Menelusuri Jejak Makam Kiai Jungke: Hikayat Ulama Besar dan Tradisi Telur Sambal Kecap di Labirin Kota Semarang

Dimas Pratama | SuaraInfo
03 Jul 2026, 23:27 WIB
Menelusuri Jejak Makam Kiai Jungke: Hikayat Ulama Besar dan Tradisi Telur Sambal Kecap di Labirin Kota Semarang

SuaraInfo — Di balik hiruk-pikuk kemajuan metropolis Kota Semarang yang kian modern, terselip sebuah fragmen sejarah yang nyaris terlupakan namun tetap berdenyut di hati masyarakat lokal. Di tengah rapatnya bangunan beton dan labirin pemukiman padat Kelurahan Pandansari, Kecamatan Semarang Tengah, bersemayam jasad seorang penyebar agama Islam yang disegani pada masanya, yakni Kiai Jungke. Keberadaan makam ini bukan sekadar situs ziarah biasa, melainkan pusat dari sebuah tradisi kuliner spiritual yang unik: Telur Sambal Kecap.

Menembus Labirin Pandansari Mencari Sang Ulama

Menemukan lokasi makam Kiai Jungke bukanlah perkara mudah bagi mereka yang baru pertama kali berkunjung ke kawasan ini. Bagi para pelancong atau peziarah yang ingin menyambangi situs wisata religi ini, perjalanan biasanya dimulai dari Jalan Gendingan, sebuah kawasan komersial yang letaknya tak jauh dari Queen City Mall. Namun, kemegahan mal tersebut seketika kontras saat kita memasuki sebuah lorong sempit yang hanya sanggup dilewati oleh satu unit sepeda motor secara bergantian.

Makam ini seolah ‘tenggelam’ secara fisik, terhimpit oleh dinding-dinding rumah warga yang terus tumbuh dari dekade ke dekade. SuaraInfo mencoba menelusuri lorong-lorong sunyi ini, di mana aroma masakan rumah warga bercampur dengan udara lembap khas gang sempit. Tanpa bantuan petunjuk jalan yang memadai, satu-satunya kompas adalah keramahan penduduk setempat. Seorang bocah lelaki dengan tangkas memberikan arah, “Di sana, terus lurus, lalu belok kanan,” serunya sebelum menghilang di balik keremangan gang.

Baca Juga Saksi Bisu Kejayaan Maritim: Mengupas Kemewahan Gedung Internasional, Markas ‘Sultan’ Pelayaran di Kota Tua Jakarta
Saksi Bisu Kejayaan Maritim: Mengupas Kemewahan Gedung Internasional, Markas ‘Sultan’ Pelayaran di Kota Tua Jakarta

Hanya sekitar sepuluh meter dari jalan raya utama, setelah melewati beberapa kelokan, sebuah struktur tembok merah dengan dua pintu kayu menyambut kedatangan kami. Di sinilah, di balik tembok bersahaja itu, terletak makam Kiai Jungke berdampingan dengan sang istri, Raden Ayu Noyowongso. Meski lokasinya terasa menyesakkan, suasana di dalam area makam terasa sangat kontemplatif dan tenang, seolah waktu berhenti berputar di titik ini.

Sosok Sayyid Husein: Trah Sunan Bonang dan Hubungan dengan Keraton Solo

Berdasarkan catatan sejarah dan tutur lisan yang dihimpun SuaraInfo, Kiai Jungke memiliki nama asli Sayyid Husein. Beliau merupakan tokoh sentral dalam penyebaran sejarah Islam di kawasan Semarang pada abad ke-17 atau sekitar tahun 1600-an. Nur Mahfud, Ketua Pengurus Makam Kiai Jungke, menjelaskan bahwa Sayyid Husein bukanlah sosok sembarangan; ia diyakini sebagai keturunan langsung dari Sunan Bonang, salah satu anggota Wali Songo yang sangat berpengaruh di tanah Jawa.

Tidak hanya Kiai Jungke yang memiliki silsilah mentereng. Istrinya, Raden Ayu Noyowongso, juga memiliki keterikatan darah dengan Keraton Solo. Hal ini menjelaskan mengapa setiap kali diadakan acara haul atau peringatan wafatnya tokoh ini, adat istiadat yang digunakan kental dengan nuansa Keraton Surakarta. Mahfud menceritakan bahwa pihak pengelola selalu melakukan prosesi ‘kula nuwun’ atau memohon izin ke Keraton Solo sebelum melaksanakan perhelatan besar.

Baca Juga Demi Keberuntungan yang Mengikis Seni: Kisah di Balik Restorasi Mosaik Banteng Ikonik Milan
Demi Keberuntungan yang Mengikis Seni: Kisah di Balik Restorasi Mosaik Banteng Ikonik Milan

“Kami harus menjaga unggah-ungguh (tata krama). Bahkan saat acara haul, kami mendapatkan air suci dari pertapaan tertua di Keraton Solo untuk digunakan dalam prosesi. Ini menunjukkan betapa kuatnya ikatan sejarah antara situs di Pandansari ini dengan pusat kebudayaan Jawa di Surakarta,” jelas Mahfud dengan nada penuh hormat.

Filosofi Telur Sambal Kecap: Sedekah yang Mengakar

Salah satu hal yang paling membedakan makam Kiai Jungke dengan situs keramat lainnya di Jawa Tengah adalah adanya tradisi kuliner yang sangat spesifik, yaitu nasi telur sambal kecap. Tradisi ini bukan sekadar kebiasaan makan bersama, melainkan sebuah bentuk nazar dan syukur masyarakat yang telah terakar selama ratusan tahun. Hariyani, salah seorang keturunan Kiai Jungke, membeberkan alasan di balik pemilihan menu sederhana tersebut.

Konon, semasa hidupnya, Kiai Jungke sangat menyukai anak-anak kecil. Beliau dikenal sebagai sosok penyayang yang sering berbagi kebahagiaan dengan anak-anak di sekitarnya. Oleh karena itu, bagi warga yang hajat atau keinginannya tercapai, mereka akan membawa nasi liwet lengkap dengan telur dan sambal kecap ke makam tersebut. Makanan ini kemudian dibagikan secara cuma-cuma, terutama kepada anak-anak kampung yang dengan antusias akan berkumpul membawa piring masing-masing.

Baca Juga Skandal Tipu-Tipu di Labuan Bajo: Bos Travel Tilep Rp 85 Juta Demi Judi Online, Coreng Citra Pariwisata Premium
Skandal Tipu-Tipu di Labuan Bajo: Bos Travel Tilep Rp 85 Juta Demi Judi Online, Coreng Citra Pariwisata Premium

“Ini bukan soal kemewahan menu, tapi soal keikhlasan. Telur sambal kecap adalah simbol kesederhanaan yang disenangi beliau. Dulu, satu butir telur bisa dipotong menjadi empat bagian jika yang datang banyak, agar semua kebagian berkah,” ujar Sri Rejeki, warga setempat yang sejak kecil sudah akrab dengan tradisi ‘bancakan’ ini.

Kisah-Kisah Keajaiban di Balik Nazar

Kepercayaan masyarakat terhadap karomah Kiai Jungke sebagai wali Allah membuat makam ini tak pernah sepi dari para pencari berkah. SuaraInfo mencatat beberapa testimoni warga yang merasa doa-doa mereka diijabah setelah berziarah dan melaksanakan tradisi tradisi Semarang ini. Sri Rejeki menceritakan pengalamannya sendiri saat dirinya kesulitan mendapatkan keturunan.

“Dulu saya sempat telat punya momongan. Lalu saya bernazar, jika dikaruniai anak, saya akan mengadakan bancakan telur sambal kecap di makam Mbah Kiai. Alhamdulillah, tak lama kemudian saya hamil. Begitu pula saat saya mendapatkan pekerjaan pertama dan bisa membeli motor pertama, saya langsung tunaikan janji saya di sini,” ungkap Sri dengan mata berkaca-kaca.

Baca Juga Misteri Kepingan Emas dan Arca Dewa Surya: Menyingkap Tabir Sejarah di Balik Pemugaran Candi Losari Magelang
Misteri Kepingan Emas dan Arca Dewa Surya: Menyingkap Tabir Sejarah di Balik Pemugaran Candi Losari Magelang

Menariknya, tidak ada jadwal pasti kapan tradisi ini dilaksanakan. Warga bisa datang kapan saja—pagi, siang, atau sore—tanpa perlu undangan resmi. Cukup dengan teriakan “Bancakan! Bancakan!”, anak-anak dan warga sekitar akan datang berbondong-bondong untuk berbagi santapan yang penuh makna spiritual tersebut.

Upaya Pelestarian dan Harapan Pemerintah Kota

Melihat nilai sejarah dan budaya yang begitu besar, Pemerintah Kota Semarang mulai memberikan perhatian lebih terhadap keberadaan makam Kiai Jungke. Dalam salah satu acara haul yang dihadiri oleh tokoh-tokoh penting kota, ditekankan bahwa perjuangan dakwah Kiai Jungke di masa lampau adalah fondasi dari karakter masyarakat Pandansari yang religius dan guyub saat ini.

Pemerintah berharap agar situs ini tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga menjadi destinasi edukasi bagi generasi muda agar tidak lupa pada akar sejarahnya. Meskipun lahan makam kini kian menyempit akibat pertumbuhan populasi, semangat untuk menjaga kelestarian makam tetap membara di kalangan pengurus dan warga.

Sebagai penutup, keberadaan makam Kiai Jungke adalah pengingat bahwa di tengah hiruk-pikuk pariwisata Semarang yang modern, masih ada permata-permata sejarah yang tersembunyi di dalam gang-gang sempit. Sebuah tempat di mana sepiring nasi telur sambal kecap mampu menjadi jembatan antara masa lalu, masa kini, dan harapan di masa depan.

Baca Juga Eksklusivitas di Awan: Menikmati Staycation Premium di Trans Luxury Hotel Surabaya dengan Penawaran Terbatas
Eksklusivitas di Awan: Menikmati Staycation Premium di Trans Luxury Hotel Surabaya dengan Penawaran Terbatas

Daftar Poin Menarik Seputar Makam Kiai Jungke:

  • Silsilah Luhur: Merupakan keturunan Sunan Bonang dan memiliki hubungan darah dengan Keraton Surakarta.
  • Tradisi Unik: Satu-satunya makam di Semarang yang identik dengan sedekah telur sambal kecap untuk anak-anak.
  • Lokasi Tersembunyi: Berada di tengah pemukiman padat Pandansari, memberikan sensasi penjelajahan sejarah yang autentik.
  • Simbol Kesederhanaan: Mengajarkan bahwa rasa syukur tidak harus diwujudkan dengan kemewahan, melainkan dengan berbagi kepada sesama.

Bagi Anda yang ingin merasakan kedamaian spiritual sekaligus melihat lebih dekat bagaimana tradisi lokal masih terjaga dengan sangat murni, mengunjungi makam Kiai Jungke di Semarang Tengah adalah sebuah perjalanan yang layak untuk ditempuh.

Dimas Pratama

Dimas Pratama

Penjelajah dunia yang gemar membagikan cerita perjalanan unik dan panduan budget travel. Menginspirasi petualangan Anda melalui Info Travel.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *