Mitos Nutrisi Susu UHT Hilang Saat Dipanaskan? Pakar IPB Bongkar Fakta Sains di Baliknya
SuaraInfo — Fenomena konsumsi susu di tengah masyarakat Indonesia terus berkembang seiring dengan meningkatnya kesadaran akan pentingnya asupan gizi yang seimbang. Namun, di balik tren tersebut, masih banyak keraguan yang menyelimuti pikiran konsumen, terutama mengenai integritas nutrisi pada produk susu olahan. Salah satu pertanyaan klasik yang paling sering muncul adalah: apakah proses pemanasan suhu tinggi pada susu UHT (Ultra High Temperature) benar-benar menghilangkan kandungan gizinya? Ketakutan akan hilangnya protein atau vitamin akibat suhu ekstrem seringkali membuat masyarakat ragu untuk memilih produk ini sebagai sumber nutrisi utama bagi keluarga.
Menanggapi kekhawatiran tersebut, Guru Besar Fakultas Peternakan IPB University, Prof. Dr. Epi Taufik, S.Pt., MVPH., M.Si., memberikan pencerahan yang mendalam. Dalam sebuah kesempatan diskusi mendalam, beliau menegaskan bahwa anggapan mengenai nutrisi susu yang ‘hangus’ atau hilang sepenuhnya akibat proses UHT adalah sebuah miskonsepsi yang perlu diluruskan secara ilmiah. Menurutnya, teknologi pangan modern telah dirancang sedemikian rupa untuk menyeimbangkan antara keamanan pangan dan kualitas nutrisi susu yang optimal.
Memahami Filosofi Teknologi UHT: Bukan Sekadar Pemanasan Biasa
Banyak orang membayangkan proses pembuatan susu UHT sama seperti merebus susu di atas kompor dalam waktu lama hingga mendidih. Namun, realitas di industri pengolahan jauh lebih canggih dari sekadar api dan panci. Prof. Epi menjelaskan bahwa kunci utama dari teknologi UHT terletak pada durasi dan metode hantaran panasnya. Teknologi ini menggunakan sistem pemanasan tidak langsung yang sangat presisi.
“Dalam proses industri, susu tidak dipanaskan secara langsung di atas api. Sebaliknya, susu dialirkan melalui pipa-pipa khusus, sementara di bagian luar pipa tersebut dialirkan uap panas atau steam yang suhunya bisa mencapai 140 derajat Celsius,” ungkap Prof. Epi. Hal ini memastikan bahwa panas yang diterima oleh cairan susu terdistribusi secara merata tanpa risiko gosong atau kerusakan struktur molekul yang drastis.
Satu hal yang paling krusial adalah durasinya. Jika pemanasan konvensional memakan waktu menit atau jam, proses UHT hanya berlangsung selama 2 hingga 4 detik saja. Waktu yang sangat singkat inilah yang menjadi ‘penyelamat’ bagi kandungan gizi. Suhu tinggi yang dihantarkan secepat kilat tersebut cukup kuat untuk membasmi mikroorganisme patogen dan spora bakteri, namun terlalu singkat untuk merusak struktur kimiawi dari makronutrisi penting seperti protein dan lemak.
Nasib Protein, Lemak, dan Vitamin dalam Suhu Ekstrem
Pertanyaan selanjutnya yang sering menghantui adalah mengenai perubahan zat gizi secara spesifik. Apakah proteinnya masih utuh? Bagaimana dengan vitamin yang dikenal sensitif terhadap panas? Prof. Epi menjelaskan bahwa secara umum, komponen utama susu tetap terjaga dengan sangat baik. Protein dan lemak, sebagai penyumbang energi dan pembangun sel tubuh, relatif stabil meski terpapar suhu tinggi dalam durasi yang sangat pendek.
“Protein dan lemak dalam susu UHT relatif tidak mengalami perubahan signifikan. Hal ini karena prinsip keseimbangan antara suhu dan waktu tadi. Bakteri mati, tapi struktur gizinya tidak sempat pecah,” tambahnya. Bagi masyarakat yang ingin menjaga pola makan sehat, susu UHT tetap merupakan pilihan yang sangat valid dan praktis.
Meski demikian, Prof. Epi tidak menampik adanya sedikit penurunan pada jenis nutrisi tertentu, terutama vitamin yang bersifat termolabil atau sensitif terhadap panas. Beberapa vitamin mungkin mengalami sedikit penurunan kadar, namun angka penurunan tersebut dinilai sangat kecil dan tidak signifikan jika dibandingkan dengan manfaat sterilitas yang didapatkan. Keamanan pangan dalam hal ini menjadi prioritas, karena mengonsumsi susu yang terkontaminasi bakteri justru jauh lebih berbahaya bagi kesehatan tubuh.
Perlukah Memanaskan Kembali Susu UHT di Rumah?
Kebiasaan masyarakat Indonesia yang gemar mengonsumsi minuman hangat seringkali memicu tindakan merebus kembali susu UHT sebelum diminum. Namun, apakah hal ini diperlukan? Mengingat susu UHT sudah melewati proses sterilisasi di pabrik dan dikemas secara aseptik, Prof. Epi menegaskan bahwa tindakan merebus ulang sebenarnya tidak perlu dilakukan dari sisi keamanan pangan.
“Susu UHT itu sudah steril. Mau diapakan lagi? Secara teknis, susu tersebut sudah sangat aman untuk langsung dikonsumsi begitu kemasannya dibuka,” tegasnya. Merebus susu UHT dalam waktu lama di rumah justru berisiko merusak nutrisi yang sebelumnya telah terjaga dengan baik di pabrik. Jika Anda ingin menikmati susu dalam kondisi hangat, disarankan untuk hanya menghangatkannya sebentar saja, misalnya dengan menggunakan microwave atau merendam gelas berisi susu di dalam air hangat.
Hal ini bertujuan agar temperatur susu naik tanpa harus mencapai titik didih yang berpotensi merusak ikatan kimiawi nutrisi untuk kedua kalinya. Penanganan yang tepat di tingkat konsumen sangat menentukan apakah kualitas pangan yang sudah diproduksi dengan standar tinggi tersebut tetap terjaga hingga masuk ke dalam tubuh.
Bahaya Tersembunyi di Balik Tren ‘Susu Mentah’
Dalam kesempatan yang sama, Prof. Epi juga menyinggung tentang tren konsumsi susu mentah atau raw milk yang sempat viral di media sosial. Banyak pihak mengklaim bahwa susu mentah lebih sehat karena belum mengalami pengolahan sama sekali. Namun, dari kacamata ahli mikrobiologi pangan, hal ini adalah tindakan yang sangat berisiko tinggi.
Susu mentah yang tidak dipasteurisasi atau melalui proses UHT mengandung risiko kontaminasi bakteri berbahaya seperti Salmonella, E. coli, dan Listeria. Bakteri-bakteri ini dapat menyebabkan keracunan makanan yang serius, terutama pada anak-anak, ibu hamil, dan orang dengan sistem imun lemah. Oleh karena itu, teknologi UHT hadir sebagai solusi untuk menyediakan minuman bergizi yang aman tanpa harus mengorbankan kualitas kesehatan konsumen.
Tips Menyimpan Susu UHT Agar Tetap Segar
Keunggulan utama susu UHT adalah daya simpannya yang lama di suhu ruang selama kemasan belum dibuka. Hal ini dimungkinkan karena kemasan karton aseptik yang terdiri dari beberapa lapis pelindung, termasuk lapisan aluminium foil yang menjaga susu dari paparan cahaya dan oksigen. Namun, aturannya berubah total segera setelah segel dibuka.
Prof. Epi mengingatkan bahwa sekali kemasan terbuka, susu tidak lagi berada dalam kondisi steril karena sudah terpapar udara lingkungan. Oleh karena itu, susu UHT yang sudah dibuka wajib disimpan di dalam lemari es dan sebaiknya dihabiskan dalam waktu 3 hingga 4 hari. Membiarkan susu UHT yang sudah terbuka di suhu ruang akan memicu pertumbuhan bakteri pembusuk yang bisa menyebabkan susu cepat asam atau menggumpal.
Kesimpulan: Susu UHT Tetap Menjadi Pilihan Cerdas
Berdasarkan penjelasan ilmiah dari pakar IPB tersebut, dapat disimpulkan bahwa teknologi UHT adalah salah satu pencapaian terbaik dalam teknologi pangan untuk menyediakan nutrisi yang aman dan terjaga bagi masyarakat luas. Pemanasan suhu tinggi yang dilakukan dalam waktu singkat terbukti efektif membunuh patogen tanpa harus menghancurkan kebaikan alami susu.
Bagi Anda yang peduli dengan kesehatan keluarga, memilih susu UHT adalah langkah praktis untuk memenuhi kebutuhan kalsium, protein, dan vitamin harian. Dengan pemahaman yang benar mengenai fakta sains di balik proses pengolahannya, kita tidak perlu lagi termakan oleh mitos yang menyesatkan. Konsumsilah susu secara rutin sebagai bagian dari gaya hidup sehat, dan pastikan untuk selalu memperhatikan petunjuk penyimpanan agar kualitasnya tetap terjaga hingga tetes terakhir.