Menguak Mitos Label Makanan: Benarkah Nama Bahan Kimia Berarti Bahaya bagi Kesehatan?

dr. Sarah Amelia | SuaraInfo
23 Mei 2026, 13:26 WIB
Menguak Mitos Label Makanan: Benarkah Nama Bahan Kimia Berarti Bahaya bagi Kesehatan?

SuaraInfo — Pernahkah Anda berdiri di koridor supermarket, memegang sebuah kemasan produk, dan mendapati diri Anda mengernyitkan dahi saat membaca deretan komposisinya? Istilah-istilah seperti maltodekstrin, lesitin kedelai, hingga natrium eritobat sering kali terdengar seperti eksperimen laboratorium yang menyeramkan daripada sesuatu yang layak masuk ke dalam perut kita. Di era ledakan informasi digital, muncul sebuah stigma kolektif: jika Anda tidak bisa mengejanya, jangan memakannya.

Namun, benarkah panjangnya daftar bahan dan keberadaan istilah asing pada label makanan menjadi indikator mutlak bahwa produk tersebut tidak sehat? Ternyata, jawabannya tidak sesederhana unggahan viral di media sosial. Fenomena ini sering kali dikaitkan dengan narasi ultra-processed food (UPF) yang belakangan ini menjadi momok bagi para pejuang hidup sehat.

Mitos “Daftar Bahan Panjang” dan Ketakutan Konsumen

Bagi mata yang awam, daftar bahan yang menyerupai jurnal kimia sering kali dianggap sebagai lampu merah. Masyarakat cenderung merasa lebih aman dengan label yang pendek dan menggunakan istilah dapur yang akrab di telinga. Namun, pakar teknologi pangan dari IPB University, Prof. Dr. Ir. Purwiyatno Hariyadi, memberikan perspektif yang berbeda. Menurutnya, kualitas sebuah produk pangan tidak bisa dinilai secara membabi buta hanya dari kerumitan bahasanya.

Baca Juga Ironi Sang Pemburu Keabadian: Bryan Johnson Didiagnosis Autoimun Saat Berjuang Hidup Selamanya
Ironi Sang Pemburu Keabadian: Bryan Johnson Didiagnosis Autoimun Saat Berjuang Hidup Selamanya

“Muncul anggapan bahwa produk dengan daftar bahan yang panjang, nama bahan tambahan yang terdengar teknis atau asing, otomatis dianggap bermasalah. Padahal, anggapan seperti ini belum tentu benar,” ungkap Prof. Purwiyatno saat memberikan penjelasan mendalam mengenai literasi pangan. Beliau menekankan bahwa ketakutan ini sering kali berakar pada kurangnya pemahaman mengenai fungsi dari masing-masing bahan tersebut dalam menjaga kualitas makanan.

Peran Penting Bahan Tambahan Pangan (BTP) yang Sering Disalahpahami

Dibalik nama-namanya yang sulit diucapkan, Bahan Tambahan Pangan (BTP) memiliki peran krusial yang jarang disadari konsumen. Penggunaan BTP bukan bertujuan untuk meracuni konsumen, melainkan untuk memastikan produk tetap aman dan layak konsumsi hingga sampai ke meja makan Anda. Teknologi pangan modern telah memungkinkan makanan untuk tetap stabil secara mikrobiologi dan organoleptik (rasa, tekstur, warna).

Prof. Purwiyatno menjelaskan bahwa penggunaan BTP tidak secara otomatis membuat sebuah produk menjadi berbahaya. Kuncinya terletak pada fungsi bahan tersebut, kesesuaiannya dengan regulasi pemerintah, serta kadar penggunaannya. Sebagai contoh, pengawet tertentu berfungsi mencegah pertumbuhan bakteri patogen yang jauh lebih berbahaya bagi kesehatan manusia daripada zat pengawet itu sendiri dalam dosis yang ditentukan.

Baca Juga Ancaman Tersembunyi di Balik Kursi Kerja: Bagaimana Duduk Terlalu Lama Memicu Risiko Berbagai Jenis Kanker?
Ancaman Tersembunyi di Balik Kursi Kerja: Bagaimana Duduk Terlalu Lama Memicu Risiko Berbagai Jenis Kanker?

“Yang penting adalah peran bahan tersebut dalam menjaga mutu, keamanan, stabilitas, atau karakteristik produk,” tambahnya. Tanpa BTP, banyak makanan kemasan yang kita konsumsi saat ini mungkin akan cepat busuk, berubah rasa, atau bahkan menjadi sarang bakteri sebelum sempat dikonsumsi.

Fenomena Ultra-Processed Food (UPF): Antara Tren dan Realitas

Istilah UPF kini menjadi kata kunci yang populer dalam diskusi mengenai gizi seimbang. Banyak orang beranggapan bahwa semua makanan yang diproses secara industri adalah musuh kesehatan. Kegaduhan ini sempat memuncak ketika muncul perdebatan mengenai sarden kalengan. Apakah sarden termasuk UPF? Dan jika ya, apakah itu berarti sarden dilarang untuk dikonsumsi?

Kenyataannya, proses pengalengan adalah teknik pengawetan fisik yang sangat efektif untuk menjaga nutrisi ikan dalam jangka panjang tanpa perlu menggunakan banyak bahan kimia berbahaya. Di sinilah letak kesalahpahamannya. Stigma bahwa “proses industri itu buruk” sering kali menutupi fakta bahwa proses tersebut sebenarnya dirancang untuk meningkatkan keamanan pangan.

Aspek Keamanan Pangan dari Hulu ke Hilir

Menilai kesehatan sebuah produk tidak bisa dilakukan secara parsial. Prof. Purwiyatno mengingatkan bahwa aspek keamanan pangan harus dilihat secara holistik, mulai dari bagaimana produk tersebut diformulasikan, diproses di pabrik, dikemas secara higienis, hingga bagaimana cara penyimpanannya di toko. Keamanan pangan adalah sebuah rantai yang tidak boleh terputus.

Baca Juga Alarm Bahaya Kesehatan: Mengapa Jantung Anak Muda Malaysia Kini Rentan Terancam?
Alarm Bahaya Kesehatan: Mengapa Jantung Anak Muda Malaysia Kini Rentan Terancam?

“Dari aspek keamanan pangan, yang perlu dilihat adalah apakah produk tersebut diproses dan diedarkan sesuai dengan persyaratan keamanan pangan yang berlaku,” jelasnya. Di Indonesia, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) memiliki standar ketat yang harus dipatuhi oleh produsen sebelum produk mereka mendapatkan izin edar. Oleh karena itu, nama yang terdengar teknis pada label sebenarnya adalah bentuk transparansi produsen sesuai dengan regulasi yang ada.

Fokus pada Profil Gizi, Bukan Sekadar Istilah Asing

Alih-alih pusing memikirkan nama kimia yang sulit dibaca, konsumen disarankan untuk lebih fokus pada profil gizi secara keseluruhan. Hal ini mencakup kandungan kalori, lemak jenuh, gula, dan garam (GGL). Produk dengan daftar bahan yang pendek namun tinggi kandungan gula dan lemak jenuh tetap saja bisa berdampak buruk bagi kesehatan jika dikonsumsi secara berlebihan.

Prof. Purwiyatno menekankan bahwa poin yang lebih esensial adalah porsi konsumsi dan frekuensi dalam pola makan sehari-hari. “Produk sebaiknya tidak dinilai hanya dari panjang-pendeknya daftar bahan, melainkan dari keseluruhan komposisi dan profil gizinya,” tuturnya. Nutrisi harian yang seimbang jauh lebih penting daripada menghindari satu atau dua bahan tambahan yang sebenarnya aman menurut sains.

Baca Juga Waspada! Inilah Tanda-Tanda Infeksi Menular Seksual yang Sering Diabaikan Pria dan Wanita
Waspada! Inilah Tanda-Tanda Infeksi Menular Seksual yang Sering Diabaikan Pria dan Wanita

Tips Bijak Membaca Label Makanan bagi Konsumen

Untuk menjadi konsumen yang cerdas dan tidak mudah termakan hoaks, ada beberapa langkah yang bisa dilakukan saat membaca label makanan:

  • Cek Tabel Informasi Nilai Gizi: Fokuslah pada angka kecukupan gizi (AKG), jumlah energi, serta kandungan lemak dan gula.
  • Perhatikan Urutan Bahan: Bahan yang ditulis pertama dalam daftar komposisi adalah bahan dengan jumlah terbanyak dalam produk tersebut.
  • Kenali Fungsi BTP: Jangan langsung panik melihat nama asing. Cari tahu fungsinya melalui sumber kredibel atau aplikasi kesehatan yang tepercaya.
  • Lihat Izin Edar: Pastikan produk memiliki nomor MD atau ML dari BPOM, yang menjamin bahwa produk tersebut telah melewati evaluasi keamanan.

Kesimpulannya, label makanan bukanlah sebuah teka-teki yang harus ditakuti, melainkan alat bantu untuk membuat keputusan yang lebih baik. Menganggap semua istilah asing sebagai ancaman adalah bentuk penyederhanaan yang keliru. Dengan literasi yang baik, kita dapat menikmati kemudahan pangan modern tanpa harus mengorbankan kesehatan jangka panjang.

Mari kita kembali ke prinsip dasar nutrisi: moderasi dan variasi. Sehat tidak ditentukan oleh satu jenis makanan saja, melainkan oleh pola makan secara menyeluruh yang kita jalani setiap hari.

Baca Juga Silent Killer Menghantui Gen Z: Bagaimana Stres Menjelma Menjadi Hipertensi di Usia Muda
Silent Killer Menghantui Gen Z: Bagaimana Stres Menjelma Menjadi Hipertensi di Usia Muda
dr. Sarah Amelia

dr. Sarah Amelia

Praktisi kesehatan yang aktif mengedukasi gaya hidup sehat. Menyediakan informasi medis yang mudah dipahami dan akurat hanya di Suara Sehat.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *