Kisah Hangat Pasutri Asal Bawean: Mengobati Rindu Kampung Halaman di Tengah Wajah Baru TMII
SuaraInfo — Momen libur panjang atau long weekend selalu menjadi napas lega bagi warga metropolitan Jabodetabek. Di tengah hiruk-pikuk rutinitas yang menjemukan, ribuan orang berbondong-bondong mencari oase ketenangan, dan salah satu magnet utamanya adalah Taman Mini Indonesia Indah (TMII). Pada Minggu (3/5/2026), kawasan wisata legendaris di Cipayung, Jakarta Timur ini tampak berdenyut lebih kencang dari biasanya, dipadati oleh wisatawan yang ingin merayakan kebersamaan di bawah rindangnya pepohonan.
Di balik antrean panjang kendaraan shuttle dan hilir mudik kereta gantung yang membelah langit taman, terselip sebuah kisah humanis tentang kerinduan akan tanah kelahiran. Tim SuaraInfo berkesempatan berbincang dengan sepasang suami istri lansia yang membawa aura kebahagiaan sederhana di tengah keramaian. Mereka adalah Halilah (55) dan Anshorudin (67), warga asal Pulau Bawean, Gresik, yang kini telah puluhan tahun menetap di kawasan Tanjung Priok, Jakarta Utara.
Festival Budaya: Jembatan Rindu untuk Perantau
Bagi Halilah dan keluarga, kunjungan mereka ke TMII kali ini bukan sekadar agenda wisata biasa untuk mengisi waktu luang. Ada dorongan emosional yang jauh lebih dalam. Kehadiran mereka merupakan bentuk kecintaan terhadap akar budaya yang mereka bawa dari ujung timur Jawa Timur. Mereka hadir untuk memeriahkan Festival Budaya Gresik yang digelar megah di Anjungan Jawa Timur.
“Kebetulan sekali hari ini ada acara besar di Anjungan Jawa Timur, yaitu Festival Budaya Gresik. Karena kami asli dari Gresik, tepatnya dari Pulau Bawean, kami merasa wajib hadir. Ini adalah ajang berkumpulnya Komunitas Kampung Bawean se-Jabodetabek. Rasanya seperti membawa suasana kampung ke Jakarta,” ujar Halilah dengan binar mata yang menunjukkan antusiasme tinggi.
Acara ini rupanya telah dipersiapkan dengan matang oleh komunitas. Halilah menceritakan bagaimana sistem koordinasi modern telah menyentuh komunitas daerah. Bersama lima anggota keluarganya, ia mendaftar melalui tautan khusus yang dibagikan di grup komunitas. Fasilitas yang didapat pun sangat memanjakan: akses masuk gratis hingga voucer makan, sebuah apresiasi yang membuat para perantau merasa sangat dihargai di destinasi wisata bersejarah ini.
Kisah Unik di Balik 30 Tahun Penantian
Ada sisi jenaka sekaligus menyentuh saat SuaraInfo menggali lebih dalam pengalaman mereka di TMII. Sang suami, Anshorudin, mengaku bahwa TMII adalah tempat yang sangat akrab di memorinya. Ia telah menjadi saksi sejarah perkembangan tempat ini sejak era pemerintahan Presiden Soeharto. Kenangannya membentang jauh ke masa ketika Ibu Tien Soeharto masih sering terlihat memantau pembangunan kawasan ini.
“Saya sudah sering sekali ke sini. Sejak zaman Bu Tien, dulu ikut acara di Jambore Cibubur lalu mampir ke sini. Bagi saya, tempat ini punya nilai historis yang kuat,” kenang Anshorudin sambil melempar senyum.
Namun, pengakuan sang suami langsung disambut dengan “curhatan” menggelitik dari Halilah. Sambil tertawa renyah, ia mengungkapkan fakta yang mengejutkan. Meski sang suami sudah sering berkunjung, ternyata selama lebih dari tiga dekade mengarungi bahtera rumah tangga, Halilah hampir tidak pernah diajak ke TMII oleh sang suami.
“Bayangkan, selama saya jadi istrinya lebih dari 30 tahun, baru kali ini benar-benar diajak menikmati Taman Mini. Saya curhat ini ya! Seumur hidup saya baru tiga kali menginjakkan kaki di sini, dan itu pun baru terlaksana setelah TMII selesai direvitalisasi. Ternyata memang beda sekali suasananya sekarang,” kelakar Halilah yang disambut tawa kecil oleh sang suami.
Memuji Wajah Baru dan Transportasi Publik yang Ramah
Sebagai pengunjung yang kini telah memasuki usia senja, aksesibilitas menjadi poin utama yang mereka soroti. Wajah baru TMII pasca-revitalisasi mendapatkan apresiasi tinggi dari pasangan ini. Mereka memilih cara yang paling merakyat untuk sampai ke lokasi: menggunakan bus TransJakarta dari Jakarta Utara.
“Kami naik busway, murah meriah, hanya Rp 3.500 sudah sampai dengan nyaman. Tidak perlu pusing memikirkan parkir atau kemacetan yang melelahkan,” jelas Halilah. Efisiensi transportasi publik ini menjadi bukti bahwa akses menuju kawasan wisata kini semakin inklusif bagi semua kalangan, termasuk para lansia.
Pengalaman positif mereka berlanjut saat sudah berada di dalam kawasan. TMII kini menyediakan kendaraan keliling gratis yang dikenal sebagai Shuttle Angling (Wira-Wiri). Fasilitas ini sangat membantu mobilitas pengunjung, terutama bagi mereka yang ingin berpindah dari satu anjungan ke anjungan lain tanpa harus kelelahan berjalan kaki di bawah terik matahari.
“Enak sekali naik Wira-Wiri itu. Kami tadi sampai naik empat kali hanya untuk mondar-mandir ke lokasi acara dan berkeliling melihat suasana. Kalau boleh, rasanya ingin saya bawa pulang ke kampung untuk jalan-jalan di sana. Area istirahatnya juga sekarang sangat memadai, banyak tempat berteduh yang sejuk,” tambahnya.
Harapan untuk Pariwisata Indonesia yang Lebih Inklusif
Di akhir perbincangan, pasangan ini menyampaikan harapan sederhana namun mendalam bagi pengelola TMII. Mereka berharap agar standar pelayanan yang sudah baik ini tidak hanya dipertahankan, tetapi terus ditingkatkan. Keamanan, kesejukan area hijau, dan kemudahan transportasi internal menjadi kunci utama mengapa mereka merasa betah berlama-lama di sana.
“Harapannya tentu makin bagus, makin asri, dan pelayanannya tetap memuaskan. Transportasi wira-wirinya harus tetap gampang diakses. Dan satu lagi, khusus untuk kami para ibu-ibu, perbanyaklah program atau fasilitas yang gratis-gratis. Itu sangat membantu kami menikmati masa tua dengan bahagia,” pungkas Halilah sambil menutup pembicaraan dengan tawa.
Kisah Halilah dan Anshorudin menjadi potret kecil bagaimana sebuah ruang publik seperti TMII mampu menjadi wadah perekat silaturahmi, pengobat rindu budaya, sekaligus tempat menciptakan kenangan baru bagi keluarga. Di balik kemegahan arsitektur dan teknologi baru, sentuhan kemanusiaan dan kemudahan akseslah yang membuat pengunjung akan selalu ingin kembali lagi.