Polemik Ritual Injak Kepala Kerbau Jokowi di Lampung: Antara Tradisi Sakral dan Ketidaktahuan yang Dipertanyakan

Dimas Pratama | SuaraInfo
06 Jul 2026, 09:25 WIB
Polemik Ritual Injak Kepala Kerbau Jokowi di Lampung: Antara Tradisi Sakral dan Ketidaktahuan yang Dipertanyakan

SuaraInfo — Suasana khidmat di Kedatun Keagungan Lampung seketika menjadi sorotan nasional ketika sebuah rekaman prosesi adat menjadi viral di jagat maya. Dalam prosesi tersebut, Presiden RI ke-7, Joko Widodo, terlihat menjalani sebuah ritual yang tidak biasa di mata publik umum: menginjak kepala kerbau. Momen ini terjadi saat beliau dianugerahi gelar adat tertinggi di Bumi Ruwa Jurai. Namun, di balik kemegahan upacara tersebut, muncul sebuah narasi yang memicu perdebatan panas di panggung politik nasional mengenai apakah sang mantan presiden benar-benar mengetahui detail ritual yang akan dijalaninya.

Penganugerahan Gelar ‘Baginda Pemuka Bangsa’ di Jantung Lampung

Peristiwa ini bermula ketika Joko Widodo (Jokowi) mengunjungi Kota Bandar Lampung untuk menerima gelar adat ‘Baginda Pemuka Bangsa’. Gelar ini diberikan oleh Kedatun Keagungan Lampung dalam sebuah upacara yang kental dengan nuansa tradisional di Jalan Sultan Haji. Bagi masyarakat Lampung, pemberian gelar atau yang dikenal dengan istilah muakhi, bukanlah sekadar seremoni formalitas. Ini adalah bentuk pengakuan tertinggi terhadap seseorang yang dianggap memiliki kontribusi besar bagi bangsa dan negara.

Baca Juga Industri Pariwisata Belanda Bergejolak: Protes Keras Atas Rencana Kenaikan Pajak Penerbangan 140 Persen
Industri Pariwisata Belanda Bergejolak: Protes Keras Atas Rencana Kenaikan Pajak Penerbangan 140 Persen

Tokoh adat terkemuka Lampung, Mawardi Rahma Harirama, yang menyandang gelar Sultan Seghayo Dipuncak Nur, memberikan penjelasan mendalam mengenai akar budaya ini. Menurutnya, prosesi ini telah berakar selama ribuan tahun dan menjadi identitas tak terpisahkan dari budaya Lampung. “Ini adalah bagian dari penerapan Piil Pesenggiri, sebuah falsafah hidup masyarakat Lampung yang sangat menjunjung tinggi kehormatan, rasa malu, dan martabat. Di dalamnya terdapat nilai nemui nyimah atau semangat untuk selalu bersilaturahmi dan membuka diri terhadap tamu dengan penuh keramahan,” jelas Mawardi.

Kronologi di Atas Karpet Merah: Kejutan yang Tak Terduga?

Dalam dokumentasi yang beredar, Jokowi tampak mengenakan busana adat Lampung yang lengkap dan megah. Saat menuju singgasana atau kursi kebesaran, di atas karpet merah telah disiapkan sebuah kepala kerbau. Sesuai dengan arahan pemangku adat, Jokowi kemudian menjejakkan kakinya di atas kepala hewan yang menjadi simbol pengorbanan tersebut. Namun, klaim mengejutkan datang dari lingkaran internal pendukungnya yang menyatakan bahwa sang Presiden sebenarnya merasa canggung dan tidak mengetahui bahwa ritual tersebut melibatkan bagian tubuh hewan.

Baca Juga Mengenal ‘Baginda Pemuka Bangsa’, Gelar Adat Sakral dari Keraton Kagungan Lampung untuk Presiden ke-7 RI
Mengenal ‘Baginda Pemuka Bangsa’, Gelar Adat Sakral dari Keraton Kagungan Lampung untuk Presiden ke-7 RI

Ketua DPP PSI, Bestari Barus, mengungkapkan bahwa Jokowi sempat bercerita mengenai momen tersebut saat berada di Solo. Menurut Bestari, Jokowi tidak mendapatkan informasi detail mengenai setiap tahapan ritual, termasuk bagian menginjak kepala kerbau. “Beliau datang untuk menghormati undangan para tokoh adat, sebagai bentuk apresiasi atas penghargaan yang diberikan masyarakat. Pak Jokowi tidak menentukan jalannya acara, beliau hanya mengikuti protokoler adat yang sudah disusun oleh para tetua,” ungkap Bestari saat memberikan keterangan kepada media.

Lebih lanjut, Bestari menggambarkan ekspresi kekhawatiran Jokowi saat itu. “Begitu naik ke panggung dan melihat ada kepala kerbau, beliau sempat bergumam, ‘Wah, ini nanti pasti ramai dibicarakan’. Beliau sudah memprediksi bahwa momen sensitif seperti ini bisa disalahartikan oleh publik, namun beliau tetap melanjutkannya demi menghormati tradisi setempat,” tambahnya. Narasi ini sengaja dibangun untuk menepis tudingan bahwa Jokowi melakukan aksi tersebut dengan penuh kesengajaan untuk pamer kekuasaan.

Skeptisisme PDIP: Antara Ketidaktahuan dan Pengaturan Skenario

Namun, penjelasan dari pihak PSI tersebut tidak serta-merta diterima oleh lawan politik maupun mantan rekan koalisinya. Politisi senior PDI Perjuangan, Deddy Sitorus, melontarkan kritik pedas dan menyatakan ketidakpercayaannya terhadap klaim ‘ketidaktahuan’ tersebut. Deddy menilai, untuk acara sekaliber penganugerahan gelar adat kepada seorang tokoh besar, sangat tidak masuk akal jika setiap detail teknis tidak dibicarakan sebelumnya.

Baca Juga Lautan Indonesia di Titik Nadir: Menelisik Luka Ekologis di Balik Narasi Surga Wisata Bahari
Lautan Indonesia di Titik Nadir: Menelisik Luka Ekologis di Balik Narasi Surga Wisata Bahari

“Jokowi mau injak kepala kerbau atau apa pun, itu hak beliau. Namun, mengklaim tidak tahu itu rasanya kurang logis. Bahkan, informasi yang kami terima menyebutkan bahwa beliau sendiri memiliki peran dominan dalam koordinasi kegiatan tersebut,” ujar Deddy dengan nada skeptis. Perdebatan ini pun berkembang menjadi bola liar di media sosial, di mana masyarakat terbelah antara mereka yang melihatnya sebagai penghormatan adat yang murni dan mereka yang menganggapnya sebagai bagian dari drama politik yang sudah diatur.

Membedah Makna Simbolis Kepala Kerbau dalam Tradisi Lampung

Untuk memahami mengapa ritual ini dilakukan, kita perlu menilik lebih dalam ke dalam sosiologi masyarakat Lampung. Dalam banyak tradisi nusantara, kerbau adalah simbol kemakmuran, kekuatan, dan pengorbanan. Menginjak kepala kerbau dalam konteks pemberian gelar seringkali dimaknai sebagai simbol penaklukan terhadap hawa nafsu hewani atau sebagai tanda bahwa sang pemimpin siap memikul beban berat rakyatnya.

Beberapa pengamat budaya berpendapat bahwa kontroversi ini muncul karena adanya ‘gegar budaya’ antara nilai-nilai tradisional yang sangat spesifik dengan kacamata masyarakat modern yang cenderung melihat segala sesuatu secara visual tanpa memahami esensi filosofisnya. Di Lampung, ritual ini dianggap sakral, namun di ruang digital, ia bisa dengan mudah dipelintir menjadi narasi tentang kesombongan atau mistisisme yang tidak perlu.

Baca Juga Menelisik Motayok: Ritual Pengobatan Mistis dan Warisan Luhur Bolaang Mongondow yang Melawan Arus Zaman
Menelisik Motayok: Ritual Pengobatan Mistis dan Warisan Luhur Bolaang Mongondow yang Melawan Arus Zaman

Dampak Politik dan Persepsi Publik

Polemik ini menambah panjang daftar perdebatan mengenai simbolisme yang sering mengelilingi sosok Jokowi. Sebagai pemimpin yang sering menggunakan pendekatan budaya dalam diplomasinya, langkah-langkah Jokowi memang selalu berada di bawah mikroskop publik. Kasus di Lampung ini menunjukkan betapa tipisnya batas antara apresiasi budaya dan kontroversi politik di Indonesia.

Masyarakat kini dihadapkan pada dua pilihan narasi: mempercayai bahwa Jokowi adalah seorang pemimpin yang tulus mengikuti adat meski merasa waswas, atau mempercayai kritikus yang menyebut ini adalah bagian dari pencitraan yang sudah terhitung. Namun, terlepas dari perdebatan tersebut, satu hal yang pasti adalah kekayaan adat istiadat Indonesia seperti yang dimiliki masyarakat Lampung akan selalu memiliki daya tarik dan kompleksitas tersendiri yang patut untuk dipelajari lebih dalam.

Kesimpulan: Menghargai Keragaman di Tengah Arus Informasi

Fenomena ‘injak kepala kerbau’ ini mengajarkan kita pentingnya literasi budaya sebelum melontarkan penilaian di ruang publik. Bagi masyarakat Lampung, kehadiran Jokowi dan kesediaannya mengikuti prosesi adat hingga tuntas adalah sebuah kehormatan besar yang akan dicatat dalam sejarah Kedatun Keagungan. Di sisi lain, dinamika politik yang menyertainya adalah bumbu yang tak terpisahkan dari kehidupan demokrasi kita.

Baca Juga Revolusi Liburan di Negeri Sendiri: Mengupas 4 Strategi Baru Kemenpar untuk Pengalaman Wisata Tak Terlupakan
Revolusi Liburan di Negeri Sendiri: Mengupas 4 Strategi Baru Kemenpar untuk Pengalaman Wisata Tak Terlupakan

Sebagai penutup, penting bagi kita untuk tetap melihat peristiwa ini dari berbagai sudut pandang. Apakah ini sebuah ketidaktahuan yang jujur atau sebuah skenario yang matang, warisan budaya Piil Pesenggiri tetaplah menjadi permata dari Lampung yang harus dijaga kelestariannya. Jangan sampai kebisingan politik mengaburkan nilai luhur dari adat istiadat Indonesia yang telah bertahan selama ribuan tahun.

Dimas Pratama

Dimas Pratama

Penjelajah dunia yang gemar membagikan cerita perjalanan unik dan panduan budget travel. Menginspirasi petualangan Anda melalui Info Travel.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *