Drama Pencarian Mahasiswa ITB di Gunung Puntang Berakhir Bahagia: Arief Wibisono Ditemukan Selamat Setelah Tersesat 8 Kilometer

Dimas Pratama | SuaraInfo
11 Mei 2026, 15:26 WIB
Drama Pencarian Mahasiswa ITB di Gunung Puntang Berakhir Bahagia: Arief Wibisono Ditemukan Selamat Setelah Tersesat 8 Ki

SuaraInfo — Kabar melegakan akhirnya datang dari kawasan pegunungan Bandung Selatan. Arief Wibisono, seorang mahasiswa Program Magister Teknik Lingkungan Institut Teknologi Bandung (ITB) angkatan 2024 yang sempat dilaporkan hilang kontak saat melakukan pendakian di Gunung Puntang, kini telah ditemukan dalam keadaan selamat. Drama pencarian yang melibatkan puluhan personel tim gabungan ini berakhir dengan tangis haru dan rasa syukur setelah korban berhasil dievakuasi dari area hutan yang cukup jauh dari jalur pendakian resmi.

Peristiwa ini bermula ketika Arief bersama dua rekannya memutuskan untuk menikmati keindahan alam Gunung Puntang melalui jalur Pasir Kuda, Desa Mekarjaya, Kecamatan Arjasari. Namun, apa yang seharusnya menjadi perjalanan rekreasi akademik tersebut berubah menjadi situasi darurat ketika Arief terpisah dari rombongannya saat perjalanan turun menuju basecamp. Kejadian ini menjadi pengingat keras bagi para pecinta alam mengenai betapa dinamisnya risiko di hutan rimba, bahkan bagi mereka yang sudah memiliki persiapan matang sekalipun.

Kronologi Awal: Pendakian Menuju Puncak Mega

Berdasarkan informasi yang dihimpun oleh tim redaksi SuaraInfo, rombongan yang terdiri dari tiga orang ini memulai langkah mereka dari titik awal pendakian pada hari Minggu pagi, sekitar pukul 07.45 WIB. Tujuan utama mereka adalah Puncak Mega, salah satu titik tertinggi di kawasan Gunung Puntang yang terkenal dengan pemandangan samudera awannya yang memukau. Perjalanan naik dilaporkan berjalan lancar tanpa kendala berarti.

Baca Juga Eksklusivitas Tak Terbatas: Menjelajahi Kemewahan Baru di The Trans Luxury Hotel Surabaya yang Akan Segera Dibuka
Eksklusivitas Tak Terbatas: Menjelajahi Kemewahan Baru di The Trans Luxury Hotel Surabaya yang Akan Segera Dibuka

Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih empat jam, rombongan akhirnya menapakkan kaki di Puncak Mega pada pukul 12.00 WIB. Di sana, mereka sempat beristirahat sejenak untuk memulihkan stamina dan menikmati suasana puncak selama satu jam. Sesuai rencana, mereka mulai bergerak turun kembali ke arah basecamp sekitar pukul 13.00 WIB. Namun, di sinilah letak awal mula petaka tersebut terjadi. Arief yang merasa memiliki ritme jalan lebih cepat memutuskan untuk berjalan lebih dahulu di depan dua rekan lainnya.

Keputusan untuk memisahkan diri dari rombongan di jalur turun sering kali menjadi faktor utama insiden pendaki tersesat. Ketika kedua rekan Arief tiba di basecamp sekitar pukul 16.00 WIB, mereka terkejut lantaran Arief belum juga menampakkan batang hidungnya. Kekhawatiran mulai memuncak, dan koordinasi cepat segera dilakukan dengan pihak pengelola jalur pendakian.

Mobilisasi Tim SAR Gabungan dan Upaya Pencarian

Upaya pencarian mandiri sebenarnya sempat dilakukan oleh para ranger dan relawan lokal pada Sabtu malam hingga pukul 22.00 WIB, namun hasilnya nihil. Menyadari situasi yang semakin genting, laporan resmi kemudian diteruskan ke otoritas terkait. Kepala Kantor SAR Bandung, Ade Dian Permana, mengonfirmasi bahwa pihaknya langsung merespons laporan tersebut dengan menerjunkan tim rescue ke lokasi kejadian.

Baca Juga Harmoni di Borobudur: Mengapa Busana Putih Menjadi Syarat Wajib di Festival Lampion Waisak?
Harmoni di Borobudur: Mengapa Busana Putih Menjadi Syarat Wajib di Festival Lampion Waisak?

“Begitu menerima laporan adanya pendaki hilang, kami segera memberangkatkan tim untuk melaksanakan asesmen dan operasi pencarian bersama unsur SAR gabungan yang sudah siaga di lapangan,” ujar Ade dalam keterangan resminya. Operasi kemanusiaan ini tidak main-main, melibatkan sinergi antara Kantor SAR Bandung, personel Brimob, serta Tim Ranger Pasir Kuda yang sangat menguasai medan setempat.

Tim yang diterjunkan dilengkapi dengan standar peralatan mountaineering yang lengkap, alat komunikasi radio jarak jauh, perlengkapan medis darurat, serta kendaraan operasional pendukung. Medan di kawasan Pasir Kuda yang memiliki vegetasi rapat dan jalur yang bercabang menjadi tantangan tersendiri bagi tim di lapangan. Suhu udara yang menurun drastis saat malam hari juga menambah urgensi agar korban segera ditemukan demi menghindari risiko hipotermia.

Ditemukan 8 Kilometer dari Jalur Asli

Setelah ketegangan yang berlangsung selama lebih dari 24 jam, titik terang akhirnya muncul pada Senin pagi. Arief Wibisono ditemukan oleh warga setempat dan petugas gabungan di sebuah kawasan yang dikenal sebagai Leuweung Malang. Kabar bahagia ini pertama kali terkonfirmasi melalui unggahan relawan di media sosial yang kemudian diverifikasi oleh pihak kepolisian dan institusi kampus.

Baca Juga Skandal Tipu-Tipu di Labuan Bajo: Bos Travel Tilep Rp 85 Juta Demi Judi Online, Coreng Citra Pariwisata Premium
Skandal Tipu-Tipu di Labuan Bajo: Bos Travel Tilep Rp 85 Juta Demi Judi Online, Coreng Citra Pariwisata Premium

Kapolsek Pameungpeuk, Kompol Asep Dedi, menjelaskan bahwa posisi penemuan Arief berada cukup jauh dari koordinat jalur pendakian yang seharusnya. “Korban diduga keluar dari jalur pendakian awal. Jarak dari Basecamp Pasir Kuda ke titik penemuan di Leuweung Malang itu mencapai sekitar 8 kilometer,” ungkap Asep. Fakta ini menunjukkan betapa mudahnya seseorang kehilangan orientasi arah saat berada di dalam hutan gunung yang lebat.

Humas ITB, Lala Arief, juga menyampaikan rasa syukur yang mendalam atas ditemukannya mahasiswa Program Pascasarjana tersebut dalam kondisi sehat. Meskipun secara fisik Arief ditemukan selamat, tim medis tetap memberikan pertolongan pertama untuk memulihkan kondisi fisiknya yang kelelahan dan mengalami dehidrasi ringan akibat terjebak di hutan dalam waktu yang cukup lama.

Evaluasi Keselamatan dan Pelajaran Penting

Kejadian yang menimpa mahasiswa ITB ini menjadi catatan penting bagi seluruh komunitas pendaki di Indonesia. Ada beberapa poin krusial yang bisa dipetik sebagai pelajaran. Pertama, aturan dasar pendakian sangat melarang anggota rombongan untuk memisahkan diri, terutama saat perjalanan turun di mana fokus dan stamina biasanya sudah mulai menurun.

Baca Juga Fantastis atau Miris? Harga Air Mineral Piala Dunia 2026 Tembus Rp 150 Ribu per Botol, Suporter Mulai Menjerit
Fantastis atau Miris? Harga Air Mineral Piala Dunia 2026 Tembus Rp 150 Ribu per Botol, Suporter Mulai Menjerit

Kedua, pentingnya memahami navigasi darat. Meskipun jalur pendakian terlihat jelas, perubahan cuaca yang tiba-tiba seperti kabut tebal bisa dengan mudah mengaburkan pandangan dan menyesatkan pendaki. Selalu membawa peluit, alat penerangan yang memadai, dan survival kit sederhana adalah kewajiban yang tidak boleh ditawar.

Saat ini, Arief Wibisono telah dibawa ke tempat yang lebih aman untuk proses pemulihan psikologis sebelum akhirnya dipulangkan ke pihak keluarga. Pihak otoritas mengimbau agar para pendaki selalu melapor secara detail kepada petugas basecamp dan tetap berada dalam kelompok selama aktivitas di alam bebas berlangsung. Keselamatan adalah prioritas utama, karena tujuan akhir dari setiap pendakian bukanlah puncak, melainkan kembali ke rumah dengan selamat.

Kisah ini berakhir manis berkat kesigapan Basarnas Bandung dan seluruh unsur relawan yang terlibat. SuaraInfo akan terus memantau perkembangan informasi terkait standar keamanan pendakian di wilayah Jawa Barat guna memberikan edukasi yang lebih luas bagi masyarakat luas.

Dimas Pratama

Dimas Pratama

Penjelajah dunia yang gemar membagikan cerita perjalanan unik dan panduan budget travel. Menginspirasi petualangan Anda melalui Info Travel.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *