Alarm Keras dari Kampus Biru: Mengupas Bobroknya Tata Kelola Makan Bergizi Gratis Pasca Skandal BGN
SuaraInfo — Dunia kebijakan publik tanah air baru-baru ini diguncang oleh kabar miring yang menerpa salah satu program mercusuar pemerintah. Kasus dugaan korupsi yang menyeret mantan pimpinan Badan Gizi Nasional (BGN), atau yang populer dikenal sebagai Dadan Cs, bukan sekadar berita kriminal biasa. Bagi banyak pihak, ini adalah manifestasi dari lubang besar dalam sistem manajemen yang selama ini tertutup rapat oleh narasi keberhasilan politik.
Di tengah hiruk-pikuk pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang mulai merambah berbagai pelosok negeri, munculnya perkara hukum ini menjadi tamparan keras. Publik tidak hanya disuguhi berita tentang manfaat gizi bagi anak sekolah, tetapi juga kabar tentang keracunan makanan di beberapa titik, hingga kini, kontroversi pengelolaan anggaran yang tercium busuk. Fenomena ini memicu kritik tajam dari akademisi, salah satunya datang dari jantung Universitas Gadjah Mada (UGM).
Sentralisasi yang Mematikan Inovasi dan Akuntabilitas
Guru Besar Manajemen dan Kebijakan Publik Fisipol UGM, Prof. Dr. Phil Gabriel Lele, SIP, MSi, memberikan analisis mendalam yang cukup menohok. Menurutnya, sengkarut yang terjadi di tubuh BGN tidaklah muncul dari ruang hampa. Masalah ini merupakan akumulasi dari kelemahan fundamental dalam tata kelola yang sudah terlihat sejak awal program ini dirancang.
Gabriel menyoroti bahwa MBG dibangun dengan pondasi yang sangat sentralistis dan tertutup. Pola ini, menurutnya, jamak terjadi pada program-program yang dianggap sebagai prioritas utama presiden. “Kalau sebuah program dianggap prioritas oleh presiden, karakter dasarnya adalah tertutup dan sentralistis. Hanya sedikit orang yang terlibat dan bertanggung jawab langsung kepada presiden,” ungkapnya sebagaimana dikutip dari kanal resmi UGM.
Masalahnya, model kebijakan yang dirancang di Jakarta dan dipaksakan untuk seragam di seluruh nusantara seringkali abai terhadap realita di lapangan. Indonesia adalah negara kepulauan dengan disparitas infrastruktur dan kapasitas birokrasi yang sangat lebar. Memaksakan satu standar yang sama tanpa melibatkan pemerintah daerah secara aktif hanya akan menciptakan residu masalah yang berujung pada kegagalan operasional atau, lebih buruk lagi, penyelewengan dana.
Risiko Kebijakan ‘One Size Fits All’ di Tanah Air
Gabriel menjelaskan lebih lanjut bahwa kurangnya sensitivitas terhadap konteks lokal merupakan risiko terbesar dari kebijakan yang terlalu top-down. Tingkat kesiapan setiap daerah dalam menyediakan bahan pangan berkualitas, logistik distribusi, hingga pengawasan dapur umum sangatlah beragam. Program MBG yang ambisius ini membutuhkan tangan-tangan lokal yang memahami karakteristik wilayahnya masing-masing.
“Kalau pola kebijakan seperti MBG yang dirumuskan di nasional dan diterapkan secara seragam di seluruh Indonesia, risikonya adalah kurangnya sensitivitas terhadap konteks lokal. Tingkat kesiapan dan tingkat penerimaannya berbeda-beda,” tuturnya. Tanpa desentralisasi wewenang yang proporsional, pusat akan selalu mengalami kelelahan dalam melakukan kontrol, sementara daerah hanya menjadi penonton yang menjalankan perintah tanpa rasa memiliki.
Lubang Menganga pada Sistem Pengawasan Proaktif
Aspek lain yang menjadi perhatian serius adalah mekanisme pengawasan anggaran. Dengan kucuran dana yang fantastis untuk menjangkau jutaan anak sekolah, MBG seharusnya dipagari oleh sistem akuntabilitas yang berlapis. Namun, yang terjadi justru sebaliknya. Lembaga pengawas seperti Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) dan Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) dinilai masih terjebak dalam pola kerja yang reaktif.
Gabriel menilai bahwa pengawasan baru benar-benar bekerja setelah masalah muncul atau setelah uang negara menguap. Padahal, pencegahan sejak dini adalah kunci dalam mengelola program strategis nasional. “Godaan untuk mengambil sesuatu itu pasti ada, terutama dengan anggaran sebesar itu. Hal tersebut hanya bisa diminimalisir dengan menginstalasi sistem kontrol dan akuntabilitas yang memadai sejak tahap perencanaan, bukan hanya di akhir tahun anggaran,” jelas Gabriel dengan nada tegas.
Kekecewaan publik semakin bertambah ketika suara-suara kritis mengenai kualitas makanan dan efisiensi anggaran seolah masuk ke telinga tuli. Kontrol publik yang merupakan pilar demokrasi dalam kebijakan sosial terasa mati suri. Respons pemerintah terhadap kasus keracunan makanan di lapangan pun dinilai cenderung defensif, bukan solutif.
Gagasan Radikal: Menekan Tombol Jeda demi Evaluasi Total
Langkah tegas pemerintah dalam memproses hukum pimpinan BGN memang patut diapresiasi, namun Gabriel mengingatkan bahwa memotong ‘ujung dahan yang busuk’ tidak akan menyembuhkan ‘akar yang sakit’. Penangkapan individu hanyalah awal. Yang jauh lebih penting adalah melakukan restorasi total terhadap sistem yang memungkinkan korupsi itu terjadi.
“Kita mengapresiasi langkah pencopotan dan penangkapan tersebut. Harapannya tidak berhenti di situ, tetapi ini menjadi momentum untuk benar-benar membereskan masalah tata kelola yang luar biasa bobrok terkait proses perencanaan dan pelaksanaan program MBG,” tambahnya. Ia mendesak adanya evaluasi komprehensif yang menyentuh desain kelembagaan, mulai dari bagaimana anggaran dikelola hingga bagaimana pertanggungjawaban disampaikan ke publik.
Bahkan, Gabriel melontarkan usulan yang cukup radikal: menghentikan sementara program MBG selama satu hingga dua bulan. Waktu ‘jeda’ ini bukan berarti membatalkan program, melainkan memberi ruang bagi para ahli independen untuk bekerja melakukan audit menyeluruh. Ia menekankan bahwa evaluasi ini tidak boleh hanya dilakukan oleh birokrat atau tim sukses yang memiliki kepentingan politik, melainkan harus melibatkan ahli gizi murni, pakar tata kelola keuangan, dan ahli kebijakan publik yang netral.
Masa Depan Gizi Nasional di Persimpangan Jalan
Program Makan Bergizi Gratis sejatinya memiliki misi mulia untuk menciptakan generasi emas Indonesia. Namun, misi mulia ini terancam kandas jika tetap dikelola dengan cara-cara lama yang penuh kerahasiaan dan minim pengawasan. Kasus Dadan Cs haruslah menjadi pelajaran pahit yang membawa perubahan manis di masa depan.
Jika pemerintah bersikeras melanjutkan program tanpa perbaikan sistemik, maka MBG hanya akan menjadi beban sejarah yang diwarnai oleh skandal korupsi dan ketidakefektifan. Sebaliknya, jika saran dari para akademisi seperti Gabriel Lele didengar, Indonesia berpeluang memiliki program jaminan sosial yang kuat, transparan, dan benar-benar bermanfaat bagi anak-anak bangsa.
Kini, bola panas ada di tangan pembuat kebijakan. Apakah mereka akan terus melaju dengan sistem yang rentan, atau berani berhenti sejenak untuk membenahi pondasi demi masa depan yang lebih bersih dan bergizi? Publik menanti jawaban nyata, bukan sekadar janji-janji di atas kertas laporan tahunan.