gerak dalam tarian dan setiap kata dalam doa adat yang dipanjatkan memiliki esensi spiritual. “Di balik setiap gelar adat ada doa-doa tulus yang kami panjatkan. Itu menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari prosesi adat, agar penerimanya senantiasa diberi kekuatan dan perlindungan,” jelas Mawardi. Hal ini menegaskan bahwa gelar adat di Keraton Kagungan adalah sebuah amanah yang disertai dengan dukungan spiritual dari para pemangku adat.
Penghormatan Berbasis Rekam Jejak 10 Tahun
Meskipun penilaian publik terhadap seorang pemimpin bisa sangat beragam dan subjektif, Keraton Kagungan Lampung memiliki parameter tersendiri dalam memberikan penghargaan. Bagi mereka, memimpin sebuah negara kepulauan sebesar Indonesia selama sepuluh tahun bukanlah perkara mudah. Tantangan geopolitik, ekonomi, hingga isu sosial telah dilalui, dan dari sudut pandang budaya, hal tersebut layak mendapatkan apresiasi.
“Kalau penilaian masyarakat tentu bermacam-macam, itu adalah hak demokrasi. Namun, dari sisi budaya dan adat, kami melihat beliau telah mendedikasikan sepuluh tahun hidupnya untuk memimpin bangsa ini. Atas dasar itulah kami memberikan penghormatan tersebut,” tegas Mawardi Harirama. Langkah ini seolah ingin menegaskan bahwa budaya memiliki ruang tersendiri untuk memberikan apresiasi yang melampaui sekat-sekat perbedaan pandangan politik.
Misi Revitalisasi Keraton dan Pelestarian Warisan
Ada sebuah cerita menarik di balik kedekatan hubungan ini. Mawardi mengenang pertemuannya dengan Jokowi di Istana Bogor beberapa waktu lalu. Dalam kesempatan tersebut, ia menyampaikan aspirasi mengenai pentingnya revitalisasi keraton-keraton di seluruh penjuru Indonesia. Baginya, keraton bukan sekadar bangunan bersejarah, melainkan pusat pelestarian nilai-nilai luhur yang menjadi jati diri bangsa.
Keinginan agar pemerintah memberikan perhatian lebih pada eksistensi lembaga adat disambut baik. Revitalisasi ini diharapkan dapat memastikan bahwa generasi mendatang tidak kehilangan akar budayanya. Pemberian gelar kepada Jokowi juga menjadi simbol harapan agar kebijakan yang pro-budaya terus berlanjut di masa depan, siapapun pemimpinnya nanti.
Dengan berakhirnya prosesi adat tersebut, gelar “Baginda Pemuka Bangsa” kini resmi melekat pada sosok Joko Widodo dalam tatanan adat Lampung. Peristiwa ini bukan hanya tentang pemberian gelar kepada seorang individu, melainkan tentang bagaimana bangsa ini merayakan identitasnya, menghargai pemimpinnya, dan terus memupuk persatuan melalui jalur kebudayaan yang lembut namun sangat mengakar.
Melalui langkah ini, Keraton Lampung telah menunjukkan bahwa di tengah arus modernisasi yang deras, nilai-nilai tradisional tetap memiliki tempat yang terhormat dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Sebuah pesan kuat bahwa kemajuan bangsa tidak boleh meninggalkan kekayaan nilai-nilai lokal yang telah ada sejak berabad-abad silam.