Misteri ‘Cringe’ Tengah Malam: Mengapa Otak Kita Hobi Memutar Ulang Momen Memalukan Masa Lalu?

dr. Sarah Amelia | SuaraInfo
21 Mei 2026, 05:26 WIB
Misteri 'Cringe' Tengah Malam: Mengapa Otak Kita Hobi Memutar Ulang Momen Memalukan Masa Lalu?

SuaraInfo — Pernahkah Anda berada dalam posisi ini: sedang bersantai di tempat tidur, lampu sudah padam, dan Anda siap untuk terlelap, namun tiba-tiba ingatan tentang kejadian memalukan sepuluh tahun lalu muncul tanpa diundang? Kejadian itu bisa sesederhana salah menyebut nama orang, terpeleset di depan umum, atau melontarkan lelucon yang tidak lucu di tengah keramaian. Seketika, Anda merasa bergidik, menutup wajah dengan bantal, dan merasakan sensasi ‘cringe’ yang luar biasa.

Fenomena ini mungkin terasa mengganggu, bahkan terkadang menyiksa secara mental. Namun, bagi para ahli psikologi, reaksi ini sebenarnya adalah jendela menuju cara kerja otak manusia yang sangat kompleks. Mengapa otak kita seolah-olah memiliki ‘hobi’ untuk memutar kembali film pendek tentang kegagalan sosial kita di masa lalu? Ternyata, ada alasan ilmiah yang sangat valid di balik kegelisahan tersebut.

Mengenal Perseverative Thinking: Terjebak dalam Labirin Pikiran Berulang

Menurut laporan yang dihimpun oleh SuaraInfo dari berbagai sumber ahli, fenomena ini dikenal secara ilmiah dengan istilah perseverative thinking. Istilah ini merujuk pada pola pikir berulang yang sulit dikendalikan dan terus berputar di sekitar hal-hal yang menimbulkan stres atau ketidaknyamanan. Ini bukan sekadar overthinking biasa; ini adalah proses di mana otak terjebak dalam siklus evaluasi diri yang tidak ada habisnya.

Baca Juga Rahasia di Balik Kulit Buah: 5 Jenis Buah yang Jauh Lebih Bergizi Jika Dimakan Tanpa Dikupas
Rahasia di Balik Kulit Buah: 5 Jenis Buah yang Jauh Lebih Bergizi Jika Dimakan Tanpa Dikupas

Berdasarkan ulasan ilmiah tahun 2025 yang dipublikasikan dalam Dialogues in Clinical Neuroscience, para ahli saraf menjelaskan bahwa proses ini muncul akibat interaksi yang kurang harmonis antara beberapa sistem psikologis yang mengatur regulasi diri. Pikiran manusia secara alami dirancang untuk tidak selalu terpaku pada realitas saat ini. Saat kita mandi, berjalan kaki, atau sekadar melamun, otak kita sering kali melakukan ‘perjalanan waktu mental’.

Kita mengunjungi kembali masa lalu untuk belajar, atau membayangkan masa depan untuk bersiap. Masalahnya, sistem ini terkadang salah mengartikan memori memalukan sebagai sebuah ‘ancaman’ yang belum selesai diproses. Akibatnya, otak terus memunculkan memori tersebut ke permukaan kesadaran, berharap kita bisa menemukan solusi atau cara untuk memperbaiki kesalahan yang sebenarnya sudah lama berlalu.

Discrepancy Monitoring: Ketika Otak Menagih Kesempurnaan

Salah satu pemicu utama mengapa kita merasa ‘cringe’ adalah mekanisme yang disebut para peneliti sebagai discrepancy monitoring. Ini adalah kecenderungan alami otak untuk terus membandingkan antara apa yang terjadi dalam kenyataan dengan apa yang ‘seharusnya’ terjadi menurut standar ideal kita. Saat Anda mengingat momen memalukan, otak Anda melihat adanya celah atau diskrepansi antara citra diri ideal Anda dengan perilaku memalukan di masa lalu.

Baca Juga RSUD Tobelo Cetak Sejarah: Transformasi Layanan Jantung Anak di Maluku Utara Melalui Teknologi Echocardiography Canggih
RSUD Tobelo Cetak Sejarah: Transformasi Layanan Jantung Anak di Maluku Utara Melalui Teknologi Echocardiography Canggih

Otak manusia sangat membenci urusan yang belum selesai. Kesalahan sosial sering kali dianggap sebagai urusan yang ‘menggantung’ karena kita tidak bisa kembali ke masa lalu untuk memperbaikinya. Oleh karena itu, pikiran terus menarik memori tersebut kembali ke kesadaran dalam upaya retrospektif yang sia-sia untuk memproses atau ‘memperbaiki’ situasi tersebut. Semakin kita memikirkannya, semakin otak merasa bahwa masalah ini sangat penting, sehingga menciptakan siklus yang membuat kita terus-menerus merasa malu.

Evolusi dan Pentingnya Rasa Malu dalam Kehidupan Sosial

Mengapa rasa malu terasa begitu menyakitkan? Jika kita menilik dari sudut pandang fakta unik evolusi, manusia adalah makhluk sosial yang sangat bergantung pada kelompok untuk bertahan hidup. Di masa purba, ditolak atau dipermalukan di depan kelompok bisa berarti ancaman terhadap kelangsungan hidup. Rasa malu adalah sinyal peringatan internal agar kita tidak mengulangi perilaku yang dapat merusak reputasi atau posisi kita dalam struktur sosial.

Oleh karena itu, ketika Anda merasa ‘cringe’, itu sebenarnya adalah sistem keamanan kuno otak Anda yang sedang bekerja. Otak ingin memastikan bahwa Anda belajar dari kesalahan tersebut agar tidak terjadi penolakan sosial di masa depan. Namun, di dunia modern, sistem ini sering kali menjadi terlalu sensitif, memperlakukan kesalahan kecil di masa sekolah seolah-olah itu adalah bencana sosial yang mengancam nyawa.

Baca Juga Ancaman Kenaikan Harga Obat: Dilema Industri Farmasi dan Nasib Apotek Rakyat di Tengah Fluktuasi Rupiah
Ancaman Kenaikan Harga Obat: Dilema Industri Farmasi dan Nasib Apotek Rakyat di Tengah Fluktuasi Rupiah

Dampak Jangka Panjang dari Terlalu Sering Merenung

Meskipun refleksi diri berguna untuk perkembangan diri, terus-menerus terjebak dalam perseverative thinking dapat membawa dampak negatif. Para peneliti mencatat bahwa latihan mental yang berulang ini justru memperkuat kenangan negatif tersebut, bukan menyelesaikannya. Semakin sering sebuah kenangan buruk ‘dipanggil’, semakin kuat jalur saraf yang terbentuk, sehingga kenangan itu menjadi semakin mudah diakses di masa depan.

Akibatnya, seseorang mungkin mulai memandang dirinya sendiri secara negatif. Ancaman sosial terasa lebih sering terjadi dan lebih menakutkan daripada kenyataan yang sebenarnya. Hal ini dapat memicu kecemasan sosial yang lebih parah, di mana seseorang menjadi terlalu takut untuk berinteraksi karena khawatir akan menciptakan momen ‘cringe’ baru yang akan menghantui mereka di kemudian hari.

Cara Mengatasi ‘Serangan Cringe’ Tengah Malam

Lantas, bagaimana cara kita menghentikan siklus ini agar bisa tidur dengan tenang? Para ahli menyarankan beberapa teknik yang bisa membantu menenangkan pikiran yang sedang bergejolak:

  • Praktik Mindfulness: Alih-alih mencoba mengusir pikiran tersebut, akuilah kehadirannya tanpa menghakimi. Sadarilah bahwa itu hanyalah sebuah memori, bukan ancaman nyata saat ini.
  • Self-Compassion (Welas Asih Diri): Ingatkan diri sendiri bahwa setiap orang pernah melakukan hal memalukan. Maafkan diri Anda yang di masa lalu, karena saat itu Anda mungkin belum memiliki kebijaksanaan seperti sekarang.
  • Teknik Distraksi: Jika pikiran mulai berputar-putar, cobalah untuk fokus pada pernapasan atau menghitung benda-benda di sekitar Anda untuk menarik kembali kesadaran ke masa kini.
  • Re-framing: Anggap rasa ‘cringe’ tersebut sebagai bukti bahwa Anda telah tumbuh. Anda merasa malu karena standar diri Anda sekarang sudah jauh lebih tinggi daripada saat kejadian itu terjadi.

Kesimpulannya, merasa ‘cringe’ adalah bagian normal dari pengalaman manusia. Itu adalah tanda bahwa otak Anda berfungsi untuk melindungi status sosial Anda, meskipun caranya terkadang kurang menyenangkan. Jadi, lain kali saat memori memalukan itu muncul, tarik napas dalam-dalam, tersenyumlah pada diri sendiri, dan sadarilah bahwa itu hanyalah bagian dari perjalanan panjang Anda menjadi pribadi yang lebih baik.

Baca Juga Ancaman Tersembunyi di Balik Gaya Hidup Modern: Mengapa Kanker Usus Besar Kini Mengincar Generasi Milenial?
Ancaman Tersembunyi di Balik Gaya Hidup Modern: Mengapa Kanker Usus Besar Kini Mengincar Generasi Milenial?
dr. Sarah Amelia

dr. Sarah Amelia

Praktisi kesehatan yang aktif mengedukasi gaya hidup sehat. Menyediakan informasi medis yang mudah dipahami dan akurat hanya di Suara Sehat.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *