Krisis Imunisasi di Aceh: Mengapa 281 Ribu Anak Terjebak dalam Status ‘Zero Dose’?

dr. Sarah Amelia | SuaraInfo
23 Mei 2026, 23:27 WIB
Krisis Imunisasi di Aceh: Mengapa 281 Ribu Anak Terjebak dalam Status 'Zero Dose'?

SuaraInfo — Provinsi Aceh kini tengah berada dalam sorotan tajam di panggung kesehatan nasional. Di balik julukannya sebagai ‘Serambi Mekkah’, tersimpan sebuah realita pahit yang mengancam masa depan generasi mudanya. Data terbaru mengungkapkan sebuah angka yang mencengangkan: sekitar 281 ribu anak di Aceh tercatat belum pernah mendapatkan imunisasi sama sekali, atau dalam istilah medis dikenal dengan kategori zero dose, sepanjang periode 2021 hingga 2025.

Fenomena ini bukan sekadar angka di atas kertas, melainkan sebuah alarm keras bagi ketahanan kesehatan masyarakat di ujung barat Indonesia. Secara global, posisi Indonesia pun tidak kalah memprihatinkan. Berdasarkan data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Indonesia menempati urutan ke-6 sebagai negara dengan angka zero dose tertinggi di dunia. Setidaknya ada 2,3 juta anak di seluruh nusantara yang belum tersentuh vaksinasi dasar rutin sejak mereka dilahirkan ke dunia.

Aceh di Titik Nadir Cakupan Imunisasi Nasional

Plt Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Aceh, Ferdiyus, memaparkan fakta yang cukup menyakitkan bagi dunia medis setempat. Dalam sebuah agenda media briefing bertajuk ‘Mengejar Anak Zero Dose Imunisasi di Kota Banda Aceh’ yang digelar baru-baru ini, ia menyebutkan bahwa Aceh masuk dalam daftar tiga wilayah terbawah dengan capaian imunisasi bayi lengkap pada tahun 2025.

Baca Juga Tragedi Peserta SPPI: Mengapa Heat Stroke Bisa Menyebabkan Henti Jantung Mendadak? Ini Penjelasan Medisnya
Tragedi Peserta SPPI: Mengapa Heat Stroke Bisa Menyebabkan Henti Jantung Mendadak? Ini Penjelasan Medisnya

“Untuk kategori usia 0-11 bulan, capaian kita hanya menyentuh angka 34,3 persen,” ungkap Ferdiyus dengan nada prihatin. Padahal, imunisasi anak merupakan tameng utama dalam mencegah berbagai penyakit menular yang mematikan. Rendahnya angka ini menunjukkan adanya jurang yang lebar antara ketersediaan fasilitas kesehatan dengan kesediaan masyarakat untuk memanfaatkannya.

Yang lebih ironis, sejarah mencatat bahwa Aceh pernah menjadi pionir keberhasilan imunisasi di masa lalu. Pada tahun 1994, provinsi ini sempat mencatatkan rekor cakupan imunisasi hingga mencapai 99,9 persen. Sebuah angka yang hampir sempurna, yang kini terasa seperti dongeng lama mengingat tren penurunan yang terus terjadi dari tahun ke tahun.

Realita Pahit: Anak Tenaga Kesehatan Pun Terlewatkan

Salah satu fakta paling mengejutkan yang diungkapkan oleh pihak Dinas Kesehatan adalah temuan di lapangan mengenai adanya anak-anak dari kalangan tenaga kesehatan (nakes) sendiri yang tidak mendapatkan imunisasi. Hal ini menjadi paradoks yang menyedihkan, mengingat nakes seharusnya menjadi garda terdepan sekaligus role model dalam edukasi kesehatan.

“Yang paling sedih lagi, kita masih menemukan anak-anak dari tenaga kesehatan yang tidak mau diimunisasi. Fakta ini benar-benar ada di lapangan,” tutur Ferdiyus. Fenomena ini mengindikasikan bahwa keraguan terhadap vaksinasi telah merambah hingga ke lingkaran profesional medis, yang dipicu oleh berbagai faktor kompleks, mulai dari dogma pribadi hingga pengaruh informasi yang tidak akurat.

Baca Juga Bahaya Tersembunyi di Balik Tren WFC: Tips Ahli Menghindari Saraf Kejepit Saat Bekerja di Kafe
Bahaya Tersembunyi di Balik Tren WFC: Tips Ahli Menghindari Saraf Kejepit Saat Bekerja di Kafe

Dominasi Peran Ayah dan Ketakutan Akan Efek Samping

Mengapa angka zero dose di Aceh begitu sulit ditekan? Sekretaris Dinas Kesehatan Kota Banda Aceh, Nuraihan, mencoba membedah akar permasalahannya. Berdasarkan survei kolaboratif antara Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) dan Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala (USK) pada akhir 2025, ditemukan bahwa faktor izin keluarga menjadi hambatan utama.

Di Aceh, struktur pengambilan keputusan dalam keluarga masih sangat kental dengan budaya patriarki. “Alasan penolakan utama adalah belum adanya izin dari sang ayah,” kata Nuraihan. Dalam banyak kasus, ibu sebenarnya memiliki keinginan untuk membawa anaknya ke Posyandu, namun terbentur oleh keputusan sang ayah yang memegang kendali penuh atas izin medis anggota keluarga.

Ketakutan ayah ini biasanya didasari oleh kekhawatiran akan reaksi pasca-imunisasi, seperti demam atau anak yang menjadi rewel. Nuraihan menjelaskan skenario tipikal yang terjadi: seorang ayah pulang kerja di sore hari dengan harapan bisa beristirahat, namun mendapati anaknya menangis karena demam setelah imunisasi di pagi hari. Pengalaman ini menciptakan trauma kecil yang membuat sang ayah enggan memberikan izin untuk dosis berikutnya demi menjaga ketenangan di rumah.

Baca Juga Visi Besar Menkes Budi Gunadi: Menghapus Stigma ‘Kelas Dua’ bagi Dokter Puskesmas Demi Transformasi Kesehatan Nasional
Visi Besar Menkes Budi Gunadi: Menghapus Stigma ‘Kelas Dua’ bagi Dokter Puskesmas Demi Transformasi Kesehatan Nasional

Mitos, Konspirasi, dan Kelelahan Mental Petugas Lapangan

Selain faktor domestik, hambatan lain datang dari sistem imunisasi itu sendiri. Metode ‘multi-injeksi’ atau pemberian lebih dari satu jenis vaksin dalam satu kunjungan sering kali membuat orang tua merasa iba atau takut berlebihan terhadap rasa sakit yang dialami anak. Padahal, metode ini secara medis aman dan jauh lebih efisien untuk memberikan perlindungan menyeluruh.

Di sisi lain, narasi-narasi negatif dan teori konspirasi mengenai ‘agenda asing’ atau isu kehalalan vaksin masih menghantui sebagian masyarakat. Kurangnya informasi yang utuh dan mudah dicerna membuat celah-celah informasi ini diisi oleh hoaks yang meresahkan. Akibatnya, vaksinasi Aceh terus menghadapi jalan terjal.

Kondisi ini pada akhirnya berdampak pada kondisi psikologis para petugas kesehatan di lapangan. Penolakan demi penolakan, sering kali dengan nada kasar atau skeptis, membuat banyak tenaga medis mengalami kelelahan mental. “Sudah segala macam usaha dilakukan, tapi penolakan di masyarakat tetap kuat. Kadang-kadang petugas kami merasa patah hati melihat kenyataan ini,” tutup Nuraihan.

Baca Juga Waspada! Kebiasaan Sepele Ini Bisa Menghambat Tinggi Badan Anak: Panduan Lengkap Tumbuh Kembang Optimal
Waspada! Kebiasaan Sepele Ini Bisa Menghambat Tinggi Badan Anak: Panduan Lengkap Tumbuh Kembang Optimal

Membangun Kembali Kepercayaan Publik

Menghadapi krisis ini, diperlukan pendekatan yang lebih humanis dan kultural daripada sekadar imbauan medis formal. Melibatkan tokoh agama, tokoh adat, serta melakukan pendekatan khusus kepada para ayah menjadi kunci yang selama ini mungkin terabaikan. Sosialisasi mengenai manfaat jangka panjang imunisasi dasar harus terus digalakkan agar anak-anak Aceh tidak kehilangan hak kesehatan mereka.

Kita tidak boleh lupa bahwa setiap anak yang tidak diimunisasi adalah risiko bagi anak lainnya. Dengan angka 281 ribu anak zero dose, Aceh sedang menabung risiko wabah di masa depan. Perjalanan mengembalikan kepercayaan masyarakat memang panjang, namun harus dimulai dari sekarang agar rekor 99,9 persen di tahun 1994 tidak hanya menjadi kenangan manis di buku sejarah kesehatan Aceh.

dr. Sarah Amelia

dr. Sarah Amelia

Praktisi kesehatan yang aktif mengedukasi gaya hidup sehat. Menyediakan informasi medis yang mudah dipahami dan akurat hanya di Suara Sehat.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *