Jejak Misteri Candi Losari: Mahakarya yang Terkubur Abu Merapi Selama Milenium dan Penemuan Keping Emas Legendaris

Dimas Pratama | SuaraInfo
11 Jun 2026, 21:29 WIB
Jejak Misteri Candi Losari: Mahakarya yang Terkubur Abu Merapi Selama Milenium dan Penemuan Keping Emas Legendaris

SuaraInfo — Selama lebih dari sepuluh abad, sebuah rahasia besar mendekam dalam sunyi di bawah rimbunnya perkebunan salak di Dusun Losari, Magelang. Candi Losari, sebuah monumen agung dari masa kejayaan sejarah candi di Nusantara, baru-baru ini kembali mencuri perhatian publik. Bukan hanya karena kemegahan strukturnya yang mulai menampakkan diri, namun juga karena penemuan kepingan emas murni 16,5 karat yang tersimpan rapi di bawah lantai sucinya.

Saksi Bisu Amuk Merapi Seribu Tahun Silam

Terletak di Desa Salam, Kecamatan Salam, Kabupaten Magelang, Candi Losari bukanlah sekadar tumpukan batu andesit biasa. Situs ini merupakan penyintas dari peristiwa katastropik masa lampau. Berdasarkan catatan arkeologi, candi ini diperkirakan terkubur hidup-hidup oleh material vulkanik hasil letusan dahsyat Gunung Merapi sekitar tahun 925 hingga 1006 Masehi. Selama satu milenium, peradaban ini seolah dihapus dari peta, menyisakan kesunyian di kedalaman tanah Jawa.

Kini, Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah X tengah berupaya keras untuk menghidupkan kembali memori kolektif tersebut melalui proses rekonstruksi besar-besaran. Proyek ambisius ini ditargetkan akan rampung sepenuhnya pada Oktober 2026 mendatang. Namun, di tengah proses pemugaran yang teliti tersebut, para peneliti justru menemukan sesuatu yang melampaui ekspektasi mereka: kepingan logam mulia yang menjadi kunci pemahaman spiritualitas masa lalu.

Baca Juga Etika Penerbangan: Hindari 3 Kebiasaan Penumpang yang Bikin Pramugari Risih dan Terganggu
Etika Penerbangan: Hindari 3 Kebiasaan Penumpang yang Bikin Pramugari Risih dan Terganggu

Kepingan Emas: Denyut Nadi Spiritual Sang Dewata

Penemuan keping emas berukuran sekitar 1,5 sentimeter tersebut bukan sekadar soal nilai materialnya. Menurut Junawan, Penanggung Jawab Kegiatan Rekonstruksi Candi Losari, artefak kecil ini memiliki fungsi yang sangat sakral dalam kosmologi Hindu kuno. Ia menjelaskan bahwa benda tersebut berperan sebagai sarana untuk menghidupkan roh atau jiwa kedewaan di dalam bangunan suci tersebut.

“Secara sederhana, keping emas ini berfungsi sebagai sumber energi spiritual bagi sebuah candi. Ini adalah cara masyarakat masa itu untuk mengundang kehadiran entitas ilahi agar bersemayam di dalam bangunan,” ujar Junawan dalam keterangannya. Saat ini, benda benda purbakala berharga tersebut telah diamankan di Kantor BPK Jateng untuk penelitian lebih lanjut.

Tak hanya emas, tim ekskavasi juga berhasil mengidentifikasi lima arca penting, termasuk dua blok arca Dewa Surya yang ditemukan saat proses pemugaran. Kehadiran arca-arca ini semakin memperkuat dugaan bahwa Candi Losari merupakan pusat pemujaan Hindu yang signifikan pada masanya, setara dalam nilai historis dengan situs-situs besar lainnya di Jawa Tengah.

Baca Juga Menelusuri Jejak ‘Aare’ di Jantung Sulawesi: Pesona Eksotis Sungai Binuanga yang Memikat Mata
Menelusuri Jejak ‘Aare’ di Jantung Sulawesi: Pesona Eksotis Sungai Binuanga yang Memikat Mata

Penemuan Tak Terduga di Tengah Kebun Salak

Kisah penemuan kembali Candi Losari pada tahun 2004 silam bak sebuah skenario film. Alih-alih ditemukan oleh tim ekspedisi formal, situs ini justru terungkap berkat ketidaksengajaan seorang warga lokal. Pemilik lahan saat itu sedang menggali tanah untuk membuat parit aliran air guna mengairi kebun salaknya. Siapa sangka, mata cangkulnya justru membentur permukaan keras yang setelah digali lebih dalam, ternyata adalah struktur batu candi yang masif.

Laporan dari warga tersebut kemudian ditindaklanjuti oleh pihak berwenang, yang segera melakukan ekskavasi sistematis. Hasilnya mencengangkan: sebuah kompleks bangunan yang terdiri dari satu candi induk dan tiga candi perwara (pendamping) ditemukan dalam kondisi yang relatif terjaga karena terproteksi oleh lapisan tanah vulkanik. Fenomena ini sering disebut oleh para ahli sebagai ‘Pompeii dari Jawa’, di mana letusan gunung berapi justru mengawetkan detail arsitektur yang seharusnya lapuk dimakan zaman.

Arsitektur dan Estimasi Waktu Pembangunan

Candi Losari diprediksi dibangun pada abad ke-9 atau ke-10 Masehi, era di mana seni bina bangunan suci mencapai puncaknya di tanah Jawa. Struktur candi induknya memiliki denah bujur sangkar dengan ukuran sekitar 3,60 x 3,60 meter, berdiri tegak di atas kaki candi yang berukuran 4,50 x 4,50 meter. Salah satu ciri khas yang menonjol adalah adanya relief kepala ‘Kala’ yang menghiasi sisi timur badan candi, berfungsi sebagai penjaga gerbang suci dari pengaruh negatif.

Baca Juga Grand Maya by Artotel Banjarbaru: Ikon Baru Akomodasi Modern dan Destinasi MICE Terbesar di Kalimantan Selatan
Grand Maya by Artotel Banjarbaru: Ikon Baru Akomodasi Modern dan Destinasi MICE Terbesar di Kalimantan Selatan

Kompleks ini juga memiliki keunikan pada candi perwaranya. Salah satu candi pendamping menghadap ke barat dengan jarak sekitar 8 meter dari induknya. Hiasan dekoratif yang detail menyelimuti bagian kaki hingga atap, menunjukkan tingkat kemahiran pengrajin batu masa itu yang sangat tinggi. Mata melotot, taring yang tajam, dan lidah menjulur pada relief kepala Kala di pintu-pintu candi perwara memberikan kesan magis yang kuat bagi siapapun yang memandangnya.

Menanti Kebangkitan Candi Losari di Tahun 2026

Meskipun namanya mungkin belum sepopuler Borobudur atau Prambanan, Candi Losari menawarkan perspektif yang lebih intim mengenai wisata Magelang yang berbasis sejarah. Keberadaannya memberikan gambaran nyata tentang bagaimana masyarakat kuno berinteraksi dengan alam Merapi yang produktif sekaligus destruktif. Upaya rekonstruksi yang sedang berjalan bukan hanya soal menyusun kembali batu demi batu, melainkan menyusun kembali kepingan identitas bangsa yang sempat hilang.

Penelitian dari berbagai lembaga, mulai dari Balai Arkeologi Yogyakarta hingga FIB UGM, menyimpulkan bahwa gugusan candi ini dikelilingi oleh pagar keliling seluas 25 x 25 meter. Ini menandakan bahwa kompleks Losari merupakan sebuah kawasan sakral yang tertutup dan eksklusif. Dengan selesainya pemugaran nanti, diharapkan masyarakat dapat melihat secara utuh keindahan artistik dan nilai filosofis yang terkandung di dalamnya.

Baca Juga Lautan Indonesia di Titik Nadir: Menelisik Luka Ekologis di Balik Narasi Surga Wisata Bahari
Lautan Indonesia di Titik Nadir: Menelisik Luka Ekologis di Balik Narasi Surga Wisata Bahari

Bagi Anda para pecinta sejarah dan petualangan, Candi Losari adalah destinasi yang wajib masuk dalam daftar kunjungan di masa depan. Menelusuri setiap sudutnya adalah perjalanan menembus waktu, merasakan kembali getaran spiritualitas seribu tahun lalu yang sempat terkubur namun menolak untuk dilupakan.

Demikianlah narasi panjang tentang Candi Losari, sebuah permata tersembunyi yang kini mulai bersinar kembali. Mari kita terus jaga dan lestarikan warisan leluhur ini agar tetap bisa dinikmati oleh generasi mendatang sebagai bukti keagungan peradaban Nusantara.

Dimas Pratama

Dimas Pratama

Penjelajah dunia yang gemar membagikan cerita perjalanan unik dan panduan budget travel. Menginspirasi petualangan Anda melalui Info Travel.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *