Dua Malam Mencekam di Dasar Jurang: Kisah Heroik Mahasiswa ITB Bertahan Hidup di Gunung Puntang

Dimas Pratama | SuaraInfo
13 Mei 2026, 21:27 WIB
Dua Malam Mencekam di Dasar Jurang: Kisah Heroik Mahasiswa ITB Bertahan Hidup di Gunung Puntang

SuaraInfo — Kabar melegakan akhirnya datang dari lereng Gunung Puntang, Kabupaten Bandung. Setelah sempat dinyatakan hilang dan memicu kekhawatiran besar, Arief Wibisono, seorang mahasiswa Program Magister Teknik Lingkungan Institut Teknologi Bandung (ITB), berhasil ditemukan dalam kondisi selamat. Keberhasilan Arief melewati masa-masa kritis selama dua malam di tengah belantara menjadi sebuah potret nyata tentang ketangguhan mental dan insting bertahan hidup manusia di tengah keganasan alam.

Kejadian yang menimpa mahasiswa S2 angkatan 2024 ini bermula pada Sabtu (9/5), saat ia melakukan pendakian di kawasan Gunung Puntang yang dikenal memiliki medan cukup menantang. Apa yang seharusnya menjadi perjalanan menyegarkan pikiran justru berubah menjadi drama pencarian yang melibatkan puluhan personel tim SAR gabungan dan warga setempat.

Awal Mula Petaka di Jalur Puncak Mega

Berdasarkan informasi yang dihimpun oleh tim redaksi, peristiwa ini bermula ketika Arief dan rombongannya tengah dalam perjalanan turun dari Puncak Mega. Puncak ini merupakan salah satu titik tertinggi di kawasan tersebut yang sering menjadi tujuan utama para pendaki karena keindahan pemandangannya. Namun, tantangan sesungguhnya seringkali muncul saat perjalanan turun, di mana kelelahan fisik mulai melanda.

Baca Juga Misi Sunyi Mang Kiclik: Berjibaku Melawan Hutan Hijau Eceng Gondok yang Menyesakkan Waduk Saguling
Misi Sunyi Mang Kiclik: Berjibaku Melawan Hutan Hijau Eceng Gondok yang Menyesakkan Waduk Saguling

Kapolsek Pameungpeuk, Kompol Asep Dedi, menjelaskan bahwa Arief saat itu berjalan lebih cepat dibandingkan dua rekan lainnya. Dalam dunia pendaki gunung, terpisahnya anggota rombongan merupakan salah satu risiko terbesar yang harus dihindari. Kecepatan langkah Arief membuatnya kehilangan kontak visual dengan kawan-kawannya, yang kemudian berujung pada kesalahan navigasi yang fatal.

“Korban berniat menuju basecamp Pasirkuda, namun karena berjalan terlalu cepat dan kehilangan orientasi, ia justru mengambil arah yang salah. Jalur yang ia lalui malah mengarah ke basecamp PGPI (Persatuan Gunung Puntang Indonesia) yang berada di wilayah Banjaran,” ujar Kompol Asep Dedi dalam keterangan resminya.

Terperosok ke Kedalaman Jurang

Kesalahan jalur tersebut membawa Arief ke medan yang lebih terjal dan jarang dilalui pendaki umum. Di tengah kebingungan mencari arah yang benar, musibah pun terjadi. Sekitar pukul 16.00 WIB pada hari Sabtu itu, Arief diduga terpeleset akibat permukaan tanah yang licin dan kondisi jalur yang ekstrem. Ia terperosok ke dalam jurang dengan kedalaman sekitar 6 hingga 7 meter.

Baca Juga Aksi Tak Terpuji Turis Asing di Pura Goa Gajah: Gasak Uang Sesari Jutaan Rupiah, Polisi Lakukan Pengejaran
Aksi Tak Terpuji Turis Asing di Pura Goa Gajah: Gasak Uang Sesari Jutaan Rupiah, Polisi Lakukan Pengejaran

Jatuh dari ketinggian tersebut tentu memberikan dampak fisik yang tidak ringan. Arief mengalami sejumlah luka lecet dan memar di sekujur tubuhnya. Berada di dasar jurang dengan luka-luka dan tanpa bantuan rekan, ia dihadapkan pada situasi hidup dan mati. Namun, alih-alih panik yang bisa menguras energi, mahasiswa mahasiswa ITB ini mencoba untuk tetap tenang dan berpikir logis untuk bertahan hidup.

Malam Pertama yang Dingin di Dasar Lembah

Kondisi hutan Gunung Puntang saat malam hari sangatlah kontras dengan siang harinya. Suhu udara yang menurun drastis serta kegelapan total menyelimuti area jatuhnya Arief. Karena tidak memungkinkan untuk memanjat kembali ke jalur pendakian yang ada di atasnya, Arief memutuskan untuk bermalam di lokasi jatuhnya tersebut.

Tanpa peralatan berkemah yang memadai di dasar jurang, ia harus melawan kedinginan dan ketidakpastian. Keputusan untuk tidak memaksakan diri bergerak dalam kegelapan adalah langkah cerdas dalam protokol bertahan hidup. Ia menghemat tenaganya untuk perjuangan yang lebih berat di keesokan harinya.

Baca Juga Terobosan Dua Abad London Zoo: Menyingkap Rahasia Medis Satwa di Balik Galeri Kaca
Terobosan Dua Abad London Zoo: Menyingkap Rahasia Medis Satwa di Balik Galeri Kaca

Menyusuri Aliran Sungai: Strategi Bertahan Hidup

Memasuki hari Minggu (10/5) pagi, sekitar pukul 06.00 WIB, Arief mulai mencari jalan keluar. Karena posisinya jatuh berada di dekat aliran air, ia memilih menggunakan strategi klasik dalam navigasi darat saat tersesat: menyusuri aliran sungai. Logikanya sederhana, sungai biasanya akan mengarah ke tempat yang lebih rendah dan pada akhirnya akan bertemu dengan pemukiman atau akses jalan.

Perjalanan ini sama sekali tidak mudah. Selama 12 jam penuh, hingga pukul 18.00 WIB, Arief terus merangkak dan berjalan menyisir pinggiran sungai yang dipenuhi bebatuan licin dan rimbunnya semak berduri. Luka-luka di tubuhnya bertambah akibat goresan ranting dan bebatuan, namun keinginan untuk pulang tetap membakar semangatnya. Malam kedua pun ia lalui di pinggir sungai, kembali bergelut dengan dinginnya kabut Bandung Selatan.

Pertemuan Penyelamat di Kebun Kopi

Titik terang akhirnya muncul pada Senin (11/5) pagi sekitar pukul 09.30 WIB. Setelah melanjutkan perjalanannya menyusuri sungai, Arief sampai di sebuah daerah bernama Jadipa Banjaran, Desa Mekarjaya. Di sinilah ia bertemu dengan seorang petani kopi setempat. Kehadiran petani tersebut bak malaikat penolong bagi Arief yang sudah dalam kondisi sangat lelah.

Baca Juga Saksi Bisu Kejayaan Maritim: Mengupas Kemewahan Gedung Internasional, Markas ‘Sultan’ Pelayaran di Kota Tua Jakarta
Saksi Bisu Kejayaan Maritim: Mengupas Kemewahan Gedung Internasional, Markas ‘Sultan’ Pelayaran di Kota Tua Jakarta

Petani kopi tersebut segera menyadari bahwa pria yang ditemuinya adalah pendaki yang sedang dicari-cari. Ia segera memberikan bantuan awal dan melaporkannya kepada tim pencari. Tim SAR Bandung bersama aparat kepolisian dan warga segera bergerak menuju lokasi untuk melakukan evakuasi medis.

Kondisi Terkini dan Serah Terima ke Keluarga

Setelah berhasil dievakuasi dari kawasan hutan, Arief langsung dilarikan ke RSUD Bedas Arjasari. Dekan Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan (FTSL) ITB, Nita Yuanita, yang memantau langsung proses ini mengungkapkan rasa syukurnya yang mendalam. Nita memastikan bahwa meskipun penuh luka gores dan memar, Arief ditemukan dalam kondisi sadar sepenuhnya.

“Update terakhir, Arief sudah diserahterimakan kepada keluarga. Pihak FTSL, Prodi, dan IATL mendampingi hingga seluruh proses medis selesai. Kami masih di RSUD Bedas Arjasari untuk memastikan kondisinya stabil pasca pemeriksaan rontgen,” tutur Nita dengan nada lega.

Kisah Arief Wibisono ini menjadi pengingat keras bagi para pecinta alam mengenai pentingnya persiapan dan kedisiplinan dalam kelompok saat mendaki. Tips mendaki gunung yang paling utama adalah jangan pernah memisahkan diri dari rombongan, terutama saat menuruni puncak di sore hari. Gunung Puntang yang indah tetaplah alam liar yang menuntut rasa hormat dan kewaspadaan tinggi dari setiap tamunya.

Baca Juga Petaka Candaan di Media Sosial: Kisah Pramugari American Airlines yang Dipecat Akibat Konten Politik
Petaka Candaan di Media Sosial: Kisah Pramugari American Airlines yang Dipecat Akibat Konten Politik

Kini, Arief dapat beristirahat dengan tenang di pelukan keluarganya, meninggalkan dua malam mencekam yang akan selalu menjadi pelajaran berharga bagi dirinya dan seluruh komunitas pendaki di Indonesia. Keselamatannya adalah buah dari kombinasi keberuntungan, bantuan warga lokal, dan ketenangan diri dalam menghadapi situasi darurat.

Dimas Pratama

Dimas Pratama

Penjelajah dunia yang gemar membagikan cerita perjalanan unik dan panduan budget travel. Menginspirasi petualangan Anda melalui Info Travel.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *