Dilema Masa Depan Negeri Sakura: Mengapa Lebih dari 60 Persen Wanita Muda Jepang Memilih untuk Tidak Memiliki Anak?

dr. Sarah Amelia | SuaraInfo
24 Apr 2026, 05:29 WIB
Dilema Masa Depan Negeri Sakura: Mengapa Lebih dari 60 Persen Wanita Muda Jepang Memilih untuk Tidak Memiliki Anak?

SuaraInfo — Jepang kini tengah berada di persimpangan jalan yang menentukan masa depan peradabannya. Fenomena penurunan minat untuk memiliki keturunan, atau yang sering disebut sebagai resesi seks dan tren childfree, bukan lagi sekadar isu pinggiran, melainkan telah menjadi realitas sosial yang mengakar kuat. Sebuah laporan terbaru mengungkapkan fakta yang cukup mengejutkan: mayoritas wanita muda lajang di Negeri Sakura secara terbuka menyatakan keengganan mereka untuk menjadi orang tua di masa depan.

Survei tahunan yang dirilis oleh Rohto Pharmaceutical Co untuk tahun 2025 membawa temuan yang melampaui prediksi banyak pihak. Untuk pertama kalinya dalam sejarah jajak pendapat tersebut sejak dimulai pada tahun 2018, jumlah wanita muda yang tidak menginginkan anak kini secara signifikan melampaui jumlah pria dengan pandangan serupa. Angka ini mencerminkan pergeseran paradigma yang mendalam di tengah masyarakat Jepang yang secara tradisional sangat menghargai struktur keluarga.

Lonjakan Angka Keengganan: Rekor Tertinggi Sejak 2018

Data yang dihimpun oleh Rohto Pharmaceutical Co melibatkan 400 responden pria dan wanita lajang dalam rentang usia produktif, yakni 18 hingga 29 tahun. Hasilnya cukup memberikan gambaran tentang krisis populasi yang menghantui Jepang. Hanya sekitar 37,4 persen dari total responden yang menyatakan keinginan untuk memiliki anak di masa depan. Sebaliknya, sebanyak 62,4 persen responden dengan tegas menjawab bahwa mereka tidak memiliki keinginan tersebut.

Baca Juga Komitmen Kemanusiaan: Menkes Kawal Penuh Rekonstruksi Wajah Korban Penyekapan Tiga Tahun di Bandung
Komitmen Kemanusiaan: Menkes Kawal Penuh Rekonstruksi Wajah Korban Penyekapan Tiga Tahun di Bandung

Jika kita membedah data ini berdasarkan jenis kelamin, terlihat adanya anomali yang menarik sekaligus mengkhawatirkan. Persentase pria yang enggan memiliki anak mengalami kenaikan tipis sebesar 0,8 poin persentase dari tahun sebelumnya, mencapai angka 60,7 persen. Namun, lonjakan yang sangat drastis justru terjadi pada kelompok wanita. Persentase wanita muda yang menolak keinginan memiliki anak melonjak sebesar 11,6 persen, menyentuh angka 64,7 persen. Ini adalah titik sejarah baru di mana suara wanita lebih dominan dalam menyatakan penolakan terhadap peran sebagai ibu dalam konteks tren childfree global.

Beban Finansial: Tembok Besar yang Menghadang

Mengapa tren ini begitu masif? SuaraInfo mencoba menelaah lebih dalam mengenai akar permasalahannya. Alasan yang paling mendominasi di balik keputusan ini adalah faktor ekonomi. Di tengah stagnasi pertumbuhan ekonomi dan tingginya biaya hidup di kota-kota besar seperti Tokyo atau Osaka, membesarkan anak dianggap sebagai sebuah kemewahan yang sulit dijangkau.

Berdasarkan survei tersebut, sebanyak 63,2 persen pria dan 71,7 persen wanita menempatkan beban finansial sebagai kekhawatiran utama mereka. Faktor ini mencakup biaya pendidikan yang terus meroket, kebutuhan pangan, hingga biaya perumahan yang tidak ramah bagi keluarga muda. Masyarakat Jepang merasa bahwa tanpa stabilitas ekonomi keluarga yang mumpuni, menghadirkan nyawa baru ke dunia hanya akan menambah beban hidup yang sudah berat.

Baca Juga Menguak Rahasia Warna Keju: Benarkah Warna Oranye Lebih Bergizi daripada Putih?
Menguak Rahasia Warna Keju: Benarkah Warna Oranye Lebih Bergizi daripada Putih?

Dilema Karier: Antara Ambisi dan Pengasuhan

Selain masalah uang, faktor perkembangan karier menjadi sandungan besar lainnya. Di Jepang, budaya kerja yang dikenal sangat intens seringkali tidak memberikan ruang bagi fleksibilitas pengasuhan anak. Sebanyak 51,2 persen pria dan 61,4 persen wanita mengakui bahwa ketakutan terbesar mereka adalah terhambatnya kemajuan profesional jika mereka memutuskan untuk memiliki anak.

Wanita, secara khusus, merasakan tekanan yang jauh lebih berat. Mereka seringkali dihadapkan pada pilihan sulit: menjadi ibu rumah tangga penuh waktu dan meninggalkan karier, atau tetap bekerja namun dengan beban ganda yang melelahkan. Fenomena “Matuhara” (maternity harassment) di tempat kerja juga masih menjadi momok yang menakutkan, sehingga banyak wanita lebih memilih untuk menjaga kemandirian wanita secara finansial dan profesional daripada mengambil risiko kehilangan posisi mereka di tangga karier.

Ketakutan yang Menular ke Pasangan Menikah

Menariknya, sentimen negatif terhadap pengasuhan anak ini tidak hanya dirasakan oleh mereka yang masih melajang. SuaraInfo mencatat bahwa survei tersebut juga menjangkau 800 responden yang sudah menikah dalam rentang usia 25 hingga 44 tahun yang sebenarnya memiliki keinginan memiliki anak. Namun, keinginan tersebut dibayangi oleh kecemasan yang luar biasa.

Baca Juga Tubuh Sering Lemas Meski Sudah Cukup Istirahat? Kenali Sinyal Bahaya Diabetes Ringan yang Kerap Terabaikan
Tubuh Sering Lemas Meski Sudah Cukup Istirahat? Kenali Sinyal Bahaya Diabetes Ringan yang Kerap Terabaikan

Hasil survei menunjukkan:

  • 52 persen pria dan 64,1 persen wanita menikah merasa cemas bahwa memiliki anak akan mengganggu stabilitas karier mereka.
  • Sebanyak 53,3 persen pria dan 66,8 persen wanita bahkan sudah mempertimbangkan untuk melakukan career switch atau berpindah posisi kerja demi bisa menyeimbangkan peran antara pekerjaan dan pengasuhan.

Kondisi ini menunjukkan bahwa infrastruktur sosial dan dukungan di lingkungan kerja di Jepang masih sangat jauh dari kata ideal. Pasangan suami istri merasa harus berjuang sendirian tanpa adanya sistem pendukung yang memadai dari perusahaan maupun pemerintah secara efektif.

Budaya Memendam Masalah: Kurangnya Konsultasi di Tempat Kerja

Salah satu fakta memprihatinkan yang terungkap adalah betapa tertutupnya masyarakat Jepang dalam menghadapi masalah pribadi terkait keluarga. Sebanyak 43,8 persen pria dan 41,4 persen wanita yang sudah menikah memilih untuk memendam kekhawatiran mereka sendiri tanpa berkonsultasi dengan siapa pun. Jika pun mereka berbicara, pasangan adalah satu-satunya tempat berbagi, sebagaimana diakui oleh sekitar 40 persen responden.

Sangat sedikit dari mereka yang berani berbicara dengan atasan atau rekan kerja mengenai dilema ini—hanya sekitar 4 persen. Hal ini menunjukkan adanya jurang komunikasi yang lebar di dunia kerja Jepang. Kesehatan mental para pekerja muda pun terancam karena mereka merasa tidak memiliki saluran yang aman untuk mengekspresikan ketakutan mereka akan masa depan keluarga.

Baca Juga Euphoria Idul Adha: Waspadai Ancaman Kesehatan di Balik Nikmatnya Daging Kurban, Begini Pesan Dokter Spesialis
Euphoria Idul Adha: Waspadai Ancaman Kesehatan di Balik Nikmatnya Daging Kurban, Begini Pesan Dokter Spesialis

Tantangan Serius di Tengah Populasi yang Menua

Fenomena ini bukan sekadar statistik di atas kertas. Jepang saat ini sedang berpacu dengan waktu melawan penurunan angka kelahiran yang terus mencapai titik terendah setiap tahunnya. Dengan populasi yang semakin menua dan tenaga kerja yang menyusut, keengganan wanita muda untuk memiliki anak adalah alarm keras bagi keberlangsungan ekonomi negara.

Pemerintah Jepang telah mencoba berbagai kebijakan, mulai dari subsidi tunai hingga janji perbaikan fasilitas penitipan anak. Namun, selama budaya kerja tidak berubah dan beban domestik masih dianggap sebagai tanggung jawab utama wanita, maka angka-angka dalam survei Rohto ini kemungkinan besar akan terus meningkat. Dibutuhkan revolusi struktural dalam memandang keseimbangan hidup (work-life balance) agar generasi muda Jepang kembali melihat masa depan yang cerah dalam membangun sebuah keluarga.

Pada akhirnya, pilihan untuk tidak memiliki anak adalah hak personal. Namun, ketika pilihan tersebut diambil karena rasa takut akan kemiskinan atau kegagalan karier, maka ada sesuatu yang salah dalam sistem sosial sebuah negara. Jepang kini menjadi cermin bagi banyak negara maju lainnya di Asia, termasuk Indonesia, untuk mulai serius membenahi sistem pendukung bagi keluarga muda sebelum krisis yang sama mengetuk pintu rumah kita.

Baca Juga Ikan Gabus: Superfood Lokal Penakluk Protein Tinggi, Pakar UGM Beberkan Rahasia di Balik Khasiatnya
Ikan Gabus: Superfood Lokal Penakluk Protein Tinggi, Pakar UGM Beberkan Rahasia di Balik Khasiatnya
dr. Sarah Amelia

dr. Sarah Amelia

Praktisi kesehatan yang aktif mengedukasi gaya hidup sehat. Menyediakan informasi medis yang mudah dipahami dan akurat hanya di Suara Sehat.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *