Bahaya Tersembunyi di Balik Lezatnya Kue Putu: Mengapa Cetakan Pipa PVC Bisa Memicu Kanker?

dr. Sarah Amelia | SuaraInfo
26 Jun 2026, 13:27 WIB
Bahaya Tersembunyi di Balik Lezatnya Kue Putu: Mengapa Cetakan Pipa PVC Bisa Memicu Kanker?

SuaraInfo — Di balik suara peluit uapnya yang khas dan aromanya yang menggugah selera saat malam hari, tersimpan sebuah rahasia yang mengkhawatirkan dari kudapan tradisional kue putu. Jika dahulu para pedagang menggunakan bambu alami sebagai cetakan sekaligus alat pengukus, kini tren telah bergeser ke arah yang lebih praktis namun berisiko. Penggunaan pipa polyvinyl chloride atau yang lebih dikenal dengan sebutan pipa PVC (paralon), kini marak digunakan sebagai pengganti bambu. Namun, di balik efisiensi tersebut, ancaman kesehatan serius tengah mengintai para penikmatnya.

Transformasi Cetakan Kue Putu: Dari Bambu Alami ke Plastik Industri

Kue putu adalah simbol nostalgia bagi banyak orang di Indonesia. Teksturnya yang lembut dengan isian gula merah cair dan taburan kelapa parut menjadikannya jajanan favorit lintas generasi. Secara tradisional, potongan bambu digunakan karena sifatnya yang tahan panas dan mampu memberikan aroma alami yang khas pada kue. Namun, seiring dengan sulitnya mencari suplai bambu yang konsisten dan alasan ketahanan alat, banyak pedagang beralih menggunakan potongan pipa PVC.

Baca Juga Kisah Inspiratif Nicholas Tanzil: Perjuangan Panjang Melawan Saraf Kejepit yang Nyaris Berujung Kelumpuhan
Kisah Inspiratif Nicholas Tanzil: Perjuangan Panjang Melawan Saraf Kejepit yang Nyaris Berujung Kelumpuhan

Pipa PVC dipilih karena harganya yang murah, mudah dibentuk, tahan lama, dan dianggap lebih higienis karena permukaannya yang halus sehingga mudah dibersihkan. Sayangnya, banyak pelaku usaha mikro yang tidak menyadari bahwa material plastik industri ini sama sekali tidak dirancang untuk bersentuhan langsung dengan bahan makanan, apalagi jika harus terpapar suhu uap air yang sangat tinggi dalam waktu lama.

Peringatan Keras dari Pakar Teknologi Pangan IPB

Menanggapi fenomena ini, Pakar Teknologi Pangan dari Institut Pertanian Bogor (IPB), Nuri Andarwulan, memberikan peringatan tegas. Menurutnya, penggunaan material dalam industri pangan tidak boleh dilakukan sembarangan. Ada aturan ketat yang harus dipatuhi untuk memastikan keamanan konsumen, terutama terkait material yang bersentuhan langsung dengan makanan panas.

Nuri menekankan bahwa Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) telah memiliki regulasi khusus mengenai bahan kontak pangan. Dalam ketentuan tersebut, pipa PVC jelas tidak masuk dalam kategori material yang diizinkan untuk mengolah makanan. “Pipa PVC tidak diizinkan untuk kontak pangan dan sebagai alat untuk memasak yang terpapar suhu tinggi. Penggunaannya hanya diperuntukkan bagi saluran air, bukan untuk proses pengukusan makanan,” tegasnya dalam sebuah kesempatan wawancara.

Baca Juga Bukan Sekadar Mitos Seblak, Inilah Pemicu Utama Kista Ovarium yang Sering Diabaikan Wanita
Bukan Sekadar Mitos Seblak, Inilah Pemicu Utama Kista Ovarium yang Sering Diabaikan Wanita

Risiko Migrasi Senyawa Kimia Berbahaya

Apa sebenarnya yang membuat pipa PVC begitu berbahaya saat digunakan untuk mengukus kue putu? Masalah utamanya terletak pada fenomena yang disebut sebagai migrasi kimia. Ketika plastik PVC dipanaskan, ikatan kimia di dalamnya menjadi tidak stabil. Hal ini memicu perpindahan zat-zat penyusun plastik ke dalam adonan kue putu yang sedang dimasak.

Beberapa risiko yang ditimbulkan dari penggunaan alat masak berbahaya ini meliputi:

  • Paparan Logam Berat: Pipa PVC seringkali mengandung zat penstabil (stabilizer) yang terbuat dari logam berat seperti timbal atau kadmium agar pipa tetap kuat dan tidak mudah pecah. Panas uap air dapat melepaskan logam berat ini ke dalam makanan.
  • Zat Aditif Plastik: Untuk membuat PVC lebih fleksibel, sering ditambahkan zat bernama phthalates. Zat ini diketahui bersifat mengganggu sistem endokrin manusia.
  • Senyawa Karsinogenik: Komponen utama PVC adalah vinil klorida, yang telah diklasifikasikan oleh berbagai lembaga kesehatan dunia sebagai zat karsinogenik atau pemicu kanker.

Dampak Kesehatan Jangka Panjang: Dari Hormon Hingga Kanker

Bahaya dari mengonsumsi makanan yang terkontaminasi zat kimia dari pipa PVC tidak muncul seketika. Ini adalah ancaman jangka panjang yang bersifat akumulatif. Nuri Andarwulan menjelaskan bahwa paparan senyawa berbahaya ini secara terus-menerus dapat merusak sistem metabolisme tubuh manusia.

Baca Juga Menguak Rahasia Runner’s Trot: Mengapa Pelari Sering Mendadak Mules Saat Race Day?
Menguak Rahasia Runner’s Trot: Mengapa Pelari Sering Mendadak Mules Saat Race Day?

Salah satu dampak yang paling mengkhawatirkan adalah gangguan pada kerja hormon. Zat kimia yang bermigrasi dapat meniru hormon alami dalam tubuh atau justru memblokirnya, yang berujung pada masalah reproduksi hingga gangguan pertumbuhan pada anak-anak. Lebih jauh lagi, sifat karsinogenik dari zat-zat tersebut dapat memicu mutasi sel yang menjadi cikal bakal penyakit kanker.

Mengenal Regulasi BPOM Terkait Food Grade

Sebagai konsumen yang cerdas, penting bagi kita untuk memahami apa itu standar food grade. Sebuah material dikatakan aman untuk pangan jika tidak melepaskan zat berbahaya dalam jumlah yang melampaui batas aman ke dalam makanan. Keamanan pangan adalah prioritas utama yang seringkali terabaikan demi mengejar keuntungan semata.

BPOM secara rutin melakukan pengawasan terhadap kemasan dan alat makan. Namun, pada level pedagang kaki lima, pengawasan ini menjadi tantangan besar. Oleh karena itu, kesadaran dari pedagang dan ketelitian pembeli menjadi benteng pertahanan terakhir. Pipa PVC yang biasa kita lihat di toko bangunan memiliki spesifikasi teknis untuk mengalirkan air dingin, bukan untuk menahan suhu uap panas yang mencapai 100 derajat Celcius atau lebih saat proses pengukusan kue putu.

Baca Juga Instruksi Tegas Wapres Gibran: Perketat Standar Keamanan Pangan dan Percepat Akses Makan Bergizi di Wilayah 3T
Instruksi Tegas Wapres Gibran: Perketat Standar Keamanan Pangan dan Percepat Akses Makan Bergizi di Wilayah 3T

Edukasi untuk Pedagang dan Kesadaran Konsumen

Rebranding citra kue putu sebagai jajanan sehat harus dimulai dari kembalinya penggunaan alat yang aman. Bambu tetap menjadi pilihan terbaik karena merupakan bahan organik yang aman bagi kesehatan. Jika memang ingin menggunakan material modern, para pedagang seharusnya menggunakan stainless steel kualitas pangan (grade 304 atau 316) yang memang dirancang tahan panas dan anti karat.

Sebagai pembeli, kita memiliki hak untuk memilih. Jangan ragu untuk memperhatikan alat yang digunakan oleh pedagang. Jika melihat penggunaan pipa plastik berwarna putih atau abu-abu sebagai cetakan, ada baiknya kita lebih waspada. Menjaga kesehatan dimulai dari hal-hal kecil, termasuk dalam memilih jajanan pasar yang kita konsumsi sehari-hari.

Kesimpulan: Kembali ke Tradisi Demi Kesehatan

Fenomena penggunaan pipa PVC untuk kue putu adalah pengingat bahwa modernitas tidak selalu membawa kemajuan jika mengabaikan prinsip dasar kesehatan. Ilmu pengetahuan telah membuktikan bahwa plastik industri dan panas tinggi adalah kombinasi yang mematikan. Dengan kembali ke cara-cara tradisional yang menggunakan bambu, kita tidak hanya melestarikan warisan budaya kuliner, tetapi juga melindungi diri dan keluarga dari ancaman penyakit mematikan di masa depan.

Baca Juga Tragedi Daging Slice Surabaya: Ratusan Siswa Tumbang Akibat Menu MBG, Apa yang Salah?
Tragedi Daging Slice Surabaya: Ratusan Siswa Tumbang Akibat Menu MBG, Apa yang Salah?

Mari dukung para pedagang yang tetap menjaga kualitas dan keamanan produknya. Edukasi mengenai bahaya kanker akibat penggunaan material yang salah harus terus disuarakan agar tidak ada lagi nyawa yang terancam hanya karena sepotong kue putu yang nikmat di lidah namun beracun di dalam tubuh.

dr. Sarah Amelia

dr. Sarah Amelia

Praktisi kesehatan yang aktif mengedukasi gaya hidup sehat. Menyediakan informasi medis yang mudah dipahami dan akurat hanya di Suara Sehat.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *