Jebakan Manis Minuman Less Sugar: Menkes Soroti Bahaya Gula Tersembunyi di Balik Topping Boba

dr. Sarah Amelia | SuaraInfo
29 Apr 2026, 17:34 WIB
Jebakan Manis Minuman Less Sugar: Menkes Soroti Bahaya Gula Tersembunyi di Balik Topping Boba

SuaraInfo — Fenomena minuman kekinian telah menjadi bagian tak terpisahkan dari gaya hidup masyarakat urban saat ini. Di tengah meningkatnya kesadaran akan kesehatan, banyak konsumen yang kini beralih memilih opsi ‘less sugar’ atau rendah gula saat memesan segelas teh susu maupun kopi. Namun, benarkah pilihan tersebut benar-benar menjamin konsumsi gula yang lebih rendah? Menteri Kesehatan Republik Indonesia, Budi Gunadi Sadikin, memberikan peringatan keras mengenai adanya bahaya laten yang sering kali diabaikan oleh para pencinta minuman manis: gula tersembunyi di balik topping.

Ilusi Sehat di Balik Label Less Sugar

Banyak dari kita merasa sudah melakukan langkah preventif terhadap penyakit kronis dengan sekadar meminta pengurangan kadar gula pada cairan minuman. Sayangnya, efektivitas langkah ini sering kali hangus seketika saat kita memutuskan untuk menambahkan berbagai jenis topping, terutama boba. Menkes Budi Gunadi Sadikin mengungkapkan bahwa penambahan boba ke dalam minuman yang berlabel ‘less sugar’ sebenarnya adalah sebuah langkah yang kontradiktif.

“Kalau pesan milk tea less sugar tapi ditambah boba itu sama saja bohong karena kadar gulanya masih tetap tinggi,” tegas Menkes dalam keterangan resminya. Hal ini dikarenakan boba bukan sekadar bola-bola tepung tapioka kenyal biasa. Dalam proses pembuatannya, boba direndam dalam sirup gula pekat atau madu dalam waktu lama agar memberikan rasa manis yang meresap hingga ke dalam. Inilah yang kemudian menjadi bom waktu bagi kesehatan gaya hidup sehat yang sedang kita upayakan.

Baca Juga Fenomena Lele Godok: Menguak Fakta Nutrisi dan Mitos Rendah Lemak di Balik ‘Salmon Rakyat’ yang Viral
Fenomena Lele Godok: Menguak Fakta Nutrisi dan Mitos Rendah Lemak di Balik ‘Salmon Rakyat’ yang Viral

Kandungan Kalori Boba yang Mengejutkan

Data yang dipaparkan oleh Kementerian Kesehatan menunjukkan angka yang cukup mengkhawatirkan. Satu porsi topping boba standar dalam satu gelas minuman diperkirakan mengandung sekitar 150 kalori. Jika dikonversikan, angka ini setara dengan konsumsi 100 gram gula tambahan secara langsung. Bayangkan, saat Anda merasa sudah ‘aman’ dengan mengurangi gula pada tehnya, Anda justru memasukkan beban gula yang jauh lebih besar melalui topping tersebut.

Penting bagi masyarakat untuk memahami bahwa bahaya gula berlebih tidak hanya datang dari gula pasir yang kita lihat secara fisik dimasukkan ke dalam gelas. Gula tersembunyi ini jauh lebih licin karena sering kali dianggap sebagai ‘makanan pendamping’ atau sekadar penambah tekstur, padahal nilai nutrisinya sangat rendah sementara kandungan glikemiknya sangat tinggi.

Implementasi Nutri Level: Dari Sehat ke Tidak Sehat

Pemerintah melalui Kementerian Kesehatan tengah serius menggodok dan mengimplementasikan regulasi baru terkait label pangan pada makanan siap saji, yang dikenal dengan istilah Nutri Level. Sistem pemeringkatan ini bertujuan untuk memberikan informasi yang jelas kepada konsumen mengenai seberapa sehat sebuah produk minuman atau makanan berdasarkan kandungan gula, garam, dan lemaknya.

Baca Juga Menguak Rahasia Warna Keju: Benarkah Warna Oranye Lebih Bergizi daripada Putih?
Menguak Rahasia Warna Keju: Benarkah Warna Oranye Lebih Bergizi daripada Putih?

Menkes menjelaskan bahwa sebuah minuman yang awalnya memiliki peringkat Nutri Level B (kategori relatif sehat) dapat terjun bebas menjadi Nutri Level D (kategori paling tidak sehat) hanya karena penambahan topping boba. “Kelihatannya kecil dan namanya disebut topping, tapi sebenarnya dengan menambah boba itu bisa menaikkan status kesehatan minuman dari level B langsung ke level D,” lanjutnya. Hal ini menunjukkan betapa signifikannya dampak nutrisi pangan terhadap kesehatan jangka panjang kita.

Celah dalam Perhitungan Kadar Gula

Satu hal yang perlu diwaspadai oleh konsumen adalah cara penghitungan kadar gula yang saat ini berlaku. Menkes mengakui bahwa regulasi yang baru saja dikeluarkan oleh kementeriannya saat ini baru mencakup penghitungan kadar gula pada bagian cair dari minuman tersebut. Artinya, kandungan gula yang terdapat di dalam boba atau topping padat lainnya sering kali belum masuk dalam kalkulasi standar yang tertera di label depan.

“Peraturan Kemenkes yang baru saya keluarkan itu baru menghitung kadar gula di cairannya, bukan di bobanya,” jelas Budi Gunadi. Oleh karena itu, kesadaran mandiri dari masyarakat menjadi kunci utama. Konsumen diharapkan tidak hanya terpaku pada apa yang tertulis di menu, tetapi juga kritis terhadap tambahan-tambahan lain yang bisa merusak program diet sehat yang sedang dijalani.

Baca Juga Menyingkap Rahasia Panjang Umur dan Tetap Bugar: Panduan Lengkap Gaya Hidup Sehat ala Ahli Gizi
Menyingkap Rahasia Panjang Umur dan Tetap Bugar: Panduan Lengkap Gaya Hidup Sehat ala Ahli Gizi

Ancaman Diabetes pada Generasi Muda

Peringatan ini bukan tanpa alasan kuat. Tren peningkatan penderita diabetes usia muda, khususnya pada Gen Z dan milenial, di Indonesia terus menunjukkan grafik yang mengkhawatirkan. Konsumsi minuman manis yang berlebihan merupakan salah satu faktor risiko utama pemicu diabetes tipe 2. Gaya hidup praktis yang mengedepankan kepuasan rasa instan tanpa mempertimbangkan aspek kesehatan jangka panjang harus segera diubah.

Gula yang berlebihan dalam tubuh akan memicu lonjakan insulin secara mendadak. Jika hal ini terjadi secara terus-menerus setiap hari, tubuh akan mengalami resistensi insulin, yang menjadi pintu masuk utama bagi penyakit diabetes. Tidak hanya itu, obesitas dan penyakit kardiovaskular juga mengintai di balik segelas minuman manis yang kita konsumsi secara rutin.

Tips Menjadi Konsumen yang Lebih Cerdas

Menghadapi tantangan ini, SuaraInfo merangkum beberapa langkah bijak yang bisa Anda terapkan saat ingin menikmati minuman kekinian tanpa mengorbankan kesehatan sepenuhnya:

  • Pahami Arti Sebenarnya dari Less Sugar: Kurangi ekspektasi bahwa less sugar berarti sehat. Itu hanya berarti gulanya ‘lebih sedikit’ dari porsi standar yang biasanya sudah sangat tinggi.
  • Hindari Topping Tepung: Alih-alih boba, pilihlah topping yang lebih rendah kalori jika memang harus menambahkan topping, atau lebih baik tidak menggunakannya sama sekali.
  • Perhatikan Ukuran Gelas: Memilih gelas ukuran kecil (regular) daripada ukuran besar (large) secara otomatis mengurangi asupan gula total yang masuk ke tubuh.
  • Jadikan Minuman Manis sebagai ‘Self-Reward’ Jarang: Jangan jadikan minuman manis sebagai konsumsi harian. Jadikan itu sebagai suguhan sesekali saja.
  • Edukasi Diri dengan Label Nutrisi: Mulailah membiasakan diri membaca informasi nilai gizi jika tersedia, atau mencari tahu kalori minuman melalui aplikasi kesehatan.

Menkes Budi Gunadi Sadikin berharap dengan adanya transparansi melalui Nutri Level dan edukasi yang masif, masyarakat Indonesia bisa lebih bijak dalam menentukan apa yang mereka konsumsi. Kesehatan adalah investasi jangka panjang, dan memulainya dari mengurangi satu sendok boba hari ini bisa berdampak besar bagi kualitas hidup Anda di masa depan. Mari lebih waspada terhadap apa yang masuk ke dalam tubuh kita, karena yang terlihat manis di lidah, belum tentu manis bagi kesehatan kita.

Baca Juga Debat Viral Sarden Kalengan: Membedah Mitos UPF dan Realita Nutrisi di Balik Kemasan
Debat Viral Sarden Kalengan: Membedah Mitos UPF dan Realita Nutrisi di Balik Kemasan
dr. Sarah Amelia

dr. Sarah Amelia

Praktisi kesehatan yang aktif mengedukasi gaya hidup sehat. Menyediakan informasi medis yang mudah dipahami dan akurat hanya di Suara Sehat.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *