Mengenal ‘Bed Rotting’: Tren Rebahan Gen Z yang Berujung Bahaya Kesehatan Mental

dr. Sarah Amelia | SuaraInfo
03 Mei 2026, 07:26 WIB
Mengenal 'Bed Rotting': Tren Rebahan Gen Z yang Berujung Bahaya Kesehatan Mental

SuaraInfo — Di tengah hiruk-pikuk dunia modern yang seolah menuntut setiap individu untuk terus produktif tanpa henti, muncul sebuah fenomena yang berlawanan arus di media sosial. Istilah tersebut adalah bed rotting, sebuah tren yang kini tengah merajai lini masa TikTok dan menjadi perbincangan hangat di kalangan anak muda. Meski secara harfiah berarti “membusuk di tempat tidur”, bagi banyak pelakunya, aktivitas ini dianggap sebagai bentuk perlawanan terhadap kelelahan mental yang akut.

Namun, di balik kenyamanan selimut dan empuknya bantal, para pakar kesehatan mulai menyuarakan kekhawatiran. Ada garis tipis yang sangat kabur antara istirahat yang memulihkan dengan kondisi psikologis yang mengarah pada penurunan kesehatan mental secara serius. Fenomena ini bukan sekadar tidur siang yang panjang, melainkan sebuah gaya hidup pasif yang dilakukan di atas kasur dalam durasi yang sangat lama.

Apa Itu Bed Rotting dan Mengapa Begitu Viral?

Secara definisi, bed rotting adalah aktivitas menghabiskan waktu berjam-jam, bahkan seharian penuh, di atas tempat tidur tanpa niat untuk tidur secara produktif. Para pelakunya biasanya mengisi waktu dengan melakukan aktivitas pasif seperti makan camilan, menonton maraton film, hingga melakukan scrolling media sosial tanpa henti. Fenomena ini sering kali dipamerkan sebagai bentuk self-care atau perawatan diri bagi mereka yang merasa jenuh dengan tuntutan eksternal.

Baca Juga Tragedi Delapan Menit: Kisah Meg Fozzard dan Perjuangan Melawan Cedera Otak Akibat Kelalaian Medis
Tragedi Delapan Menit: Kisah Meg Fozzard dan Perjuangan Melawan Cedera Otak Akibat Kelalaian Medis

Bagi mereka yang merasa lelah dengan tekanan akademis, beban pekerjaan yang menumpuk, hingga drama kehidupan sosial, bed rotting terasa seperti oase di tengah padang pasir. Nicole Hollingshead, PhD, seorang psikolog klinis dari Ohio State University Wexner Medical Center, menyoroti bahwa tren ini memberikan semacam legitimasi bagi seseorang untuk diam. Dalam budaya kita yang mendewakan kesibukan, berhenti sejenak tanpa merasa bersalah adalah kemewahan yang dicari banyak orang melalui tren ini.

Pemberontakan Terhadap ‘Hustle Culture’

Banyak pengamat melihat bed rotting sebagai respons balik terhadap budaya kerja keras atau hustle culture yang toksik. Generasi muda saat ini merasa terjebak dalam siklus kompetisi yang tak ada habisnya. Oleh karena itu, mendekam di kamar menjadi bentuk protes diam-diam. Psikolog Courtney DeAngelis dari NewYork-Presbyterian berpendapat bahwa dalam dosis yang sangat kecil, memberikan waktu bagi tubuh untuk benar-benar tidak melakukan apa-apa memang bisa membantu meredakan stres dan kelelahan fisik yang ekstrem.

Namun, masalah muncul ketika aktivitas ini tidak lagi menjadi sarana jeda, melainkan menjadi pelarian permanen. Ketika seseorang mulai mengisolasi diri di balik pintu kamar dan menolak untuk berinteraksi dengan dunia luar, fungsi istirahat tersebut telah bergeser menjadi sesuatu yang lebih kelam.

Baca Juga Rahasia Menyimpan Daging Kurban Agar Tetap Segar dan Awet Berbulan-bulan: Panduan Lengkap ala SuaraInfo
Rahasia Menyimpan Daging Kurban Agar Tetap Segar dan Awet Berbulan-bulan: Panduan Lengkap ala SuaraInfo

Data Mengejutkan: Gen Z dan Dominasi Tren Rebahan

Kepopuleran tren ini bukan sekadar asumsi dari algoritma semata. Berdasarkan data terbaru tahun 2024 dari American Academy of Sleep Medicine (AASM), ditemukan fakta bahwa sekitar 37 persen warga Amerika Serikat telah mencoba tren tidur viral tahun ini. Angka ini mengalami lonjakan yang sangat signifikan di kalangan Generasi Z, di mana sebanyak 55 persen dari mereka mengaku pernah mempraktikkan bed rotting.

Lebih jauh lagi, studi tersebut mengungkapkan bahwa hampir seperempat dari Gen Z (sekitar 24 persen) secara terbuka menjadikan bed rotting sebagai kebiasaan rutin. Data ini mencerminkan adanya pergeseran fundamental mengenai cara manusia modern menggunakan tempat tidur. Kini, lebih dari separuh individu menghabiskan waktu minimal 30 menit di atas kasur sebelum benar-benar mencoba memejamkan mata, dan fenomena yang sama terulang saat pagi hari sebelum mereka benar-benar beranjak bangun.

Risiko Psikologis yang Mengintai di Balik Selimut

Meskipun terlihat tenang dan damai, kenyamanan ini bisa menjadi bumerang yang menghancurkan. Dr. Ryan Sultan, seorang profesor psikiatri klinis dari Columbia University, memberikan peringatan keras. Jika aktivitas bed rotting ini berlangsung lebih dari satu atau dua hari secara berturut-turut, maka hal tersebut harus segera diwaspadai sebagai sinyal bahaya.

Baca Juga Tengkuk Kaku Setelah Makan Daging Kurban? Jangan Langsung Salahkan Kolesterol, Simak Penjelasan Medis Ini
Tengkuk Kaku Setelah Makan Daging Kurban? Jangan Langsung Salahkan Kolesterol, Simak Penjelasan Medis Ini

“Jika perilaku membusuk di tempat tidur ini mulai menjadi sebuah habituasi atau kebiasaan yang sulit dihentikan, ada potensi besar bahwa itu adalah tanda-tanda awal gejala depresi atau masalah kesehatan mental lainnya,” tegas Dr. Sultan. Ia menekankan bahwa depresi sering kali bersembunyi di balik kedok ‘istirahat’ yang berlebihan.

Dampak Buruk Bagi Kualitas Tidur dan Otak

Selain kesehatan mental, kesehatan fisik khususnya kualitas tidur juga terancam. Dr. Anne Marie Morse, juru bicara AASM, mengingatkan masyarakat bahwa fungsi utama tempat tidur adalah untuk tidur dan pemulihan tubuh. Ketika kita menggunakan kasur sebagai kantor, ruang makan, sekaligus bioskop pribadi, otak akan mulai mengalami kebingungan asosiasi.

Courtney DeAngelis menjelaskan secara neurologis bahwa otak manusia perlu mengasosiasikan tempat tidur hanya dengan dua hal: tidur dan keintiman. Jika seseorang terbiasa terjaga dan melakukan berbagai aktivitas aktif di sana, otak tidak akan lagi mengenali sinyal untuk beristirahat saat lampu dipadamkan. Hasil akhirnya adalah gangguan tidur kronis atau insomnia yang justru akan memperparah kelelahan mental di kemudian hari.

Baca Juga Misteri Perubahan Warna Kulit Menjadi Hitam Akibat Efek Samping Antibiotik: Sebuah Kasus Medis Langka
Misteri Perubahan Warna Kulit Menjadi Hitam Akibat Efek Samping Antibiotik: Sebuah Kasus Medis Langka

Lingkaran Setan Isolasi Sosial

Hollingshead juga menyoroti aspek bahaya dari isolasi sosial. Sering kali, apa yang dimulai sebagai upaya self-care justru berakhir menjadi lingkaran setan yang sulit diputus. Saat seseorang melakukan bed rotting, mereka cenderung mengurangi aktivitas yang menyenangkan di luar ruangan, meningkatkan durasi paparan layar (screen time), dan memutus komunikasi langsung dengan orang lain.

“Awalnya mungkin terasa seperti pemulihan, tetapi perlahan akan berubah menjadi berkurangnya motivasi, meningkatnya rasa kesepian, dan akhirnya berujung pada depresi yang lebih berat,” tambah Hollingshead. Mengandalkan stimulasi digital dari media sosial sebagai teman selama bed rotting justru sering kali membuat seseorang merasa lebih kosong dan tidak puas dengan kehidupannya sendiri.

Cara Sehat Mencapai Pemulihan Tanpa ‘Membusuk’

Lantas, bagaimana cara mendapatkan istirahat yang berkualitas tanpa harus terjerumus dalam tren bed rotting? Para ahli menyarankan untuk menetapkan batasan yang jelas. Istirahatlah di sofa atau area santai lainnya, dan gunakan tempat tidur hanya saat Anda benar-benar siap untuk memejamkan mata. Selain itu, melakukan aktivitas yang lebih aktif secara mental namun santai secara fisik, seperti membaca buku fisik atau meditasi di luar kamar, jauh lebih efektif dalam memulihkan energi.

Baca Juga Tragedi Peserta SPPI: Mengapa Heat Stroke Bisa Menyebabkan Henti Jantung Mendadak? Ini Penjelasan Medisnya
Tragedi Peserta SPPI: Mengapa Heat Stroke Bisa Menyebabkan Henti Jantung Mendadak? Ini Penjelasan Medisnya

Penting untuk diingat bahwa menjaga kesehatan mental memerlukan keseimbangan antara istirahat dan aktivitas sosial. Jika Anda merasa terjebak dalam keinginan untuk terus berada di tempat tidur dan mulai merasa kehilangan minat pada hal-hal yang biasanya Anda sukai, jangan ragu untuk mencari bantuan profesional. Istirahat adalah hak setiap manusia, namun pastikan cara Anda beristirahat tidak justru merusak diri Anda sendiri di masa depan.

dr. Sarah Amelia

dr. Sarah Amelia

Praktisi kesehatan yang aktif mengedukasi gaya hidup sehat. Menyediakan informasi medis yang mudah dipahami dan akurat hanya di Suara Sehat.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *