Mengenal Kanker Limfoma Hodgkin: Belajar dari Perjuangan Jeje Adriel dan Pentingnya Deteksi Dini di Usia Muda

dr. Sarah Amelia | SuaraInfo
26 Apr 2026, 17:34 WIB
Mengenal Kanker Limfoma Hodgkin: Belajar dari Perjuangan Jeje Adriel dan Pentingnya Deteksi Dini di Usia Muda

SuaraInfo — Dunia kesehatan baru-baru ini dikejutkan dengan sebuah kisah inspiratif sekaligus memprihatinkan dari seorang pemuda asal Jakarta Utara bernama Jeje Adriel. Di usianya yang masih sangat produktif, yakni 25 tahun, Jeje harus menghadapi kenyataan pahit setelah didiagnosis mengidap kanker limfoma Hodgkin stadium dua. Kisah ini menjadi pengingat keras bagi kita semua bahwa penyakit serius seperti kanker limfoma tidak lagi memandang usia, dan pemahaman mendalam mengenai gejala serta faktor risikonya menjadi sangat krusial untuk dipahami oleh masyarakat luas.

Awal Mula Penemuan Benjolan: Antara Pola Hidup dan Gejala Tersembunyi

Perjalanan Jeje bermula dari sebuah temuan sederhana yang mungkin sering diabaikan oleh banyak orang: sebuah benjolan kecil di area leher sebelah kiri. Awalnya, Jeje menduga bahwa perubahan pada tubuhnya tersebut berkaitan dengan pola hidup yang tengah ia jalani. Sebagai seseorang yang peduli pada gaya hidup sehat, ia sempat mencoba metode intermittent fasting dan memperbaiki pola makannya. Menariknya, benjolan tersebut sempat mengecil, yang memberikan rasa aman semu baginya.

Baca Juga Jabodetabek Membara: Menilik Fenomena Suhu Ekstrem dan Panduan Kemenkes Menghadapi Ancaman Heatstroke
Jabodetabek Membara: Menilik Fenomena Suhu Ekstrem dan Panduan Kemenkes Menghadapi Ancaman Heatstroke

“Awalnya coba intermittent fasting, gaya hidup sehat, dan lain-lain. Sempat mengecil, tapi lama-kelamaan dia tetap membesar pelan-pelan,” ungkap Jeje dalam sebuah wawancara. Kesalahan fatal yang sering terjadi adalah tidak adanya gejala sistemik lain yang menyertai. Jeje mengaku tidak merasakan demam, keringat dingin di malam hari, atau rasa lemas yang ekstrem. Hal inilah yang membuatnya merasa sedikit terlambat dalam melakukan pengecekan medis secara mendalam ke rumah sakit.

Diagnosis Stadium Dua: Memulai ‘Peperangan’ Melawan Kanker

Tepat pada 17 April 2026, hasil pemeriksaan medis keluar dan memberikan jawaban atas benjolan yang tak kunjung hilang tersebut. Jeje secara resmi didiagnosis mengidap kanker kelenjar getah bening atau limfoma Hodgkin stadium dua. Diagnosis ini mengharuskan Jeje untuk segera bersiap menjalani rangkaian prosedur kemoterapi yang melelahkan. Meski berat, Jeje menunjukkan optimisme yang luar biasa dengan menyebut proses pengobatan ini sebagai sebuah ‘peperangan’ yang harus ia menangkan.

Penyebutan stadium dua didasarkan pada penyebaran sel kanker yang ditemukan pada dua sisi, yakni leher bagian kiri dan kanan. Meskipun pada sisi kanan benjolan tersebut belum teraba secara nyata oleh tangan, pemeriksaan medis yang akurat mendeteksi adanya aktivitas sel abnormal di area tersebut. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya pemeriksaan menyeluruh melalui CT Scan atau biopsi daripada sekadar mengandalkan rabaan fisik semata.

Baca Juga Mengupas Tuntas Kehalalan dan Keamanan Nata de Coco: Benarkah Mengandung Bahan Berbahaya?
Mengupas Tuntas Kehalalan dan Keamanan Nata de Coco: Benarkah Mengandung Bahan Berbahaya?

Memahami Apa Itu Kanker Limfoma Hodgkin

Limfoma Hodgkin bukanlah sembarang penyakit. Ini adalah jenis kanker yang secara spesifik menyerang sistem limfatik manusia. Sistem limfatik sendiri merupakan bagian vital dari sistem kekebalan tubuh yang berfungsi melawan kuman dan infeksi. Jaringan kompleks ini terdiri dari berbagai organ seperti limpa, kelenjar timus, amandel, adenoid, hingga sumsum tulang. Pembuluh-pembuluh berbentuk tabung dan kelenjar getah bening yang tersebar di seluruh tubuh menjadi jalur distribusi sel-sel pelindung tersebut.

Ketika seseorang mengidap limfoma Hodgkin, sel-sel di dalam sistem limfatik mulai tumbuh secara tidak terkendali. Mengutip referensi medis dari Mayo Clinic, penyebab pasti dari perubahan ini sebenarnya masih menjadi misteri di dunia kedokteran. Namun, diketahui bahwa kanker dimulai ketika terjadi mutasi atau perubahan pada DNA sel. DNA adalah instruksi genetik yang memberi tahu sel apa yang harus dilakukan.

Pada kasus kanker, instruksi DNA yang rusak memerintahkan sel untuk membelah diri dengan sangat cepat tanpa henti. Sel-sel abnormal ini tetap hidup meskipun sel sehat seharusnya sudah mati sesuai siklus alaminya. Akibatnya, terjadi penumpukan sel yang kemudian membentuk massa atau tumor di kelenjar getah bening, limpa, maupun jaringan tubuh lainnya. Penyakit ini umumnya bermula pada limfosit B, yaitu sel darah putih yang bertugas melawan infeksi.

Baca Juga Awas Ancaman Hantavirus! Kenali Cara Paling Aman Membersihkan Kotoran Tikus agar Tidak Salah Langkah
Awas Ancaman Hantavirus! Kenali Cara Paling Aman Membersihkan Kotoran Tikus agar Tidak Salah Langkah

Faktor Risiko: Siapa Saja yang Rentan Terkena?

Meskipun penyebab pastinya belum diketahui, para ahli medis telah mengidentifikasi beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang terkena limfoma Hodgkin. Memahami faktor-faktor ini sangat penting untuk meningkatkan kewaspadaan dini terkait kesehatan tubuh kita:

  • Faktor Usia: Berbeda dengan banyak jenis kanker lainnya yang sering menyerang usia lanjut, limfoma Hodgkin memiliki kurva usia yang unik. Penyakit ini paling sering didiagnosis pada individu berusia antara 20 hingga 30 tahun, serta kelompok usia di atas 65 tahun. Kasus Jeje menjadi bukti nyata kerentanan pada kelompok usia produktif.
  • Riwayat Keluarga: Memiliki kerabat sedarah, seperti orang tua atau saudara kandung yang pernah menderita limfoma, dapat meningkatkan peluang seseorang mengidap kondisi yang sama. Faktor genetika memainkan peran dalam kerentanan sistem limfatik.
  • Riwayat Infeksi Tertentu: Beberapa virus telah dikaitkan dengan peningkatan risiko limfoma. Salah satunya adalah virus Epstein-Barr (EBV), yang merupakan penyebab mononukleosis infeksius. Selain itu, penderita HIV juga memiliki risiko lebih tinggi karena sistem imun mereka yang senantiasa tertekan.
  • Sistem Kekebalan Tubuh yang Lemah: Kondisi autoimun seperti artritis reumatoid, lupus eritematosus sistemik (SLE), atau sarkoidosis dapat menjadi pemicu. Selain itu, orang yang pernah menjalani transplantasi organ dan mengonsumsi obat penekan imun juga berada dalam kelompok risiko tinggi.

Gejala yang Harus Diwaspadai: Lebih dari Sekadar Benjolan

Gejala utama dari limfoma Hodgkin memang berupa pembengkakan kelenjar getah bening. Pembengkakan ini biasanya tidak terasa sakit dan muncul di area-area seperti leher, ketiak, atau selangkangan. Namun, masyarakat perlu memahami adanya gejala lain yang dikenal sebagai ‘Gejala B’ dalam dunia medis, yang meliputi:

Baca Juga Standar Baru Program Makan Bergizi Gratis: Kriteria Dapur yang Bakal Disetop Mulai 2 Juni 2026
Standar Baru Program Makan Bergizi Gratis: Kriteria Dapur yang Bakal Disetop Mulai 2 Juni 2026
  1. Demam yang terus-menerus tanpa penyebab infeksi yang jelas.
  2. Kelelahan ekstrem yang tidak hilang meski sudah beristirahat cukup.
  3. Keringat malam yang berlebihan, bahkan hingga membasahi pakaian dan seprai.
  4. Penurunan berat badan yang drastis secara tidak sengaja (lebih dari 10% berat badan dalam waktu singkat).
  5. Gatal-gatal pada kulit (pruritus) tanpa adanya ruam yang jelas.

Mengenal Tingkatan Stadium dalam Limfoma Hodgkin

Penentuan stadium sangat penting untuk menentukan jenis pengobatan yang tepat. Dalam limfoma Hodgkin, stadium dibagi menjadi empat tingkatan utama:

  • Stadium 1: Kanker hanya ditemukan pada satu daerah kelenjar getah bening atau satu organ limfoid.
  • Stadium 2: Kanker melibatkan dua atau lebih daerah kelenjar getah bening, namun semuanya masih berada di sisi diafragma yang sama (misalnya, hanya di bagian atas diafragma seperti leher dan ketiak).
  • Stadium 3: Kanker telah menyebar ke daerah kelenjar getah bening di kedua sisi diafragma (atas dan bawah).
  • Stadium 4: Ini adalah tahap yang paling lanjut, di mana sel kanker telah menyebar ke luar sistem limfatik, masuk ke organ-organ seperti hati, paru-paru, atau sumsum tulang.

Pentingnya Edukasi dan Deteksi Dini

Kisah Jeje Adriel mengajarkan kita bahwa kesadaran akan perubahan kecil pada tubuh adalah kunci utama keselamatan. Seringkali, kita merasa sehat karena tidak merasakan nyeri, padahal deteksi dini kanker justru seringkali bermula dari temuan-temuan tanpa rasa sakit tersebut. Jangan ragu untuk segera mengonsultasikan diri ke dokter spesialis penyakit dalam konsultan hematologi onkologi (KHOM) jika menemukan benjolan yang menetap lebih dari dua minggu.

Baca Juga Mengenal Hydration Break di Piala Dunia 2026: Sejarah, Regulasi, dan Perdebatan di Balik Jeda Minum
Mengenal Hydration Break di Piala Dunia 2026: Sejarah, Regulasi, dan Perdebatan di Balik Jeda Minum

Dukungan moral bagi mereka yang sedang berjuang, seperti Jeje, juga sangat diperlukan. Dengan kemajuan teknologi medis saat ini, limfoma Hodgkin termasuk salah satu jenis kanker dengan tingkat kesembuhan (remisi) yang cukup tinggi jika ditemukan pada stadium awal. Mari kita lebih peduli pada sinyal-sinyal yang diberikan oleh tubuh kita sendiri demi masa depan yang lebih sehat.

dr. Sarah Amelia

dr. Sarah Amelia

Praktisi kesehatan yang aktif mengedukasi gaya hidup sehat. Menyediakan informasi medis yang mudah dipahami dan akurat hanya di Suara Sehat.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *