Bahaya Memendam Emosi: Mengapa Luka Psikologis Bisa Memicu Kanker? Ini Penjelasan Medisnya

dr. Sarah Amelia | SuaraInfo
23 Mei 2026, 19:27 WIB
Bahaya Memendam Emosi: Mengapa Luka Psikologis Bisa Memicu Kanker? Ini Penjelasan Medisnya

SuaraInfo — Di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern yang menuntut ketangguhan, sering kali kita merasa terdesak untuk membungkus rapat-rapat segala kesedihan, amarah, hingga kekecewaan. Muncul sebuah narasi di ruang digital bahwa kebiasaan memendam perasaan bukan sekadar masalah kesehatan mental, melainkan bom waktu yang bisa memicu penyakit mematikan seperti kanker. Benarkah klaim tersebut secara medis? Ataukah ini hanya sekadar mitos yang berkembang tanpa dasar ilmiah yang kuat?

Untuk menjawab rasa penasaran publik, SuaraInfo merangkum penjelasan mendalam dari pakar onkologi terkemuka. Fenomena ini ternyata bukan isapan jempol belaka, namun ada mekanisme biologis rumit yang menghubungkan antara apa yang dirasakan oleh jiwa dengan apa yang bermanifestasi pada raga.

Menyelami Koneksi Antara Pikiran dan Tubuh

Dalam gelaran The 6th Siloam Oncology Summit yang berlangsung di Jakarta, Spesialis Penyakit Dalam Subspesialis Hematologi Onkologi, Dr. dr. Andhika Rachman, SpPD-KHOM, memberikan pencerahan mengenai isu sensitif ini. Beliau membenarkan bahwa emosi yang dipendam memiliki korelasi dengan risiko munculnya keganasan dalam tubuh. Namun, ia menekankan perlunya pemahaman yang lebih spesifik mengenai jenis emosi yang dimaksud.

Baca Juga Keajaiban di Balik Cangkir Pagi: Bagaimana Kopi Mengubah Peta Mikroba di Dalam Usus Anda
Keajaiban di Balik Cangkir Pagi: Bagaimana Kopi Mengubah Peta Mikroba di Dalam Usus Anda

Dr. Andhika menjelaskan bahwa tidak semua kekesalan sesaat atau stres ringan akan langsung berakhir pada diagnosa kanker. Titik kritisnya terletak pada durasi dan intensitas emosi tersebut. Ketika seseorang terus-menerus menekan perasaan negatif tanpa adanya pelepasan atau katarsis, kondisi ini bisa berkembang menjadi depresi berat dan stres kronis yang sistemik.

“Tapi, mana yang akan berwujud pada kanker? Yang kalau sampai mengakibatkan luapan emosi, itu jadi depresi, stres, dan stresnya yang bukan stres harian yang biasa kita hadapi,” ungkap dr. Andhika dalam sesi wawancara eksklusif tersebut. Hal ini memberikan gambaran bahwa beban mental yang tidak terkelola dengan baik dapat merusak sistem internal tubuh secara perlahan.

Mekanisme Biologis: Bagaimana Emosi Berubah Menjadi Sel Kanker?

Pertanyaan besarnya adalah: bagaimana mungkin sebuah perasaan yang abstrak bisa merusak sel fisik? Menurut penjelasan medis yang dihimpun SuaraInfo, kuncinya terletak pada respons kimiawi tubuh terhadap tekanan psikologis. Ketika seseorang terjebak dalam lubang depresi, tubuh tidak tinggal diam; ia akan merespons dengan memproduksi zat kimia tertentu secara berlebihan.

Baca Juga Membongkar Rahasia Nutrisi Telur Omega-3: Benarkah Lebih Rendah Kolesterol atau Sekadar Mitos?
Membongkar Rahasia Nutrisi Telur Omega-3: Benarkah Lebih Rendah Kolesterol atau Sekadar Mitos?

Dr. Andhika memaparkan bahwa saat tubuh mengalami depresi kronis, sistem imun akan melepaskan zat kimia yang disebut sebagai sitokin pro-inflamasi. Dalam kondisi normal, sitokin membantu tubuh melawan infeksi. Namun, jika diproduksi secara terus-menerus akibat stres batin, zat ini justru memicu peradangan atau inflamasi kronis di seluruh jaringan tubuh.

Inflamasi inilah yang menjadi jembatan menuju petaka. Peradangan yang menetap akan menyebabkan kenaikan suhu mikro di tingkat seluler. Perubahan lingkungan (environment) seluler ini memaksa sel-sel tubuh untuk beradaptasi dengan cara yang tidak semestinya, yang pada akhirnya dapat memicu perubahan genetik atau mutasi.

Kerusakan Genetik dan Transformasi Menuju Keganasan

Proses transformasi sel sehat menjadi sel keganasan bukanlah proses yang instan. Dr. Andhika merinci bahwa perubahan lingkungan sel akibat inflamasi kronis akan mulai merusak struktur DNA. Ketika kode genetik di dalam sel terganggu, protein-protein yang diproduksi oleh tubuh juga ikut berubah fungsinya.

“Akibatnya terjadi kerusakan, mulai ada kerusakan genetik. Di situlah, kalau gennya terganggu kemudian terjadi perubahan protein yang berwujud kepada jadinya keganasan,” papar sang dokter. Dalam dunia medis, proses ini dikenal sebagai karsinogenesis, di mana sel-sel yang rusak mulai membelah diri secara tidak terkendali dan mengabaikan sinyal kematian sel yang normal.

Baca Juga Jejak Kelam di Daycare Jogja: Ancaman Trauma hingga PTSD Hantui Balita Korban Kekerasan
Jejak Kelam di Daycare Jogja: Ancaman Trauma hingga PTSD Hantui Balita Korban Kekerasan

Penting bagi pembaca SuaraInfo untuk memahami bahwa tubuh manusia sebenarnya memiliki mekanisme perbaikan mandiri. Namun, tekanan batin yang luar biasa kuat dan berlangsung bertahun-tahun dapat melumpuhkan sistem pertahanan tersebut, sehingga sel kanker mendapatkan celah untuk berkembang biak.

Bukan Faktor Tunggal: Peran Gaya Hidup dan Genetika

Meskipun emosi memegang peran yang signifikan dalam kesehatan fisik, dr. Andhika kembali mengingatkan bahwa kanker adalah penyakit multifaktorial. Artinya, memendam emosi jarang sekali menjadi satu-satunya penyebab tunggal. Ada banyak variabel lain yang saling berkaitan dan mempercepat proses timbulnya penyakit ini.

Faktor risiko lain yang perlu diwaspadai meliputi gaya hidup yang tidak seimbang, seperti kebiasaan merokok, konsumsi makanan olahan secara berlebihan, serta paparan polusi lingkungan. Faktor keturunan atau predisposisi genetik juga turut mengambil bagian dalam menentukan seberapa rentan seseorang terhadap serangan sel kanker.

Oleh karena itu, menyalahkan diri sendiri atas emosi yang dirasakan justru bisa menambah beban mental. Kuncinya bukan sekadar menghindari rasa sedih atau marah, melainkan bagaimana kita mengelola dan melepaskan emosi tersebut agar tidak mengendap dan menjadi racun bagi tubuh.

Baca Juga Tubuh Sering Lemas Meski Sudah Cukup Istirahat? Kenali Sinyal Bahaya Diabetes Ringan yang Kerap Terabaikan
Tubuh Sering Lemas Meski Sudah Cukup Istirahat? Kenali Sinyal Bahaya Diabetes Ringan yang Kerap Terabaikan

Langkah Preventif: Menjaga Kesehatan Mental demi Kesehatan Fisik

Lantas, apa yang bisa kita lakukan untuk memutus rantai risiko ini? Berdasarkan saran dari dr. Andhika, langkah pertama dan yang paling utama adalah dengan melakukan kontrol stres. Kita perlu menemukan saluran yang sehat untuk mengekspresikan apa yang kita rasakan, baik melalui hobi, bercerita kepada orang kepercayaan, atau berkonsultasi dengan profesional kesehatan mental.

Selain manajemen emosi, aktivitas fisik juga memegang peranan vital. Olahraga bukan hanya tentang membentuk otot, tetapi juga tentang melepaskan hormon endorfin yang secara alami dapat melawan efek buruk dari sitokin pro-inflamasi. “Pencegahannya dengan kontrol stres dan jangan lupa olahraga, main-main jalan-jalan juga itu penting untuk membantu mencegah,” tandas dr. Andhika.

Aktivitas sederhana seperti berjalan kaki di alam terbuka atau sekadar berkumpul dengan orang-orang tercinta dapat memberikan sinyal keamanan bagi otak, yang kemudian akan menurunkan tingkat inflamasi dalam tubuh. Dengan menjaga keseimbangan antara kesehatan jiwa dan raga, kita secara proaktif sedang membangun benteng pertahanan melawan ancaman gejala kanker di masa depan.

Baca Juga Mitos Nyeri Leher Belakang dan Kolesterol Tinggi: Bedah Fakta Medis Serta Tanda yang Jarang Disadari
Mitos Nyeri Leher Belakang dan Kolesterol Tinggi: Bedah Fakta Medis Serta Tanda yang Jarang Disadari

Kesimpulan dari Meja Redaksi

Penjelasan dari Dr. dr. Andhika Rachman ini memberikan perspektif baru bagi kita semua bahwa menjaga kesehatan mental bukanlah sebuah kemewahan, melainkan kebutuhan mendasar untuk kelangsungan hidup secara fisik. Luka batin yang tidak terobati ternyata memiliki jalur biologis yang nyata untuk merusak kesehatan kita hingga ke tingkat sel.

Mari kita mulai lebih peduli pada diri sendiri. Jangan ragu untuk melepaskan beban yang ada, karena tubuh kita berhak untuk merasa tenang dan bebas dari peradangan yang merusak. Ingatlah bahwa kesehatan yang sejati bermula dari hati yang damai dan pikiran yang jernih.

Demikian informasi mendalam yang disajikan oleh SuaraInfo. Tetaplah waspada terhadap sinyal-sinyal yang diberikan oleh tubuh Anda, dan jangan pernah meremehkan kekuatan dari kesehatan emosional Anda.

dr. Sarah Amelia

dr. Sarah Amelia

Praktisi kesehatan yang aktif mengedukasi gaya hidup sehat. Menyediakan informasi medis yang mudah dipahami dan akurat hanya di Suara Sehat.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *