Mengenang Kejayaan yang Terkubur: Kisah Porong Sidoarjo yang Kini Menjelma Bak Kota Mati

Dimas Pratama | SuaraInfo
08 Jun 2026, 09:26 WIB
Mengenang Kejayaan yang Terkubur: Kisah Porong Sidoarjo yang Kini Menjelma Bak Kota Mati

SuaraInfo — Bencana semburan lumpur panas Lapindo yang terjadi belasan tahun silam masih meninggalkan luka mendalam bagi warga Kecamatan Porong, Sidoarjo. Kawasan yang dahulunya dikenal sebagai salah satu urat nadi ekonomi paling vital di Jawa Timur itu, kini telah bertransformasi secara drastis. Jejak-jejak kemegahan kota yang sempat berdenyut kencang selama 24 jam penuh, kini seolah sirna ditelan bumi, meninggalkan pemandangan sunyi yang menyerupai ‘kota mati’.

Tragedi 2006: Titik Balik Kehancuran Porong

Sejak pertama kali menyembur pada pertengahan tahun 2006, luapan lumpur panas tersebut tidak hanya menenggelamkan ribuan pemukiman warga di belasan desa, tetapi juga melumpuhkan seluruh sendi kehidupan di Kecamatan Porong, Jabon, dan Tanggulangin. Sidoarjo bagian selatan, yang dulunya menjadi magnet bagi para pencari kerja dan pelaku usaha, perlahan kehilangan pesonanya. Penelusuran tim kami di lapangan menunjukkan betapa kontrasnya kondisi Porong hari ini dibandingkan dengan era sebelum Lumpur Lapindo memporak-porandakan kawasan tersebut.

Jalan Raya Porong lama, yang pernah menjadi jalur utama penghubung Surabaya dengan kota-kota di wilayah Tapal Kuda seperti Pasuruan, Probolinggo, dan Malang, kini tampak lengang. Jika dahulu deretan pertokoan, restoran, dan pedagang kaki lima memenuhi bahu jalan, sekarang yang tersisa hanyalah bangunan-bangunan kosong dengan cat yang mulai mengelupas dan atap yang hampir ambruk. Suasana mencekam kian terasa saat matahari terbenam, di mana minimnya penerangan dan ketiadaan aktivitas manusia membuat kawasan ini benar-benar terasa seperti zona tak berpenghuni.

Baca Juga Membedah Pesona Lebaran Depok 2026: Tradisi Nyuci Perabot yang Menghidupkan Kembali Marwah Betawi
Membedah Pesona Lebaran Depok 2026: Tradisi Nyuci Perabot yang Menghidupkan Kembali Marwah Betawi

Sisa-Sisa Perlawanan: Kisah Mereka yang Bertahan di Tengah Ketidakpastian

Meski mayoritas penduduk telah pindah mencari kehidupan baru di lokasi yang lebih aman, ada segelintir pengusaha yang masih mencoba bertahan di sisa-sisa reruntuhan ekonomi Porong. Salah satunya adalah Rio, pemilik Toko Cendrawasih yang menjual sepatu dan sandal. Tokonya menjadi salah satu titik terang yang masih menyala di tengah kegelapan Jalan Raya Porong lama.

“Dulu, jalan ini tidak pernah tidur. Ratusan toko berjejer, pembeli datang silih berganti dari pagi hingga larut malam. Sekarang, pemandangannya sangat menyedihkan. Sebagian besar rekan sesama pedagang memilih tutup karena sudah tidak ada lagi orang yang lewat untuk belanja,” ungkap Rio dengan nada getir saat ditemui tim jurnalis kami. Baginya, bertahan di lokasi ini bukan lagi soal mencari keuntungan besar, melainkan bentuk loyalitas terakhir terhadap tanah kelahirannya yang kini kian sunyi.

Fenomena ‘kota mati’ ini dipicu oleh terputusnya akses jalan utama. Luapan lumpur yang terus merambat memaksa pemerintah membangun tanggul-tanggul raksasa yang secara fisik memisahkan pusat keramaian lama dengan jalur transportasi baru. Akibatnya, arus pembeli yang dulu menjadi tumpuan Ekonomi Sidoarjo selatan kini berpindah jalur, meninggalkan pusat perdagangan Porong dalam isolasi yang mematikan.

Baca Juga Masa Depan Bandara Husein dan Adisutjipto: Analisis Mendalam Mengenai Dilema Reaktivasi Pintu Langit Daerah
Masa Depan Bandara Husein dan Adisutjipto: Analisis Mendalam Mengenai Dilema Reaktivasi Pintu Langit Daerah

Dampak Multiplier: Dari Bahan Bangunan Hingga Properti yang Anjlok

Nasib serupa juga dialami oleh Iswan Christanto, seorang pemilik toko bahan bangunan yang telah lama beroperasi di kawasan tersebut. Iswan menceritakan bagaimana omzet usahanya terjun bebas seiring dengan hilangnya pusat keramaian. Menurutnya, bencana ini memiliki dampak domino yang sangat luar biasa merusak.

“Bukan cuma toko yang tutup, tapi seluruh ekosistem ekonomi di sini hancur. Bayangkan, ribuan rumah hilang, lahan pertanian yang subur tertimbun, dan harga properti di sekitar sini langsung anjlok drastis. Siapa yang mau investasi di tempat yang terancam tenggelam?” ujar Iswan. Kerugian yang dialami para pengusaha bukan hanya soal pendapatan harian, tetapi juga hilangnya nilai aset yang telah mereka kumpulkan selama puluhan tahun.

Kawasan Porong yang dulunya menjadi incaran para investor properti kini dihindari. Tanah-tanah yang dulu bernilai tinggi kini sulit untuk dijual kembali, bahkan dengan harga di bawah standar sekalipun. Kehancuran infrastruktur dan ancaman polusi lingkungan akibat gas metana yang menyertai semburan lumpur menjadi pertimbangan utama mengapa daerah ini sulit untuk bangkit kembali.

Baca Juga Membongkar Sisi Lain Pariwisata Indonesia: 5 Destinasi Populer yang Kini Dianggap ‘Overrated’ oleh Turis Mancanegara
Membongkar Sisi Lain Pariwisata Indonesia: 5 Destinasi Populer yang Kini Dianggap ‘Overrated’ oleh Turis Mancanegara

Wisata Bencana yang Tak Lagi Menguntungkan

Di balik kehancuran tersebut, sempat muncul secercah harapan melalui apa yang disebut sebagai ‘Wisata Lumpur Lapindo’. Masyarakat yang kehilangan mata pencaharian mencoba mengubah tragedi menjadi peluang dengan menjadi pemandu wisata atau tukang ojek bagi pengunjung yang ingin melihat langsung pusat semburan dari atas tanggul. Namun, tren Wisata Bencana ini pun kini mulai meredup.

Ula Muanisa (42), salah satu pemandu wisata lokal, menceritakan betapa sulitnya mencari sesuap nasi di lokasi wisata saat ini. “Di masa-masa awal, saya bisa membawa pulang Rp 200 ribu sampai Rp 300 ribu sehari. Pengunjung datang dari berbagai daerah karena penasaran. Sekarang? Mendapatkan Rp 50 ribu saja sudah syukur sekali. Kadang dalam sehari tidak ada satu pun pengunjung yang menggunakan jasa kami,” keluh Ula.

Kondisi ini diperparah dengan akses masuk yang kini banyak dilalui pengunjung secara mandiri tanpa memerlukan bantuan pemandu lokal. Para pekerja di kawasan wisata ini merasa terlupakan. Kehadiran pandemi COVID-19 beberapa waktu lalu seolah menjadi pukulan terakhir yang melumpuhkan sisa-sisa semangat mereka. Kini, banyak di antara mereka yang terpaksa mencari pekerjaan serabutan atau menjadi tukang ojek pangkalan demi menyambung hidup keluarga.

Baca Juga Pembersihan Besar-besaran! Kemenpar Bakal Depak Ribuan Penginapan Ilegal dari Airbnb dan Tiket.com
Pembersihan Besar-besaran! Kemenpar Bakal Depak Ribuan Penginapan Ilegal dari Airbnb dan Tiket.com

Masa Depan Porong: Mungkinkah Ada Harapan Baru?

Mustofa, rekan sesama pemandu wisata, juga mengonfirmasi penurunan drastis ini. Menurutnya, keramaian hanya sesekali terlihat pada hari libur nasional atau akhir pekan, itu pun tidak memberikan dampak ekonomi yang signifikan bagi warga terdampak. “Seringkali kami pulang dengan tangan hampa. Harapan kami kepada pemerintah hanya satu, jangan lupakan kami yang masih bertahan di sini. Kami butuh kepastian masa depan,” tegas Mustofa.

Cerita tentang Porong adalah potret nyata bagaimana sebuah bencana geologi mampu mengubah wajah sebuah wilayah secara permanen. Dari pusat industri dan perdagangan yang gemerlap, menjadi kawasan sunyi yang menyimpan ribuan cerita sedih di balik tembok-tembok bangunan yang mulai hancur. Transformasi Porong menjadi ‘kota mati’ adalah peringatan keras tentang betapa rapuhnya peradaban manusia saat berhadapan dengan kekuatan alam yang tak terkendali.

Hingga saat ini, upaya pemulihan lingkungan dan sosial di kawasan terdampak terus dilakukan oleh berbagai pihak, termasuk Pemerintah Sidoarjo dan instansi terkait. Namun, untuk mengembalikan kejayaan Porong seperti sedia kala tampaknya membutuhkan waktu yang sangat lama, atau mungkin, Porong memang ditakdirkan untuk tetap menjadi monumen pengingat tentang sebuah tragedi yang pernah mengguncang negeri ini.

Baca Juga Diplomasi Panda Berlanjut: China Beri Sinyal Hijau Perpanjang Kontrak Hu Chun dan Cai Tao di Indonesia
Diplomasi Panda Berlanjut: China Beri Sinyal Hijau Perpanjang Kontrak Hu Chun dan Cai Tao di Indonesia
Dimas Pratama

Dimas Pratama

Penjelajah dunia yang gemar membagikan cerita perjalanan unik dan panduan budget travel. Menginspirasi petualangan Anda melalui Info Travel.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *