Bahaya Tersembunyi di Balik Tren Minum Banyak Suplemen: Neurolog Peringatkan Risiko Kerusakan Saraf Permanen

dr. Sarah Amelia | SuaraInfo
01 Jun 2026, 05:25 WIB
Bahaya Tersembunyi di Balik Tren Minum Banyak Suplemen: Neurolog Peringatkan Risiko Kerusakan Saraf Permanen

SuaraInfo — Jagat maya baru-baru ini digemparkan oleh aksi seorang influencer yang secara terang-terangan mengonsumsi 11 jenis suplemen sekaligus dalam satu kali minum. Video tersebut tidak hanya memicu perdebatan panas di kalangan warganet, tetapi juga mengundang perhatian serius dari para praktisi kesehatan dan ahli saraf. Fenomena yang sering dianggap sebagai upaya ‘bio-hacking’ atau optimasi kesehatan ini justru menyimpan risiko besar yang jarang disadari oleh masyarakat awam, terutama terkait kesehatan sistem saraf pusat dan tepi.

Menyikapi tren yang mengkhawatirkan ini, kesehatan saraf menjadi topik utama yang perlu dipahami secara mendalam. Neurolog ternama, Prof. Dr. Rizaldy Taslim Pinzon, menegaskan bahwa penggunaan suplemen pada dasarnya adalah tindakan medis yang harus disesuaikan dengan kebutuhan fisiologis masing-masing individu. Menurutnya, tubuh manusia bukanlah ‘wadah kosong’ yang bisa dijejali berbagai zat gizi tanpa perhitungan matang mengenai dosis, interaksi zat, hingga ambang batas toleransi organ tubuh.

Ancaman Neuropati di Balik Overdosis Vitamin

Salah satu poin krusial yang disoroti oleh Prof. Rizaldy adalah risiko penggunaan vitamin B6 yang berlebihan. Meskipun vitamin ini dikenal luas bermanfaat untuk metabolisme dan fungsi otak, konsumsi dalam dosis tinggi yang melampaui batas wajar dapat memicu kondisi medis yang disebut neuropati perifer. Kondisi ini merupakan gangguan pada saraf tepi yang mengirimkan sinyal antara sistem saraf pusat ke seluruh bagian tubuh lainnya.

Baca Juga Waspada! Kebiasaan Sepele Ini Bisa Menghambat Tinggi Badan Anak: Panduan Lengkap Tumbuh Kembang Optimal
Waspada! Kebiasaan Sepele Ini Bisa Menghambat Tinggi Badan Anak: Panduan Lengkap Tumbuh Kembang Optimal

“Para neurolog mencatat bahwa meskipun kasus neuropati perifer akibat kelebihan vitamin B6 tergolong jarang jika dibandingkan dengan kekurangan nutrisi, namun kesadaran akan bahaya dosis berlebih ini harus ditingkatkan. Terutama pada individu yang memiliki kebiasaan mengonsumsi lebih dari satu jenis suplemen secara bersamaan tanpa konsultasi medis,” jelas Prof. Rizaldy saat dihubungi oleh tim SuaraInfo.

Gejala dari gangguan saraf ini tidak boleh disepelekan. Seseorang yang mulai mengalami toksisitas vitamin mungkin akan merasakan sensasi kesemutan yang terus-menerus, baal atau mati rasa pada ujung jari tangan dan kaki, hingga rasa nyeri yang menusuk. Dalam jangka panjang, jika asupan suplemen berlebih tidak segera dihentikan, kerusakan saraf tersebut bisa menjadi lebih serius dan mengganggu mobilitas sehari-hari.

Memahami Batas Toleransi Vitamin B6 dalam Tubuh

Vitamin B6 atau piridoksin adalah nutrisi esensial yang sebenarnya sangat dibutuhkan tubuh untuk mendukung sistem kekebalan dan fungsi saraf yang sehat. Namun, kunci dari kesehatan adalah keseimbangan. Untuk orang dewasa sehat, kebutuhan harian vitamin B6 sebenarnya hanya berkisar antara 1,3 hingga 2 miligram per hari. Angka ini secara alami sangat mudah dipenuhi melalui pola makan yang bergizi seimbang.

Baca Juga Bahaya Tersembunyi di Balik Lezatnya Kue Putu: Mengapa Pipa PVC Bukan Teman Pengukus yang Aman?
Bahaya Tersembunyi di Balik Lezatnya Kue Putu: Mengapa Pipa PVC Bukan Teman Pengukus yang Aman?

Beberapa sumber makanan yang kaya akan vitamin B6 meliputi:

  • Ikan laut dan daging unggas.
  • Telur ayam.
  • Umbi-umbian seperti kentang.
  • Buah-buahan, terutama pisang.
  • Kacang-kacangan dan biji-bijian.

Prof. Rizaldy mengingatkan bahwa ketika seseorang sudah mengonsumsi makanan tersebut dan ditambah lagi dengan berbagai suplemen kesehatan dalam dosis tinggi, maka terjadilah akumulasi zat yang dapat membebani ginjal dan sistem saraf. Pendekatan yang benar bukanlah menghindari suplemen secara total, melainkan memastikan bahwa penggunaannya didasarkan pada data medis, seperti hasil tes darah yang menunjukkan adanya defisiensi.

Siapa yang Benar-Benar Membutuhkan Suplemen?

Meskipun ada peringatan keras mengenai konsumsi berlebih, pakar saraf ini juga menjelaskan bahwa ada kelompok tertentu yang memang memerlukan dukungan suplemen tambahan. Namun, pemberiannya pun harus di bawah pengawasan tenaga medis profesional agar tetap berada dalam koridor keamanan.

Kelompok yang biasanya memerlukan asupan tambahan meliputi:

  1. Ibu hamil dan menyusui yang membutuhkan dukungan nutrisi ekstra untuk perkembangan janin.
  2. Lansia yang fungsi penyerapan nutrisinya mulai menurun secara alami.
  3. Penderita penyakit kronis seperti diabetes atau gangguan ginjal yang seringkali mengalami ketidakseimbangan elektrolit dan vitamin.
  4. Individu yang mengonsumsi obat-obatan jangka panjang yang dapat menghambat penyerapan zat gizi tertentu.
  5. Orang dengan gangguan malabsorpsi atau kondisi sistem pencernaan spesifik.

“Pendekatan yang bijak adalah memastikan penggunaan suplemen berbasis ilmu pengetahuan dan disesuaikan dengan kebutuhan biologis unik setiap orang, bukan sekadar mengikuti tren viral di media sosial,” tambah Prof. Rizaldy.

Baca Juga Jebakan Manis Minuman Less Sugar: Menkes Soroti Bahaya Gula Tersembunyi di Balik Topping Boba
Jebakan Manis Minuman Less Sugar: Menkes Soroti Bahaya Gula Tersembunyi di Balik Topping Boba

Perspektif Farmasi: Bahaya Tumpang Tindih Kandungan (Overlapping)

Senada dengan hal tersebut, Guru Besar Farmasi dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof. Zullies Ikawati, turut memberikan pandangannya dari sisi farmakologi. Ia menekankan bahwa tidak ada angka pasti mengenai berapa jumlah maksimal botol suplemen yang boleh diminum seseorang dalam sehari, karena yang terpenting adalah akumulasi total dari kandungan di dalamnya.

Masalah utama yang sering muncul pada mereka yang meminum banyak suplemen sekaligus adalah ‘tumpang tindih’ atau interaksi obat dan zat gizi. Sebagai contoh, seseorang mungkin meminum suplemen multivitamin, lalu ditambah lagi dengan suplemen khusus vitamin B kompleks, dan suplemen daya tahan tubuh lainnya. Tanpa disadari, ketiga produk tersebut mungkin sama-sama mengandung vitamin B6 dalam dosis tinggi.

“Namanya suplemen itu kan artinya tambahan. Jadi, ia baru digunakan jika memang tubuh kekurangan. Kita tidak bisa membatasi secara kaku harus sekian jenis suplemen, karena itu sangat bergantung pada kondisi fisik dan pola makan seseorang,” ujar Prof. Zullies kepada SuaraInfo. Ia juga mengingatkan bahwa suplemen bukanlah pengganti makanan utama. Nutrisi terbaik tetap berasal dari sumber alami yang memiliki bioavailabilitas lebih baik bagi tubuh.

Baca Juga Alarm Bahaya! Tren Kanker Usus Buntu Menghantui Milenial dan Gen X: Kenali Gejala dan Risikonya
Alarm Bahaya! Tren Kanker Usus Buntu Menghantui Milenial dan Gen X: Kenali Gejala dan Risikonya

Tips Bijak Mengonsumsi Suplemen agar Tetap Aman

Agar tidak terjebak dalam euforia tren kesehatan yang menyesatkan, SuaraInfo merangkum beberapa langkah praktis bagi Anda sebelum memutuskan untuk mengonsumsi suplemen:

  • Baca Label dengan Teliti: Periksa kandungan setiap produk. Perhatikan persentase Angka Kecukupan Gizi (AKG). Jika sudah mencapai 100% dari satu produk, Anda mungkin tidak butuh produk lain dengan kandungan serupa.
  • Kenali Sinyal Tubuh: Jika setelah rutin minum suplemen Anda justru merasa sering pusing, mual, atau timbul sensasi aneh pada saraf, segera hentikan pemakaian dan konsultasi ke dokter.
  • Prioritaskan ‘Food First’: Optimalkan asupan dari sayur, buah, dan protein hewani sebelum beralih ke produk olahan pabrik.
  • Konsultasi Profesional: Jangan ragu untuk bertanya kepada dokter atau apoteker mengenai potensi interaksi antar suplemen yang Anda konsumsi.

Fenomena influencer yang menenggak belasan suplemen mungkin terlihat keren secara visual dan memberikan kesan ‘sadar kesehatan’. Namun, secara medis, hal tersebut bisa menjadi ‘bom waktu’ bagi kesehatan saraf dan organ dalam. Jadilah konsumen yang cerdas dan tidak mudah tergiur oleh klaim kesehatan instan tanpa dasar sains yang kuat.

Baca Juga Membongkar Mitos Ultra Processed Food: Benarkah 5 Produk Harian Ini Berbahaya Bagi Kesehatan?
Membongkar Mitos Ultra Processed Food: Benarkah 5 Produk Harian Ini Berbahaya Bagi Kesehatan?

Kesehatan adalah investasi jangka panjang, dan sistem saraf kita adalah aset yang tak ternilai harganya. Jangan korbankan fungsi saraf Anda demi mengikuti tren yang belum tentu memberikan manfaat nyata bagi tubuh Anda. Tetaplah terinformasi dengan berita akurat hanya di SuaraInfo untuk menjaga gaya hidup sehat yang benar dan aman.

dr. Sarah Amelia

dr. Sarah Amelia

Praktisi kesehatan yang aktif mengedukasi gaya hidup sehat. Menyediakan informasi medis yang mudah dipahami dan akurat hanya di Suara Sehat.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *