Ikan Gabus: Superfood Lokal Penakluk Protein Tinggi, Pakar UGM Beberkan Rahasia di Balik Khasiatnya

dr. Sarah Amelia | SuaraInfo
15 Jun 2026, 15:26 WIB
Ikan Gabus: Superfood Lokal Penakluk Protein Tinggi, Pakar UGM Beberkan Rahasia di Balik Khasiatnya

SuaraInfo — Di balik perairan tenang rawa-rawa dan wilayah berlumpur di pelosok Nusantara, tersimpan rahasia kesehatan yang luar biasa. Selama ini, masyarakat mungkin lebih akrab dengan ikan konsumsi populer seperti nila atau lele, namun seorang pakar dari Universitas Gadjah Mada (UGM) baru-baru ini menyoroti satu spesies yang memiliki keunggulan nutrisi jauh di atas rata-rata: ikan gabus. Meski penampilannya mungkin tidak semenarik ikan hias, kandungan gizinya diprediksi mampu menyaingi berbagai jenis superfood impor yang mahal harganya.

Indun Dewi Puspita, S.P., M.Sc. Ph.D., seorang dosen Teknologi Hasil Perikanan dari Fakultas Pertanian UGM, mengungkapkan bahwa ikan gabus memiliki profil nutrisi yang sangat unik, terutama dalam hal kadar protein. Dalam keterangannya, ia menjelaskan bahwa ikan air tawar yang satu ini memiliki keunggulan kompetitif yang jarang dimiliki oleh jenis ikan darat lainnya. Fenomena ini menjadikan ikan gabus sebagai komoditas yang mulai dilirik secara serius dalam dunia medis dan kesehatan masyarakat.

Kandungan Protein yang Melampaui Standar Hewani

Menurut penjelasan Indun, jika kita melihat standar sumber protein hewani pada umumnya, angka rata-rata kandungan proteinnya berada di kisaran 20 persen. Namun, ikan gabus mendobrak standar tersebut dengan angka yang cukup signifikan. Kandungan protein pada ikan dengan nama ilmiah Channa striata ini bisa mencapai angka 23 hingga 25 persen. Selisih beberapa persen ini mungkin terdengar kecil bagi orang awam, namun dalam perspektif metabolisme tubuh, ini adalah lompatan besar bagi pemenuhan asupan protein harian.

Baca Juga Kunci Hidup Berumur Panjang: 6 Rutinitas Pagi yang Ampuh Tangkal Risiko Kematian Dini
Kunci Hidup Berumur Panjang: 6 Rutinitas Pagi yang Ampuh Tangkal Risiko Kematian Dini

“Ikan gabus mungkin bukan ikan yang umum dikonsumsi oleh masyarakat secara luas seperti ikan mas atau lele. Memang ikan ini memiliki segmen pasar tersendiri karena karakteristiknya yang spesifik,” ujar Indun. Ketidakpopuleran relatif ini sebenarnya sangat disayangkan, mengingat potensi besar yang dimilikinya untuk memperbaiki gizi nasional. Tingginya kadar protein ini menjadikan ikan gabus sebagai alternatif yang sangat efisien untuk membangun massa otot dan memperbaiki jaringan tubuh yang rusak.

Keajaiban Albumin: Sang Penyelamat Regenerasi Sel

Salah satu alasan utama mengapa masyarakat memburu ikan gabus adalah kandungan albuminnya yang melimpah. Albumin merupakan jenis protein plasma yang memiliki peran vital dalam tubuh manusia. Protein ini bertanggung jawab untuk menjaga tekanan osmotik dalam darah, memastikan keseimbangan cairan tetap terjaga, serta menjadi kendaraan transportasi bagi zat gizi penting lainnya, termasuk vitamin, mineral, dan hormon.

Indun menekankan bahwa peran albumin sangat krusial dalam proses penyembuhan. Banyak orang mencari asupan albumin, terutama mereka yang baru saja menjalani tindakan pembedahan atau operasi besar. Keberadaan albumin yang tinggi dalam aliran darah dapat mempercepat regenerasi sel dan menutup luka dengan lebih efektif. Tanpa albumin yang cukup, proses pemulihan tubuh akan melambat secara drastis, sehingga risiko infeksi atau komplikasi pasca-operasi bisa meningkat.

Baca Juga Bahaya Tersembunyi di Balik Tren WFC: Tips Ahli Menghindari Saraf Kejepit Saat Bekerja di Kafe
Bahaya Tersembunyi di Balik Tren WFC: Tips Ahli Menghindari Saraf Kejepit Saat Bekerja di Kafe

Adaptasi Ekstrim: Mengapa Proteinnya Begitu Tinggi?

Pertanyaan menarik yang muncul adalah: mengapa ikan gabus memiliki protein dan albumin yang jauh lebih tinggi dibandingkan ikan lainnya? Indun menjelaskan bahwa hal ini berkaitan erat dengan habitat asli mereka. Ikan gabus merupakan penyintas di lingkungan yang keras, seperti rawa-rawa atau perairan berlumpur yang seringkali memiliki kadar oksigen sangat rendah.

Kondisi lingkungan yang minim oksigen tersebut memaksa ikan gabus untuk beradaptasi secara biologis. Sebagai mekanisme pertahanan hidup dan metabolisme dalam kondisi ekstrim, tubuh ikan gabus memproduksi albumin dan protein dalam jumlah yang lebih tinggi dibandingkan ikan yang hidup di perairan jernih dan kaya oksigen. Adaptasi inilah yang kemudian membawa berkah bagi manusia yang mengonsumsinya, memberikan kita akses pada sumber energi dan pembangun sel yang sangat kuat.

Lebih dari Sekadar Albumin: Kekayaan Omega-3 dan Mineral

Meskipun sering dipuja karena albuminnya, ikan gabus sebenarnya menyimpan gudang nutrisi yang jauh lebih luas. Pakar UGM tersebut menambahkan bahwa ikan ini juga mengandung berbagai jenis vitamin, mineral esensial, serta asam lemak tak jenuh, termasuk omega-3. Meskipun secara jujur Indun mengakui bahwa kandungan omega-3 pada ikan laut tertentu masih lebih tinggi, ia menegaskan bahwa untuk kategori ikan air tawar, ikan gabus tetap memegang posisi unggul.

Baca Juga Bukan Sekadar Tren Gen Z, Mengungkap Rahasia Kesehatan di Balik Hijau Pekat Matcha
Bukan Sekadar Tren Gen Z, Mengungkap Rahasia Kesehatan di Balik Hijau Pekat Matcha

Kombinasi antara protein tinggi dan asam lemak tak jenuh menjadikan ikan gabus sebagai makanan ideal untuk mendukung kecerdasan otak serta menjaga kesehatan jantung. Ini adalah paket lengkap nutrisi alami yang seharusnya bisa dimanfaatkan lebih optimal untuk mencegah masalah gizi buruk atau stunting pada anak-anak di Indonesia yang wilayahnya kaya akan ekosistem rawa.

Ikan Segar vs Ekstrak: Mana yang Lebih Baik?

Seiring dengan populernya khasiat ikan gabus, pasar kini dibanjiri oleh produk ekstrak ikan gabus dalam bentuk kapsul maupun sirup. Namun, muncul pertanyaan besar di kalangan konsumen: apakah manfaatnya sama dengan mengonsumsi ikannya secara langsung? Indun Dewi Puspita memberikan jawaban yang cukup tegas bahwa mengonsumsi ikan segar tetap menjadi pilihan terbaik.

“Kalau mengonsumsi ikannya langsung, kita bisa mendapatkan nutrisi-nutrisi lainnya secara utuh. Misalnya, ada beberapa laporan yang menyebutkan adanya kandungan asam lemak tak jenuh yang mungkin hilang atau berkurang selama proses ekstraksi kimiawi,” jelasnya. Dengan memakan daging ikannya secara utuh, tubuh mendapatkan sinergi dari seluruh komponen gizi yang ada, bukan hanya satu jenis protein yang diisolasi.

Baca Juga Kisah Remaja 17 Tahun Idap Autoimun Langka APS-2: Gejala Diabetes yang Menyembunyikan Penyakit Addison
Kisah Remaja 17 Tahun Idap Autoimun Langka APS-2: Gejala Diabetes yang Menyembunyikan Penyakit Addison

Teknik Memasak yang Tepat untuk Menjaga Nutrisi

Mengolah ikan gabus tidak bisa dilakukan secara sembarangan jika tujuannya adalah untuk mendapatkan manfaat kesehatan maksimal. Indun memberikan peringatan agar masyarakat menghindari metode pemasakan dengan suhu yang terlalu tinggi, seperti menggoreng ikan hingga kering atau membakarnya di atas api langsung dalam waktu lama. Suhu yang terlalu panas dapat menyebabkan denaturasi protein, di mana struktur protein rusak dan khasiat medisnya, terutama albumin, akan hilang.

Cara terbaik untuk menyajikan ikan gabus adalah dengan metode pengukusan (steam) atau merebusnya menjadi sup bening. Dengan teknik ini, suhu tetap terjaga dalam batas aman sehingga kandungan protein, vitamin, dan mineral tidak rusak. Selain itu, menyajikan ikan gabus dalam bentuk sup juga membantu penyerapan gizi karena nutrisi yang terlarut dalam kuah bisa langsung diserap oleh tubuh dengan lebih cepat dan efisien bagi mereka yang sedang dalam masa pemulihan.

Potensi Ekonomi dan Kesehatan Masa Depan

Melihat fakta-fakta yang diungkap oleh pakar UGM ini, sudah saatnya kita memberikan apresiasi lebih terhadap kekayaan hayati lokal kita. Ikan gabus bukan lagi sekadar penghuni rawa yang terlupakan, melainkan aset nasional dalam bidang kesehatan dan kedaulatan pangan. Edukasi mengenai cara pengolahan dan manfaat ikan gabus perlu terus ditingkatkan agar masyarakat tidak hanya terpaku pada sumber protein yang itu-itu saja.

Baca Juga Misteri ‘Runner’s Trot’: Mengapa Pelari Sering Kebelet BAB Saat Race dan Bagaimana Penjelasan Medisnya?
Misteri ‘Runner’s Trot’: Mengapa Pelari Sering Kebelet BAB Saat Race dan Bagaimana Penjelasan Medisnya?

Ke depannya, pengembangan budidaya ikan gabus yang lebih modern diharapkan dapat menekan harga dan meningkatkan ketersediaan di pasar umum. Dengan demikian, setiap lapisan masyarakat dapat mengakses keajaiban protein dari si penghuni rawa ini. Ikan gabus adalah bukti nyata bahwa alam Indonesia telah menyediakan solusi kesehatan yang mumpuni, tinggal bagaimana kita bijak mengolah dan mensyukurinya untuk masa depan yang lebih sehat.

dr. Sarah Amelia

dr. Sarah Amelia

Praktisi kesehatan yang aktif mengedukasi gaya hidup sehat. Menyediakan informasi medis yang mudah dipahami dan akurat hanya di Suara Sehat.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *