Aroma Kentut Lebih Menyengat Usai Pesta Daging? Ternyata Ini Penyebab Aslinya Menurut Pakar

dr. Sarah Amelia | SuaraInfo
29 Mei 2026, 03:28 WIB
Aroma Kentut Lebih Menyengat Usai Pesta Daging? Ternyata Ini Penyebab Aslinya Menurut Pakar

SuaraInfo — Perayaan Idul Adha selalu menyisakan cerita kuliner yang menggoda selera. Di setiap sudut jalan, aroma sate yang terbakar hingga wanginya rempah rendang dan gulai seolah menjadi orkestra penciuman yang tak terelakkan. Namun, di balik euforia santap besar tersebut, muncul sebuah keluhan klasik yang sering kali membuat seseorang merasa kurang percaya diri di ruang publik: aroma kentut yang menjadi jauh lebih bau dan tajam dari biasanya.

Banyak masyarakat yang secara otomatis menunjuk tumpukan daging kurban di piring mereka sebagai tersangka utama. Anggapan bahwa protein hewani berlebih adalah biang kerok gas lambung yang mematikan sudah mendarah daging. Namun, benarkah dunia medis mengamini tuduhan tersebut? Ternyata, jawaban dari para ahli mungkin akan membuat Anda sedikit terkejut sekaligus lega.

Membedah Fenomena Perut Aktif Pasca-Lebaran

Saat momen hari raya, pola makan masyarakat cenderung berubah drastis secara mendadak. Jika biasanya kita mengonsumsi makanan dengan komposisi gizi seimbang, pada hari raya kurban, dominasi protein dan lemak dari olahan daging seperti tongseng dan sate menjadi sangat dominan. Perubahan pola makan yang tiba-tiba ini memang memicu reaksi pada sistem pencernaan.

Baca Juga Taktik Jitu Tetap Produktif Saat Ngantor Usai Begadang Nonton Piala Dunia
Taktik Jitu Tetap Produktif Saat Ngantor Usai Begadang Nonton Piala Dunia

Kondisi perut yang terasa lebih “aktif” atau bergemuruh sering kali diikuti dengan frekuensi buang angin yang meningkat. Namun, menariknya, aroma yang dihasilkan tidak semata-mata berasal dari daging itu sendiri. SuaraInfo merangkum pandangan medis untuk meluruskan persepsi yang selama ini keliru di tengah masyarakat.

Mitos Daging Sebagai Pemicu Bau Busuk

Spesialis penyakit dalam sekaligus konsultan gastroentologi dan hepatologi dari Mayapada Hospital, dr. Aru Ariadno, SpPD-KGEH, memberikan penjelasan mendalam terkait fenomena ini. Menurutnya, daging sebenarnya bukan merupakan penyebab utama mengapa aroma gas yang keluar dari tubuh seseorang menjadi lebih menyengat.

“Justru kentut yang lebih bau itu terjadi bila kita banyak mengonsumsi karbohidrat,” ungkap dr. Aru dalam sebuah kesempatan diskusi kesehatan. Penjelasan ini mematahkan asumsi populer bahwa protein daginglah yang bertanggung jawab penuh atas aroma sulfur yang menusuk hidung.

Lebih lanjut, dr. Aru mencontohkan salah satu jenis makanan yang sering menjadi pemicu utama adalah ubi-ubian. Meskipun ubi sering dianggap sebagai makanan sehat, jenis karbohidrat kompleks ini memiliki karakteristik unik saat berhadapan dengan enzim pencernaan manusia.

Baca Juga Tragedi Peserta SPPI: Mengapa Heat Stroke Bisa Menyebabkan Henti Jantung Mendadak? Ini Penjelasan Medisnya
Tragedi Peserta SPPI: Mengapa Heat Stroke Bisa Menyebabkan Henti Jantung Mendadak? Ini Penjelasan Medisnya

Mekanisme Biokimia: Mengapa Kentut Bisa Berbau?

Untuk memahami mengapa aroma tertentu bisa muncul, kita perlu menengok apa yang terjadi di dalam usus besar kita. Tubuh manusia adalah sebuah laboratorium kimia yang sangat sibuk. Karbohidrat yang masuk ke dalam tubuh tidak semuanya dapat diserap secara sempurna di usus halus.

Sisa-sisa karbohidrat yang tidak terserap ini kemudian akan bergerak menuju usus besar, di mana triliunan mikroba atau kuman usus sudah menunggu. Di sinilah proses fermentasi terjadi. “Karbohidrat tersebut nantinya akan dipecah oleh kuman yang ada di usus. Mikroba tersebut mengubahnya menjadi sebuah gas yang menjadi biang kerok kentut menjadi bau,” jelas dr. Aru.

Dalam proses pemecahan oleh bakteri usus ini, dihasilkan berbagai jenis gas, termasuk hidrogen, karbon dioksida, metana, dan yang paling krusial adalah gas sulfur atau hidrogen sulfida. Gas sulfur inilah yang memberikan aroma khas “telur busuk” pada kentut. Semakin banyak karbohidrat tertentu yang difermentasi, semakin banyak pula produksi gas sulfur yang dihasilkan oleh kuman-kuman tersebut.

Baca Juga Kisah Dramatis Petani yang Menyimpan ‘Batu Raksasa’ 1,3 Kg di Kandung Kemih: Pelajaran Penting Tentang Gejala Saluran Kemih
Kisah Dramatis Petani yang Menyimpan ‘Batu Raksasa’ 1,3 Kg di Kandung Kemih: Pelajaran Penting Tentang Gejala Saluran Kemih

Peran Serat dan Proses Pencernaan yang Lambat

Meskipun daging bukan penyebab langsung aroma yang menyengat, ia memiliki peran pendukung dalam drama pencernaan ini. Daging merah cenderung membutuhkan waktu lebih lama untuk dicerna dibandingkan sayuran atau buah-buahan. Ketika kita mengonsumsi daging dalam jumlah besar tanpa diimbangi dengan asupan serat yang cukup, proses transit makanan di usus menjadi lebih lambat.

Kondisi ini sering kali berujung pada masalah sembelit atau konstipasi. Saat tinja tertahan lebih lama di dalam usus besar, bakteri memiliki lebih banyak waktu untuk memecah sisa makanan dan memproduksi gas. Jadi, kombinasi antara asupan karbohidrat pemicu gas dan proses pencernaan yang melambat akibat kurang serat itulah yang sebenarnya membuat aroma kentut menjadi “ekstra” setelah pesta daging.

Tips Menjaga Pencernaan Selama Idul Adha

Agar momen silaturahmi tidak terganggu oleh masalah perut, ada beberapa langkah preventif yang bisa dilakukan. SuaraInfo menyarankan agar Anda tetap menjaga keseimbangan nutrisi di atas piring. Berikut adalah beberapa strategi yang bisa diterapkan:

Baca Juga Waspada Bom Waktu Kesehatan: Kebiasaan Gen Z yang Menjadi Pemicu Utama Gagal Ginjal di Usia Muda
Waspada Bom Waktu Kesehatan: Kebiasaan Gen Z yang Menjadi Pemicu Utama Gagal Ginjal di Usia Muda
  • Imbangi dengan Sayuran: Pastikan setiap porsi daging didampingi oleh sayuran hijau yang kaya serat untuk memperlancar metabolisme tubuh.
  • Cukupi Kebutuhan Air: Air putih sangat membantu proses pemecahan makanan dan mencegah tinja menjadi keras.
  • Perhatikan Jenis Karbohidrat: Jika Anda sudah mengonsumsi banyak protein, sebaiknya kurangi asupan karbohidrat yang tinggi gas seperti ubi, kol, atau kacang-kacangan secara bersamaan.
  • Tetap Aktif Bergerak: Berjalan kaki ringan setelah makan dapat membantu merangsang pergerakan usus (peristaltik) sehingga gas tidak menumpuk di satu titik.
  • Porsi yang Bijak: Hindari makan berlebihan dalam satu waktu. Mengonsumsi porsi kecil namun sering lebih ramah bagi lambung daripada makan besar sekaligus.

Waspadai Gejala Lain yang Menyertai

Meskipun kentut bau umumnya adalah hal yang normal dan berkaitan dengan makanan, Anda tetap harus waspada jika kondisi tersebut disertai dengan gejala lain yang mengganggu. Dr. Aru mengingatkan bahwa jika perut terasa kembung yang sangat hebat, nyeri ulu hati yang tajam, atau perubahan pola buang air besar yang drastis, sebaiknya segera berkonsultasi dengan tenaga medis.

Baca Juga Rupiah Terpuruk, Harga Obat Batuk di Jakarta Mulai Melambung: Ancaman Baru bagi Kantong Masyarakat?
Rupiah Terpuruk, Harga Obat Batuk di Jakarta Mulai Melambung: Ancaman Baru bagi Kantong Masyarakat?

Masalah pencernaan seperti gejala GERD atau sindrom iritasi usus besar (IBS) bisa saja kambuh akibat pola makan yang tidak terkontrol selama hari raya. Memahami sinyal tubuh adalah kunci utama dalam menjaga kesehatan jangka panjang.

Sebagai kesimpulan, jangan terburu-buru menyalahkan daging kurban atas aroma kurang sedap yang muncul. Periksa kembali apa saja yang mendampingi daging tersebut di piring Anda. Dengan pengaturan pola makan yang lebih cerdas dan pemahaman akan cara kerja tubuh, Anda tetap bisa menikmati lezatnya hidangan hari raya tanpa perlu khawatir dengan masalah pencernaan yang memalukan.

Ingatlah bahwa kesehatan pencernaan adalah cermin dari kesehatan tubuh secara keseluruhan. Tetaplah bijak dalam bersantap, dan pastikan keseimbangan tetap menjadi prioritas di tengah kemeriahan pesta kuliner Idul Adha tahun ini.

dr. Sarah Amelia

dr. Sarah Amelia

Praktisi kesehatan yang aktif mengedukasi gaya hidup sehat. Menyediakan informasi medis yang mudah dipahami dan akurat hanya di Suara Sehat.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *