Waspada Jebakan Batman Klaim Less Sugar: Mengapa Nutri Level Menjadi Solusi Paling Faktual Bagi Konsumen

dr. Sarah Amelia | SuaraInfo
05 Jun 2026, 19:25 WIB
Waspada Jebakan Batman Klaim Less Sugar: Mengapa Nutri Level Menjadi Solusi Paling Faktual Bagi Konsumen

SuaraInfo — Di tengah tren gaya hidup sehat yang kian menggeliat, rak-rak supermarket kini dipenuhi dengan produk yang memamerkan label atraktif. Salah satu yang paling populer adalah klaim “less sugar” atau rendah gula. Namun, di balik janji manis kesehatan tersebut, tersimpan sebuah ambiguitas yang justru bisa membahayakan konsumen. Badan Perlindungan Konsumen Nasional (BPKN) secara blak-blakan menyebut fenomena ini sebagai “jebakan batman” yang sering kali mengelabui mata masyarakat awam.

Ilusi Sehat di Balik Label ‘Less Sugar’

Pernahkah Anda merasa aman mengonsumsi sebuah minuman kemasan hanya karena ada tulisan “less sugar” di botolnya? Jika iya, Anda tidak sendirian. Strategi pemasaran ini memang dirancang untuk memberikan rasa aman palsu. Ketua BPKN, Mufti Mubarok, mengungkapkan keprihatinannya terhadap distorsi informasi yang terjadi di pasar. Menurutnya, istilah tersebut sangat relatif dan tidak memberikan standar angka yang pasti bagi pembeli.

Dalam sebuah diskusi mendalam bertajuk ‘Jebakan Hidden Sugar’, Mufti menegaskan bahwa istilah-istilah seperti itu sering kali seperti hantu; ada namun tidak ada, terasa nyata namun tidak memberikan kejelasan substansial. Banyak produsen yang mungkin memang mengurangi persentase gula, namun mereka menggantinya dengan zat lain seperti pengawet atau pemanis buatan yang tidak kalah berisikonya jika dikonsumsi secara berlebihan. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk selalu mencari informasi kesehatan masyarakat yang lebih mendalam sebelum memutuskan untuk membeli.

Baca Juga Viral Kisah Siti Zahro: Benarkah Hobi Makan Seblak Bisa Memicu Kista Ovarium? Simak Penjelasan Medisnya
Viral Kisah Siti Zahro: Benarkah Hobi Makan Seblak Bisa Memicu Kista Ovarium? Simak Penjelasan Medisnya

Nutri Level: Standarisasi Baru Menuju Transparansi

Menyadari celah informasi tersebut, pemerintah melalui Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) bersama Kementerian Kesehatan telah mensinkronisasikan sebuah sistem pelabelan baru yang disebut Nutri Level. Sistem ini diyakini jauh lebih faktual dan jujur dalam memotret kandungan GGL (Gula, Garam, Lemak) dalam sebuah produk pangan olahan. Nutri Level bukan sekadar hiasan, melainkan kompas navigasi bagi konsumen yang ingin menjaga nutrisi harian mereka.

Kepala BPOM, Taruna Ikrar, menjelaskan bahwa Nutri Level menggunakan gradasi warna dan abjad (A, B, C, dan D) untuk mempermudah identifikasi:

  • Label Hijau (A): Menandakan produk tersebut sangat sehat dengan kandungan gula yang sangat rendah atau minimal.
  • Label Hijau Muda (B): Masih dalam kategori sehat dan aman dikonsumsi secara rutin.
  • Label Kuning (C): Konsumen mulai harus waspada dan membatasi frekuensi konsumsinya.
  • Label Merah (D): Menandakan kandungan gula atau lemak yang sangat tinggi, yang jika dikonsumsi terus-menerus dapat memicu masalah kesehatan serius.

Sistem ini dirancang agar mata konsumen bisa langsung menangkap risiko tanpa harus membaca tabel informasi nilai gizi yang sering kali ditulis dengan huruf yang sangat kecil dan membingungkan. Dengan adanya label pangan yang jelas, masyarakat tidak lagi terjebak dalam permainan kata-kata marketing yang manipulatif.

Baca Juga Mengenal Hydration Break di Piala Dunia 2026: Sejarah, Regulasi, dan Perdebatan di Balik Jeda Minum
Mengenal Hydration Break di Piala Dunia 2026: Sejarah, Regulasi, dan Perdebatan di Balik Jeda Minum

Mengapa Klaim Produsen Sering Kali Menyesatkan?

Kritik pedas yang dilontarkan BPKN mengenai klaim “less sugar” didasarkan pada fakta lapangan di mana konsumen sering kali kehilangan daya kritisnya saat melihat kata-kata yang menjanjikan kesehatan. Mufti Mubarok menjelaskan bahwa pengurangan gula beberapa persen saja sudah membuat produsen berani memasang label tersebut, padahal secara total, jumlah gulanya mungkin masih jauh di atas ambang batas harian yang direkomendasikan.

Lebih jauh lagi, ada kekhawatiran mengenai “hidden sugar” atau gula tersembunyi yang menyelinap dalam berbagai nama teknis. Produk yang diklaim rendah gula bisa saja mengandung zat tambahan lain untuk menjaga rasa tetap enak, yang pada akhirnya tetap berdampak pada lonjakan indeks glikemik dalam tubuh. Inilah yang disebut Mufti sebagai strategi yang merugikan hak konsumen atas informasi yang benar, jelas, dan jujur.

Langkah Preventif: Lebih Dari Sekadar Membaca Label

Meskipun Nutri Level memberikan kemudahan, BPOM tetap mengingatkan masyarakat untuk tetap waspada terhadap peredaran produk ilegal atau palsu yang mungkin mencatut label kesehatan. Taruna Ikrar menekankan pentingnya strategi “Cek KLIK” yang harus menjadi kebiasaan setiap individu sebelum melakukan transaksi pembelian produk olahan.

Baca Juga Rahasia Dapur Bintang Dunia: Mengintip Diet Ekstrem Cristiano Ronaldo hingga Menu ‘Viking’ Erling Haaland
Rahasia Dapur Bintang Dunia: Mengintip Diet Ekstrem Cristiano Ronaldo hingga Menu ‘Viking’ Erling Haaland
  1. Kemasan: Pastikan dalam kondisi baik, tidak penyok, atau bocor.
  2. Label: Baca informasi dengan teliti, jangan hanya terpaku pada klaim di bagian depan.
  3. Izin Edar: Pastikan produk memiliki nomor registrasi resmi dari BPOM.
  4. Kedaluwarsa: Jangan sampai mengonsumsi produk yang sudah melewati masa aman pakainya.

Langkah-langkah ini sangat krusial karena label warna-warni Nutri Level hanya akan efektif jika produk tersebut memang terjamin keasliannya dan telah melewati uji klinis yang ketat oleh pihak berwenang.

Menuju Masa Depan Konsumsi yang Lebih Cerdas

Kesadaran kolektif tentang bahaya gula yang berlebihan merupakan kunci utama dalam memerangi penyakit tidak menular seperti diabetes dan obesitas. Kehadiran Nutri Level diharapkan menjadi standar industri yang memaksa produsen untuk lebih jujur dalam memformulasi produk mereka. Jika sebuah produk mendapatkan label D (merah), maka produsen akan terdorong untuk memperbaiki resep mereka agar mendapatkan label yang lebih baik demi menjaga minat pasar.

Dukungan dari lembaga seperti BPOM dan BPKN menunjukkan bahwa ada komitmen kuat untuk melindungi hak-hak konsumen di Indonesia. Namun, pada akhirnya, kendali utama ada di tangan kita masing-masing. Menjadi konsumen cerdas berarti berani meragukan klaim instan dan lebih memercayai data faktual yang telah terverifikasi secara saintifik.

Baca Juga Mengapa Tubuh Tiba-tiba Ingin Makanan Manis? Mengungkap Rahasia di Balik Sugar Craving dan Solusinya
Mengapa Tubuh Tiba-tiba Ingin Makanan Manis? Mengungkap Rahasia di Balik Sugar Craving dan Solusinya

Kesimpulan

Jangan biarkan diri Anda terbuai oleh istilah-istilah pemasaran yang manis namun berisiko pahit bagi kesehatan. Klaim “less sugar” mungkin terdengar menolong, namun Nutri Level dengan gradasi warnanya adalah panduan yang lebih jujur dan transparan. Dengan beralih ke cara pandang yang lebih kritis terhadap perlindungan konsumen, kita tidak hanya menjaga kesehatan diri sendiri, tetapi juga mendorong terciptanya ekosistem perdagangan yang lebih beretika di Indonesia.

Mari mulai hari ini dengan lebih teliti melihat warna pada label produk yang kita beli. Ingat, pilihan yang Anda buat di rak supermarket akan menentukan kualitas kesehatan Anda di masa depan. Tetaplah bersama SuaraInfo untuk mendapatkan informasi terkini dan terpercaya mengenai gaya hidup dan kebijakan publik yang berdampak langsung pada kehidupan Anda.

dr. Sarah Amelia

dr. Sarah Amelia

Praktisi kesehatan yang aktif mengedukasi gaya hidup sehat. Menyediakan informasi medis yang mudah dipahami dan akurat hanya di Suara Sehat.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *