Tragedi Kematian dr. Myta: Investigasi Kemenkes Bongkar Borok Eksploitasi dan Manipulasi Jadwal di RSUD Kuala Tungkal

dr. Sarah Amelia | SuaraInfo
08 Mei 2026, 07:26 WIB
Tragedi Kematian dr. Myta: Investigasi Kemenkes Bongkar Borok Eksploitasi dan Manipulasi Jadwal di RSUD Kuala Tungkal

SuaraInfo — Tabir gelap yang menyelimuti kasus kematian dr. Myta Aprilia Azmi (MAA), seorang dokter internship yang tengah bertugas di Jambi, akhirnya tersingkap. Investigasi mendalam yang dilakukan oleh Kementerian Kesehatan RI (Kemenkes) mengonfirmasi adanya rentetan pelanggaran berat, mulai dari beban kerja yang melampaui batas kemanusiaan hingga upaya sistematis untuk memanipulasi data kehadiran guna menutupi fakta lapangan yang sebenarnya.

Kematian dr. Myta bukan sekadar angka dalam statistik tenaga medis, melainkan puncak gunung es dari karut-marut program dokter internship di daerah. Berdasarkan laporan hasil investigasi, ditemukan bukti kuat bahwa para dokter muda ini dipaksa bekerja dalam tekanan tinggi tanpa pendampingan yang memadai, bahkan di tengah kondisi kesehatan yang sedang menurun.

Manipulasi Jadwal: Skenario yang Gagal Sempurna

Salah satu temuan paling mengejutkan dalam laporan Inspektorat Jenderal Kemenkes adalah adanya percobaan penghilangan jejak terkait jam kerja peserta internship. Plt Inspektur Jenderal Kemenkes, Rudi Supriatna Nata Supatra, mengungkapkan bahwa terdapat instruksi langsung melalui pesan singkat (chat) dari oknum dokter pendamping berinisial J kepada peserta internship untuk mengubah jadwal piket IGD.

Baca Juga Transformasi Unik Mi Instan Menjadi Tempe: Eksperimen Sains Pangan yang Menggugah Rasa dan Nutrisi
Transformasi Unik Mi Instan Menjadi Tempe: Eksperimen Sains Pangan yang Menggugah Rasa dan Nutrisi

Dalam bukti percakapan yang diperoleh tim investigasi medis, dokter J meminta agar jadwal yang awalnya menunjukkan beban kerja berlebihan diedit menjadi sistem tiga shift yang tampak normal. “Coba aku lihat jadwal,” tulis J dalam pesan tersebut. Ketika peserta menjawab bahwa jadwal ada di laptop, J segera menimpali, “Kalau bisa jadwal diedit buat yang 3 shift yang di IGD.” Upaya ini diduga dilakukan sesaat sebelum tim investigasi tiba di RSUD Kuala Tungkal untuk mengaburkan fakta bahwa dr. Myta dan rekan-rekannya bekerja tanpa jeda istirahat yang cukup.

Tak berhenti di situ, skenario manipulasi ini juga melibatkan pemaksaan tanda tangan kepada sejumlah peserta internship lainnya. Tujuannya jelas: menciptakan persepsi seolah-olah jadwal kerja yang padat tersebut telah disepakati bersama secara sukarela. Padahal, kenyataan di lapangan menunjukkan para dokter muda ini seringkali baru bisa pulang setelah jam 4 sore, jauh melampaui jadwal yang seharusnya berakhir pada jam 2 siang.

Eksploitasi Berkedok ‘Proses Belajar’

Investigasi ini juga menyoroti perilaku tidak profesional dari oknum dokter organik atau dokter tetap di rumah sakit tersebut. Alih-alih memberikan bimbingan sesuai marwah program internship, mereka justru melimpahkan seluruh tanggung jawab penanganan pasien di IGD kepada para peserta internship, terutama pada shift malam. Dalih yang digunakan selalu klasik: “agar dokter muda lebih banyak belajar.”

Baca Juga Waspadai Piring Anda! Mengupas 5 Jenis Makanan dan Minuman Pemicu Kanker yang Harus Dibatasi Sekarang Juga
Waspadai Piring Anda! Mengupas 5 Jenis Makanan dan Minuman Pemicu Kanker yang Harus Dibatasi Sekarang Juga

Namun, di balik dalih edukasi tersebut, tim Kementerian Kesehatan menemukan fakta miris. Saat para dokter internship berjuang menangani pasien yang membeludak, oknum dokter pendamping justru kerap menghilang dari ruang jaga. Ada yang kedapatan asyik merokok di kantin, beristirahat lama untuk makan, hingga tidur nyenyak di kamar jaga saat situasi IGD sedang kritis. Hal ini sangat membahayakan keselamatan pasien, mengingat dokter internship secara legal masih memerlukan supervisi dalam setiap tindakan medis yang diambil.

Janji Palsu Insentif dan Fasilitas yang Tidak Manusiawi

Selain beban kerja fisik, dr. Myta dan rekan-rekannya juga harus menghadapi ketidakadilan finansial. SuaraInfo mencatat adanya ketimpangan antara janji awal dengan realisasi tunjangan yang diterima. Awalnya, pihak rumah sakit menjanjikan penggantian biaya kost selama 12 bulan penuh. Namun, dalam praktiknya, bantuan tersebut hanya diberikan selama lima bulan dengan nominal sekitar Rp 1,7 juta.

Fasilitas pendukung untuk menjaga performa dokter juga jauh dari kata layak. Berdasarkan pedoman Kemenkes, rumah sakit wahana wajib menyediakan ruang jaga yang memadai untuk beristirahat. Namun di RSUD Kuala Tungkal, terjadi diskriminasi fasilitas yang mencolok. “Dokter organik tidur di kasur atas, sementara dokter internship dibiarkan tidur di bawah atau lantai,” ungkap dr. Yuli Farianti, Direktur Jenderal Sumber Daya Manusia Kemenkes, dengan nada kecewa.

Baca Juga Seni Mindful Eating: Mengapa Membaca Label Nutrisi Jauh Lebih Penting Daripada Sekadar Rasa
Seni Mindful Eating: Mengapa Membaca Label Nutrisi Jauh Lebih Penting Daripada Sekadar Rasa

Bahkan untuk kebutuhan dasar seperti suplemen atau vitamin guna menjaga imunitas dokter yang bertugas non-stop, pihak rumah sakit hampir tidak pernah memberikannya. Padahal, menjaga stamina tenaga medis adalah krusial, terutama bagi mereka yang terpapar risiko penyakit menular setiap hari di garda terdepan.

Detik-Detik Terakhir yang Memilukan: Perawatan Seadanya

Mungkin bagian paling memilukan dari hasil investigasi ini adalah bagaimana kondisi kesehatan dr. Myta diabaikan oleh lingkungan kerjanya. Sebelum menghembuskan napas terakhir, dr. Myta sempat mengeluhkan kondisi fisiknya yang melemah. Namun, alih-alih mendapatkan perawatan intensif di ruang rawat yang layak, ia hanya diberikan penanganan ala kadarnya.

“Alangkah sedihnya, sudah tahu dia panas tinggi, dia cuma diinfus sambil duduk di tempat jaga. Tiang infusnya pun hanya disandarkan di jendela karena tidak ada fasilitas yang memadai saat itu,” papar dr. Yuli. Pengabaian terhadap kondisi kesehatan rekan sejawat ini menjadi catatan merah bagi etika profesi kedokteran di wahana tersebut. Sebuah rekaman suara (voice note) yang ditinggalkan dr. Myta sebelum wafat bahkan menggambarkan keputusasaannya dengan kalimat singkat yang menggetarkan: “Aku nggak bisa, nggak kuat.”

Baca Juga Rahasia Jamu Kunyit Asam Redakan Nyeri Haid: Tinjauan Medis dan Panduan Konsumsi yang Tepat
Rahasia Jamu Kunyit Asam Redakan Nyeri Haid: Tinjauan Medis dan Panduan Konsumsi yang Tepat

Sanksi Berat Menanti: Pembekuan STR dan Izin Praktik

Menanggapi temuan-temuan fatal ini, Kemenkes tidak tinggal diam. Langkah tegas diambil dengan memberikan surat teguran keras kepada pihak rumah sakit dan oknum dokter yang terlibat. Lebih jauh, audit medis bersama Majelis Disiplin Profesi dan Konsil Kesehatan Indonesia (KKI) sedang berlangsung. Jika terbukti ada pelanggaran kode etik berat dan kelalaian yang menyebabkan hilangnya nyawa, sanksi berupa pembekuan Surat Tanda Registrasi (STR) hingga pencabutan izin praktik secara permanen berada di depan mata.

“Kami tidak akan menoleransi segala bentuk perundungan, eksploitasi, maupun manipulasi dalam program pendidikan kedokteran. Program internship seharusnya menjadi kawah candradimuka untuk mencetak dokter handal, bukan tempat untuk memeras tenaga tanpa perlindungan,” tegas pihak Kemenkes. Tragedi di RSUD Kuala Tungkal ini diharapkan menjadi momentum evaluasi total terhadap sistem distribusi dan pengawasan dokter internship di seluruh pelosok Indonesia agar kejadian serupa tidak pernah terulang kembali.

Kasus ini menjadi pengingat keras bagi seluruh institusi kesehatan bahwa keselamatan tenaga medis adalah pondasi utama dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat. Tanpa perlindungan terhadap para dokternya, sistem kesehatan nasional berada dalam ancaman keruntuhan etis dan kualitas.

Baca Juga Mengenang Sosok Jenderal Ryamizard Ryacudu: Perjuangan Terakhir di Ruang CICU RSPAD
Mengenang Sosok Jenderal Ryamizard Ryacudu: Perjuangan Terakhir di Ruang CICU RSPAD
dr. Sarah Amelia

dr. Sarah Amelia

Praktisi kesehatan yang aktif mengedukasi gaya hidup sehat. Menyediakan informasi medis yang mudah dipahami dan akurat hanya di Suara Sehat.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *