Fenomena ‘Don’t Trust a Fart’: Mengapa Lari Bikin Sering Kentut? Simak Penjelasan Medis Lengkapnya

dr. Sarah Amelia | SuaraInfo
30 Mei 2026, 15:27 WIB
Fenomena 'Don't Trust a Fart': Mengapa Lari Bikin Sering Kentut? Simak Penjelasan Medis Lengkapnya

SuaraInfo — Bagi para pegiat olahraga lari, ada sebuah pepatah tidak tertulis yang sering didengar di garis start maraton: “Don’t trust a fart.” Ungkapan ini bukan sekadar lelucon semata, melainkan sebuah peringatan serius bagi para runner agar tidak sembarangan melepaskan gas saat sedang berlomba. Kekhawatiran akan adanya ‘bonus’ yang ikut keluar bersama angin seringkali menjadi momok menakutkan yang bisa merusak momen perlombaan yang sudah dipersiapkan berbulan-bulan.

Kondisi perut kembung, mulas, hingga frekuensi buang gas yang meningkat drastis saat berlari memang menjadi fenomena umum. Namun, pernahkah Anda bertanya-tanya mengapa tubuh seolah-olah menjadi pabrik gas mendadak saat kaki mulai melangkah di aspal? Fenomena ini bukan hanya soal apa yang kita makan, tetapi melibatkan mekanisme biologis yang kompleks di dalam sistem pencernaan kita.

Mekanisme Peristaltik: Guncangan yang Memicu Reaksi Usus

Menurut penjelasan dari Guru Besar Ilmu Penyakit Dalam Konsultan Gastroenterologi-Hepatologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Prof. Dr. dr. Ari Fahrial Syam, SpPD-KGEH, rasa ingin kentut yang muncul saat lari adalah hal yang sangat wajar secara medis. Salah satu faktor utamanya adalah peningkatan gerakan peristaltik usus.

Baca Juga Menelusuri Jejak Hantavirus di Indonesia: Ancaman Senyap di Balik Bayang-Bayang Hewan Pengerat
Menelusuri Jejak Hantavirus di Indonesia: Ancaman Senyap di Balik Bayang-Bayang Hewan Pengerat

Peristaltik merupakan gerakan kontraksi dan relaksasi otot usus secara bergelombang yang terjadi secara otomatis untuk mendorong isi saluran cerna. Saat seseorang berlari, tubuh mengalami guncangan konstan. Guncangan mekanis inilah yang membuat usus menjadi jauh lebih sensitif dibandingkan saat tubuh dalam keadaan diam atau duduk manis di depan meja kerja.

“Kita tahu juga saat berlari itu memberikan guncangan pada usus, kemudian usus jadi lebih sensitif,” ungkap Prof. Ari. Guncangan ini secara fisik ‘mengocok’ isi perut, yang kemudian merangsang gas-gas yang terperangkap di dalam lipatan usus untuk bergerak turun menuju rektum, memicu keinginan untuk segera membuangnya.

Peran Hormon Adrenalin dan Stres Saat Race

Selain faktor mekanis berupa guncangan, faktor hormonal juga memegang peranan krusial. Ketika seorang pelari berada di tengah perlombaan atau sesi latihan yang intens, tubuh melepaskan hormon adrenalin dalam jumlah besar. Hormon adrenalin ini tidak hanya memberikan energi tambahan, tetapi juga berdampak langsung pada sistem saraf otonom yang mengontrol pencernaan.

Baca Juga BGN Tegaskan Balita di Cianjur Meninggal Bukan Karena Program Makan Bergizi Gratis: Inilah Fakta Sebenarnya
BGN Tegaskan Balita di Cianjur Meninggal Bukan Karena Program Makan Bergizi Gratis: Inilah Fakta Sebenarnya

Peningkatan hormon stres ini ternyata memicu percepatan motilitas usus. Dengan kata lain, adrenalin memberikan sinyal kepada usus untuk bekerja lebih cepat. Hal inilah yang menjelaskan mengapa banyak pelari merasa perutnya ‘bergejolak’ sesaat sebelum pistol start ditembakkan atau saat sedang berusaha mencapai Personal Best (PB) mereka. Kombinasi antara stres kompetisi dan aktivitas fisik berat menciptakan lingkungan yang sempurna bagi meningkatnya aktivitas pembuangan gas.

Aerofagia: Menelan Udara Tanpa Disadari

Penyebab lain yang sering diabaikan adalah kondisi yang disebut dengan aerofagia. Aerofagia terjadi ketika seseorang menelan udara secara berlebihan ke dalam mulut yang kemudian masuk ke saluran pencernaan. Saat berlari, terutama ketika intensitas meningkat, pelari cenderung bernapas dengan cepat dan seringkali melalui mulut (mouth breathing).

Proses pengambilan napas yang terengah-engah ini membuat banyak udara ikut tertelan ke dalam kerongkongan. “Jadi udara yang masuk dalam mulut ke usus, dan ini juga bisa menyebabkan kembung pada seseorang dan dia akan merangsang timbulnya kentut tadi,” jelas Prof. Ari. Udara yang terjebak ini tidak punya jalan keluar lain selain melalui sendawa atau, yang paling sering terjadi pada pelari, keluar melalui anus sebagai flatus atau kentut.

Baca Juga Rapor Kesehatan Donald Trump: Berat Badan Menanjak di Tengah Rahasia Jantung ‘Awet Muda’
Rapor Kesehatan Donald Trump: Berat Badan Menanjak di Tengah Rahasia Jantung ‘Awet Muda’

Mengenal Runner’s Trot: Mimpi Buruk Setiap Pelari

Peningkatan frekuensi kentut seringkali menjadi sinyal awal dari kondisi yang lebih merepotkan yang dikenal sebagai Runner’s Trot. Runner’s Trot adalah istilah medis untuk gangguan pencernaan yang dialami pelari saat atau segera setelah berolahraga, yang gejalanya meliputi kram perut, kembung, hingga diare mendadak.

Fenomena ini nyata adanya dan bisa menimpa siapa saja, mulai dari pelari pemula hingga atlet profesional. Bagi pelari dengan ‘pace kecil’ atau pelari lambat, durasi guncangan yang lebih lama di jalur lari terkadang membuat usus bekerja lebih reaktif. Namun, atlet elit pun tidak kebal terhadap masalah ini karena intensitas lari yang sangat tinggi dapat menyebabkan iskemia usus (berkurangnya aliran darah ke usus), yang juga memicu gangguan pencernaan.

Strategi Diet: Menghindari ‘Bom Gas’ Sebelum Lari

Meskipun reaksi tubuh ini bersifat alami, ada beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk meminimalkan risiko ‘drama perut’ saat sedang berlari. Salah satu kuncinya adalah menjaga pola makan, terutama 24 jam sebelum hari perlombaan atau latihan panjang.

Baca Juga Melawan Pembunuh Senyap Wanita: Strategi Ampuh Cegah Kanker Serviks dan Pentingnya Vaksinasi Dini
Melawan Pembunuh Senyap Wanita: Strategi Ampuh Cegah Kanker Serviks dan Pentingnya Vaksinasi Dini

Prof. Ari menyarankan agar para runner menghindari jenis makanan tertentu yang dikenal sebagai pemicu gas atau memiliki kandungan serat yang sulit dicerna dalam waktu singkat. Beberapa makanan yang perlu diwaspadai antara lain:

  • Sayuran Cruciferous: Kol, sawi, dan brokoli mengandung raffinose, sejenis gula kompleks yang sulit dipecah dan sering menyebabkan fermentasi gas di usus.
  • Minuman Berkarbonasi: Minuman bersoda mengandung gas karbon dioksida yang secara langsung menambah volume udara di dalam perut.
  • Makanan Terlalu Cepat: Makan dengan terburu-buru sebelum race meningkatkan risiko aerofagia karena lebih banyak udara yang ikut tertelan.
  • Pemanis Buatan: Sorbitol dan pemanis buatan lainnya seringkali sulit diserap dan memicu efek pencahar pada sebagian orang.

“Secara umum, bagi mereka yang ususnya tidak sensitif dan tidak mudah kembung, mungkin tidak masalah mengonsumsi hal tersebut. Namun bagi yang rentan, sebaiknya dihindari sebelum mengikuti lari,” tambah Prof. Ari.

Tips Praktis Menjaga Kenyamanan Perut Saat Maraton

Selain memperhatikan jenis makanan, waktu konsumsi juga sangat penting. Hindari makan besar setidaknya 2 hingga 3 jam sebelum berlari untuk memberikan waktu bagi lambung melakukan proses pengosongan. Pastikan juga hidrasi Anda terjaga dengan baik, namun hindari minum dalam tegukan yang terlalu besar dan cepat untuk mencegah udara masuk berlebihan.

Baca Juga Bukan Sekadar Viral, Inilah Alasan Mengapa Ubi Cream Cheese Butuh ‘Sentuhan’ Protein Tambahan Menurut Pakar Gizi
Bukan Sekadar Viral, Inilah Alasan Mengapa Ubi Cream Cheese Butuh ‘Sentuhan’ Protein Tambahan Menurut Pakar Gizi

Jika Anda sedang melakukan carbo loading, pilihlah sumber karbohidrat yang rendah serat seperti nasi putih atau pasta putih daripada gandum utuh untuk sementara waktu, guna mengurangi beban kerja usus di hari H. Mengenali karakteristik tubuh sendiri adalah kunci utama, karena sensitivitas usus setiap orang berbeda-beda.

Sebagai penutup, meskipun sering kentut saat lari terasa memalukan atau mengganggu, ingatlah bahwa itu adalah sinyal bahwa sistem tubuh Anda sedang bekerja keras merespons aktivitas fisik yang Anda lakukan. Dengan manajemen nutrisi yang tepat dan pemahaman akan reaksi tubuh, Anda bisa berlari dengan lebih percaya diri tanpa harus khawatir dengan ‘suara-suara sumbang’ dari perut Anda.

Tetaplah berlari, tetaplah sehat, dan jangan biarkan masalah pencernaan menghalangi langkah Anda menuju garis finish. Karena pada akhirnya, kenyamanan perut adalah investasi terbesar bagi performa lari yang gemilang.

dr. Sarah Amelia

dr. Sarah Amelia

Praktisi kesehatan yang aktif mengedukasi gaya hidup sehat. Menyediakan informasi medis yang mudah dipahami dan akurat hanya di Suara Sehat.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *