Dilema Setu Asih Pulo: Estetika Wisata yang Memikat di Tengah Bayang-Bayang Banjir dan Kegagalan Revitalisasi

Dimas Pratama | SuaraInfo
31 Mei 2026, 11:25 WIB
Dilema Setu Asih Pulo: Estetika Wisata yang Memikat di Tengah Bayang-Bayang Banjir dan Kegagalan Revitalisasi

SuaraInfo — Menelusuri kawasan Rangkapan Jaya, Pancoran Mas, Depok, kita akan disambut oleh harmoni alam yang menenangkan. Di balik rimbunnya pepohonan hijau yang menari tertiup angin sepoi-sepoi, tersembunyi sebuah permata lokal bernama Setu Asih Pulo. Kawasan ini seolah menjadi oase bagi warga yang ingin melarikan diri sejenak dari hiruk-pikuk polusi dan kebisingan lalu lintas kota. Namun, di balik keindahan visual yang ditawarkan, tersimpan sebuah ironi yang meresahkan bagi masyarakat sekitar.

Setu Asih Pulo kini telah bersolek. Bagi pengunjung baru, lokasi ini sangat mudah ditemukan berkat papan nama raksasa berkelir merah menyala yang terpasang gagah di pagar batu. Revitalisasi yang dilakukan pemerintah memang memberikan wajah baru yang lebih modern. Pagar besi berwarna kuning cerah kini mengelilingi tepian air, sementara jalur pejalan kaki yang dilapisi batu paving rapi mengundang siapapun untuk melakukan aktivitas fisik seperti jogging maupun sekadar berjalan santai. Sayangnya, kerapian infrastruktur ini diduga menjadi salah satu pemicu masalah baru yang mengancam ketenangan warga: banjir.

Baca Juga Terobosan Dua Abad London Zoo: Menyingkap Rahasia Medis Satwa di Balik Galeri Kaca
Terobosan Dua Abad London Zoo: Menyingkap Rahasia Medis Satwa di Balik Galeri Kaca

Proyek Miliaran Rupiah: Antara Harapan dan Kenyataan

Berdasarkan data yang dihimpun dari laporan resmi, proyek revitalisasi Setu Asih Pulo yang rampung pada tahun 2023 ini bukanlah proyek sembarangan. Mengutip informasi dari akun resmi kementerian terkait, total anggaran yang digelontorkan mencapai angka fantastis, yakni Rp 36,9 miliar. Dana jumbo tersebut bersumber dari APBN 2022 melalui Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) dan dikerjakan di bawah pengawasan SNVT Pembangunan Bendungan BBWS Ciliwung Cisadane. Anda bisa mengecek lebih lanjut mengenai kebijakan infrastruktur di Kementerian PUPR untuk memahami skala proyek serupa.

Tujuan awal dari kucuran dana tersebut sangatlah mulia, yakni untuk mengoptimalkan fungsi situ sebagai daerah tangkapan air sekaligus mempercantik kawasan wisata Depok. Namun, peningkatan yang diharapkan menjadi solusi lingkungan justru secara tidak sengaja menciptakan tantangan baru. Risiko banjir kini menjadi hantu yang nyata bagi warga yang bermukim di sekitar area setu, menciptakan gap yang lebar antara nilai proyek yang besar dengan efektivitas fungsional di lapangan.

Baca Juga Farewell DXB: Mengapa Bandara Tersibuk di Dunia Akan Ditutup pada 2035?
Farewell DXB: Mengapa Bandara Tersibuk di Dunia Akan Ditutup pada 2035?

Kesaksian Muhammad Hasan: Perjuangan yang Belum Tuntas

Salah satu sosok yang paling memahami lika-liku perjalanan Setu Asih Pulo adalah Muhammad Hasan (62), seorang pengawas setu yang telah mengabdikan diri bertahun-tahun di sana. Dengan guratan wajah yang penuh pengalaman, Hasan menceritakan bagaimana proses panjang mengajukan proposal revitalisasi ke pemerintah pusat. Proses birokrasi yang memakan waktu hingga tiga tahun tersebut akhirnya membuahkan hasil, namun sayangnya hasil akhirnya jauh dari ekspektasi awal para pejuang lingkungan lokal.

Pada awalnya, masalah utama setu ini adalah ledakan populasi gulma gangga panjang yang menutupi hampir seluruh permukaan air. Melalui keterlibatan aktif Hasan dan komunitas lokal, masalah alga tersebut berhasil diatasi. Namun, Hasan mencatat bahwa fokus pembangunan fisik justru lebih condong pada aspek “kosmetik” daripada aspek ekologis. Pemasangan paving block dan pagar kuning memang mempercantik pemandangan, tetapi aspek vital seperti keseimbangan aliran air seolah terlupakan dalam perencanaan teknis.

Drainase Dangkal dan Aliran yang Terputus

Salah satu poin krusial yang dikritik tajam adalah kedalaman saluran air atau drainase yang baru dibangun. Hasan mengungkapkan sebuah fakta mengejutkan: di beberapa titik penting, kedalaman saluran air tidak mencapai setengah meter. Hal ini tentu sangat tidak ideal untuk menampung debit air saat intensitas hujan sedang tinggi di wilayah Rangkapan Jaya. “Dulu revitalisasi itu sebenarnya direncanakan alirannya sampai ke Perumahan Maharaja. Tapi faktanya, pengerjaan cuma sampai sekitar 100 meter lalu buntu. Nggak dilanjutkan lagi ke sananya,” ungkap Hasan dengan nada kecewa.

Baca Juga Langkah Sigap Jepang Amankan Wisatawan di Tengah Ancaman Gempa M 7,7 dan Tsunami
Langkah Sigap Jepang Amankan Wisatawan di Tengah Ancaman Gempa M 7,7 dan Tsunami

Akibat dari saluran yang dangkal dan terputus ini, air tidak memiliki ruang yang cukup untuk mengalir secara optimal. Dampaknya sangat sistemik. Saat hujan deras mengguyur, volume air setu cepat meluap dan langsung menggenangi pemukiman warga, terutama di kawasan RT 5. Kegagalan dalam memperhitungkan kapasitas drainase ini menjadi bukti bahwa aspek teknis manajemen air seringkali kalah prioritas dibandingkan dengan pembangunan fisik yang bersifat visual.

Keresahan Warga: Biaya Mandiri dan Dugaan Penyelewengan

Ketidakpuasan warga tidak berhenti pada masalah banjir semata. Muncul sebuah keresahan kolektif mengenai transparansi penggunaan anggaran. Dengan nilai proyek puluhan miliar, Hasan dan warga merasa apa yang terlihat di lapangan tidak mencerminkan nilai tersebut. Bahkan, Hasan secara berani melontarkan keraguan bahwa pengerjaan yang ada mungkin hanya menghabiskan sebagian kecil dari total anggaran yang dilaporkan. “Paling cuma habis 7 miliar menurut saya, nggak sampai puluhan miliar kalau melihat hasilnya begini,” cetusnya.

Kondisi ini memaksa warga untuk kembali merogoh kocek pribadi demi kenyamanan dan keamanan mereka sendiri. Pengadaan lampu penerangan hingga pembangunan pos penjagaan harus dibiayai secara swadaya oleh masyarakat. Hal ini tentu ironis, mengingat proyek sebesar itu seharusnya sudah mencakup fasilitas penunjang yang memadai, termasuk pembangunan bronjong atau penahan longsor yang krusial di sekeliling setu untuk mencegah erosi tanah.

Baca Juga Pesona Cape Verde: Mengintip Rahasia Negara Kepulauan yang Menahan Imbang Raksasa Spanyol
Pesona Cape Verde: Mengintip Rahasia Negara Kepulauan yang Menahan Imbang Raksasa Spanyol

Dilema Pemeliharaan dan Budaya “Uang Kopi”

Masalah pemeliharaan rutin juga menjadi benang kusut yang sulit diurai. Sedimen dan limbah seringkali menumpuk tanpa penanganan cepat karena adanya stagnasi armada transportasi dari dinas terkait. Hasan menceritakan sebuah rahasia umum di lapangan mengenai dilema “uang kopi” atau “uang rokok”. Urusan birokrasi dan operasional seringkali tersendat hanya karena masalah koordinasi di tingkat bawah terkait biaya-biaya tambahan yang tidak resmi.

“Masa iya sih orang mengangkat limbah kita nggak kasih uang rokok atau kopi? Yang kemarin mandek tuh hampir dua sampai tiga bulan. Akhirnya saling menyalahkan antar instansi,” kata Hasan menggambarkan keruwetan koordinasi lapangan. Masalah kebersihan lingkungan yang tidak tertangani dengan baik ini tidak hanya merusak pemandangan, tetapi juga memperburuk kualitas air setu dalam jangka panjang.

Perubahan Sosial dan Masa Depan Setu Asih Pulo

Seiring dengan wajah barunya, Setu Asih Pulo kini menerapkan regulasi yang lebih ketat. Aktivitas memancing yang dulunya menjadi hiburan rakyat tanpa batas, kini mulai dilarang demi keamanan pengunjung yang menggunakan fasilitas jogging track. Meskipun hal ini bertujuan baik untuk mencegah kail mengenai pelari, namun ada sebagian identitas lokal yang terasa hilang. Di sisi lain, sektor ekonomi kreatif melalui UMKM lokal mulai tumbuh di sekitar lokasi, meski keberlangsungan mereka masih sangat bergantung pada kondisi cuaca.

Baca Juga Transformasi Aviasi Nasional: Mengulas Reaktivasi Bandara Husein-Adisutjipto dan Fenomena Alam Gunung Rinjani
Transformasi Aviasi Nasional: Mengulas Reaktivasi Bandara Husein-Adisutjipto dan Fenomena Alam Gunung Rinjani

Pemerintah diharapkan tidak hanya berhenti pada tahap pembangunan fisik, tetapi juga melakukan evaluasi menyeluruh terhadap fungsi hidrologi setu. Tanpa normalisasi saluran irigasi yang mendalam dan perbaikan sistem drainase yang terintegrasi hingga ke perumahan sekitar, Setu Asih Pulo akan tetap menjadi “keindahan yang mengancam”. Warga mendambakan sebuah solusi nyata di mana mereka bisa menikmati keasrian setu tanpa harus merasa was-was setiap kali awan mendung mulai menggelayut di langit Depok.

Dimas Pratama

Dimas Pratama

Penjelajah dunia yang gemar membagikan cerita perjalanan unik dan panduan budget travel. Menginspirasi petualangan Anda melalui Info Travel.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *