Pesona Baru Negeri Tirai Bambu: Lonjakan 36% Turis Korea Selatan dan Era Baru Pariwisata China

Dimas Pratama | SuaraInfo
28 Apr 2026, 19:26 WIB
Pesona Baru Negeri Tirai Bambu: Lonjakan 36% Turis Korea Selatan dan Era Baru Pariwisata China

SuaraInfo — Dunia pariwisata Asia Timur tengah menyaksikan pergeseran dinamika yang menarik. Jika selama bertahun-tahun budaya populer Korea Selatan atau Hallyu menjadi magnet utama bagi warga global, kini arah angin mulai berembus ke arah sebaliknya. Warga Korea Selatan justru tengah keranjingan menjelajahi daratan Tiongkok. Gelombang kunjungan ini bukan sekadar tren sesaat, melainkan sebuah fenomena masif yang didorong oleh kemudahan akses, perkembangan teknologi, dan mencairnya hubungan diplomatik antara Seoul dan Beijing.

Membuka Pintu Lebar: Kebijakan Bebas Visa sebagai Katalis Utama

Pemicu utama dari membeludaknya pelancong asal Negeri Ginseng ini adalah keputusan strategis pemerintah China untuk memberikan fasilitas bebas visa sepihak. Kebijakan yang mulai diimplementasikan pada tahun 2024 dan diperpanjang secara resmi pada November lalu ini, memberikan izin bagi warga Korea Selatan untuk tinggal hingga 30 hari tanpa kerumitan birokrasi. Fasilitas ini mencakup berbagai keperluan, mulai dari wisata internasional, urusan bisnis, hingga kunjungan keluarga.

Kemudahan ini menghapus hambatan psikologis dan finansial yang selama ini membayangi calon wisatawan. Sebelumnya, pengurusan visa China seringkali dianggap sebagai proses yang memakan waktu dan biaya. Kini, dengan hanya bermodalkan paspor dan tiket pesawat, warga Korea Selatan dapat memutuskan untuk berakhir pekan di Shanghai atau Shenzhen secara spontan.

Baca Juga Tragedi Erupsi Gunung Dukono: Sorotan Dunia dan Pahitnya Konsekuensi Wisata Ekstrem di Jalur Terlarang
Tragedi Erupsi Gunung Dukono: Sorotan Dunia dan Pahitnya Konsekuensi Wisata Ekstrem di Jalur Terlarang

Statistik yang Berbicara: Lonjakan Signifikan di Awal Tahun

Data yang dirilis oleh The Korea Times menggambarkan pertumbuhan yang sangat impresif. Sepanjang tahun 2025, tercatat sebanyak 3,16 juta wisatawan Korea Selatan yang melintasi perbatasan menuju China. Angka ini merepresentasikan kenaikan sebesar 36,9% dibandingkan periode yang sama di tahun sebelumnya. Tren positif ini terus berlanjut ke awal tahun 2026, di mana pada bulan Januari saja, jumlah kunjungan sudah menembus angka 300.000 orang, melonjak 48% secara tahunan.

Kenaikan ini menunjukkan bahwa China telah berhasil memposisikan dirinya kembali sebagai destinasi prioritas bagi warga Korea Selatan setelah masa pandemi yang panjang. Menariknya, profil wisatawan yang datang kini lebih beragam, tidak lagi didominasi oleh kelompok tur lanjut usia, melainkan juga merambah ke segmen generasi muda dan keluarga kecil.

Lensa Kreator Konten: Jendela Digital ke Realitas China Modern

Salah satu pendorong utama di balik perubahan persepsi publik Korea Selatan terhadap China adalah peran para kreator konten. Platform seperti YouTube dan Instagram kini dipenuhi dengan vlog perjalanan yang memperlihatkan sisi modern dan estetik dari berbagai kota di China. Para YouTuber ini tidak hanya berkunjung ke tempat wisata ikonik, tetapi juga membedah kehidupan sehari-hari, kuliner khas, hingga kecanggihan infrastruktur lokal.

Baca Juga Menyingkap Pesona Dua Wajah Sungai Martapura: Romantisme Kilau Malam dan Realitas Eksotis di Pagi Hari
Menyingkap Pesona Dua Wajah Sungai Martapura: Romantisme Kilau Malam dan Realitas Eksotis di Pagi Hari

Heechulism, seorang YouTuber ternama dengan 1,2 juta pengikut, menjadi salah satu sosok yang vokal menyuarakan kekagumannya. Dalam kunjungannya ke Shenzhen, ia membagikan pengalaman futuristiknya saat mencoba taksi listrik tanpa pengemudi (autonomous taxi). “Perkembangan teknologi di sini sangat pesat, melampaui apa yang saya bayangkan sebelumnya,” ungkapnya dalam salah satu video yang menjadi viral.

Hal serupa dilakukan oleh YouTuber NakANG yang memilih Chengdu sebagai destinasi utamanya. Ia memberikan apresiasi tinggi terhadap fasilitas umum yang bersih dan berbasis teknologi tinggi, termasuk sistem informasi pintar di area publik yang mempermudah navigasi wisatawan asing.

Shenzhen dan Chengdu: Antara Futurisme dan Tradisi

Jika Shanghai dan Beijing sudah lama menjadi destinasi arus utama, kini kota-kota seperti Shenzhen dan Chengdu mulai naik daun. Shenzhen, yang dikenal sebagai ‘Silicon Valley-nya China’, menarik minat wisatawan yang haus akan pengalaman teknologi. Keberadaan markas besar raksasa teknologi dan ekosistem kendaraan listrik (EV) yang dominan menjadi daya tarik tersendiri bagi warga Korea Selatan yang juga berasal dari negara maju di bidang teknologi.

Baca Juga Menelusuri Jejak ‘Monster Pemakan Serangga’ di Taman Nepenthes Kebun Raya Bogor: Oase Eksotis di Jantung Kota Hujan
Menelusuri Jejak ‘Monster Pemakan Serangga’ di Taman Nepenthes Kebun Raya Bogor: Oase Eksotis di Jantung Kota Hujan

Di sisi lain, Chengdu menawarkan perpaduan antara wisata kuliner pedas yang legendaris, konservasi panda, dan suasana kota yang lebih santai namun tetap modern. Bagi pecinta alam, Zhangjiajie tetap menjadi magnet tak tertandingi dengan pemandangan pilar-pilar batu raksasa yang menginspirasi film Avatar. Keanekaragaman destinasi inilah yang membuat China menjadi paket lengkap bagi berbagai jenis pelancong.

Teknologi di Ujung Jari: Kemudahan Transportasi dan Pembayaran Digital

Salah satu aspek yang paling banyak dipuji oleh wisatawan Korea Selatan adalah efisiensi sistem transportasi di China. Jaringan kereta cepat (High-Speed Rail) yang menghubungkan kota-kota besar dengan kecepatan luar biasa dan ketepatan waktu tinggi menjadi tulang punggung mobilitas mereka. Harga tiket yang relatif terjangkau jika dibandingkan dengan standar hidup di Seoul menjadikan eksplorasi lintas kota terasa lebih efisien.

Selain itu, adopsi sistem pembayaran digital melalui aplikasi seperti Alipay dan WeChat Pay kini semakin ramah bagi turis asing. Meskipun beberapa pelancong sempat mengalami kendala teknis di awal, kemudahan bertransaksi tanpa uang tunai (cashless) di mana pun—bahkan di pedagang kaki lima sekalipun—memberikan pengalaman berbelanja yang sangat praktis bagi warga Korea Selatan yang juga sudah terbiasa dengan ekosistem digital di negaranya sendiri.

Baca Juga Promo Staycation Mewah The Trans Luxury Hotel Surabaya: Sensasi Pantai di Atas Awan untuk Libur Sekolah
Promo Staycation Mewah The Trans Luxury Hotel Surabaya: Sensasi Pantai di Atas Awan untuk Libur Sekolah

Dimensi Diplomatik: Membangun Jembatan Melalui Pariwisata

Peningkatan jumlah wisatawan ini tidak terjadi di ruang hampa. Ada latar belakang politik dan diplomatik yang mendukung terciptanya atmosfer positif ini. Dalam dua tahun terakhir, hubungan bilateral antara China dan Korea Selatan menunjukkan tanda-tanda perbaikan yang signifikan. Kunjungan kenegaraan Presiden Korea Selatan ke Beijing pada awal Januari lalu telah membuka jalan bagi kerja sama yang lebih erat di sektor budaya dan ekonomi.

Pariwisata seringkali dianggap sebagai bentuk ‘soft diplomacy’ yang paling efektif. Ketika warga dari kedua negara saling berinteraksi secara langsung, prasangka-prasangka lama cenderung luntur dan digantikan oleh pemahaman budaya yang lebih mendalam. Vlogger Park Dae-il, yang sudah menetap di China selama tujuh tahun, mengamati bahwa antusiasme ini juga dipicu oleh banyaknya peluang bisnis yang mulai dilirik oleh para pengusaha muda Korea Selatan di daratan Tiongkok.

Strategi Global China dalam Menarik Wisatawan Dunia

Lonjakan turis dari Korea Selatan sebenarnya adalah bagian dari gambaran yang lebih besar mengenai strategi pariwisata China pasca-pandemi. Sejak 2023, pemerintah Tiongkok telah secara agresif memperluas kebijakan bebas visa untuk berbagai negara guna menghidupkan kembali sektor ekonomi pariwisatanya. Berdasarkan catatan otoritas imigrasi, sepanjang tahun 2025 terdapat lebih dari 30 juta kunjungan melalui skema bebas visa, menyumbang hampir 75% dari total kedatangan internasional.

Baca Juga Fantastis atau Miris? Harga Air Mineral Piala Dunia 2026 Tembus Rp 150 Ribu per Botol, Suporter Mulai Menjerit
Fantastis atau Miris? Harga Air Mineral Piala Dunia 2026 Tembus Rp 150 Ribu per Botol, Suporter Mulai Menjerit

Dengan perpaduan antara kebijakan yang mempermudah akses, promosi melalui media sosial, serta pembangunan infrastruktur yang berkelanjutan, China tampaknya sukses mengubah citranya dari negara yang tertutup menjadi magnet wisata baru yang dinamis. Bagi warga Korea Selatan, China bukan lagi sekadar negara tetangga yang kaku, melainkan taman bermain baru yang menawarkan kejutan di setiap sudut kotanya.

Fenomena ini membuktikan bahwa di era modern ini, keterbukaan akses dan kemajuan teknologi adalah kunci utama dalam memenangkan hati wisatawan global. Seiring dengan terus berlanjutnya tren ini, kita mungkin akan melihat integrasi budaya dan ekonomi yang lebih erat di kawasan Asia Timur dalam beberapa tahun ke depan.

Dimas Pratama

Dimas Pratama

Penjelajah dunia yang gemar membagikan cerita perjalanan unik dan panduan budget travel. Menginspirasi petualangan Anda melalui Info Travel.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *