Skandal Tipu-Tipu di Labuan Bajo: Bos Travel Tilep Rp 85 Juta Demi Judi Online, Coreng Citra Pariwisata Premium
SuaraInfo — Dunia pariwisata Indonesia kembali diguncang oleh aksi oknum yang tidak bertanggung jawab. Di tengah upaya pemerintah mempromosikan Labuan Bajo sebagai destinasi wisata super prioritas, sebuah kabar miring mencuat dan mencoreng citra keramahan NTT. Seorang bos agen perjalanan yang seharusnya menjadi pintu gerbang keindahan alam Flores, justru terjebak dalam lingkaran hitam kriminalitas akibat kecanduan judi online.
Aksi memalukan ini dilakukan oleh Kristoforus Aman, pria berusia 32 tahun yang lebih dikenal dengan sapaan Itok Aman. Pemilik agen perjalanan ‘Labuan Bajo Top’ ini tega menipu rombongan wisatawan mancanegara hingga puluhan juta rupiah. Ironisnya, dana yang seharusnya digunakan untuk membiayai fasilitas mewah para turis tersebut, justru habis menguap di meja judi digital dan digunakan untuk membiayai gaya hidup sehari-hari yang jauh dari kata produktif.
Kronologi Pengkhianatan Kepercayaan Wisatawan
Kasus ini bermula ketika seorang warga negara Malaysia berinisial SS (34) merencanakan liburan impian bagi rombongannya yang terdiri dari 10 orang, termasuk delapan orang dewasa dan dua anak-anak. Melalui perantara agen travel asal Malaysia bernama Trip Adikberadik, SS memesan paket wisata premium ke Labuan Bajo yang dijadwalkan berlangsung pada Mei 2026.
Total uang sebesar Rp 85,2 juta telah disetorkan kepada Itok Aman. Dana fantastis itu mencakup berbagai layanan eksklusif, mulai dari sewa kapal pinisi MY MOON yang mewah selama 4 hari 3 malam, tiket masuk ke kawasan Taman Nasional Komodo, hingga akomodasi di Hotel Flamingo Avia yang dikenal memiliki pemandangan memukau. Namun, apa yang dijanjikan hanyalah bualan belaka.
Ketika rombongan tiba di Labuan Bajo pada Kamis, 7 Mei 2026, kenyataan pahit langsung menyambut mereka. Bukannya diantar ke hotel mewah yang telah dipesan, mereka justru dibawa ke Hotel Green Perundi yang tidak sesuai dengan kesepakatan awal. Keadaan semakin keruh ketika pihak operator kapal menyatakan bahwa mereka belum menerima sepeser pun pembayaran dari Itok Aman. Upaya korban untuk menghubungi sang bos travel pun berujung buntu, karena Itok seolah raib ditelan bumi saat dimintai pertanggungjawaban.
Motif di Balik Penipuan: Jeratan Judi Online dan Kebutuhan Hidup
Pihak kepolisian dari Satreskrim Polres Manggarai Barat bergerak cepat setelah menerima laporan dari para korban. Tak butuh waktu lama, Itok Aman akhirnya diringkus dan ditetapkan sebagai tersangka. Penyelidikan mendalam mengungkap fakta yang sangat mengecewakan. Uang puluhan juta milik wisatawan tersebut tidak tersisa sedikit pun untuk keperluan operasional wisata.
Kanit Pidum Satreskrim Polres Manggarai Barat, Ipda Nikolaus Nikson Bunganen, mengungkapkan bahwa seluruh dana tersebut telah habis dikonsumsi oleh nafsu tersangka. Sebagian besar uang digunakan untuk bermain judi online, sebuah wabah digital yang kini memang tengah marak merusak sendi-sendi ekonomi masyarakat.
“Uang tersebut digunakan oleh tersangka untuk judi online dan juga untuk membeli keperluan sehari-hari seperti makan, minum, rokok, hingga bahan bakar minyak (BBM). Tidak ada sisa dari dana tersebut yang dialokasikan untuk hak-hak para wisatawan,” ujar Ipda Nikolaus dalam keterangannya kepada media.
Kedok Bisnis Hanya Modal Instagram
Salah satu fakta mengejutkan yang terungkap dalam penyidikan adalah status legalitas dan operasional ‘Labuan Bajo Top’. Meskipun seringkali mempromosikan layanan melalui platform media sosial, agen travel milik Itok Aman ternyata tidak memiliki kantor fisik di Labuan Bajo. Tersangka menjalankan seluruh operasional bisnisnya hanya bermodalkan satu unit ponsel pintar dan akun Instagram.
Selain tidak memiliki kantor, Itok Aman juga tidak mampu menunjukkan izin usaha resmi saat diperiksa oleh petugas. Meskipun ia berkali-kali mengklaim memiliki izin, faktanya tidak ada dokumen sah yang bisa ia lampirkan sebagai bukti legalitas usahanya. Hal ini menjadi peringatan keras bagi para pelancong untuk lebih waspada terhadap penipuan travel yang marak terjadi di ranah digital.
Tanggapan Asosiasi Pariwisata: ‘Dia Bukan Bagian dari Kami’
Aksi Itok Aman memicu reaksi keras dari berbagai asosiasi pariwisata resmi di Nusa Tenggara Timur. Baik ASTINDO (Asosiasi Travel Agent Indonesia) maupun ASITA (Association of The Indonesian Tours and Travel Agencies) dengan tegas menyatakan bahwa tersangka maupun perusahaannya tidak pernah terdaftar sebagai anggota.
Plt Ketua Astindo Provinsi NTT, Ignasius Suradin, menegaskan bahwa kredibilitas pariwisata Labuan Bajo harus dijaga dari oknum-oknum liar seperti ini. Senada dengan itu, Ketua DPD Asita NTT, Oyan Kristian, juga memastikan bahwa ‘Labuan Bajo Top’ beroperasi di luar pengawasan organisasi resmi. Ketiadaan keanggotaan dalam asosiasi ini sebenarnya bisa menjadi sinyal bahaya bagi calon konsumen sebelum melakukan transaksi besar.
Sisa Liburan yang Terselamatkan
Meski sempat terlunta-lunta dan merasa terkhianati, rombongan wisatawan asal Malaysia dan Singapura ini tidak lantas kehilangan harapan untuk menikmati keindahan Flores. Berkat koordinasi yang baik antara Polres Manggarai Barat dan otoritas pariwisata setempat, solusi cepat berhasil ditemukan.
Rombongan tersebut akhirnya tetap bisa berlayar menuju wisata Labuan Bajo menggunakan kapal pengganti, KM Gajah Putih, demi menghabiskan sisa waktu liburan mereka. Walaupun kemewahan yang mereka bayar di awal tidak sepenuhnya didapatkan, setidaknya eksotisme komodo dan indahnya perairan Flores bisa sedikit mengobati rasa kecewa mereka.
Kini, Itok Aman harus mendekam di sel tahanan Polres Manggarai Barat untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya. Kasus ini menjadi pengingat penting bagi seluruh stakeholder pariwisata bahwa pengawasan terhadap agen perjalanan liar harus diperketat. Bagi para wisatawan, sangat disarankan untuk selalu melakukan pengecekan ganda terhadap kredibilitas agen wisata melalui asosiasi resmi atau mencari referensi yang terpercaya sebelum mentransfer sejumlah uang yang tidak sedikit.
Pariwisata Indonesia yang berkualitas tidak hanya dibangun dari keindahan alamnya, tetapi juga dari integritas para pelakunya. Kasus pariwisata di Labuan Bajo ini diharapkan menjadi yang terakhir, agar tidak ada lagi tamu yang pulang dengan membawa kenangan pahit dari tanah pertiwi.