Mengupas Tuntas Kehalalan dan Keamanan Nata de Coco: Benarkah Mengandung Bahan Berbahaya?

dr. Sarah Amelia | SuaraInfo
06 Jun 2026, 07:26 WIB
Mengupas Tuntas Kehalalan dan Keamanan Nata de Coco: Benarkah Mengandung Bahan Berbahaya?

SuaraInfo — Di tengah teriknya cuaca tropis Indonesia, segelas minuman dingin dengan campuran nata de coco seringkali menjadi primadona. Teksturnya yang kenyal, warnanya yang putih bersih transparan, serta sensasi manis yang meledak di mulut menjadikannya bahan pelengkap favorit untuk berbagai jenis hidangan pencuci mulut. Namun, di balik popularitasnya yang tak terbantahkan, seringkali muncul desas-desus yang meresahkan masyarakat terkait proses pembuatannya. Benarkah nata de coco mengandung bahan yang tidak halal? Atau benarkah ada campuran zat kimia berbahaya di dalamnya? SuaraInfo merangkum penjelasan mendalam dari para ahli untuk menjawab keresahan tersebut.

Mengenal Lebih Dekat Nata de Coco: Bukan Sekadar Sari Kelapa

Nata de coco sebenarnya adalah hasil mukjizat bioteknologi sederhana. Secara harfiah, nama ini berasal dari bahasa Spanyol yang berarti “krim kelapa”. Produk ini merupakan hasil fermentasi air kelapa dengan bantuan bakteri baik bernama Acetobacter xylinum. Bakteri ini memiliki kemampuan unik untuk mengubah komponen gula dalam air kelapa menjadi serat selulosa yang padat dan kenyal.

Baca Juga Misteri Penyusutan Kromosom Y: Mengapa Pria Berisiko Kehilangan Jati Diri Genetik dan Dampaknya Bagi Kesehatan
Misteri Penyusutan Kromosom Y: Mengapa Pria Berisiko Kehilangan Jati Diri Genetik dan Dampaknya Bagi Kesehatan

Meskipun varian yang paling populer berbahan dasar air kelapa, inovasi dalam dunia pangan telah memungkinkan pembuatan nata dari bahan lain. Beberapa produsen kini menggunakan santan, tetes tebu, hingga berbagai sari buah seperti nanas, melon, jeruk, stroberi, hingga jambu biji. Hal ini menunjukkan betapa fleksibelnya bakteri Acetobacter xylinum dalam mengolah sumber karbon menjadi struktur pangan yang bernilai tinggi.

Isu Penggunaan Urea: Antara Mitos dan Fakta Ilmiah

Salah satu isu yang paling sering memicu kegaduhan adalah penggunaan urea atau pupuk ZA dalam proses produksi nata de coco. Banyak konsumen merasa ngeri membayangkan bahan yang biasanya digunakan di lahan pertanian masuk ke dalam sistem pencernaan mereka. Namun, Guru Besar IPB di bidang Agroindustri dan Bioindustri, Prof. Dr. Ir. Khaswar Syamsu, MSc, memberikan sudut pandang ilmiah yang menenangkan.

Beliau menjelaskan bahwa dalam proses produksi pangan berbasis fermentasi, bakteri membutuhkan nutrisi untuk tumbuh dan bekerja. Jika air kelapa menyediakan sumber karbon (gula), maka bakteri membutuhkan sumber nitrogen untuk membangun struktur selnya. Di sinilah peran urea atau amonium sulfat muncul sebagai sumber nitrogen.

Baca Juga Bahaya Tersembunyi di Balik Lezatnya Kue Putu: Mengapa Cetakan Pipa PVC Bisa Memicu Kanker?
Bahaya Tersembunyi di Balik Lezatnya Kue Putu: Mengapa Cetakan Pipa PVC Bisa Memicu Kanker?

“Penggunaan sumber nitrogen dalam fermentasi adalah hal yang lazim secara teknis bioproses. Bakteri memanfaatkan nitrogen tersebut untuk membentuk jalinan serat selulosa yang kita kenal sebagai nata,” ungkap Prof. Khaswar. Kuncinya bukan pada keberadaan bahan tersebut di awal proses, melainkan pada bagaimana hasil akhirnya diproses sebelum sampai ke tangan konsumen.

Proses Pembersihan: Kunci Keamanan Konsumsi

Penting bagi masyarakat untuk memahami bahwa nata de coco yang kita makan bukanlah gumpalan urea. Melalui proses produksi yang standar, nata de coco yang telah terbentuk harus melewati serangkaian tahap pembersihan yang sangat ketat. Tahapan ini meliputi:

  • Perebusan: Untuk menghentikan aktivitas bakteri dan melarutkan sisa-sisa bahan pembantu.
  • Perendaman: Dilakukan berulang kali untuk memastikan tidak ada zat sisa yang tertinggal dalam pori-pori selulosa.
  • Pencucian: Menggunakan air bersih mengalir hingga rasa asam dan aroma fermentasi benar-benar hilang.

Prof. Khaswar menegaskan bahwa jika proses pencucian dilakukan dengan sempurna, produk akhir yang tersisa hanyalah selulosa mikrobial murni yang aman bagi tubuh. Sebaliknya, jika Anda menemukan nata de coco yang berbau menyengat atau terasa sangat asam, itu bisa menjadi indikasi bahwa proses pasca-fermentasi tidak dilakukan secara maksimal oleh produsennya. Selalu pastikan Anda membeli produk yang memiliki izin edar resmi untuk menjamin keamanan pangan.

Baca Juga Benarkah Bawang dan Lemon Ampuh Luluhkan Kolesterol Usai Santap Daging? Simak Penjelasan Medis Berikut Ini
Benarkah Bawang dan Lemon Ampuh Luluhkan Kolesterol Usai Santap Daging? Simak Penjelasan Medis Berikut Ini

Menelisik Titik Kritis Kehalalan Menurut LPPOM MUI

Dari aspek religius, isu kehalalan nata de coco menjadi perhatian utama mengingat Indonesia adalah negara dengan penduduk Muslim terbesar. Auditor LPPOM MUI, Mulyorini R. Hilwan, menjelaskan bahwa meskipun bahan utamanya adalah air kelapa yang jelas halal, terdapat beberapa “titik kritis” yang harus diperhatikan dalam rantai produksinya.

Titik kritis pertama terletak pada sumber karbon, yaitu gula. Dalam industri gula skala besar, proses pemutihan atau pemurnian terkadang menggunakan karbon aktif. Masalah muncul jika karbon aktif tersebut berasal dari tulang hewan yang tidak jelas asal-usulnya atau tidak disembelih sesuai syariat. Selain itu, penggunaan enzim sebagai bahan penolong dalam pengolahan gula juga harus dipastikan kesuciannya.

Bagaimana dengan urea? Mulyorini menjelaskan bahwa urea yang digunakan sebagai sumber nitrogen biasanya berasal dari bahan kimia murni (sintetik). Dari perspektif hukum Islam, bahan kimia murni umumnya tidak memiliki masalah kehalalan selama tidak bersentuhan dengan bahan najis. Namun, MUI tetap menekankan pentingnya penggunaan bahan food grade yang memang diperuntukkan bagi konsumsi manusia, bukan bahan teknis untuk pertanian.

Baca Juga Kriminalisasi Dokter Anak: Mengurai Kontroversi Tuntutan 4,6 Tahun Penjara dr. Ratna Setia Asih
Kriminalisasi Dokter Anak: Mengurai Kontroversi Tuntutan 4,6 Tahun Penjara dr. Ratna Setia Asih

Manfaat Kesehatan di Balik Kekenyalan Nata de Coco

Selain rasanya yang menyegarkan, nata de coco juga menyimpan berbagai manfaat bagi kesehatan jika dikonsumsi dalam batas wajar. Sebagai serat selulosa, nata de coco sangat baik untuk membantu melancarkan sistem pencernaan. Serat ini tidak dapat diserap oleh tubuh, sehingga berfungsi sebagai sapu alami untuk membersihkan usus.

Beberapa kandungan nutrisi yang menyertainya antara lain:

  • Vitamin B1 dan B2: Penting untuk metabolisme energi tubuh.
  • Vitamin C: Membantu menjaga daya tahan tubuh terhadap serangan penyakit.
  • Kadar Air Tinggi: Sangat efektif untuk membantu hidrasi tubuh, terutama saat cuaca panas.

Namun, perlu diingat bahwa nata de coco sering disajikan dalam sirup gula yang pekat. Oleh karena itu, bagi Anda yang sedang memantau asupan kalori atau penderita diabetes, disarankan untuk membilas nata de coco sebelum dikonsumsi atau memilih produk dengan kadar gula rendah.

Tips Memilih Nata de Coco yang Berkualitas dan Halal

Agar tetap tenang dalam menikmati hidangan favorit ini, ada beberapa langkah sederhana yang bisa dilakukan oleh konsumen cerdas:

Baca Juga Waspada! SuaraInfo Mengungkap Daftar 22 Produk Herbal Ilegal Temuan BPOM yang Mengancam Fungsi Ginjal dan Picu Kanker
Waspada! SuaraInfo Mengungkap Daftar 22 Produk Herbal Ilegal Temuan BPOM yang Mengancam Fungsi Ginjal dan Picu Kanker
  1. Cek Label Halal: Pastikan terdapat logo halal resmi dari BPJPH/MUI pada kemasan produk.
  2. Perhatikan Izin BPOM: Produk yang telah melewati uji BPOM dipastikan memenuhi standar keamanan pangan nasional.
  3. Cek Fisik Produk: Pilih nata yang berwarna putih bersih, tidak berlendir, dan tidak memiliki aroma asam yang tajam.
  4. Baca Komposisi: Hindari produk yang menggunakan pemanis buatan secara berlebihan jika Anda sensitif terhadap bahan tersebut.

Kesimpulannya, kegaduhan mengenai nata de coco yang dianggap berbahaya atau tidak halal sebenarnya bisa diredam dengan pemahaman sains dan regulasi yang tepat. Dengan proses produksi yang higienis, penggunaan bahan-bahan food grade, serta pengawasan ketat dari lembaga terkait seperti MUI dan BPOM, nata de coco tetap menjadi pilihan minuman segar yang aman dan layak untuk dinikmati oleh seluruh keluarga di Indonesia.

Mari menjadi konsumen yang bijak dengan selalu melakukan kroscek informasi dan tidak mudah terpengaruh oleh isu-isu yang belum terbukti kebenarannya secara ilmiah. Keamanan dan kehalalan pangan adalah hak setiap konsumen, dan melalui edukasi yang tepat, kita dapat menikmati kuliner nusantara dengan rasa tenang.

dr. Sarah Amelia

dr. Sarah Amelia

Praktisi kesehatan yang aktif mengedukasi gaya hidup sehat. Menyediakan informasi medis yang mudah dipahami dan akurat hanya di Suara Sehat.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *