Mengapa Tubuh Tiba-tiba Ingin Makanan Manis? Mengungkap Rahasia di Balik Sugar Craving dan Solusinya

dr. Sarah Amelia | SuaraInfo
07 Jun 2026, 17:27 WIB
Mengapa Tubuh Tiba-tiba Ingin Makanan Manis? Mengungkap Rahasia di Balik Sugar Craving dan Solusinya

SuaraInfo — Pernahkah Anda mendapati diri sendiri tiba-tiba membayangkan sepotong cokelat lumer, sesendok es krim lembut, atau segelas minuman kekinian yang manis di tengah kepenatan kerja? Padahal, perut baru saja diisi dan rasa lapar belum benar-benar datang. Fenomena ini bukanlah sekadar keinginan manja, melainkan sebuah sinyal kompleks yang dikirimkan oleh tubuh dan otak kita, yang secara populer dikenal dengan istilah sugar craving.

Di era modern yang serba cepat ini, godaan untuk mengonsumsi asupan tinggi gula seakan mengintai di setiap sudut jalan dan layar gawai kita. Keinginan mendadak untuk mengecap rasa manis seringkali muncul sebagai interupsi di sela-sela aktivitas, bahkan saat cadangan energi kita sebenarnya masih mencukupi. Lantas, apa yang sebenarnya terjadi di balik tirai biologis kita hingga rasa manis menjadi begitu sulit untuk ditolak? Mengapa lidah kita seolah memiliki memori sendiri terhadap sensasi gula?

Efek Psikologis: Rasa Manis sebagai ‘Pelukan’ Emosional

Menyelami fenomena ini lebih dalam, SuaraInfo merangkum penjelasan dari pakar kesehatan terkemuka, dr. Laurencia Ardi, MGizi, AIFO-K. Sebagai seorang Health Communicator di Kalbe Nutritionals, dr. Laurencia mengungkapkan bahwa daya tarik rasa manis tidak hanya berhenti di indra pengecap, melainkan merasuk hingga ke ranah psikologis. Rasa manis memberikan semacam efek instan yang membuat seseorang merasa lebih nyaman dan mampu menikmati momen dengan lebih intens.

Baca Juga Mengubah Tekanan Menjadi Kekuatan: Mengapa Stres Adalah Sahabat Tersembunyi untuk Kesehatan Mental Anda
Mengubah Tekanan Menjadi Kekuatan: Mengapa Stres Adalah Sahabat Tersembunyi untuk Kesehatan Mental Anda

“Rasa manis itu memang memberikan sensasi yang nyaman kemudian yang enjoy. Inilah yang seringkali dicari oleh konsumen, karena ada persepsi kolektif bahwa rasa manis itu identik dengan kelezatan dan kebahagiaan,” ujar dr. Laurencia dalam sebuah diskusi mendalam mengenai kesehatan. Hal ini menjelaskan mengapa banyak orang cenderung mencari makanan manis saat sedang stres, sedih, atau merasa lelah secara mental. Bagi banyak orang, gula adalah bentuk kompensasi instan atas tekanan emosional yang dialami sehari-hari.

Mekanisme Otak: Dopamin dan Sistem Penghargaan

Mengapa rasa nyaman itu muncul? Jawabannya terletak pada sistem penghargaan atau reward system di dalam otak kita. Ketika molekul gula menyentuh reseptor di lidah, sinyal kilat dikirimkan ke berbagai area otak yang mengatur rasa senang, motivasi, dan penghargaan. Respons ini memicu pelepasan dopamin, sebuah neurotransmiter yang bertanggung jawab menciptakan perasaan puas dan euforia ringan.

Berdasarkan laporan ilmiah yang dirilis dalam Journal of Psychopharmacology tahun 2025, otak manusia memiliki kecenderungan untuk merekam pengalaman yang menyenangkan ini sebagai memori prioritas. Akibatnya, setiap kali kita merasa butuh “dorongan” suasana hati, otak akan secara otomatis mengarahkan kita untuk mengulangi perilaku konsumsi gula tersebut. Inilah yang menciptakan siklus ketergantungan halus yang sulit diputus jika tidak disadari sejak dini.

Baca Juga Mengapa Kopi Bikin Deg-degan Tapi Teh Menenangkan? Ini Rahasia Sains di Balik Efek Kafeinnya
Mengapa Kopi Bikin Deg-degan Tapi Teh Menenangkan? Ini Rahasia Sains di Balik Efek Kafeinnya

Jalur Komunikasi Usus dan Otak

Menariknya, keinginan akan gula bukan hanya urusan lidah. Penelitian terbaru yang dipublikasikan dalam jurnal Cell Metabolism tahun 2024 menunjukkan adanya jalur komunikasi khusus atau “tol informasi” antara saluran pencernaan (usus) dan otak. Tubuh kita ternyata memiliki kemampuan luar biasa untuk mendeteksi keberadaan gula bahkan setelah makanan tersebut melewati kerongkongan.

Keberadaan gula di usus dapat mengaktifkan jalur saraf tertentu yang secara langsung memerintahkan otak untuk melepaskan dopamin di pusat penghargaan. Artinya, meskipun kita mencoba menipu lidah dengan pemanis buatan, usus tetap memiliki cara untuk mengetahui apakah energi asli dari gula benar-benar masuk atau tidak. Mekanisme inilah yang membuat makanan manis asli terasa jauh lebih memuaskan secara biologis dibandingkan jenis makanan lainnya, sehingga memicu sugar craving yang kuat setelah hari yang melelahkan.

Waspada Terhadap ‘Jebakan Batman’ Hidden Sugar

Satu hal yang menjadi perhatian besar bagi SuaraInfo adalah keberadaan gula tersembunyi atau hidden sugar. Banyak dari kita merasa sudah membatasi konsumsi gula karena jarang makan donat atau minum kopi manis, namun timbangan tetap menunjukkan kenaikan angka yang signifikan. Mengapa demikian? Ternyata, gula bersembunyi di balik nama-nama asing dalam label kemasan produk yang kita konsumsi sehari-hari, mulai dari saus sambal, kecap, hingga sereal sarapan yang dianggap sehat.

Baca Juga Dilema Gula dalam Botol Sehat: Menelisik Ancaman Diabetes di Balik Manisnya Minuman Probiotik
Dilema Gula dalam Botol Sehat: Menelisik Ancaman Diabetes di Balik Manisnya Minuman Probiotik

Dalam forum edukasi kesehatan, dr. Laurencia mengingatkan bahwa asupan gula tidak hanya berasal dari makanan penutup. Produk kemasan yang sering kita konsumsi tanpa pikir panjang sering kali menjadi penyumbang utama surplus kalori. Tanpa pemahaman yang baik tentang label nutrisi, kita bisa terjebak dalam konsumsi gula berlebih yang berujung pada penumpukan lemak tubuh secara diam-diam.

Strategi Mindful Eating: Menikmati Tanpa Menyakiti

Lalu, apakah kita harus sepenuhnya menjauhi rasa manis? Tentu tidak. Kuncinya terletak pada kesadaran penuh saat makan, atau yang dikenal dengan istilah mindful eating. Menurut dr. Laurencia, langkah pertama untuk mengendalikan keinginan makan manis adalah dengan benar-benar sadar terhadap apa yang masuk ke dalam tubuh kita.

“Mindful eating itu sangat penting. Kita harus sadar penuh, bukan sekadar menelan. Dengan kesadaran ini, kita jadi lebih kritis terhadap kandungan gizi dalam makanan,” jelasnya. Dengan mempraktikkan mindful eating, seseorang tidak hanya mengejar rasa enak di mulut, tetapi juga mempertimbangkan dampak jangka panjang bagi kesehatannya. Kita diajak untuk mengenali apakah kita benar-benar lapar secara fisik atau hanya sekadar “lapar mata” atau lapar emosional.

Baca Juga Menelisik Keamanan Konsumsi Ikan Sapu-sapu: Mengapa Air Jernih Tak Menjamin Bebas Racun?
Menelisik Keamanan Konsumsi Ikan Sapu-sapu: Mengapa Air Jernih Tak Menjamin Bebas Racun?

Tips Mengendalikan Craving Secara Bijak

Untuk membantu Anda menghadapi serbuan sugar craving, berikut adalah beberapa langkah praktis yang bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari:

  • Baca Label Nutrisi: Luangkan waktu beberapa detik untuk melihat kolom informasi nilai gizi. Perhatikan kandungan gula (termasuk istilah seperti sukrosa, fruktosa, maltodekstrin) sebelum membeli produk kemasan.
  • Pilih Karbohidrat Kompleks: Mengonsumsi serat dan protein yang cukup dapat membantu menjaga kadar gula darah tetap stabil, sehingga keinginan mendadak untuk makan manis bisa berkurang.
  • Hidrasi yang Cukup: Seringkali otak salah menerjemahkan sinyal haus sebagai rasa lapar atau keinginan makan manis. Cobalah minum segelas air putih saat keinginan itu muncul.
  • Cari Alternatif Alami: Jika rasa manis sangat dibutuhkan, pilihlah buah-buahan segar yang juga mengandung serat dan vitamin, bukan sekadar kalori kosong.
  • Istirahat yang Cukup: Kurang tidur dapat mengacaukan hormon pengatur nafsu makan, yang membuat tubuh merindukan asupan energi instan dari gula.

Pada akhirnya, menikmati makanan manis adalah salah satu kenikmatan hidup yang manusiawi. Namun, dengan pengetahuan yang tepat mengenai bagaimana tubuh kita bekerja, kita bisa mengambil kendali penuh atas kesehatan kita sendiri. Jangan biarkan hidden sugar dan dorongan dopamin sesaat merusak rencana jangka panjang Anda untuk hidup lebih bugar. Mari mulai lebih peduli dengan apa yang tersaji di piring kita hari ini.

Baca Juga Waspada Racun di Balik Kemasan: BPOM Ungkap 11 Kosmetik Berbahaya Pemicu Kanker dan Gagal Ginjal
Waspada Racun di Balik Kemasan: BPOM Ungkap 11 Kosmetik Berbahaya Pemicu Kanker dan Gagal Ginjal

Tetaplah memantau informasi gaya hidup sehat lainnya hanya di SuaraInfo untuk mendapatkan wawasan mendalam yang membantu Anda menjalani hidup dengan lebih berkualitas.

dr. Sarah Amelia

dr. Sarah Amelia

Praktisi kesehatan yang aktif mengedukasi gaya hidup sehat. Menyediakan informasi medis yang mudah dipahami dan akurat hanya di Suara Sehat.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *