Investasi Kesehatan Sejak Dini: AQUA Perkuat Edukasi Hidrasi Berkualitas Lewat Program Goes to Hospital
SuaraInfo — Menjaga kesehatan keluarga seringkali dimulai dari kebiasaan paling sederhana di meja makan: segelas air putih. Namun, di balik kesederhanaan tersebut, tersimpan tantangan besar mengenai kualitas dan konsistensi hidrasi yang seringkali luput dari perhatian para orang tua. Memahami urgensi ini, AQUA berkolaborasi dengan platform parenting The Asian Parents menginisiasi sebuah gerakan edukatif bertajuk ‘AQUA Goes to Hospital: Langkah Sehat Keluarga Adem’.
Program yang dirancang secara maraton dari bulan April hingga Desember 2026 ini menyasar sejumlah rumah sakit terkemuka di wilayah Jakarta dan sekitarnya. Salah satu momentum penting baru saja sukses digelar di RS Mitra Keluarga Bintaro. Dengan mengusung tema ‘Langkah Kecil, Dampak Besar: Tips Pilih Hidrasi Terbaik untuk Keluarga’, acara ini bukan sekadar sosialisasi biasa, melainkan sebuah dialog interaktif yang mempertemukan para ahli medis dengan para ibu yang memegang peranan vital dalam manajemen kesehatan rumah tangga.
Sinergi Strategis demi Proteksi Keluarga
Marketing Manager AQUA, Fella Falencia, menekankan bahwa inisiatif ini lahir dari visi yang sama antara penyedia layanan kesehatan dan industri. Menurutnya, edukasi mengenai hidrasi sehat harus dilakukan secara masif dan menyentuh akar rumput, terutama di fasilitas kesehatan tempat para ibu mencari referensi medis terpercaya.
“Seri edukasi ini adalah wujud nyata komitmen kami bersama RS Mitra Keluarga Bintaro dan The Asian Parents. Kami ingin memberdayakan para ibu agar memiliki bekal pengetahuan yang kuat dalam memilih air minum yang bukan hanya sekadar basah, tapi benar-benar berkualitas untuk mendukung tumbuh kembang anak dan kesehatan anggota keluarga lainnya,” ujar Fella dalam keterangan resminya kepada tim SuaraInfo.
Fella juga menggarisbawahi bahwa pemilihan air mineral yang aman adalah bentuk investasi kesehatan jangka panjang. Dengan menggandeng tenaga ahli, AQUA berupaya mendorong perubahan perilaku masyarakat agar tidak lagi memandang sebelah mata peran air mineral berkualitas dalam memproteksi tubuh dari risiko penyakit.
Fenomena Dehidrasi Tersembunyi di Tengah Masyarakat
Dalam kesempatan yang sama, dr. Adelina Haryono, SpGK, AIFO-K, seorang Dokter Spesialis Gizi Klinis dari RS Mitra Keluarga Bintaro, memaparkan data yang cukup mengejutkan. Meski Indonesia merupakan negara tropis, kesadaran akan kecukupan cairan masih tergolong rendah. Banyak individu yang merasa sudah cukup minum, namun secara klinis masih berada dalam kondisi dehidrasi ringan.
“Faktanya, satu dari lima anak-anak dan remaja kita belum mencukupi kebutuhan cairan hariannya. Begitu juga dengan orang dewasa, di mana satu dari empat orang masih kekurangan minum. Ini adalah ‘hidden hunger’ dalam hal cairan,” ungkap dr. Adelina. Ia menjelaskan bahwa tubuh manusia terdiri dari 50% hingga 60% air. Setiap sel, jaringan, dan organ bergantung pada air untuk berfungsi secara optimal, mulai dari menjaga suhu tubuh hingga melumasi sendi.
Kebutuhan air setiap orang berbeda, namun secara umum, anak-anak membutuhkan 1,2 hingga 1,5 liter per hari, sementara dewasa memerlukan 1,8 hingga 2 liter. Pesan penting dari dr. Adelina adalah agar masyarakat berhenti menggunakan rasa haus sebagai satu-satunya indikator untuk minum. “Jangan menunggu haus, karena haus adalah sinyal darurat bahwa tubuh sudah mulai mengalami defisit cairan,” tegasnya.
Ancaman E. Coli dan Risiko Stunting yang Nyata
Aspek keamanan air minum menjadi sorotan tajam dalam diskusi ini. Dr. Tria Rosemiarti, Dipl in Nutrition, MKK, dari Nutrition Design & Hydration Science Research and Innovation AQUA, mengungkapkan realitas pahit mengenai kualitas air di Indonesia berdasarkan Studi Kualitas Air Minum Rumah Tangga (SKAMRT).
Data menunjukkan bahwa 7 dari 10 rumah tangga di Indonesia mengonsumsi air yang terkontaminasi bakteri E. coli. Hal ini menjadi paradoks di tengah meningkatnya kesadaran hidup bersih pasca-pandemi. Dr. Tria mengingatkan bahwa merebus air memang dapat membunuh bakteri, namun tidak efektif menghilangkan kandungan logam berat atau senyawa kimia berbahaya jika sumber airnya sendiri sudah tercemar sejak awal.
Dampak dari konsumsi air yang tidak higienis ini jauh lebih mengerikan dari sekadar sakit perut. Ada kaitan erat antara air minum yang terkontaminasi dengan risiko stunting pada anak. “Penelitian terbaru menunjukkan bahwa anak yang rutin terpapar air dengan kontaminasi mikrobiologis memiliki risiko stunting hingga 4,14 kali lebih tinggi. Ini adalah angka yang sangat mengkhawatirkan bagi masa depan generasi kita,” jelas dr. Tria.
Kontaminasi ini menyebabkan gangguan penyerapan nutrisi kronis. Akibatnya, pertumbuhan fisik terhambat, daya ingat melemah, serta kemampuan bahasa dan performa akademik anak di sekolah menurun secara signifikan. Oleh karena itu, memastikan sumber air yang terlindungi dan teruji secara klinis adalah langkah non-negosiasi bagi orang tua.
Peran Ibu Sebagai ‘Menteri Kesehatan’ Rumah Tangga
Menutup sesi edukasi, Almiranti Fira yang dikenal sebagai sosok ‘Ibu Bijak AQUA’, membagikan perspektif praktis dari sisi parenting. Ia percaya bahwa kebiasaan baik tidak bisa dipaksakan, melainkan harus dicontohkan secara konsisten oleh orang tua.
“Di rumah, ibu adalah menteri kesehatan. Apa yang kita sediakan di atas meja adalah apa yang akan membentuk kesehatan anak-anak kita di masa depan. Memilih air minum yang sudah terjamin kualitasnya adalah langkah paling simpel namun berdampak luar biasa,” kata Fira. Ia juga menyarankan agar orang tua menyediakan air minum di tempat-tempat yang mudah dijangkau oleh anak dan membuat jadwal minum yang menyenangkan agar menjadi rutinitas tanpa paksaan.
Program ‘AQUA Goes to Hospital’ ini diharapkan menjadi katalisator bagi keluarga Indonesia untuk lebih selektif dalam memilih kebutuhan hidrasi harian. Dengan dukungan tenaga medis dan edukasi yang berkelanjutan, langkah kecil memilih air minum berkualitas diharapkan mampu membawa dampak besar bagi terciptanya generasi Indonesia yang lebih sehat, cerdas, dan bebas stunting.
Kunjungan ke berbagai rumah sakit ini akan terus berlanjut sebagai bagian dari kampanye besar untuk memastikan setiap keluarga mendapatkan akses terhadap informasi kesehatan keluarga yang akurat dan berbasis sains.