Menelusuri Jejak Spiritual Waisak 2026: Dari Ritual Thudong Lintas Negara Menuju ‘Indonesia Walk For Peace’ dari Pulau Dewata

Dimas Pratama | SuaraInfo
25 Apr 2026, 17:32 WIB
Menelusuri Jejak Spiritual Waisak 2026: Dari Ritual Thudong Lintas Negara Menuju 'Indonesia Walk For Peace' dari Pulau D

SuaraInfo — Ada sebuah narasi baru yang tengah dipersiapkan dalam menyongsong peringatan Hari Raya Waisak 2570 BE pada tahun 2026 mendatang. Jika tahun-tahun sebelumnya masyarakat Indonesia dan dunia dibuat terpukau oleh aksi heroik para biksu yang melakukan ritual Biksu Thudong dengan berjalan kaki lintas negara dari Thailand menuju Candi Borobudur, maka tahun 2026 akan menyuguhkan dinamika yang berbeda namun tetap sarat akan makna spiritualitas mendalam.

Langkah kaki para bhante tidak akan lagi membelah jalanan aspal Malaysia maupun Singapura untuk mencapai tanah Jawa. Sebagai gantinya, sebuah inisiatif besar bertajuk “Indonesia Walk For Peace 2026” telah disiapkan sebagai agenda utama. Ritual jalan kaki ini tetap dipertahankan, namun dengan titik keberangkatan yang berbeda, yakni dimulai dari jantung spiritual Pulau Dewata, Bali, menuju kemegahan Candi Borobudur di Magelang, Jawa Tengah.

Alasan di Balik Absennya Thudong Lintas Negara

Keputusan untuk tidak menggelar Thudong internasional dari Thailand pada tahun 2026 bukanlah tanpa alasan. Pembina Acara Indonesia Walk For Peace 2026, Romo Wawan, mengungkapkan bahwa terdapat kendala koordinasi teknis di negara tetangga yang menjadi rute rutin para biksu. Menurutnya, komunitas Buddha di Malaysia saat ini tengah memfokuskan energi mereka pada kegiatan internal kenegaraan.

Baca Juga Menjelajah Negeri Ginseng Makin Hemat: Hybrid Korea Travel Fair 2026 Tebar Cashback Jutaan Rupiah
Menjelajah Negeri Ginseng Makin Hemat: Hybrid Korea Travel Fair 2026 Tebar Cashback Jutaan Rupiah

“Untuk tahun ini memang tidak ada Thudong lintas negara karena rekan-rekan di Malaysia, khususnya Young Buddhist Association of Malaysia, sedang berkonsentrasi pada perkembangan agama Buddha di sana yang kini tengah mendapat perhatian khusus dari Raja Malaysia. Beliau mengikuti rangkaian kegiatan Waisak selama sebulan penuh, sehingga pendampingan untuk rute internasional belum bisa dimaksimalkan tahun ini,” jelas Romo Wawan saat memberikan keterangan resmi.

Meski demikian, Romo Wawan memastikan bahwa hubungan antarkomunitas tetap terjaga dengan baik. Ia memberikan sinyal bahwa ritual Thudong yang melintasi Thailand, Malaysia, dan Singapura kemungkinan besar akan kembali digelar pada tahun 2027 mendatang setelah koordinasi antarnegara kembali stabil.

Filosofi di Balik ‘Indonesia Walk For Peace’

Pemilihan nama “Indonesia Walk For Peace” sendiri membawa pesan universal yang lebih luas. Terinspirasi dari gerakan serupa yang dilakukan oleh para bhante di Amerika Serikat, panitia ingin menonjolkan sisi perdamaian dunia sebagai inti dari perayaan Hari Raya Waisak. Thudong, yang secara harfiah dalam bahasa Thailand berarti perjalanan spiritual dengan berjalan kaki, kini diterjemahkan secara lebih global untuk merangkul semangat toleransi di tanah air.

Baca Juga Menyibak Harmoni yang Terusik: Etika dan Aturan Baru Berkunjung ke Between Two Gates Kotagede
Menyibak Harmoni yang Terusik: Etika dan Aturan Baru Berkunjung ke Between Two Gates Kotagede

“Kami melihat bagaimana perjalanan spiritual para Bhante di Amerika Serikat dengan nama ‘Walk for Peace’ menjadi sangat viral dan menyentuh hati banyak orang. Kami ingin membawa semangat yang sama ke Indonesia. Ini adalah perjalanan untuk perdamaian, untuk menunjukkan bahwa Indonesia adalah rumah bagi keberagaman yang harmonis,” tambah Romo Wawan. Sebanyak 50 biksu terpilih direncanakan akan mengikuti perjalanan epik ini, didampingi oleh satu orang umat Buddha dari Thailand.

Memulai Langkah dari Brahmavihara Arama Buleleng

Perjalanan suci ini dijadwalkan akan dimulai pada 9 Mei 2026. Lokasi yang dipilih sebagai titik start adalah Brahmavihara Arama di Buleleng, Bali, sebuah tempat yang dikenal dengan suasana meditatifnya yang luar biasa. Sebelum memulai langkah pertama, para biksu akan berkumpul di Bali sejak 7 Mei untuk melakukan persiapan fisik dan spiritual.

Prosesi pelepasan pada Sabtu pagi tersebut diprediksi akan berlangsung khidmat dengan dihadiri oleh tokoh-tokoh penting, termasuk Dirjen Bimas Agama Buddha dari Kementerian Agama RI, serta jajaran pimpinan daerah dari Kabupaten Buleleng dan Singaraja. Dari Bali Utara, para biksu akan berjalan menuju Jembrana dan beristirahat di Vihara Empu Astapaka sebelum bersiap menyeberangi Selat Bali.

Baca Juga Menilik Masa Depan IKN: Bukan Sekadar Pusat Administrasi, Melainkan Magnet Wisata dan Ekonomi Baru
Menilik Masa Depan IKN: Bukan Sekadar Pusat Administrasi, Melainkan Magnet Wisata dan Ekonomi Baru

Ritual Tabur Bunga di Selat Bali: Sebuah Penghormatan

Salah satu momen yang diprediksi akan sangat emosional adalah saat para biksu menyeberangi Selat Bali menggunakan kapal feri pada 11 Mei 2026. Di tengah lautan, para bhante akan menghentikan sejenak perjalanan mereka untuk melakukan pembacaan doa atau paritta. Ritual ini ditujukan untuk mendoakan arwah para korban yang pernah mengalami tragedi di perairan tersebut.

“Kami akan melakukan tabur bunga dan pembacaan doa paritta di atas kapal feri. Ini adalah bentuk empati dan doa kami untuk keselamatan serta kedamaian bagi mereka yang telah mendahului kita di Selat Bali. Spiritualitas tidak hanya tentang diri sendiri, tapi juga tentang mendoakan sesama dan alam sekitar,” tutur Romo Wawan dengan nada penuh ketulusan.

Estafet Toleransi Melintasi Jawa Timur dan Jawa Tengah

Setelah menapakkan kaki di Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi, para biksu akan disambut hangat oleh pemerintah daerah setempat. Dari sini, rute panjang melintasi Jawa Timur akan dimulai. Perjalanan ini bukan sekadar gerak fisik, melainkan sebuah estafet Toleransi Beragama yang nyata. Para biksu akan singgah di berbagai tempat ibadah, mulai dari Vihara, TITD (Tempat Ibadah Tri Dharma), hingga Gereja Katedral di Surabaya.

Baca Juga Lupakan Bali Sejenak! Ini 7 Destinasi Rahasia Indonesia yang Jauh Lebih Eksotis dan Menantang
Lupakan Bali Sejenak! Ini 7 Destinasi Rahasia Indonesia yang Jauh Lebih Eksotis dan Menantang

Di Surabaya, para biksu dijadwalkan mengunjungi Balai Kota dan Gereja Katedral Hati Kudus sebagai simbol inklusivitas. Perjalanan berlanjut menuju Mojokerto, tempat mereka akan mengunjungi Mahavihara Mojopahit yang ikonik, lalu melintasi Jombang, Nganjuk, Madiun, hingga memasuki wilayah Jawa Tengah melalui Sragen.

Penyambutan Hangat di Solo dan Yogyakarta

Memasuki tanggal 23 Mei 2026, rombongan akan tiba di Solo. Di kota ini, mereka akan disambut di Pura Mangkunegaran dan berpartisipasi dalam Kirab Waisak yang legendaris dari Rumah Dinas Wali Kota menuju Balai Kota Solo. Kehadiran para biksu di Solo selalu menjadi magnet bagi masyarakat yang ingin memberikan penghormatan maupun sekadar bersalaman.

Perjalanan berlanjut ke Daerah Istimewa Yogyakarta. Salah satu agenda krusial adalah audiensi di Pendopo Kepatihan, di mana para biksu akan diterima langsung oleh Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X. Kehadiran Sultan sebagai simbol pengayom keberagaman di Yogyakarta memberikan bobot moral yang besar bagi misi perdamaian ini.

Puncak Perjalanan: Memasuki Gerbang Candi Borobudur

Setelah menempuh perjalanan selama hampir 20 hari, para biksu dijadwalkan tiba di Muntilan, Magelang pada 27 Mei 2026. Mereka akan bermalam di Kelenteng Hok An Kiong sebelum menempuh etape terakhir menuju destinasi akhir: Candi Borobudur.

Baca Juga Tembok Birokrasi Miami: Wasit Terbaik Afrika Omar Artan Gagal Pimpin Piala Dunia 2026 Akibat Penolakan Visa AS
Tembok Birokrasi Miami: Wasit Terbaik Afrika Omar Artan Gagal Pimpin Piala Dunia 2026 Akibat Penolakan Visa AS

Pada 28 Mei 2026, rombongan akan berjalan kaki dari Vihara Mendut menuju Pusdiklat Chatra Jinadhammo, dan berakhir dengan prosesi megah memasuki gerbang Candi Borobudur. Kedatangan mereka akan menjadi pembuka rangkaian perayaan Waisak nasional yang puncaknya jatuh pada Minggu, 31 Mei 2026.

Jadwal dan Rute Lengkap Indonesia Walk For Peace 2026

Berikut adalah rincian rute perjalanan fisik para biksu yang bisa menjadi panduan bagi masyarakat yang ingin memberikan dukungan di sepanjang jalan:

  • 7-8 Mei: Kedatangan dan persiapan biksu di Bali.
  • 9 Mei: Start dari Brahmavihara Arama Buleleng menuju Warung Kenanga.
  • 10 Mei: Menuju Vihara Empu Astapaka, Jembrana.
  • 11 Mei: Penyeberangan Selat Bali (Doa & Tabur Bunga) menuju Vihara Jaya Manggala, Banyuwangi.
  • 12-14 Mei: Melintasi Pasuruan, Sidoarjo (TITD Tjoe Tik Kiong), dan masuk ke Surabaya.
  • 15 Mei: Kunjungan ke Balai Kota Surabaya dan Gereja Katedral Hati Kudus.
  • 16-17 Mei: Menuju Mojokerto dan bermalam di Mahavihara Mojopahit Trowulan.
  • 18-20 Mei: Melintasi Jombang dan Nganjuk.
  • 21-22 Mei: Memasuki Madiun (Caruban) dan Ngawi (Pendopo Widya Graha).
  • 23 Mei: Masuk Jawa Tengah (Sragen) dan Kirab Waisak di Kota Solo.
  • 24-25 Mei: Menuju Klaten dan Yogyakarta (Diterima Sri Sultan HB X).
  • 26 Mei: Kegiatan spiritual di Yogyakarta (Pura Pakualaman).
  • 27 Mei: Menuju Muntilan, Magelang.
  • 28 Mei: Finish di Candi Borobudur.

Melalui perhelatan “Indonesia Walk For Peace 2026”, kita kembali diingatkan bahwa esensi dari setiap perjalanan spiritual adalah transformasi diri dan penyebaran kasih sayang. Meskipun rute Thailand-Borobudur harus absen untuk sementara, semangat juang para bhante yang berjalan dari Bali ke Borobudur tetap menjadi simbol kuat bagi moderasi beragama di Indonesia.

Dimas Pratama

Dimas Pratama

Penjelajah dunia yang gemar membagikan cerita perjalanan unik dan panduan budget travel. Menginspirasi petualangan Anda melalui Info Travel.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *