Mengulik Bahaya Saraf Kejepit di Balik Tren Olahraga Padel: Tips Aman dari Pakar Bedah Saraf

dr. Sarah Amelia | SuaraInfo
07 Jun 2026, 05:26 WIB
Mengulik Bahaya Saraf Kejepit di Balik Tren Olahraga Padel: Tips Aman dari Pakar Bedah Saraf

SuaraInfo — Fenomena olahraga padel kini tengah menjangkiti masyarakat urban di kota-kota besar, termasuk Jakarta. Olahraga yang merupakan perpaduan antara tenis dan squash ini menjadi primadona baru karena dinamikanya yang seru, ritme permainan yang cepat, dan tentu saja sisi estetikanya yang sangat menarik untuk dibagikan di media sosial. Namun, di balik keriuhan pukulan bola di dalam lapangan berdinding kaca tersebut, tersimpan risiko kesehatan serius yang sering kali diabaikan oleh para pemain amatir, yakni risiko cedera saraf kejepit.

Kepopuleran padel memang tak terbendung. Bagi pemula, olahraga ini dianggap lebih ramah dibandingkan tenis lapangan karena ukuran raket yang lebih pendek dan teknik dasar yang relatif lebih mudah dikuasai. Meski demikian, karakteristik permainan yang menuntut mobilitas tinggi dan gerakan eksplosif justru menjadi pedang bermata dua bagi kesehatan tulang belakang jika tidak dilakukan dengan persiapan yang matang.

Mengapa Padel Berisiko Bagi Tulang Belakang?

Dokter spesialis bedah saraf dari Lamina Hospital, dr. Victorio, SpBS, atau yang akrab disapa dr. Rio, memberikan peringatan keras kepada para pegiat olahraga ini. Menurutnya, label ‘olahraga fun’ tidak seharusnya membuat pemain abai terhadap aspek ergonomi dan keamanan tubuh. Risiko cedera olahraga dalam permainan padel muncul dari mekanika gerakannya sendiri.

Baca Juga Debat Viral Sarden Kalengan: Membedah Mitos UPF dan Realita Nutrisi di Balik Kemasan
Debat Viral Sarden Kalengan: Membedah Mitos UPF dan Realita Nutrisi di Balik Kemasan

“Olahraga padel memiliki risiko tinggi memicu saraf kejepit, terutama saat pemain melakukan posisi swing atau gerakan memutar tulang pinggang secara mendadak. Sering kali, demi mengejar bola yang memantul dari dinding kaca atau lawan, pemain melakukan manuver yang terlalu jauh melampaui batas elastisitas otot dan persendiannya,” ungkap dr. Rio saat memberikan penjelasan medis mendalam kepada tim redaksi beberapa waktu lalu.

Gerakan rotasi tulang belakang yang bersifat tiba-tiba dan berulang (repetitif) ini dapat memberikan tekanan yang luar biasa pada diskus atau bantalan tulang belakang. Dalam dunia medis, kondisi ini bisa memicu terjadinya Herniated Nucleus Pulposus (HNP), di mana isi dari bantalan tulang belakang keluar dan menekan saraf di sekitarnya.

Mekanisme Kerusakan Bantalan Tulang (Diskus)

Dr. Rio menjelaskan lebih lanjut bahwa setiap gerakan memutar yang ekstrem dapat membuat diskus atau bantalan tulang belakang ‘kaget’. Bantalan ini berfungsi sebagai peredam kejut antar ruas tulang belakang. Ketika seseorang mengejar bola dengan posisi yang salah, bantalan tersebut bisa mengalami trauma kecil yang lama-kelamaan menjadi robekan.

Baca Juga Mitos ‘Tulang Besar’ Bikin Gemuk: Antara Fakta Medis dan Sekadar Alibi Kesehatan
Mitos ‘Tulang Besar’ Bikin Gemuk: Antara Fakta Medis dan Sekadar Alibi Kesehatan

“Jika aktivitas yang memberikan tekanan berlebih ini terus-menerus dilakukan tanpa teknik yang benar, bantalan tersebut akan rusak bahkan robek. Inilah yang menjadi cikal bakal terjadinya saraf kejepit yang menyakitkan,” tambahnya. Rasa nyeri yang muncul biasanya tidak hanya di pinggang, tetapi bisa menjalar hingga ke kaki, disertai rasa kesemutan atau bahkan kelemahan otot.

Berbeda dengan tenis lapangan yang areanya lebih luas, lapangan padel yang dikelilingi dinding kaca menciptakan ritme permainan yang jauh lebih cepat. Bola bisa memantul dari arah mana saja, memaksa pemain untuk terus bergerak aktif, berakselerasi, dan melakukan deselerasi dalam waktu singkat. Dinamika inilah yang menuntut kesiapan fisik prima agar kesehatan tulang belakang tetap terjaga.

Tips Mencegah Saraf Kejepit Saat Bermain Padel

Melihat risiko yang ada, bukan berarti masyarakat harus menjauhi olahraga padel. Kuncinya terletak pada persiapan dan kesadaran akan batasan kemampuan tubuh masing-masing. Berikut adalah beberapa saran dari pakar untuk meminimalisir risiko cedera:

  • Pemanasan yang Komprehensif: Jangan pernah langsung masuk ke lapangan tanpa pemanasan. Fokuskan pada kelenturan otot inti (core muscles) dan mobilitas tulang belakang.
  • Penguatan Otot Inti (Core Strengthening): Otot perut dan punggung yang kuat akan menjadi penyangga alami bagi tulang belakang saat melakukan gerakan memutar atau melompat.
  • Gunakan Teknik yang Benar: Sangat disarankan untuk mengambil kelas dasar atau berlatih dengan pelatih profesional guna mempelajari teknik swing yang ergonomis.
  • Kenali Batas Kemampuan: Jangan memaksakan diri mengejar setiap bola jika posisi tubuh sudah tidak ideal. Keinginan untuk tampil kompetitif sering kali menutup logika keselamatan.
  • Gunakan Perlengkapan yang Tepat: Sepatu dengan bantalan yang baik sangat membantu meredam impak pada tulang belakang saat berlari dan melompat di lapangan.

Kaitan Gaya Hidup Modern dan Kerentanan Cedera

Menariknya, dr. Rio juga mengaitkan kerentanan cedera saat berolahraga dengan gaya hidup masyarakat modern, termasuk Gen Z. Kebiasaan bekerja di kafe dengan posisi duduk yang tidak ergonomis atau membawa beban tas yang salah ternyata memperlemah kondisi tulang belakang sebelum seseorang turun ke lapangan olahraga.

Baca Juga Kunci Hidup Berumur Panjang: 6 Rutinitas Pagi yang Ampuh Tangkal Risiko Kematian Dini
Kunci Hidup Berumur Panjang: 6 Rutinitas Pagi yang Ampuh Tangkal Risiko Kematian Dini

“Banyak orang yang secara rutin duduk dengan ‘gaya udang’ atau membungkuk saat nugas di kafe. Kebiasaan ini membuat bantalan tulang belakang mereka sudah dalam kondisi ‘stres’. Begitu mereka bermain padel yang intens, sedikit saja salah gerakan, saraf kejepit langsung terjadi,” jelas dr. Rio. Hal ini menunjukkan bahwa pencegahan cedera sebenarnya dimulai dari aktivitas harian, bukan hanya saat berada di lapangan.

Oleh karena itu, bagi Anda yang ingin mengikuti tren olahraga padel, pastikan untuk memperhatikan keseimbangan antara keseruan dan keamanan. Jangan sampai niat untuk sehat dan tampil estetik di media sosial justru berakhir di ruang operasi karena masalah saraf kejepit yang serius.

Kapan Harus Menghubungi Dokter?

Jika Anda merasakan nyeri punggung bawah yang sangat tajam setelah bermain padel, terutama jika nyeri tersebut menjalar ke area panggul hingga ujung jari kaki, segera lakukan konsultasi medis. Tanda-tanda lain seperti mati rasa, rasa panas seperti terbakar, atau kesulitan buang air adalah indikasi kuat bahwa saraf Anda telah terganggu. Penanganan dini melalui metode non-invasif kini sudah sangat berkembang, sehingga operasi bukan lagi satu-satunya jalan keluar jika masalah terdeteksi lebih awal.

Baca Juga Krisis Imunisasi di Tanah Rencong: Benarkah Aceh Terjebak Narasi Konspirasi Asing?
Krisis Imunisasi di Tanah Rencong: Benarkah Aceh Terjebak Narasi Konspirasi Asing?

Sebagai penutup, dr. Rio mengingatkan bahwa investasi terbaik dalam olahraga bukanlah pada raket termahal atau pakaian tercanggih, melainkan pada pemahaman kita terhadap kesehatan tubuh sendiri. Tetaplah aktif bergerak, namun tetap waspada terhadap setiap sinyal yang diberikan oleh tubuh Anda.

dr. Sarah Amelia

dr. Sarah Amelia

Praktisi kesehatan yang aktif mengedukasi gaya hidup sehat. Menyediakan informasi medis yang mudah dipahami dan akurat hanya di Suara Sehat.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *