Tragedi Kematian Dokter Muda di Jambi: MGBKI Tegaskan Program Internship Bukan Ajang Eksploitasi Tenaga Murah

dr. Sarah Amelia | SuaraInfo
03 Mei 2026, 19:36 WIB
Tragedi Kematian Dokter Muda di Jambi: MGBKI Tegaskan Program Internship Bukan Ajang Eksploitasi Tenaga Murah

SuaraInfo — Dunia kedokteran tanah air kembali berduka sekaligus bergejolak. Gugurnya Myta Aprilia Azmy, seorang dokter muda yang tengah meniti pengabdian dalam program internship dokter di Jambi, telah membuka kotak pandora mengenai potret buram sistem pendidikan profesi di Indonesia. Tragedi ini tidak hanya menyisakan air mata bagi keluarga, tetapi juga memicu reaksi keras dari para pemangku kebijakan akademik di bidang kesehatan.

Majelis Guru Besar Kedokteran Indonesia (MGBKI) memberikan sorotan yang sangat tajam terhadap insiden ini. Dalam sebuah pernyataan resmi yang menggetarkan nurani publik, MGBKI menegaskan bahwa program internship seharusnya menjadi kawah candradimuka untuk mengasah kemahiran klinis, bukan justru dijadikan celah untuk mengeksploitasi tenaga medis muda dengan kedok pengabdian.

Mengembalikan Khitah Pendidikan Profesi

Ketua MGBKI, Prof. dr. Budi Iman Santoso, SpOG(K), dalam sebuah konferensi pers yang digelar pada Minggu (3/5/2026), menyatakan kegelisahannya yang mendalam. Ia menekankan bahwa esensi dari tugas internship bagi dokter muda harus dikembalikan sepenuhnya sebagai proses pendidikan profesi yang bermartabat.

Baca Juga Tragedi MBG Anambas: Investigasi SuaraInfo Mengungkap Kandungan Boraks dan Bakteri di Balik Keracunan 162 Siswa
Tragedi MBG Anambas: Investigasi SuaraInfo Mengungkap Kandungan Boraks dan Bakteri di Balik Keracunan 162 Siswa

“Kita harus jujur melihat realita di lapangan. Tugas internship untuk dokter muda itu harus dikembalikan sebagai proses pendidikan profesi, bukan mekanisme penyediaan tenaga murah,” tegas Prof. Budi dengan nada bicara yang penuh penekanan. Pernyataan ini seolah menyentil praktik-praktik di berbagai wahana kesehatan yang sering kali memanfaatkan keberadaan dokter internship untuk mengisi kekosongan tenaga medis dengan kompensasi yang minim dan beban kerja yang maksimal.

Menurut Prof. Budi, kualitas lulusan dokter di Indonesia sangat bergantung pada tiga pilar utama yang tidak boleh ditawar: standar input yang ketat, proses pendidikan yang manusiawi, serta evaluasi yang dilakukan secara jujur dan transparan. Jika salah satu dari ketiga pilar ini roboh, maka keselamatan dokter muda akan terus terancam.

“Bila tiga hal ini tidak dipenuhi, maka kejadian serupa ini berpotensi besar akan terulang kembali di masa depan. Kita tidak boleh membiarkan nyawa dokter muda melayang sia-sia hanya karena kegagalan sistemik yang dipelihara,” tambahnya di hadapan awak media.

Baca Juga V BTS Hanya Tidur 2,5 Jam: Alarm Bahaya Kesehatan di Balik Gemerlap Panggung Dunia
V BTS Hanya Tidur 2,5 Jam: Alarm Bahaya Kesehatan di Balik Gemerlap Panggung Dunia

Potret Kelam Eksploitasi di Balik Jubah Putih

Isu mengenai beban kerja berlebihan memang bukan rahasia lagi di kalangan tenaga kesehatan. Namun, kasus meninggalnya Myta seolah menjadi puncak gunung es dari buruknya tata kelola program pendidikan kedokteran di Indonesia. MGBKI secara eksplisit menyatakan penolakannya terhadap segala bentuk eksploitasi terhadap peserta pendidikan.

Eksploitasi yang dimaksud bukan hanya soal materi, melainkan juga terkait jam kerja yang tidak manusiawi dan minimnya perlindungan terhadap kondisi kesehatan fisik maupun mental para peserta. Prof. Budi menengarai adanya pembiaran terhadap kondisi sakit peserta pendidikan yang dipaksa untuk tetap bertugas demi menjaga kelangsungan pelayanan di rumah sakit atau puskesmas wahana.

“Beban kerja berlebihan, penugasan tanpa supervisi yang adekuat, serta pengabaian terhadap keluhan sakit peserta merupakan bentuk kegagalan tata kelola yang tidak dapat dibenarkan dari sudut pandang mana pun,” ujar Prof. Budi. Hal ini merujuk pada laporan yang beredar bahwa dokter Myta sempat mengalami sesak napas namun tetap harus menjalani kewajibannya sebelum akhirnya kondisinya memburuk secara fatal.

Baca Juga Strategi Besar Badan Gizi Nasional: Memastikan Program Makan Bergizi Gratis Menjangkau Kelompok Prioritas Utama
Strategi Besar Badan Gizi Nasional: Memastikan Program Makan Bergizi Gratis Menjangkau Kelompok Prioritas Utama

Kritik Terhadap Budaya Victim Blaming dan Intimidasi

Selain masalah teknis pekerjaan, MGBKI juga menyentil adanya budaya toxic yang masih membudaya di lingkungan medis, yakni victim blaming dan intimidasi. Sering kali, ketika seorang dokter muda mengeluh lelah atau sakit, mereka justru dianggap lemah atau tidak memiliki daya juang yang cukup. Budaya ini membuat banyak dokter internship merasa takut untuk melaporkan kondisi mereka yang sebenarnya.

Informasi yang dihimpun oleh tim redaksi menunjukkan bahwa Kementerian Kesehatan tengah melakukan pengusutan mendalam terkait dugaan paksaan masuk kerja saat almarhumah sedang dalam kondisi tidak fit. Jika terbukti, hal ini akan menjadi catatan merah bagi instansi kesehatan yang seharusnya menjadi garda terdepan dalam mempromosikan kesehatan masyarakat, namun gagal menjaga kesehatan tenaga kerjanya sendiri.

Lima Rekomendasi Transformasi Sistemis MGBKI

Sebagai langkah konkret untuk mencegah tragedi serupa terulang kembali, MGBKI merumuskan lima poin rekomendasi kebijakan yang mendesak untuk segera diimplementasikan oleh pemerintah, khususnya Kementerian Kesehatan. Rekomendasi ini dirancang untuk menciptakan ekosistem pendidikan yang lebih aman dan suportif bagi dokter muda.

Baca Juga Strategi Mencuci Sayur dan Buah Mentah yang Benar: Menjaga Nutrisi Sambil Menangkal Bahaya Bakteri dan Pestisida
Strategi Mencuci Sayur dan Buah Mentah yang Benar: Menjaga Nutrisi Sambil Menangkal Bahaya Bakteri dan Pestisida
  • Dokter Supervisor Aktif: Setiap wahana pendidikan wajib memiliki dokter supervisor yang hadir secara fisik dan aktif memberikan bimbingan, bukan sekadar tanda tangan di atas kertas.
  • Sistem Eskalasi Klinis 24 Jam: Harus ada jalur komunikasi yang jelas ketika dokter muda menghadapi kasus sulit atau kondisi darurat medis yang memerlukan intervensi dokter senior kapan pun dibutuhkan.
  • Early Warning System (EWS): Implementasi sistem peringatan dini bagi kesehatan peserta pendidikan. Jika seorang dokter internship menunjukkan gejala sakit, sistem harus secara otomatis memberikan dispensasi untuk perawatan medis tanpa sanksi akademik atau administratif.
  • Kanal Pelaporan Anonim: Menyediakan wadah bagi dokter muda untuk melaporkan praktik intimidasi, beban kerja berlebih, atau masalah lainnya tanpa rasa takut akan diskriminasi atau ancaman terhadap karier mereka.
  • Perlindungan Terhadap Pelapor: Menjamin keamanan dan kerahasiaan identitas pelapor guna memastikan transparansi dalam evaluasi program internship.

Menanti Langkah Nyata Pemerintah

Kematian Myta Aprilia Azmy harus menjadi titik balik bagi reformasi pelayanan kesehatan dan pendidikan kedokteran di tanah air. Publik kini menunggu langkah nyata dari Kementerian Kesehatan untuk mengevaluasi secara menyeluruh program internship dokter di seluruh Indonesia.

Baca Juga Ironi Sang Pemburu Keabadian: Bryan Johnson Didiagnosis Autoimun Saat Berjuang Hidup Selamanya
Ironi Sang Pemburu Keabadian: Bryan Johnson Didiagnosis Autoimun Saat Berjuang Hidup Selamanya

Sangat disayangkan jika cita-cita mulia untuk mencetak dokter yang kompeten harus dinodai oleh praktik-praktik yang tidak manusiawi. Dokter juga manusia, mereka bukan robot yang bisa bekerja tanpa henti tanpa memperhatikan batas ketahanan fisik. Menjaga kesehatan para dokter muda adalah investasi jangka panjang untuk kualitas kesehatan bangsa.

Tragedi di Jambi ini adalah pengingat keras bagi kita semua. Bahwa di balik putihnya jas dokter, ada nyawa yang harus dijaga, ada keluarga yang menanti kepulangan mereka, dan ada masa depan bangsa yang bertumpu pada pundak mereka. Jangan biarkan pengabdian mereka berakhir dengan duka akibat sistem yang gagal melindungi.

Mari kita kawal bersama rekomendasi dari MGBKI ini agar tidak hanya menjadi dokumen yang berdebu di meja birokrasi, tetapi bertransformasi menjadi kebijakan nyata yang melindungi para pejuang kesehatan di garda terdepan.

dr. Sarah Amelia

dr. Sarah Amelia

Praktisi kesehatan yang aktif mengedukasi gaya hidup sehat. Menyediakan informasi medis yang mudah dipahami dan akurat hanya di Suara Sehat.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *