Rahmi Hidayati dan Diplomasi Kebaya: Sebuah Narasi Panjang Menuju Pengakuan Dunia di UNESCO
SuaraInfo — Di balik gemulainya siluet kebaya yang membalut tubuh perempuan Indonesia, tersimpan narasi perjuangan yang tak sebentar. Kebaya bukan sekadar potongan kain yang dijahit rapi; ia adalah napas identitas, simbol harga diri, dan kini, menjadi pusat perhatian dunia. Perjalanan panjang ini tidak lepas dari sosok Rahmi Hidayati, seorang perempuan tangguh yang mendedikasikan hidupnya untuk memastikan busana leluhur ini tetap abadi di tengah gempuran tren modernitas.
Simpul Sejarah di Asunción: Ketika Kebaya Mengetuk Pintu Dunia
Langkah kaki Rahmi Hidayati dalam mengawal eksistensi kebaya akhirnya membuahkan hasil manis di kancah internasional. Melansir catatan penting pada sidang ke-19 Session of the Intergovernmental Committee on Intangible Cultural Heritage (ICH) yang digelar di Asunción, Paraguay, dunia memberikan penghormatan tertinggi. UNESCO secara resmi menetapkan kebaya sebagai warisan budaya tak benda yang harus dilestarikan.
Namun, pencapaian ini bukanlah sebuah keberuntungan semalam. Rahmi, yang merupakan pendiri Komunitas Kebaya Indonesia, mengungkapkan bahwa fondasi untuk pengakuan ini telah diletakkan jauh sejak tahun 2017. Selama tujuh tahun, ia dan para penggiat budaya lainnya merajut komunikasi, mengumpulkan data, dan membangun kesadaran kolektif tentang betapa pentingnya posisi kebaya dalam identitas nasional kita.
Diplomasi Lintas Negara: Mengapa Harus Joint Nomination?
Satu hal yang menarik dalam perjalanan menuju UNESCO adalah strategi yang dipilih Indonesia. Alih-alih melangkah sendiri, Indonesia memilih jalan kolaborasi melalui mekanisme joint nomination atau nominasi bersama. Indonesia berdiri berdampingan dengan negara tetangga seperti Singapura, Malaysia, Brunei Darussalam, dan Thailand dalam mengajukan kebaya sebagai warisan bersama.
Keputusan ini sempat memicu perdebatan di kalangan masyarakat awam yang khawatir akan klaim budaya. Namun, Rahmi Hidayati memberikan penjelasan yang sangat logis dan visioner dalam diskusi ‘Cerita Kebaya’ yang diselenggarakan oleh Rumah Cinta Wayang. Menurutnya, menolak nominasi bersama justru bisa menjadi bumerang bagi Indonesia di masa depan.
“Jika kita bersikeras menolak kerja sama ini, negara-negara tetangga tersebut memiliki hak untuk mendaftarkannya sendiri secara individu. Hal itu justru akan menciptakan sekat dan potensi klaim sepihak. Dengan bergabung, kita secara diplomatis mengakui bahwa kebaya adalah benang merah kebudayaan di kawasan Asia Tenggara, sekaligus memastikan peran Indonesia tetap dominan sebagai akar utamanya,” jelas Rahmi saat ditemui di kawasan Depok Indah.
Benang Merah Jalur Rempah dan Evolusi Busana
Secara historis, kebaya memang tidak tumbuh di ruang hampa. Rahmi menekankan bahwa penyebaran busana ini sangat dipengaruhi oleh jalur rempah yang menghubungkan nusantara dengan semenanjung Malaya berabad-abad silam. Pertukaran budaya, perdagangan, dan interaksi sosial membuat kebaya berevolusi menjadi berbagai bentuk sesuai dengan kearifan lokal masing-masing daerah.
Saat ini, agenda besar Rahmi tidak hanya berhenti di UNESCO. Ia sedang berupaya keras untuk mendaftarkan berbagai jenis kebaya spesifik lainnya sebagai Warisan Budaya Tak Benda di tingkat nasional terlebih dahulu. Langkah ini krusial untuk memperkuat basis data kebudayaan kita sebelum membawa kekayaan intelektual ini ke panggung internasional yang lebih luas.
Antara ‘Pakem’ dan ‘Kebaya Selingkuh’: Menjaga Orisinalitas di Tengah Tren
Sebagai seorang penggiat, Rahmi Hidayati dikenal sangat fleksibel namun tetap memegang teguh prinsip. Baginya, modifikasi adalah kunci agar perempuan Indonesia modern tetap merasa relevan mengenakan kebaya dalam aktivitas sehari-hari. Namun, ada batas tegas yang ia sebut sebagai “pakem” atau prinsip dasar yang tidak boleh dilanggar.
Ia mencontohkan bagaimana kain lurik atau sisa-sisa potongan kain bisa disulap menjadi kebaya kutu baru yang trendi tanpa menghilangkan unsur simetrisnya. Dengan nada bercanda, ia sering menggunakan istilah unik bagi karya-karya yang sudah terlalu jauh menyimpang dari akarnya.
“Kalau modelnya sudah tidak simetris, atau letak kancingnya tidak lagi di tengah, mungkin itu bisa kita sebut ‘Kebaya Selingkuh’ saja ya,” guraunya. Istilah ini merujuk pada busana yang menyerupai kebaya namun telah mengkhianati filosofi dasarnya. Selain itu, ada juga istilah “Kebaya Gombrong” untuk gaya yang lebih longgar dan mengutamakan kenyamanan, meskipun secara estetika tradisional dianggap kurang ideal karena tidak memperlihatkan lekuk pinggang yang menjadi ciri khas keanggunan perempuan timur.
Dari Meja Redaksi ke Garis Depan Kebudayaan
Ketangguhan Rahmi dalam bernegosiasi dengan para pemangku kepentingan—mulai dari tingkat menteri, direktur jenderal, hingga akademisi lintas negara—ternyata berakar dari latar belakangnya sebagai seorang jurnalis. Pengalamannya di dunia media massa memberinya modal besar berupa jaringan yang luas dan kemampuan komunikasi persuasif yang mumpuni.
Ia menceritakan bagaimana kedekatannya dengan beberapa pejabat tinggi saat ini terbangun sejak masa-masa mereka masih menjadi aktivis. “Dulu saat Pak Menteri masih berjuang sebagai aktivis, saya yang meliputnya sebagai wartawan. Kami sering nongkrong bareng di lapangan. Kedekatan personal inilah yang saya manfaatkan sekarang untuk meloloskan berbagai regulasi yang mendukung pelestarian budaya,” kenang Rahmi.
Bagi Rahmi, memperjuangkan Hari Kebaya Nasional dan pengakuan UNESCO adalah bentuk pengabdian baru. Jika dulu ia menulis berita untuk menginformasikan publik, kini ia menulis sejarah melalui kain dan benang. Ia ingin membuktikan bahwa kekuatan seorang jurnalis tidak hanya terletak pada penanya, tetapi juga pada aksi nyatanya dalam menjaga marwah bangsa.
Mendaki Gunung dengan Kebaya: Sebuah Simbol Kebebasan
Salah satu sisi unik Rahmi Hidayati yang sering menginspirasi banyak orang adalah hobinya mendaki gunung dengan tetap mengenakan kebaya. Bagi banyak orang, kebaya identik dengan keterbatasan ruang gerak, namun Rahmi mendobrak stigma tersebut. Baginya, mengenakan kebaya saat mendaki atau jalan-jalan di luar negeri adalah pernyataan sikap.
“Kebaya tidak memenjarakan perempuan. Justru kebaya memberikan kekuatan identitas yang membuat kita tampil beda dan percaya diri di mana pun kita berada,” tegasnya. Konsistensi inilah yang kemudian menggerakkan Komunitas Kebaya Indonesia untuk terus menyuarakan pentingnya mengenakan kebaya dalam kehidupan sehari-hari, bukan hanya saat acara formal atau kondangan saja.
Masa Depan Kebaya di Tangan Generasi Muda
Menutup perbincangan, Rahmi menitipkan pesan mendalam bagi generasi muda. Pengakuan dari UNESCO hanyalah sebuah awal, sebuah label di atas kertas yang tidak akan berarti apa-apa jika masyarakatnya sendiri enggan mengenakannya. Keberlanjutan budaya ini sangat bergantung pada rasa bangga yang tumbuh di hati setiap anak bangsa.
Setiap lipatan kain kebaya, menurut Rahmi, adalah simpul sejarah yang menghubungkan masa lalu dengan masa depan. Dengan menjaga kebaya, kita tidak hanya menjaga pakaian, tetapi kita sedang menjaga harga diri bangsa agar tetap tegak berdiri di tengah arus globalisasi. Mari kita jadikan kebaya sebagai bagian dari napas keseharian, sebuah warisan yang hidup, bukan sekadar pajangan di museum sejarah.