Tragedi di Puncak Halmahera: Erupsi Gunung Dukono Telan Korban Jiwa, 14 Pendaki Berhasil Dievakuasi
SuaraInfo — Keindahan alam Maluku Utara seketika berubah menjadi duka mendalam saat Gunung Dukono di Halmahera Utara memuntahkan amarahnya pada Jumat pagi (8/5/2026). Aktivitas vulkanik yang meningkat secara tiba-tiba ini bukan sekadar fenomena alam biasa, melainkan sebuah tragedi yang memakan korban jiwa di kalangan pencinta alam yang tengah mencoba menaklukkan puncaknya.
Laporan yang dihimpun oleh tim redaksi kami di lapangan menyebutkan bahwa letusan ini terjadi saat sejumlah pendaki masih berada di kawasan rawan bencana. Hingga berita ini diturunkan, tercatat tiga orang pendaki dinyatakan meninggal dunia, yang terdiri dari dua Warga Negara Asing (WNA) dan satu Warga Negara Indonesia (WNI). Sementara itu, belasan pendaki lainnya berhasil diselamatkan melalui operasi evakuasi yang dramatis dan penuh risiko.
Detik-Detik Mencekam Erupsi Gunung Dukono
Peristiwa memilukan ini bermula ketika Gunung Dukono menunjukkan peningkatan aktivitas vulkanik yang signifikan pada Jumat pagi. Berdasarkan informasi dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat, letusan tersebut terjadi secara fluktuatif, melepaskan material vulkanik yang membahayakan siapa saja yang berada di radius dekat kawah.
Kapolres Halmahera Utara, AKBP Erlichson Pasaribu, mengonfirmasi kabar duka tersebut. Ia menyatakan bahwa informasi mengenai jatuhnya korban jiwa bersumber langsung dari koordinasi di lapangan bersama BPBD. “Informasi dari BPBD menyebutkan ada korban jiwa, setidaknya dua orang meninggal dunia pada awalnya, dan data terus berkembang seiring proses pencarian,” ujar Erlichson saat dihubungi melalui sambungan telepon.
Ketegangan menyelimuti wilayah Halmahera Utara saat debu vulkanik mulai menutupi langit, sementara tim penyelamat harus berpacu dengan waktu untuk menjangkau para pendaki yang masih terjebak di zona berbahaya. Kehadiran gas beracun dan ancaman lontaran lava pijar menjadi hambatan utama dalam proses awal evakuasi para korban.
Identitas Korban: Duka di Lereng Halmahera
Duka ini tidak hanya dirasakan oleh masyarakat lokal, tetapi juga menjadi perhatian internasional. Korban jiwa yang dilaporkan terdiri dari pendaki mancanegara dan domestik. Menurut keterangan AKBP Erlichson, dua WNA yang menjadi korban berasal dari Singapura dan China. Namun, proses identifikasi mendalam masih terus dilakukan untuk memastikan identitas resmi para korban tersebut.
“Kami menerima informasi awal bahwa korban meninggal adalah WNA asal Singapura dan China. Identitas pastinya masih dalam tahap verifikasi oleh tim medis dan kepolisian,” tambahnya. Selain warga asing, satu pendaki lokal asal Jayapura, Papua, juga dilaporkan kehilangan nyawa dalam insiden tragis ini. Kehadiran para pendaki ini di Gunung Dukono menunjukkan daya tarik gunung tersebut bagi wisatawan, meski risiko vulkaniknya tetap sangat tinggi.
Di sisi lain, kekhawatiran sempat memuncak saat dilaporkan ada sekitar 20 orang pendaki yang terjebak di tengah situasi erupsi yang belum stabil. Mereka tersebar di beberapa titik jalur pendakian, mencoba mencari perlindungan dari hujan abu dan material vulkanik yang dimuntahkan dari perut bumi.
Operasi Penyelamatan: 14 Jiwa Berhasil Diselamatkan
Di tengah suasana duka, secercah harapan muncul saat tim SAR gabungan berhasil menemukan dan mengevakuasi 14 pendaki dalam kondisi selamat. Keberhasilan ini merupakan buah kerja keras kolektif antara BPBD, Basarnas, TNI, Polri, serta relawan setempat yang tak kenal lelah menyisir lereng gunung.
Abdul Muhari, Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, menjelaskan bahwa total ada 20 orang pendaki yang terdata berada di kawasan Gunung Dukono saat erupsi terjadi. Kelompok ini terdiri dari sembilan WNA asal Singapura, tiga warga asal Ternate, dan delapan warga lokal dari wilayah sekitar.
Adapun rincian pendaki yang selamat meliputi tujuh warga negara Singapura dengan inisial TYME (30), OSS (37), PL (33), LHEI (31), TJYG (30), LYXV (30), dan LSD (29). Selain mereka, tujuh pendaki asal Indonesia juga berhasil mencapai titik aman, yakni BB (24), Y (23), S (26), A (22), H (26), FN (27), serta RI (29). Proses evakuasi ini bukan perkara mudah; para penyintas harus dipandu melewati jalur yang tertutup material erupsi hingga mencapai Pos 5.
Tantangan Tim SAR: Lava Pijar dan Teknologi Drone
Upaya pencarian terhadap dua pendaki WNA yang masih hilang, berinisial HWQT (30) dan SMBAH (27), sempat menemui jalan buntu. Operasi SAR terpaksa dihentikan sementara pada pukul 14.10 WIB karena kondisi alam yang semakin ekstrem. Potensi lontaran lava pijar dengan jangkauan mencapai 1,5 kilometer dari puncak kawah memaksa tim penyelamat mundur demi keselamatan personel.
“Keselamatan tim evakuasi adalah prioritas utama. Ketika aktivitas vulkanik meningkat, kami harus menunggu kondisi sedikit lebih stabil di Pos 5 sebelum melanjutkan penyisiran,” ungkap pihak BNPB dalam keterangan tertulisnya. Namun, semangat untuk menemukan korban tidak padam. Pada pukul 15.25 WIB, pencarian kembali dilanjutkan dengan strategi yang lebih matang.
Tim SAR gabungan membagi diri menjadi dua kelompok utama. Tim pertama melakukan penyisiran darat menuju puncak gunung, mendekat hingga jarak 500 meter dari kawah. Sementara itu, tim kedua menyisir wilayah aliran sungai di sekitar puncak untuk mengantisipasi kemungkinan korban terbawa material atau terjatuh ke area lembah. Dalam operasi ini, penggunaan teknologi pesawat nirawak atau drone menjadi sangat krusial untuk memantau titik-titik yang sulit dijangkau oleh manusia secara langsung, mengingat intensitas erupsi yang masih fluktuatif.
Himbauan Mitigasi dan Larangan Pendakian
Kejadian memilukan di Halmahera Utara ini menjadi pengingat keras akan pentingnya kewaspadaan terhadap aktivitas gunung berapi di Indonesia. Gunung Dukono dikenal sebagai salah satu gunung berapi paling aktif yang secara rutin mengeluarkan abu vulkanik, namun letusan yang memakan korban jiwa kali ini menjadi peringatan serius bagi semua pihak.
BNPB melalui koordinasi dengan PVMBG (Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi) mengeluarkan imbauan tegas kepada masyarakat dan wisatawan untuk tidak melakukan aktivitas pendakian dalam radius bahaya. Keamanan dan keselamatan harus menjadi prioritas di atas ambisi menaklukkan puncak gunung.
Pemerintah daerah bersama otoritas terkait kini terus memantau perkembangan aktivitas vulkanik Gunung Dukono. Masyarakat diminta untuk tetap tenang namun waspada, serta selalu mengikuti arahan resmi dari petugas di lapangan. Tragedi ini diharapkan menjadi pelajaran berharga bagi manajemen mitigasi bencana dan sistem pendataan pendaki di Indonesia agar peristiwa serupa tidak terulang kembali di masa depan.
Saat ini, doa dan dukungan mengalir bagi keluarga korban yang ditinggalkan, sementara tim SAR masih terus berupaya menyelesaikan tugas mereka di medan yang menantang demi memastikan seluruh pendaki dapat ditemukan dan dievakuasi.