Tragedi JAKIM 2026: Mengapa ‘Mendengarkan Tubuh’ Adalah Kunci Keselamatan Pelari di Lintasan Marathon

dr. Sarah Amelia | SuaraInfo
16 Jun 2026, 15:26 WIB
Tragedi JAKIM 2026: Mengapa 'Mendengarkan Tubuh' Adalah Kunci Keselamatan Pelari di Lintasan Marathon

SuaraInfo — Perhelatan BTN Jakarta International Marathon (JAKIM) 2026 yang berlangsung pada akhir pekan Sabtu dan Minggu (13-14/6/2026) menyisakan duka mendalam bagi dunia atletik tanah air. Di balik semangat ribuan peserta yang memadati jalanan ibu kota, sebuah kabar pilu menyeruak setelah salah satu pelari dikabarkan meninggal dunia saat sedang berjuang mencapai garis finis. Insiden ini menjadi alarm keras bagi komunitas olahraga, mengingatkan kembali bahwa ambisi di lintasan lari tidak boleh mengabaikan batasan fisik manusia.

Belajar dari Insiden JAKIM 2026: Nyawa Lebih Berharga dari Sekadar Medali

Kemeriahan ajang internasional sekelas JAKIM 2026 memang selalu menarik minat massa. Namun, tantangan fisik yang dihadapi para peserta tidaklah main-main, apalagi dengan kondisi cuaca Jakarta yang dikenal lembap dan panas. Kejadian meninggalnya seorang peserta di tengah lomba menambah daftar panjang risiko kesehatan yang menghantui olahraga ketahanan (endurance sport). Berdasarkan pantauan di lapangan, tidak sedikit pelari yang tumbang dan harus mendapatkan perawatan medis intensif akibat kelelahan luar biasa atau heatstroke.

Baca Juga Tragedi Silent Killer di Temanggung: Pakar Paru Bedah Bahaya Gas Karbon Monoksida yang Mengancam Nyawa
Tragedi Silent Killer di Temanggung: Pakar Paru Bedah Bahaya Gas Karbon Monoksida yang Mengancam Nyawa

Menanggapi tragedi ini, pakar Spesialis Kedokteran Olahraga, dr. Andi Kurniawan, SpKO, memberikan sorotan tajam mengenai perilaku pelari di lintasan. Menurutnya, kegagalan dalam mengenali tanda-tanda peringatan dari tubuh sendiri seringkali menjadi pemicu kondisi fatal. Baginya, olahraga seharusnya menjadi instrumen untuk meningkatkan kesehatan, bukan justru menjadi ancaman bagi nyawa seseorang.

Filosofi “Listen to Your Body” yang Sering Terabaikan

Dalam dunia lari, sering terdengar ungkapan “Listen to Your Body” atau dengarkan tubuhmu. Namun, dalam praktiknya, banyak pelari yang justru mengabaikan sinyal-sinyal tersebut demi mengejar catatan waktu terbaik atau sekadar gengsi. Dr. Andi menegaskan bahwa kemampuan untuk berkomunikasi dengan tubuh sendiri adalah keterampilan yang wajib dimiliki oleh setiap pelari, baik pemula maupun profesional.

“Ketika sedang berlari, itu penting banget untuk listen to your body karena kita harus mendengarkan parameter apa yang sedang terjadi di dalam tubuh kita secara real-time,” ungkap dr. Andi pada Selasa (16/6/2026). Ia menjelaskan bahwa tubuh manusia memiliki sistem sensorik yang sangat canggih untuk memberitahu kapan mesin biologis kita mulai mengalami overheat atau kerusakan fungsi.

Baca Juga Pesta Daging Kurban Tanpa Was-was: Panduan Medis Menghalau Kolesterol dan Asam Urat
Pesta Daging Kurban Tanpa Was-was: Panduan Medis Menghalau Kolesterol dan Asam Urat

Parameter Bahaya: Kapan Pelari Harus Segera Berhenti?

Mengidentifikasi tanda-tanda bahaya bukanlah hal yang sulit jika kita tidak menutup mata. Dr. Andi membagi parameter ini ke dalam beberapa kategori yang harus segera direspons oleh para pegiat olahraga lari:

  • Rasa Nyeri yang Tidak Wajar: Munculnya rasa nyeri yang tajam pada area kaki, lutut, atau yang paling berbahaya adalah di bagian dada, adalah sinyal mutlak untuk menurunkan kecepatan.
  • Detak Jantung (Heart Rate) Tidak Beraturan: Jika detak jantung melonjak drastis melampaui batas zona aman meskipun kecepatan lari sudah diturunkan, itu adalah tanda jantung bekerja terlalu keras.
  • Gangguan Kesadaran: Merasa pusing, linglung, pandangan kabur, atau disorientasi ruang adalah indikator awal dari dehidrasi berat atau serangan panas yang bisa memicu kematian mendadak.
  • Pola Pernapasan: Napas yang terengah-engah secara berlebihan hingga sulit untuk berbicara adalah tanda bahwa tubuh kekurangan oksigen secara akut.

“Jika merasakan nyeri atau gejala di atas, jangan dipaksakan. Kurangi kecepatan segera. Bahkan kalau perlu, kita harus berhenti total terlebih dahulu. Lakukan stretching ringan, atur pernapasan, dan cek detak jantung secara manual atau melalui perangkat pintar,” saran dr. Andi dengan tegas.

Baca Juga Rahasia Jamu Kunyit Asam Redakan Nyeri Haid: Tinjauan Medis dan Panduan Konsumsi yang Tepat
Rahasia Jamu Kunyit Asam Redakan Nyeri Haid: Tinjauan Medis dan Panduan Konsumsi yang Tepat

Keputusan Berani: Mengenal DNS dan DNF Sebagai Bentuk Kebijaksanaan

Dalam budaya kompetisi lari, istilah Did Not Start (DNS) atau tidak memulai lomba, serta Did Not Finish (DNF) atau tidak menyelesaikan lomba, seringkali dianggap sebagai bentuk kegagalan. Namun, dr. Andi Kurniawan mencoba mengubah stigma tersebut. Baginya, memilih DNS atau DNF adalah sebuah keputusan yang heroik dan bijak.

“Seorang pelari harus jujur pada dirinya sendiri. Sebelum memutuskan berlari, bahkan saat baru bangun pagi di hari perlombaan, bertanyalah pada tubuh Anda: ‘Are you fit enough to take part or not?’. Apakah kita benar-benar sehat 100 persen atau ada indikasi kurang fit? Jika kurang sehat, memutuskan untuk DNS adalah keputusan pemberani,” tuturnya. Hal ini sangat relevan untuk menghindari kejadian tak diinginkan di event olahraga besar lainnya.

Prioritas utama seorang atlet rekreasional haruslah keselamatan. Mencapai garis finis adalah kepuasan, namun bisa pulang ke rumah dengan selamat dan berkumpul kembali bersama keluarga adalah kemenangan yang sesungguhnya. Tekanan sosial untuk mendapatkan medali seringkali mengaburkan logika sehat pelari, padahal kesehatan jantung dan organ vital tidak bisa ditukar dengan sepingat logam finis.

Baca Juga Waspada Lelah Berlebih: Mengapa Penurunan Fungsi Ginjal Sering Terlambat Disadari?
Waspada Lelah Berlebih: Mengapa Penurunan Fungsi Ginjal Sering Terlambat Disadari?

Menata Ulang Mentalitas: Rekor Pribadi Hanyalah Bonus

Tragedi di JAKIM 2026 ini diharapkan menjadi momentum refleksi bagi seluruh pelari di Indonesia. Olahraga lari memang tengah menjadi tren gaya hidup yang sangat masif, namun edukasi mengenai mitigasi risiko kesehatan harus berjalan beriringan dengan tren tersebut. Informasi mengenai tips kesehatan olahraga harus lebih banyak disebarluaskan agar pelari tidak hanya sekadar mengejar jarak, tapi juga memahami limitasi dirinya.

Dr. Andi Kurniawan menutup penjelasannya dengan pesan yang sangat kuat bagi komunitas lari. “Saya rasa sangat penting untuk terus mengampanyekan bahwa kita berlari untuk sehat, bukan untuk sakit apalagi kehilangan nyawa. Yang namanya personal best atau catatan waktu terbaik itu hanyalah bonus. Tujuan utama tetaplah kebugaran jangka panjang.”

Ke depannya, diharapkan penyelenggara lomba marathon dapat memperketat pemeriksaan kesehatan awal bagi para peserta dan menyediakan fasilitas medis yang lebih responsif di sepanjang jalur lintasan. Bagi para pelari, ingatlah bahwa jalanan akan selalu ada untuk dijelajahi di lain hari, namun tubuh Anda hanya ada satu untuk dijaga seumur hidup.

Baca Juga Daging Merah vs Daging Putih: Menelisik Mana yang Lebih Unggul untuk Kesehatan Jangka Panjang
Daging Merah vs Daging Putih: Menelisik Mana yang Lebih Unggul untuk Kesehatan Jangka Panjang
dr. Sarah Amelia

dr. Sarah Amelia

Praktisi kesehatan yang aktif mengedukasi gaya hidup sehat. Menyediakan informasi medis yang mudah dipahami dan akurat hanya di Suara Sehat.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *