Mitos Masangin di Alun-alun Kidul: Menguji Ketulusan Hati Lewat Dua Beringin Kembar Yogyakarta

Dimas Pratama | SuaraInfo
30 Mei 2026, 01:29 WIB
Mitos Masangin di Alun-alun Kidul: Menguji Ketulusan Hati Lewat Dua Beringin Kembar Yogyakarta

SuaraInfo — Yogyakarta selalu punya cara tersendiri untuk merayu ingatan para pelancongnya. Bukan sekadar tentang keramahan warganya atau deretan kuliner legendarisnya, namun juga tentang selimut mitos yang menyatu erat dalam detak kehidupan sehari-hari. Salah satu magnet yang tak pernah pudar daya tariknya adalah Alun-alun Kidul, sebuah ruang publik yang terletak tepat di belakang Keraton Yogyakarta, tempat di mana sebuah tradisi bernama ‘Masangin’ menjadi pusat gravitasi bagi siapa saja yang berkunjung.

Masangin, sebuah akronim dari ‘Masuk di Antara Dua Beringin’, bukan sekadar permainan biasa. Bagi masyarakat lokal maupun wisatawan, aktivitas ini adalah sebuah ritual kecil yang sarat akan makna filosofis dan balutan misteri. Konon, siapa pun yang berhasil berjalan lurus melewati celah di antara dua pohon beringin kembar dengan mata tertutup, maka hajat atau keinginan hatinya akan segera terkabul. Namun, meski terlihat sangat sederhana—hanya berjalan lurus sejauh kira-kira 20 meter—kenyataannya jauh lebih sulit dari yang dibayangkan.

Magnet Wisata Malam dan Filosofi Ketulusan

Saat matahari mulai tergelincir ke ufuk barat, suasana di Alun-alun Kidul bertransformasi menjadi panggung penuh warna. Kelap-kelip lampu dari mobil gowes hias yang berkeliling serta aroma kuliner khas Jogja mulai memenuhi udara. Di tengah hiruk-pikuk tersebut, pusat perhatian tetap tertuju pada dua pohon beringin besar yang berdiri kokoh di tengah lapangan luas tersebut. Di sinilah ‘sayembara’ kejujuran hati itu berlangsung setiap malamnya.

Baca Juga Movenpick Resort Carita: Ikon Baru Wisata Mewah Banten yang Menjanjikan Pengalaman Tak Terlupakan
Movenpick Resort Carita: Ikon Baru Wisata Mewah Banten yang Menjanjikan Pengalaman Tak Terlupakan

Menurut penelusuran tim SuaraInfo, Masangin bukan sekadar daya tarik wisata yang muncul secara instan. Dahulu, aktivitas ini merupakan bagian dari tradisi ‘Topo Bisu’ yang dilakukan oleh para prajurit keraton untuk melatih fokus dan konsentrasi. Pak Jumadi (68), salah satu pemandu sekaligus penyedia jasa penutup mata di lokasi, menjelaskan bahwa Masangin pada masa lalu merupakan syarat bagi calon Abdi Dalem Keraton. Keberhasilan melewati beringin dianggap sebagai representasi dari hati yang bersih dan niat yang tulus dalam mengabdi kepada Sultan.

“Ini bukan sekadar jalan biasa. Ini menguji seberapa fokus dan tulus hati seseorang. Dulu, ini syarat wajib bagi mereka yang ingin menjadi bagian dari keraton. Jika hatinya bercabang atau penuh keraguan, langkahnya pasti akan melenceng ke arah yang tak terduga,” ujar Pak Jumadi dengan nada bicara yang tenang namun berwibawa.

Tantangan Mengalahkan Ego di Balik Penutup Mata

Hanya dengan merogoh kocek sebesar Rp 5.000 untuk menyewa kain penutup mata hitam, para pengunjung sudah bisa menguji keberuntungan mereka. Tak jarang, area di depan pohon beringin dipenuhi antrean orang yang penasaran. Dalam satu sesi, biasanya ada sekitar lima orang yang dilepas secara bersamaan. Pemandangan yang tersaji pun cukup mengundang tawa sekaligus decak kagum; ada yang berputar-putar di tempat, ada yang berjalan jauh ke arah sisi lapangan, hingga ada yang hampir menabrak pagar pembatas pohon.

Baca Juga Jejak Panjang Kopi Vietnam: Dari Benih Pastor Perancis Hingga Menjadi Raksasa Robusta Dunia
Jejak Panjang Kopi Vietnam: Dari Benih Pastor Perancis Hingga Menjadi Raksasa Robusta Dunia

Mbah Panggih (80), sosok senior yang telah puluhan tahun mendedikasikan hidupnya menjaga tradisi ini, menyebutkan bahwa waktu terbaik untuk mencoba Masangin sebenarnya dimulai sejak sore hari sekitar pukul 17.00 WIB. Ia sering memberikan wejangan singkat kepada para peserta sebelum mereka melangkah. “Kuncinya jangan banyak pikiran. Kalau terlalu ambisius ingin berhasil, biasanya malah gagal. Pasrahkan saja langkahmu,” pesannya singkat kepada para wisatawan yang berkunjung ke destinasi sejarah ini.

Pengalaman menarik dibagikan oleh Rosa (30), seorang wisatawan yang berhasil menaklukkan tantangan ini dalam percobaan pertamanya. Ia mengaku tidak memikirkan mitos tentang keinginan yang terkabul, melainkan hanya mencoba tenang. “Aneh sekali rasanya. Saat berjalan, saya merasa seolah-olah ada tembok besar di sisi kiri dan kanan yang mengarahkan saya tetap lurus. Padahal saat saya buka mata, ruangannya sangat luas,” ceritanya dengan wajah berseri-seri.

Antara Logika, Keajaiban, dan Sugesti

Bagi mereka yang gagal, Masangin seringkali menjadi bahan perenungan yang unik. Apri (35), pengunjung asal Jakarta, harus mencoba hingga tiga kali sebelum akhirnya benar-benar bisa lewat. Pada percobaan pertama, ia berbelok tajam ke kiri tanpa disadari. Pada percobaan kedua, ia malah menjauh ke arah kanan. Baru pada percobaan ketiga, setelah ia mencoba mengosongkan pikiran dan menarik napas dalam-dalam, langkahnya mantap menuju tengah.

Baca Juga Keajaiban Air Soda Parbubu: Menelusuri Jejak Pemandian Langka Dunia di Jantung Tapanuli Utara
Keajaiban Air Soda Parbubu: Menelusuri Jejak Pemandian Langka Dunia di Jantung Tapanuli Utara

“Awalnya saya merasa sangat yakin langkah saya lurus, tapi orang-orang di sekitar malah tertawa karena saya ternyata berjalan melingkar. Setelah saya coba tenang dan tidak memikirkan target, entah bagaimana kaki ini berjalan lurus begitu saja,” ungkap Apri. Fenomena ini seringkali dikaitkan dengan keseimbangan tubuh dan orientasi ruang yang terganggu saat penglihatan dihilangkan, namun bagi masyarakat setempat, ada unsur spiritual yang lebih dalam dari sekadar penjelasan medis.

Kegiatan Masangin kini telah menjadi identitas yang tak terpisahkan dari budaya populer Yogyakarta. Meski teknologi semakin maju dan zaman berganti, pesona mistis dari dua pohon beringin kembar ini tetap kokoh berdiri. Para pengunjung yang datang tidak hanya mencari pembuktian mitos, namun juga mencari momen kebersamaan dan kegembiraan di tengah kesederhanaan kota pelajar ini.

Tips Mengunjungi Alun-alun Kidul Yogyakarta

Jika Anda berencana menyambangi Alun-alun Kidul untuk mencoba peruntungan di Masangin, ada beberapa tips yang perlu diperhatikan agar pengalaman Anda lebih berkesan. Pertama, datanglah saat hari kerja (weekday) jika Anda ingin menghindari kerumunan yang terlalu padat. Akhir pekan biasanya membuat area beringin sangat ramai, sehingga fokus Anda mungkin akan terganggu oleh suara teriakan penonton.

Baca Juga Sensasi Musim Dingin di Tengah Kota: Liburan Seru Main Salju di Trans Snow World Surabaya
Sensasi Musim Dingin di Tengah Kota: Liburan Seru Main Salju di Trans Snow World Surabaya

Kedua, setelah lelah mencoba Masangin, pastikan Anda mencicipi Wedang Ronde yang banyak dijajakan di pinggir lapangan. Minuman hangat dengan jahe ini sangat cocok untuk menemani suasana malam Jogja yang terkadang dingin. Selain itu, Anda juga bisa mencoba menaiki odong-odong atau mobil hias dengan tarif sekitar Rp 50.000 hingga Rp 100.000 per putaran tergantung kelihaian Anda menawar.

Sebagai penutup, Masangin di Alun-alun Kidul bukan hanya tentang mitos keinginan yang terkabul. Ia adalah cermin bagi setiap orang untuk melihat ke dalam diri sendiri—tentang seberapa lurus niat dan seberapa tenang jiwa dalam menghadapi ketidakpastian. Sebuah kearifan lokal yang dikemas dalam bentuk rekreasi, menjadikannya warisan budaya yang akan terus hidup selama orang-orang masih merindukan kedamaian di bawah naungan pohon beringin kembar Yogyakarta.

Jangan lupa untuk selalu menjaga kebersihan area cagar budaya ini selama berkunjung. Alun-alun Kidul bukan hanya milik wisatawan, melainkan ruang suci bagi sejarah panjang kesultanan yang patut kita hormati bersama.

Dimas Pratama

Dimas Pratama

Penjelajah dunia yang gemar membagikan cerita perjalanan unik dan panduan budget travel. Menginspirasi petualangan Anda melalui Info Travel.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *