Menyingkap Pesona Dua Wajah Sungai Martapura: Romantisme Kilau Malam dan Realitas Eksotis di Pagi Hari

Dimas Pratama | SuaraInfo
25 Apr 2026, 19:26 WIB
Menyingkap Pesona Dua Wajah Sungai Martapura: Romantisme Kilau Malam dan Realitas Eksotis di Pagi Hari

SuaraInfo — Suara derak mesin klotok membelah kesunyian malam di aliran Sungai Martapura. Bunyi khas “tak… tak… tak…” itu seolah menjadi ritme pembuka bagi sebuah pertunjukan visual yang memukau. Di atas permukaan air yang gelap, pantulan cahaya lampu kota menari-nari, bergetar mengikuti riak kecil yang ditinggalkan oleh lambung perahu kayu. Ada aroma lembap yang khas, berpadu dengan embusan angin malam yang menyentuh kulit dengan lembut, membawa pesan bahwa Banjarmasin bukan sekadar kota, melainkan sebuah simfoni yang mengalir di atas air.

Menelusuri Jejak Cahaya di Atas Klotok

Malam itu, Selasa (21/4/2026), kami beruntung ditemani oleh Agus Suryono, seorang pengemudi sekaligus pemandu yang telah mengenal setiap sudut sungai ini selama lebih dari dua dekade. Sambil memegang kemudi, Agus bercerita dengan nada bangga namun bersahaja. “Setahu saya, wisata sungai ini mulai ditata serius sejak tahun 2010,” ungkapnya. Agus bukan orang baru; ia telah menjadi saksi sejarah perkembangan transportasi air di Kalimantan Selatan, termasuk dedikasinya mengantar jemput tamu-tamu institusi besar seperti BRI regional Banjarmasin selama 22 tahun terakhir.

Baca Juga Thailand Perketat Gerbang Masuk: Masa Bebas Visa Dipangkas Demi Tekan Angka Kriminalitas Asing
Thailand Perketat Gerbang Masuk: Masa Bebas Visa Dipangkas Demi Tekan Angka Kriminalitas Asing

Begitu klotok bergerak menjauh dari dermaga, suasana berubah menjadi magis. Cahaya dari gedung-gedung dan lampu jalan di kawasan Siring berpendar di permukaan sungai, menciptakan jalur cahaya yang seolah menuntun perjalanan kami. Dalam kegelapan, Sungai Martapura bertransformasi menjadi cermin raksasa yang memantulkan kemajuan kota Banjarmasin sebagai “Kota Seribu Sungai”. Namun, di balik keindahan itu, alam terkadang memberikan ujian kecil.

Tantangan Lingkungan di Balik Estetika Malam

Keindahan visual malam itu sesekali terinterupsi oleh tumpukan eceng gondok yang mengapung bebas. Tumbuhan air ini sering kali berbaur dengan sampah rumah tangga dan sisa pembuangan lainnya, menciptakan rintangan alami bagi mesin klotok. Agus dengan cekatan memperlambat laju perahu atau berkelok tajam untuk menghindari lilitan sampah pada baling-baling mesin.

Fenomena ini menjadi pengingat nyata bahwa Sungai Martapura, yang memiliki lebar sekitar 100 meter dan membentang sepanjang hampir 100 kilometer, bukan sekadar komoditas pariwisata. Ia adalah ruang hidup yang masih berjuang melawan persoalan lingkungan. Sungai ini adalah urat nadi, namun sekaligus menjadi tempat penampungan beban aktivitas manusia yang belum sepenuhnya terkelola dengan bijak.

Baca Juga Magnet Wisata Kapal Pesiar Ekspedisi ke Antartika: Antara Kemewahan Miliaran Rupiah dan Risiko Nyawa yang Mengintai
Magnet Wisata Kapal Pesiar Ekspedisi ke Antartika: Antara Kemewahan Miliaran Rupiah dan Risiko Nyawa yang Mengintai

Nadi Kehidupan di Rumah Panggung

Sepanjang perjalanan menyusuri rute pendek dari Menara Pandang menuju Kampung Hijau dan Kampung Biru, pemandangan kehidupan tradisional tetap lestari. Di bawah remang lampu, terlihat warga yang masih setia menjala ikan menggunakan perahu mungil. Di tepian lain, beberapa orang asyik memancing, sementara aktivitas domestik di rumah-rumah panggung di atas air tetap berdenyut. Tak jarang, terlihat warga yang melakukan aktivitas mandi dan mencuci langsung di sungai.

“Wah, apakah mereka menggunakan air sungai itu juga untuk memasak?” tanya Andi Raviali, salah satu staf dari kantor pusat yang ikut dalam rombongan, dengan nada heran sekaligus takjub. Pertanyaan itu segera dijawab oleh Agus dengan penjelasan yang menenangkan bahwa untuk kebutuhan konsumsi dan mandi yang lebih bersih, warga sudah beralih menggunakan layanan PAM, meski keterikatan emosional dan praktis dengan air sungai sulit dipisahkan sepenuhnya dari budaya lokal masyarakat Banjar.

Wajah Pagi: Kejujuran dan Realitas Martapura

Jika malam hari Sungai Martapura memakai riasan cahaya yang gemerlap, maka pagi hari adalah saat ia menunjukkan wajah aslinya yang jujur. Keesokan harinya, sebelum sarapan, kami kembali menyusuri kawasan Siring. Kali ini tanpa perahu, melainkan dengan berjalan kaki santai sejauh empat kilometer mengelilingi Menara Pandang. Di bawah sinar matahari pagi, warna air sungai yang keruh kecokelatan terlihat sangat jelas.

Baca Juga Menjelang Kemeriahan Piala Dunia 2026, AS Rilis Peringatan Serius Risiko Kejahatan dan Penculikan di Meksiko
Menjelang Kemeriahan Piala Dunia 2026, AS Rilis Peringatan Serius Risiko Kejahatan dan Penculikan di Meksiko

Tanpa pendaran lampu, Martapura tampil apa adanya. Namun, justru di sinilah letak eksotismenya. Suasana terasa lebih dinamis dan meriah. Mesin-mesin klotok bersahutan lebih ramai, membawa penumpang yang hendak beraktivitas atau sekadar menikmati udara pagi. Kawasan Siring pun berubah menjadi ruang publik yang inklusif; tempat warga berolahraga, jogging, atau sekadar duduk-duduk sebelum memulai rutinitas kantor.

Ekonomi Kreatif dan Sosok Yoga Febriyan

Di tengah keramaian pagi, ada dinamika ekonomi kecil yang menarik untuk diamati. Para fotografer jalanan tampak sibuk menawarkan jasa foto candid kepada para pengunjung. Salah satunya adalah Yoga Febriyan. Yoga adalah sosok istimewa; ia bekerja dengan keterbatasan tuna rungu dan tuna wicara. Namun, keterbatasan itu tidak menghalanginya untuk menangkap momen-momen indah melalui lensa kameranya.

Komunikasi dengan Yoga dilakukan melalui gestur sederhana dan bahasa isyarat. Dengan tarif yang sangat terjangkau, sekitar Rp6 ribu per foto, ia menjadi bagian dari ekosistem ekonomi kreatif yang tumbuh subur di bantaran sungai. Kehadirannya membuktikan bahwa Sungai Martapura bukan hanya memberi penghidupan bagi para motoris klotok, tapi juga bagi mereka yang memiliki kreativitas visual.

Baca Juga Mitos Masangin di Alun-alun Kidul: Menguji Ketulusan Hati Lewat Dua Beringin Kembar Yogyakarta
Mitos Masangin di Alun-alun Kidul: Menguji Ketulusan Hati Lewat Dua Beringin Kembar Yogyakarta

Mimpi Martapura Menuju Kelas Dunia

Perjalanan menyusuri Martapura meninggalkan sebuah refleksi mendalam. Sungai ini memiliki potensi luar biasa yang jika dikelola dengan visi profesional, bisa disejajarkan dengan ikon wisata air dunia. Bayangkan jika penataan eceng gondok dilakukan secara sistematis, dan fasilitas pendukung seperti restoran terapung atau kafe di atas air dikembangkan lebih masif.

Martapura bisa saja menjadi “Venice-nya Indonesia” atau setidaknya menyamai kemasyhuran Sungai Chao Phraya di Bangkok yang mampu menyedot jutaan wisatawan mancanegara. Keinginan untuk menyusuri pasar terapung di subuh hari dan menikmati Soto Banjar langsung di atas perahu harus kami tunda kali ini karena jadwal penerbangan yang mendesak. Namun, seperti yang dikatakan wartawan senior Latief Siregar, “Jika Tuhan menghendaki, kita akan kembali lagi.”

Sungai Martapura adalah cerita tentang dua wajah yang kontras namun saling melengkapi. Ia adalah tempat di mana tradisi bersentuhan dengan modernitas, dan di mana tantangan lingkungan menjadi peluang untuk pembenahan di masa depan. Menjaga Martapura berarti menjaga identitas dan masa depan pariwisata Kalimantan Selatan agar terus mengalir dan berkilau, baik di bawah cahaya bulan maupun di bawah terik matahari pagi.

Baca Juga Risiko Tersembunyi di Balik Kenyamanan: Mengapa Pakar Penerbangan Melarang Penggunaan Legging Saat Terbang
Risiko Tersembunyi di Balik Kenyamanan: Mengapa Pakar Penerbangan Melarang Penggunaan Legging Saat Terbang
Dimas Pratama

Dimas Pratama

Penjelajah dunia yang gemar membagikan cerita perjalanan unik dan panduan budget travel. Menginspirasi petualangan Anda melalui Info Travel.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *