Waspada! Inilah Tanda-Tanda Infeksi Menular Seksual yang Sering Diabaikan Pria dan Wanita

dr. Sarah Amelia | SuaraInfo
23 Jun 2026, 21:27 WIB
Waspada! Inilah Tanda-Tanda Infeksi Menular Seksual yang Sering Diabaikan Pria dan Wanita

SuaraInfo — Di balik hiruk-pikuk gaya hidup modern yang kian dinamis, terselip sebuah ancaman kesehatan yang sering kali bergerak dalam sunyi. Infeksi Menular Seksual (IMS) bukan sekadar isu medis biasa; ia adalah sebuah tantangan kesehatan masyarakat yang kian mendesak untuk diperhatikan. Sayangnya, banyak dari kita yang masih terjebak dalam stigma dan rasa malu, sehingga gejala-gejala awal yang muncul justru diabaikan hingga kondisi mencapai tahap yang mengkhawatirkan.

Data terbaru dari Kementerian Kesehatan RI menunjukkan tren yang cukup mencemaskan. Sepanjang tahun 2024, tercatat sebanyak 23.347 kasus sifilis dan 10.506 kasus gonore di Indonesia. Fakta yang lebih mengejutkan adalah mayoritas penderita berasal dari kelompok usia produktif, yakni antara 25 hingga 49 tahun. Lonjakan angka ini menjadi sinyal kuat bahwa edukasi mengenai infeksi menular seksual harus semakin masif dilakukan demi melindungi masa depan generasi bangsa.

Mengapa IMS Sering Terlambat Ditangani?

Salah satu alasan utama mengapa kasus IMS melonjak adalah sifat infeksinya yang sering kali bersifat asimtomatik atau tidak menunjukkan gejala yang khas pada tahap awal. Menurut dr. Hanny Nilasari, Sp.D.V.E., seorang pakar dari Departemen Dermatologi dan Venereologi FKUI-RSCM, fenomena ini sangat umum terjadi, terutama pada wanita. Akibatnya, banyak pasien yang baru mencari bantuan medis setelah terjadi komplikasi serius.

Baca Juga Siasat Jitu Ringgo Agus Rahman Hindari Istri dari Burnout: Rahasia Harmonisasi Keluarga yang Wajib Ditiru Para Suami
Siasat Jitu Ringgo Agus Rahman Hindari Istri dari Burnout: Rahasia Harmonisasi Keluarga yang Wajib Ditiru Para Suami

Jika dibiarkan tanpa penanganan yang tepat, IMS dapat memicu berbagai masalah kesehatan jangka panjang yang fatal. Mulai dari radang panggul kronis, kehamilan ektopik (kehamilan di luar rahim), hingga masalah infertilitas atau kemandulan. Dr. Hanny juga menyoroti bahwa tren usia penderita kini semakin muda, yang juga berdampak pada tingginya angka kehamilan tidak diinginkan serta prosedur aborsi yang berisiko pada remaja.

Mengenal Lebih Dalam Berbagai Jenis IMS dan Gejalanya

Memahami tanda-tanda tubuh adalah langkah pertama dalam pencegahan. Berikut adalah beberapa jenis IMS yang paling sering ditemukan dan gejala-gejala yang wajib Anda waspadai:

1. Gonore (Kencing Nanah)

Gonore merupakan infeksi bakteri yang menyerang selaput lendir pada saluran reproduksi. Pada pria, gejala biasanya lebih cepat terlihat, sekitar lima hari setelah terpapar, ditandai dengan keluarnya cairan menyerupai nanah dari ujung penis. Namun, pada wanita, ceritanya bisa berbeda.

“Pada perempuan, kelainannya kadang-kadang tidak spesifik, hanya seperti keputihan biasa dan sering tanpa gejala sama sekali,” jelas dr. Hanny. Hal ini membuat banyak wanita baru menyadari infeksi tersebut ketika sudah terjadi komplikasi radang panggul. Gejala umum lainnya meliputi nyeri saat buang air kecil, nyeri di area perut bawah, hingga perdarahan di luar siklus menstruasi.

Baca Juga Jangan Anggap Remeh Lemas Mendadak Usai Begadang: Waspada Ancaman Stroke Ringan di Usia Muda
Jangan Anggap Remeh Lemas Mendadak Usai Begadang: Waspada Ancaman Stroke Ringan di Usia Muda

2. Klamidia: Si Infeksi Tersembunyi

Sama seperti gonore, klamidia juga disebabkan oleh bakteri dan sering kali tidak menimbulkan keluhan berarti di fase awal. Gejala biasanya baru muncul dalam kurun waktu 5 hingga 14 hari setelah kontak seksual yang berisiko. Rasa sakit atau sensasi terbakar saat buang air kecil adalah indikator yang paling sering muncul. Selain itu, penderita mungkin merasakan nyeri pada punggung bawah, keputihan yang tidak normal, atau pembengkakan pada testis bagi pria.

3. Herpes Genital

Disebabkan oleh virus herpes simpleks (HSV), infeksi ini masuk melalui luka mikro pada kulit atau selaput lendir. Gejalanya bisa berupa munculnya bintik merah kecil, lenting yang melepuh, atau luka terbuka (ulkus) di area genital, anus, hingga mulut. Rasa gatal dan nyeri yang hebat sering kali menyertai kemunculan lenting tersebut. Dr. Hanny menekankan bahwa lokasi luka biasanya sangat bergantung pada jenis kontak seksual yang dilakukan oleh penderita.

4. Sifilis atau Raja Singa

Sifilis sering disebut sebagai “The Great Imitator” karena gejalanya sering menyerupai penyakit lain. Awalnya, penderita mungkin hanya menemukan luka kecil yang tidak terasa nyeri di area kelamin. Karena tidak sakit, banyak orang mengabaikannya. Padahal, jika tidak diobati, bakteri sifilis dapat menyebar ke aliran darah dan merusak organ vital seperti jantung, saraf, dan otak.

Baca Juga Tubuh Sering Lemas Meski Sudah Cukup Istirahat? Kenali Sinyal Bahaya Diabetes Ringan yang Kerap Terabaikan
Tubuh Sering Lemas Meski Sudah Cukup Istirahat? Kenali Sinyal Bahaya Diabetes Ringan yang Kerap Terabaikan

“Banyak pasien datang dengan keluhan bercak kemerahan di telapak tangan dan mengira itu hanya alergi biasa, padahal itu adalah tanda sifilis stadium lanjut,” ungkap dr. Hanny. Gejala lain yang menyertai bisa berupa demam, pembengkakan kelenjar getah bening, hingga kerontokan rambut.

5. Kutil Kelamin (HPV)

Penyakit ini ditandai dengan tumbuhnya jaringan kecil menyerupai kembang kol di sekitar alat kelamin atau dubur. Penyebab utamanya adalah Human Papillomavirus (HPV). Meskipun seringkali tidak menimbulkan rasa sakit yang hebat, kutil kelamin bisa memicu rasa gatal, iritasi, hingga perdarahan ringan saat berhubungan seksual. Penting untuk diingat bahwa beberapa jenis HPV memiliki kaitan erat dengan risiko kanker serviks pada wanita.

6. HIV dan AIDS

HIV menyerang sistem pertahanan tubuh, membuat penderitanya rentan terhadap berbagai infeksi oportunistik. Gejala awalnya sering menyerupai flu biasa, seperti demam dan kelelahan. Namun, tanpa pengobatan antiretroviral (ARV), infeksi ini akan berkembang menjadi AIDS, di mana sistem imun sudah tidak mampu lagi melindungi tubuh. Deteksi dini melalui tes kesehatan rutin adalah satu-satunya cara untuk memastikan status HIV seseorang.

Baca Juga Bahaya Tersembunyi Tren WFA: Mengapa Saraf Kejepit Menjadi Ancaman Nyata bagi Pekerja Modern?
Bahaya Tersembunyi Tren WFA: Mengapa Saraf Kejepit Menjadi Ancaman Nyata bagi Pekerja Modern?

Langkah Diagnosis dan Tindakan Medis

Jika Anda merasakan adanya ketidaknyamanan atau memiliki riwayat perilaku seksual berisiko, segera hubungi tenaga medis profesional. Diagnosa tidak bisa dilakukan hanya dengan melihat gejala luar saja. Tenaga kesehatan biasanya akan melakukan serangkaian tes laboratorium yang akurat, antara lain:

  • Tes Darah: Digunakan untuk mendeteksi antibodi terhadap virus HIV atau bakteri penyebab sifilis.
  • Sampel Urine: Efektif untuk mengidentifikasi keberadaan bakteri penyebab gonore dan klamidia.
  • Swab Cairan: Pengambilan sampel cairan dari luka terbuka atau keputihan untuk diperiksa di bawah mikroskop guna memastikan jenis patogen yang menyerang.

Pesan utama yang ingin disampaikan oleh para pakar kesehatan adalah jangan pernah melakukan diagnosis mandiri atau membeli obat tanpa resep dokter. Penggunaan antibiotik yang tidak tepat justru dapat memicu resistensi bakteri yang berbahaya. Kesehatan reproduksi adalah aset berharga; lindungi diri Anda dengan perilaku seksual yang bertanggung jawab dan jangan ragu untuk melakukan pemeriksaan secara berkala di fasilitas kesehatan terdekat.

Kesadaran akan pentingnya kesehatan reproduksi harus dimulai dari diri sendiri. Dengan mengenali tanda-tanda awal dan berani mencari pertolongan medis, kita dapat memutus rantai penularan IMS dan menciptakan masyarakat yang lebih sehat dan sejahtera. Ingat, mencegah selalu lebih baik daripada mengobati.

Baca Juga Mengapa Perut Mulas Menjelang Race? Mengenal Pre-Race Anxiety dan Fenomena Runner’s Trot pada Pelari
Mengapa Perut Mulas Menjelang Race? Mengenal Pre-Race Anxiety dan Fenomena Runner’s Trot pada Pelari
dr. Sarah Amelia

dr. Sarah Amelia

Praktisi kesehatan yang aktif mengedukasi gaya hidup sehat. Menyediakan informasi medis yang mudah dipahami dan akurat hanya di Suara Sehat.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *