Membongkar Risiko Kresek Hitam untuk Wadah Daging Kurban: Perspektif Ahli Onkologi dan Keamanan Pangan

dr. Sarah Amelia | SuaraInfo
25 Mei 2026, 07:25 WIB
Membongkar Risiko Kresek Hitam untuk Wadah Daging Kurban: Perspektif Ahli Onkologi dan Keamanan Pangan

SuaraInfo — Momentum hari raya Idul Adha selalu diwarnai dengan tradisi penyembelihan dan pembagian hewan kurban kepada masyarakat luas. Namun, di balik semangat berbagi tersebut, terselip sebuah kebiasaan lama yang kini mulai menjadi perhatian serius para pakar kesehatan: penggunaan kantong plastik kresek hitam sebagai wadah pembungkus daging. Meski tampak praktis dan ekonomis, penggunaan material ini memicu perdebatan panjang mengenai keamanan pangan dan potensi risiko kesehatan jangka panjang bagi konsumen.

Tradisi yang Terbentur Standarisasi Keamanan Pangan

Di berbagai pelosok daerah, pemandangan tumpukan daging kurban dalam balutan plastik kresek hitam masih jamak ditemui. Padahal, pemerintah melalui badan terkait telah lama menetapkan regulasi ketat mengenai standarisasi bungkus makanan atau yang sering disebut sebagai food grade. Beruntungnya, dalam beberapa tahun terakhir, kesadaran kolektif masyarakat mulai meningkat. Banyak panitia kurban yang kini beralih ke wadah yang lebih ramah lingkungan dan aman bagi kesehatan, seperti daun pisang, anyaman bambu atau besek, hingga kantong plastik bening yang memang diperuntukkan bagi makanan.

Baca Juga Terobosan Medis Bersejarah: Peneliti China Berhasil Mencangkok Ginjal dan Hati Babi ke Manusia Secara Bersamaan
Terobosan Medis Bersejarah: Peneliti China Berhasil Mencangkok Ginjal dan Hati Babi ke Manusia Secara Bersamaan

Lantas, muncul sebuah pertanyaan krusial: seberapa bahayakah jika daging kurban telanjur bersentuhan dengan plastik hitam? Apakah dampaknya instan atau merupakan ancaman yang mengintai di masa depan? Untuk menjawab kegelisahan ini, perspektif medis dari para ahli sangat diperlukan agar masyarakat tidak terjebak dalam kepanikan sekaligus tetap waspada terhadap keamanan pangan.

Penjelasan Ahli Onkologi: Durasi dan Interaksi Kimia

Spesialis penyakit dalam sekaligus konsultan hematologi-onkologi, Dr. dr. Andhika Rachman, SpPD-KHOM, memberikan pandangan yang cukup menyejukkan namun tetap dibarengi catatan penting. Dalam sebuah diskusi mendalam di sela-sela agenda The 6th Siloam Oncology Summit di Jakarta, ia menyatakan bahwa jika dalam kondisi darurat masyarakat terpaksa menggunakan plastik non-food grade, risikonya tidak serta merta menjadi fatal, asalkan durasi kontaknya sangat singkat.

“Penggunaan plastik tersebut biasanya hanya bersifat sementara, artinya tidak dalam jangka waktu yang lama atau berhari-hari. Risiko perpindahan senyawa kimia berbahaya akan meningkat signifikan ketika plastik tersebut terpapar panas atau digunakan untuk menyimpan makanan dalam waktu lama hingga terjadi proses pemuaian. Di situlah senyawa kimia akan mulai berinteraksi secara aktif dengan bahan makanan di dalamnya,” jelas dr. Andhika kepada tim SuaraInfo.

Baca Juga Mitos atau Fakta? Mengupas Klaim Viral Brokoli sebagai Senjata Antikanker 200 Persen
Mitos atau Fakta? Mengupas Klaim Viral Brokoli sebagai Senjata Antikanker 200 Persen

Ia menambahkan bahwa secara praktis, daging kurban yang diterima masyarakat biasanya langsung dipindahkan ke wadah lain atau segera diolah. Begitu sampai di rumah, masyarakat disarankan untuk segera mengeluarkan daging dari kresek hitam dan mencucinya jika perlu, atau langsung memasukkannya ke dalam wadah penyimpanan yang aman sebelum disimpan di lemari es. Dengan kontak yang hanya berlangsung beberapa jam, risiko kontaminasi zat karsinogenik dari plastik tersebut tergolong relatif kecil.

Bahaya Tersembunyi di Balik Proses Daur Ulang Plastik Hitam

Meskipun dr. Andhika menyebut risiko kontak singkat tergolong kecil, kita tidak boleh menutup mata terhadap asal-usul plastik kresek hitam itu sendiri. Profesor teknologi pangan dari Institut Pertanian Bogor (IPB), Prof. Dr. Ir. Purwiyatno Hariyadi, menekankan bahwa mayoritas kresek hitam di pasaran merupakan produk hasil daur ulang dari berbagai jenis limbah plastik.

“Masalah utama dari kresek hitam adalah kita tidak pernah tahu riwayat penggunaan plastik tersebut sebelum didaur ulang. Ada kemungkinan plastik itu berasal dari wadah bekas pestisida, limbah rumah sakit, atau kontainer logam berat yang berbahaya. Selama proses daur ulang, seringkali ditambahkan bahan kimia tertentu untuk menyamarkan warna aslinya menjadi hitam pekat,” tutur Prof. Purwiyatno. Berikut adalah beberapa alasan mengapa kresek hitam dianggap berbahaya:

Baca Juga Ikan Gabus: Superfood Lokal Penakluk Protein Tinggi, Pakar UGM Beberkan Rahasia di Balik Khasiatnya
Ikan Gabus: Superfood Lokal Penakluk Protein Tinggi, Pakar UGM Beberkan Rahasia di Balik Khasiatnya
  • Kandungan Polivinil Klorida (PVC): Material ini secara internasional telah diidentifikasi sebagai zat yang berpotensi merusak kesehatan jika masuk ke dalam sistem tubuh manusia.
  • Peluluhan Senyawa (Leaching): Zat pewarna dan bahan kimia tambahan pada plastik daur ulang dapat ‘melucuti’ diri dan bermigrasi ke dalam daging, terutama jika daging tersebut dalam kondisi lembap atau berlemak.
  • Kontaminasi Logam Berat: Proses daur ulang yang tidak terstandarisasi seringkali meninggalkan residu timbal atau merkuri yang dapat terakumulasi dalam tubuh.

Lebih dari Sekadar Plastik: Pola Makan dan Cara Mengolah Daging

Menariknya, dr. Andhika Rachman juga mengingatkan bahwa fokus kesehatan tidak boleh hanya berhenti pada masalah pembungkus plastik. Ada faktor risiko lain yang jauh lebih besar dalam memicu bahaya kanker daripada sekadar kontak singkat dengan plastik. Hal tersebut berkaitan erat dengan cara pengolahan dan frekuensi konsumsi daging itu sendiri.

“Daging merah pada dasarnya bukan penyebab kanker secara langsung. Namun, teknik pengolahan yang salah adalah pemicu utamanya. Misalnya, membakar daging hingga gosong atau menghitam. Bagian yang gosong itu mengandung senyawa karbon yang bersifat karsinogenik,” terangnya. Selain itu, kebiasaan mengonsumsi daging merah dalam jumlah berlebihan—misalnya lebih dari satu kilogram per minggu—juga menjadi catatan medis yang serius.

Baca Juga Ironi Sang Pemburu Keabadian: Bryan Johnson Didiagnosis Autoimun Saat Berjuang Hidup Selamanya
Ironi Sang Pemburu Keabadian: Bryan Johnson Didiagnosis Autoimun Saat Berjuang Hidup Selamanya

Dokter Andhika juga menyoroti bahaya dari konsumsi makanan olahan atau preserved food seperti nugget, sosis, atau kornet kalengan yang mengandung bahan pengawet tinggi. “Semakin lama makanan tersebut disimpan dengan zat kimia tambahan di dalamnya, semakin besar potensinya untuk bersenyawa menjadi zat pemicu kanker di dalam tubuh manusia,” tegasnya. Oleh karena itu, menjaga keseimbangan nutrisi dan teknik memasak yang sehat menjadi kunci utama dalam merayakan Idul Adha yang berkualitas.

Langkah Cerdas Menuju Kurban Sehat

Sebagai upaya mitigasi risiko, SuaraInfo merangkum beberapa langkah praktis yang bisa dilakukan oleh panitia kurban maupun masyarakat penerima daging:

  1. Gunakan Wadah Alami: Besek bambu yang dialasi daun pisang adalah pilihan terbaik karena memiliki sirkulasi udara yang baik dan bebas bahan kimia sintetis.
  2. Pilih Plastik Bening: Jika harus menggunakan plastik, pilihlah plastik jenis PE (Polyethylene) atau plastik bening yang berlabel food grade.
  3. Segera Pindahkan: Begitu menerima daging dalam kresek hitam, segera pindahkan ke wadah plastik polypropylene (kode angka 5) atau wadah kaca sesampainya di rumah.
  4. Hindari Suhu Ekstrem: Jangan pernah meletakkan daging panas atau yang baru saja direbus ke dalam kantong plastik hitam karena akan mempercepat proses migrasi zat kimia.
  5. Perhatikan Porsi: Konsumsi daging secukupnya dan imbangi dengan asupan serat dari sayur-sayuran untuk membantu sistem pencernaan.

Dengan pemahaman yang komprehensif mengenai risiko dan cara penanganannya, diharapkan perayaan Idul Adha tidak hanya menjadi momen religius yang berkesan, tetapi juga menjadi titik balik bagi masyarakat untuk lebih peduli terhadap kesehatan dan lingkungan. Kesadaran untuk meninggalkan penggunaan kresek hitam adalah langkah kecil yang berdampak besar bagi kesehatan generasi mendatang.

Baca Juga Jabodetabek Membara: Menilik Fenomena Suhu Ekstrem dan Panduan Kemenkes Menghadapi Ancaman Heatstroke
Jabodetabek Membara: Menilik Fenomena Suhu Ekstrem dan Panduan Kemenkes Menghadapi Ancaman Heatstroke
dr. Sarah Amelia

dr. Sarah Amelia

Praktisi kesehatan yang aktif mengedukasi gaya hidup sehat. Menyediakan informasi medis yang mudah dipahami dan akurat hanya di Suara Sehat.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *