Rahasia di Balik Viralnya Dubai Chewy Cookie: Mengapa Tekstur Makanan Tertentu Bikin Otak Kecanduan?

dr. Sarah Amelia | SuaraInfo
14 Mei 2026, 13:27 WIB
Rahasia di Balik Viralnya Dubai Chewy Cookie: Mengapa Tekstur Makanan Tertentu Bikin Otak Kecanduan?

SuaraInfo — Fenomena kuliner digital memang tidak pernah ada habisnya. Belakangan ini, jagat media sosial seperti TikTok dan Instagram dipenuhi dengan cuplikan video orang-orang yang menikmati hidangan pencuci mulut dengan tekstur yang sangat spesifik: kenyal (chewy) sekaligus lumer (creamy). Mulai dari demam mochi yang elastis, boba yang membal, hingga yang paling terbaru dan menjadi perbincangan hangat di kalangan foodies dunia, yakni Dubai Chewy Cookie.

Kudapan yang satu ini bukan sekadar biskuit biasa. Ia menawarkan sensasi gigitan yang memerlukan usaha lebih, namun memberikan imbalan rasa yang luar biasa saat isiannya mulai meleleh di dalam mulut. Namun, pernahkah Anda bertanya-tanya, mengapa kita begitu terobsesi dengan tekstur makanan tertentu? Mengapa tekstur yang kenyal dan lembut sering kali terasa jauh lebih memuaskan dibandingkan makanan yang sekadar manis atau gurih saja? Tren kuliner ini ternyata memiliki landasan ilmiah yang cukup mendalam dalam dunia psikologi dan sains pangan.

Seni Mengunyah: Mengapa Tekstur Chewy Terasa Begitu Memuaskan?

Dalam ranah ilmu pangan, tekstur dianggap sebagai elemen ketiga yang paling krusial setelah rasa dan aroma. Tekstur chewy atau kenyal memberikan dimensi tantangan tersendiri bagi indra perasa kita. Ketika Anda menggigit sepotong Dubai Chewy Cookie yang tebal, mulut Anda tidak langsung menghancurkannya. Ada perlawanan elastis yang membuat proses mengunyah menjadi lebih lama. Di sinilah letak keajaibannya.

Baca Juga Rahasia Dapur Bintang Dunia: Mengintip Diet Ekstrem Cristiano Ronaldo hingga Menu ‘Viking’ Erling Haaland
Rahasia Dapur Bintang Dunia: Mengintip Diet Ekstrem Cristiano Ronaldo hingga Menu ‘Viking’ Erling Haaland

Menurut penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Food Quality and Preference, tekstur makanan memainkan peran vital dalam bagaimana otak kita memproses kenikmatan. Makanan dengan tekstur kenyal memaksa mulut dan lidah untuk aktif bekerja lebih keras. Hal ini mengirimkan stimulasi sensorik yang lebih intens dan berkelanjutan ke otak. Dibandingkan dengan makanan yang cepat lumat, makanan kenyal memberikan durasi kepuasan yang lebih panjang di setiap gigitannya.

Selain itu, durasi mengunyah yang lebih lama ternyata berkaitan erat dengan sistem regulasi rasa kenyang kita. Sebuah studi dalam jurnal Physiology & Behavior mengungkapkan bahwa proses pengunyahan yang intens dapat meningkatkan pelepasan hormon yang mengatur rasa puas dan kenyang. Inilah sebabnya mengapa menikmati makanan manis dengan tekstur kenyal sering kali terasa seperti sebuah “pengalaman” yang lengkap, bukan sekadar aktivitas makan biasa.

Sensasi Creamy: Pelukan Lembut untuk Lidah

Setelah melewati lapisan luar yang kenyal, biasanya kudapan viral seperti Dubai Chewy Cookie atau mochi modern menyimpan kejutan berupa isian yang sangat lembut dan creamy. Jika tekstur kenyal adalah tentang tantangan, maka tekstur creamy adalah tentang kenyamanan atau comfort.

Baca Juga Mengapa Tubuh Tiba-tiba Ingin Makanan Manis? Mengungkap Rahasia di Balik Sugar Craving dan Solusinya
Mengapa Tubuh Tiba-tiba Ingin Makanan Manis? Mengungkap Rahasia di Balik Sugar Craving dan Solusinya

Tekstur creamy sangat identik dengan apa yang disebut oleh para ahli sebagai mouthfeel yang mewah. Sensasi halus dan lumer di mulut ini sering kali diasosiasikan oleh otak dengan keamanan dan kebahagiaan. Hal ini tidak lepas dari kandungan lemak yang biasanya ada dalam komponen creamy tersebut. Lemak memiliki kemampuan unik untuk mengikat molekul aroma dan rasa, lalu menyebarkannya secara merata ke seluruh permukaan lidah saat ia meleleh.

Jurnal Flavour menyebutkan bahwa lemak berperan sebagai jembatan penghubung antara rasa dan indra penciuman kita. Ketika sesuatu yang lembut lumer di mulut, ia menciptakan sensasi indulgent yang membuat kita merasa sedang memanjakan diri sendiri. Tak heran jika makanan seperti es krim, puding, atau saus cokelat lumer selalu masuk dalam kategori comfort food yang paling dicari saat seseorang merasa stres atau butuh asupan energi positif.

Simfoni Multisensori dalam Setiap Gigitan

Kenikmatan makan ternyata bukan hanya soal lidah, tetapi juga soal telinga dan mata. Studi mengenai sensory eating menunjukkan bahwa otak kita juga merekam suara yang dihasilkan saat kita mengunyah. Pada Dubai Chewy Cookie yang viral, sering kali terdapat elemen renyah dari kacang pistachio atau kunafa di dalamnya. Suara “crunchy” yang berpadu dengan kelembutan krim menciptakan harmoni kontras yang sangat disukai otak.

Baca Juga Uji Ketajaman Visual Anda: 8 Tantangan Tebak Gambar yang Hanya Bisa Dijawab oleh Si Paling Teliti!
Uji Ketajaman Visual Anda: 8 Tantangan Tebak Gambar yang Hanya Bisa Dijawab oleh Si Paling Teliti!

Perubahan tekstur dari keras ke lembut, atau dari kenyal ke cair, memberikan stimulasi yang tidak membosankan bagi sistem saraf. Otak manusia secara alami menyukai variasi. Ketika kita menggigit makanan yang memiliki lapisan tekstur yang berbeda-beda, sistem reward di otak kita akan melepaskan dopamin, zat kimia yang memberikan rasa senang dan membuat kita ingin mengulanginya lagi. Inilah alasan utama mengapa makanan-makanan ini terasa sangat “nagih”.

Melihat Lebih Dekat Dubai Chewy Cookie sebagai Ikon Baru

Dubai Chewy Cookie menjadi representasi sempurna dari semua elemen kepuasan tekstur ini. Dengan paduan cokelat premium, isian krim pistachio yang gurih, dan tekstur adonan biskuit yang dibuat agar tidak terlalu keras namun tetap kokoh, kudapan ini menjawab kebutuhan manusia akan pengalaman makan yang kompleks. Popularitasnya di media sosial juga didorong oleh visual isian yang meluber saat biskuit dipatahkan, sebuah rangsangan visual yang langsung memicu air liur bahkan sebelum kita mencicipinya.

Meski begitu, di balik kenikmatan yang ditawarkan, kita juga perlu bijak dalam mengonsumsinya. Sebagian besar makanan dengan profil tekstur seperti ini mengandung kadar gula dan kalori yang cukup signifikan. Namun, memahami sains di balik tekstur membantu kita untuk lebih menghargai setiap gigitan secara perlahan—sebuah praktik yang dikenal sebagai mindful eating.

Baca Juga Alarm Bahaya Kesehatan di Malaysia: Mengapa Penyakit Jantung Kini Menghantui Gen Z Akibat ‘Garam Tersembunyi’?
Alarm Bahaya Kesehatan di Malaysia: Mengapa Penyakit Jantung Kini Menghantui Gen Z Akibat ‘Garam Tersembunyi’?

Kesimpulan: Mengapa Tekstur Adalah Kunci?

Pada akhirnya, kesuksesan Dubai Chewy Cookie dan berbagai tren snack kenyal lainnya membuktikan bahwa makanan bukan lagi sekadar soal pemenuhan nutrisi, melainkan bentuk hiburan sensorik. Tekstur adalah bahasa rahasia yang digunakan makanan untuk berkomunikasi dengan sistem saraf kita. Dengan perpaduan antara elastisitas yang memuaskan dan kelembutan yang menenangkan, makanan-makanan ini berhasil mencuri perhatian jutaan orang di seluruh dunia.

Bagi Anda yang ingin mencoba atau bahkan membuat sendiri kudapan serupa di rumah, kuncinya terletak pada keseimbangan antara bahan-bahan yang memberikan struktur (seperti tepung dan telur) dengan bahan yang memberikan kelembutan (seperti mentega dan krim). Dengan memahami dinamika tekstur ini, kita tidak hanya menjadi konsumen yang sekadar mengikuti tren, tetapi juga penikmat kuliner yang lebih cerdas.

Jangan lupa untuk selalu menyeimbangkan asupan camilan manis Anda dengan pola makan sehat dan aktivitas fisik yang cukup agar tubuh tetap bugar di tengah gempuran tren makanan yang menggugah selera ini. Temukan informasi menarik lainnya seputar gaya hidup dan kesehatan hanya di platform kami.

Baca Juga Investasi Masa Depan: 7 Pangan Ajaib Penjaga Ketajaman Otak dan Strategi Melawan Pikun
Investasi Masa Depan: 7 Pangan Ajaib Penjaga Ketajaman Otak dan Strategi Melawan Pikun
dr. Sarah Amelia

dr. Sarah Amelia

Praktisi kesehatan yang aktif mengedukasi gaya hidup sehat. Menyediakan informasi medis yang mudah dipahami dan akurat hanya di Suara Sehat.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *