Membongkar Tabir Mistis Gunung Kawi: Pesulap Merah vs Mitos Pesugihan, Simak Teguran Keras MUI

Dimas Pratama | SuaraInfo
22 Mei 2026, 23:27 WIB
Membongkar Tabir Mistis Gunung Kawi: Pesulap Merah vs Mitos Pesugihan, Simak Teguran Keras MUI

SuaraInfo — Nama Gunung Kawi di Malang, Jawa Timur, telah lama bersemayam dalam kesadaran kolektif masyarakat Indonesia sebagai tempat yang diselimuti kabut misteri. Bukan sekadar destinasi wisata alam, kawasan ini kerap diasosiasikan dengan praktik gelap pencarian kekayaan instan melalui ritual pesugihan. Namun, ketenangan semu di balik mitos tersebut terusik ketika Marcel Radhival, atau yang lebih dikenal sebagai Pesulap Merah, memutuskan untuk terjun langsung membongkar apa yang sebenarnya terjadi di balik layar ritual-ritual tersebut.

Gelombang Kontroversi Pesulap Merah di Lereng Gunung Kawi

Aksi nekat Pesulap Merah dalam menantang hal-hal yang dianggap klenik memang bukan hal baru. Namun, kunjungannya ke Gunung Kawi kali ini memicu gelombang diskusi yang lebih masif. Melalui unggahan video yang viral, Marcel mencoba memberikan sudut pandang logika terhadap praktik-praktik yang selama ini dianggap keramat. Ia secara terang-terangan mengimbau masyarakat untuk kembali ke jalur logika dan ajaran agama masing-masing, alih-alih terjebak dalam janji manis kekayaan melalui tumbal atau sesajen.

Keberanian Marcel ini tak pelak menyeret perhatian berbagai pihak, termasuk para tokoh agama. Mengingat Gunung Kawi bukan hanya dikunjungi oleh masyarakat biasa, tetapi juga kerap disebut-sebut sebagai tempat persinggahan para pesohor hingga oknum pejabat yang mencari keberuntungan. Fenomena ini pun memicu respon resmi dari otoritas keagamaan tertinggi di wilayah tersebut.

Baca Juga Mengenang Kejayaan Porong: Transformasi Pusat Ekonomi Sidoarjo Menjadi Kawasan ‘Kota Mati’ Akibat Lumpur Lapindo
Mengenang Kejayaan Porong: Transformasi Pusat Ekonomi Sidoarjo Menjadi Kawasan ‘Kota Mati’ Akibat Lumpur Lapindo

Respon Tegas MUI Jawa Timur: Antara Ritual dan Kemusyrikan

Menanggapi hiruk-pikuk yang berkembang, Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur akhirnya angkat bicara. Sekretaris Umum MUI Jatim, Hasan Ubaidillah, atau yang akrab disapa Gus Ubed, memberikan pandangan teologis yang sangat mendalam terkait fenomena ini. Menurut beliau, kunci utama dalam menilai fenomena di Gunung Kawi adalah pada konteks ritual yang dilakukan.

“Kita harus memahami secara jernih konteks pesugihan di Gunung Kawi. Apakah yang disampaikan Pesulap Merah dan apa yang dipersepsikan masyarakat itu selaras atau tidak?” ungkap Gus Ubed. Beliau menegaskan bahwa jika praktik yang dilakukan melibatkan ritual khusus dengan keyakinan bahwa ada kekuatan selain Tuhan yang mampu memberikan kekayaan, maka hal tersebut jatuh pada kategori kemusyrikan.

Gus Ubed menambahkan bahwa penggunaan media seperti sesajen untuk meminta sesuatu kepada entitas selain Allah SWT adalah tindakan yang diharamkan secara mutlak dalam ajaran Islam. Bagi MUI, masalah ini bukan sekadar soal budaya, melainkan menyentuh aspek fundamental dalam akidah seorang Muslim.

Baca Juga Kabar Bahagia dari Everland: Ai Bao, Sang Primadona Panda Raksasa, Melahirkan Anak Keempat di Korea Selatan
Kabar Bahagia dari Everland: Ai Bao, Sang Primadona Panda Raksasa, Melahirkan Anak Keempat di Korea Selatan

Menelisik Perbedaan Tipis antara Wasilah dan Pesugihan

Salah satu poin menarik yang dibahas oleh MUI Jatim adalah mengenai kerancuan antara praktik ‘Wasilah’ atau ‘Tawassul’ dengan praktik pesugihan. Gus Ubed menjelaskan bahwa memang terdapat garis yang sangat tipis dalam pandangan masyarakat awam, namun secara esensi keduanya sangat berbeda jauh.

  • Wasilah/Tawassul: Merupakan upaya mendekatkan diri kepada Allah SWT melalui perantara, misalnya melalui kemuliaan para nabi atau wali, tanpa menggunakan ritual sesajen atau media klenik lainnya. Ini adalah bentuk doa murni yang ditujukan hanya kepada Sang Pencipta.
  • Pesugihan: Praktik ini melibatkan ritual khusus, pemberian sesajen, dan seringkali didasari pada keyakinan bahwa ritual tersebut secara langsung akan mendatangkan uang atau kelancaran pekerjaan melalui bantuan kekuatan gaib.

Gus Ubed memberikan analogi yang sederhana namun mengena. Beliau mengibaratkan tawassul seperti seseorang yang ingin menyampaikan pesan kepada Presiden namun tidak mengenalnya secara pribadi. Orang tersebut kemudian menitipkan pesannya melalui orang kepercayaan Presiden agar pesan tersebut sampai dan dikabulkan. Namun, dalam pesugihan, orang tersebut justru menyembah sang ‘utusan’ atau menggunakan cara-cara yang melanggar aturan sang ‘Presiden’ itu sendiri.

Baca Juga Masa Depan Bandung Zoo: Investasi Triliunan Rupiah dan Sengitnya Negosiasi Para Raksasa Konservasi
Masa Depan Bandung Zoo: Investasi Triliunan Rupiah dan Sengitnya Negosiasi Para Raksasa Konservasi

Gunung Kawi Sebagai Destinasi Edukasi, Bukan Tempat Pemujaan

Menariknya, meskipun Marcel Radhival gencar mengkritik sisi mistisnya, ia tetap merekomendasikan Keraton Gunung Kawi sebagai tempat yang layak untuk dikunjungi. Namun, tujuannya telah bergeser seratus delapan puluh derajat. Marcel mendorong masyarakat untuk melihat Gunung Kawi sebagai destinasi edukasi budaya dan sejarah.

Sejarah Gunung Kawi sejatinya kaya akan nilai-nilai luhur dan akulturasi budaya yang indah. Di sana terdapat jejak-jejak perjuangan dan kearifan lokal yang seharusnya dilestarikan, bukan malah dikotori dengan praktik-praktik yang menyesatkan akal sehat. Dengan mengubah paradigma dari tempat mencari ‘wangsit’ menjadi tempat belajar sejarah, diharapkan citra negatif yang melekat selama puluhan tahun ini bisa perlahan memudar.

Pentingnya Logika dan Keimanan di Era Modern

Fenomena viralnya video Pesulap Merah ini menjadi pengingat penting bagi kita semua di tengah gempuran modernisasi. Ternyata, mitos-mitos mistis masih memiliki daya cengkeram yang kuat di hati sebagian masyarakat kita. Rasa frustasi akan kondisi ekonomi atau keinginan untuk meraih kesuksesan secara instan seringkali menjadi pintu masuk bagi praktik-praktik irasional.

Baca Juga Kontras Tajam di Angkasa: Krisis Bahan Bakar Global Tak Mampu Bendung Laju Jet Pribadi Kaum Super Kaya
Kontras Tajam di Angkasa: Krisis Bahan Bakar Global Tak Mampu Bendung Laju Jet Pribadi Kaum Super Kaya

MUI Jatim melalui Gus Ubed menegaskan bahwa rezeki adalah hak prerogatif Tuhan yang harus dijemput dengan cara yang halal dan kerja keras, bukan melalui ritual sesajen yang justru merusak iman. Kehadiran sosok seperti Pesulap Merah, di satu sisi, membantu memicu diskusi kritis di masyarakat agar tidak mudah tertipu oleh oknum yang memanfaatkan ketakutan dan harapan orang lain demi keuntungan pribadi.

Kesimpulan: Kembali ke Jalan yang Terang

Debat mengenai pesugihan di Gunung Kawi bukanlah sekadar pertarungan antara konten kreator dan kepercayaan lokal, melainkan refleksi dari perjuangan kita dalam menjaga kemurnian tauhid dan kewarasan berpikir. Seperti yang ditekankan oleh para ulama, berdoa dan berusaha adalah dua sayap yang harus dikepakkan secara bersamaan.

Mari kita jadikan momentum viralnya berita ini sebagai ajakan untuk lebih bijak dalam menyaring informasi dan lebih teguh dalam memegang prinsip keyakinan. Edukasi yang benar mengenai perbedaan antara menghormati budaya dan terjebak dalam kemusyrikan harus terus digalakkan agar generasi mendatang tidak lagi terbelenggu oleh mitos-mitos yang melemahkan karakter bangsa.

Baca Juga Mewah Tak Harus Mahal: Sensasi Staycation di Trans Luxury Hotel Surabaya dengan Sky Beach Viral Mulai Rp 999 Ribu
Mewah Tak Harus Mahal: Sensasi Staycation di Trans Luxury Hotel Surabaya dengan Sky Beach Viral Mulai Rp 999 Ribu
Dimas Pratama

Dimas Pratama

Penjelajah dunia yang gemar membagikan cerita perjalanan unik dan panduan budget travel. Menginspirasi petualangan Anda melalui Info Travel.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *