Benteng Terakhir Pura Rambut Siwi Terancam Musnah: Pesisir Jembrana Dihantam Abrasi Hebat

Dimas Pratama | SuaraInfo
21 Mei 2026, 15:26 WIB
Benteng Terakhir Pura Rambut Siwi Terancam Musnah: Pesisir Jembrana Dihantam Abrasi Hebat

SuaraInfo — Gemuruh ombak yang biasanya menjadi irama syahdu di pesisir barat Pulau Dewata kini berubah menjadi dentum ancaman yang mencemaskan. Kawasan suci Pura Rambut Siwi, salah satu pilar spiritual penting di Kabupaten Jembrana, kini berada dalam kondisi kritis. Fenomena abrasi pantai yang kian agresif perlahan tapi pasti mulai meruntuhkan fondasi-fondasi bangunan suci yang telah berdiri kokoh selama berabad-abad.

Kondisi Pura Tirta yang Memprihatinkan

Terletak di kawasan Yehembang Kangin, Kecamatan Mendoyo, denyut nadi kehidupan spiritual di Pura Tirta Rambut Siwi seolah terengah-engah melawan kekuatan alam. Berdasarkan pantauan langsung di lapangan, hantaman gelombang pasang telah melampaui batas kewajaran. Struktur bangunan yang selama ini melindungi kesucian pura kini hancur berkeping-keping, menciptakan pemandangan yang menyayat hati bagi setiap pemedek yang datang.

Titik kerusakan terparah terpantau tepat di bagian bawah Pura Dang Kahyangan Rambut Siwi. Tembok penyengker yang berfungsi sebagai pembatas suci, serta Kori Pura Tirta, kini tinggal kenangan. Material bangunan tersebut telah tersapu oleh keganasan ombak, menyisakan puing-puing yang terbenam di balik pasir pantai. Kondisi ini memperlihatkan betapa daruratnya situasi lingkungan hidup di pesisir Jembrana saat ini.

Baca Juga Heboh Penampakan Hiu di Perairan The Nusa Dua, ITDC Pastikan Kawasan Wisata Tetap Aman dan Kondusif
Heboh Penampakan Hiu di Perairan The Nusa Dua, ITDC Pastikan Kawasan Wisata Tetap Aman dan Kondusif

Bale Pesandegan Nyaris Ambruk ke Laut

Tidak hanya tembok pembatas, ancaman nyata juga mengintai bangunan Bale Pesandegan yang berada di area dalam pura. Bangunan yang biasanya digunakan umat untuk beristirahat dan mempersiapkan sarana persembahyangan ini posisinya sudah sangat mengkhawatirkan. Fondasi di bawahnya telah tergerus habis, membuat bangunan tersebut jebol dan nyaris ambruk ke bibir pantai.

Kekhawatiran mendalam menyelimuti para pemedek. Rasa waswas menyelinap di antara doa-doa yang dipanjatkan, karena struktur tanah yang labil sewaktu-waktu bisa runtuh total. Jika penanganan secara masif tidak segera dilakukan dalam hitungan bulan, para ahli memprediksi bahwa seluruh area Pura Tirta bisa rata dengan tanah dan hanya menyisakan cerita sejarah dalam ingatan masyarakat budaya Bali.

Kesaksian Juru Sapuh: Sebuah Jeritan Hati

Mangku Widi, sosok Juru Sapuh Pura Tirta yang setiap hari merawat kawasan tersebut, tidak dapat menyembunyikan gurat kesedihan di wajahnya. Ia menyaksikan sendiri bagaimana air laut selangkah demi selangkah merebut daratan suci tersebut. Menurutnya, kerusakan ini bukanlah terjadi dalam semalam, melainkan akumulasi dari pembiaran alam yang terjadi sejak lama.

Baca Juga Jakarta Bidik Turis China: PHRI Bersiap Tancap Gas Dukung Promosi Masif di Xiamen dan Shanghai
Jakarta Bidik Turis China: PHRI Bersiap Tancap Gas Dukung Promosi Masif di Xiamen dan Shanghai

“Abrasi sudah sangat parah, banyak bagian dari Pura Tirta sudah hancur total. Ini bukan fenomena baru, tapi intensitasnya belakangan ini sangat merusak. Harus segera ada tindakan nyata, bukan sekadar survei, agar tempat suci kami tidak hilang tertelan laut,” ungkap Mangku Widi dengan nada getir saat ditemui pada Rabu (20/5/2026).

Beliau juga menegaskan bahwa keberadaan Pura Tirta memiliki nilai historis dan spiritual yang tak ternilai bagi masyarakat Jembrana. Hilangnya pura ini bukan sekadar hilangnya bangunan fisik, melainkan hilangnya bagian dari identitas religius yang telah diwariskan turun-temurun. Harapan besar kini digantungkan pada pundak pemerintah agar tidak menutup mata terhadap ancaman yang kian nyata ini.

Birokrasi dan Tantangan Penanganan Teknis

Perbekel Yehembang Kangin, Gede Suardika, mengakui bahwa pihaknya berada dalam posisi yang sulit. Meskipun dampak kerusakan sudah terlihat jelas di depan mata, penanganan secara permanen memerlukan biaya yang sangat besar dan keahlian teknis khusus yang berada di luar kewenangan pemerintah desa maupun kabupaten. Suardika menegaskan bahwa pihaknya telah melayangkan laporan resmi ke Pemerintah Daerah Jembrana.

Baca Juga Arus Balik Libur Panjang Idul Adha 2026: Lebih dari 41 Ribu Penumpang Kereta Api Kembali ke Jakarta
Arus Balik Libur Panjang Idul Adha 2026: Lebih dari 41 Ribu Penumpang Kereta Api Kembali ke Jakarta

“Kondisi kerusakan dan faktor penyebabnya sudah dalam skala besar. Secara aturan, kewenangan untuk melakukan konstruksi pengaman pantai di titik ini berada di bawah Balai Wilayah Sungai (BWS) Bali Penida. Kami sudah mengajukan permohonan penanganan darurat maupun permanen ke sana,” ujar Suardika memberikan klarifikasi mengenai hambatan administratif yang terjadi.

Meskipun tim dari BWS Bali Penida dilaporkan sempat turun ke lokasi untuk melakukan observasi dan survei teknis, namun hingga detik ini belum ada aktivitas fisik yang terlihat di lapangan. Ketidakhadiran alat berat atau pengiriman material pemecah gelombang membuat warga setempat merasa dibiarkan berjuang sendiri melawan bencana alam ini.

Kegagalan Upaya Darurat Swadaya Masyarakat

Sebelum kerusakan mencapai tahap kritis seperti sekarang, masyarakat setempat sebenarnya tidak tinggal diam. Semangat gotong royong sempat berkobar melalui aksi bersama antara pihak kecamatan, personel TNI/Polri, perangkat desa, hingga warga masyarakat. Mereka mencoba membendung laju air dengan metode konvensional.

Ribuan karung berisi pasir atau yang biasa disebut ‘kampil’ disusun sedemikian rupa di sepanjang bibir pantai untuk menahan gempuran ombak. Namun, kekuatan alam terbukti jauh lebih perkasa. Dalam hitungan hari, susunan karung tersebut tercerai-berai oleh ombak pasang. Upaya swadaya tersebut dianggap tidak efektif karena tingkat kerusakan sudah masuk dalam kategori skala berat yang membutuhkan infrastruktur permanen seperti revetment atau tanggul beton.

Baca Juga Demi Keberuntungan yang Mengikis Seni: Kisah di Balik Restorasi Mosaik Banteng Ikonik Milan
Demi Keberuntungan yang Mengikis Seni: Kisah di Balik Restorasi Mosaik Banteng Ikonik Milan

Dampak Luas Bagi Pariwisata dan Ekonomi Lokal

Pura Rambut Siwi bukan hanya pusat peribadatan, tetapi juga salah satu destinasi wisata Bali unggulan di wilayah barat. Keindahan pura yang bertengger di atas tebing dengan pemandangan langsung ke Samudera Hindia menjadikannya daya tarik bagi wisatawan domestik maupun mancanegara. Jika akses dan keamanan pura terganggu oleh abrasi, maka sektor ekonomi lokal yang bergantung pada pariwisata juga akan ikut terpukul.

Para pedagang di sekitar kawasan pura mulai merasakan dampaknya. Penurunan jumlah kunjungan karena kekhawatiran faktor keamanan lokasi mulai menghantui pendapatan mereka. Kondisi ini menambah beban sosial bagi masyarakat Jembrana yang tengah berusaha memulihkan ekonomi pasca-pandemi beberapa tahun silam.

Masa Depan Pesisir Jembrana yang Terancam

Fenomena di Pura Rambut Siwi hanyalah puncak gunung es dari masalah abrasi yang melanda pesisir Bali secara keseluruhan. Dari Kuta hingga Klungkung, garis pantai terus mundur akibat perubahan iklim dan ketidakseimbangan ekosistem laut. Namun, kasus di Jembrana ini menjadi sangat sensitif karena menyentuh ranah kesucian agama.

Baca Juga Cara Healing Maksimal Tanpa Mudik: 5 Tips Staycation Seru yang Bikin Jiwa Kembali Segar
Cara Healing Maksimal Tanpa Mudik: 5 Tips Staycation Seru yang Bikin Jiwa Kembali Segar

Masyarakat kini menanti janji dan realisasi dari pemerintah pusat maupun provinsi. Pertanyaan besar yang muncul di benak warga adalah: Apakah kita harus menunggu sampai Pura Rambut Siwi benar-benar ambruk ke laut sebelum tindakan nyata diambil? Sinergi antara pemerintah Jembrana, BWS Bali Penida, dan masyarakat sangat krusial demi memastikan warisan leluhur ini tetap tegak berdiri menantang zaman.

Kesimpulannya, penyelamatan Pura Rambut Siwi bukan sekadar urusan teknik sipil, melainkan sebuah bentuk penghormatan terhadap sejarah dan spiritualitas. Diperlukan tindakan cepat, taktis, dan terukur sebelum laut benar-benar merebut kembali apa yang selama ini dijaga dengan penuh pengabdian oleh umat sedharma.

Dimas Pratama

Dimas Pratama

Penjelajah dunia yang gemar membagikan cerita perjalanan unik dan panduan budget travel. Menginspirasi petualangan Anda melalui Info Travel.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *