Mata Merah Usai Melahirkan: Fenomena Pecah Pembuluh Darah dan Mitos Mengejan yang Perlu Ibu Tahu

dr. Sarah Amelia | SuaraInfo
30 Apr 2026, 19:42 WIB
Mata Merah Usai Melahirkan: Fenomena Pecah Pembuluh Darah dan Mitos Mengejan yang Perlu Ibu Tahu

SuaraInfo — Momen persalinan sering kali digambarkan sebagai perjuangan antara hidup dan mati, sebuah transisi emosional yang luar biasa bagi setiap wanita. Namun, di balik tangis haru bayi yang baru lahir, terkadang terselip cerita-cerita tak terduga yang dialami oleh sang ibu. Salah satu yang belakangan ini mencuri perhatian publik adalah kisah seorang wanita asal Pontianak, Kalimantan Barat, yang mengalami kondisi mata memerah secara ekstrem sesaat setelah berjuang di ruang persalinan.

Kisah ini menjadi viral setelah Olivia Ardhita Passya (27) membagikan potret dirinya dengan bagian putih mata yang tertutup warna merah pekat melalui media sosial. Pengalaman Olivia memicu diskusi hangat di kalangan netizen, terutama mengenai apa yang sebenarnya terjadi pada tubuh seorang wanita saat mengejan. Banyak yang berspekulasi, namun penjelasan medis yang akurat menjadi kunci untuk meredam kekhawatiran para calon ibu di luar sana.

Tragedi di Balik Kebahagiaan: Kisah Viral Olivia Ardhita

Melalui akun Instagram pribadinya, Olivia menceritakan bahwa kondisi matanya yang memerah diduga kuat akibat kesalahan teknik saat mengejan. Ia menduga bahwa kebiasaannya memejamkan mata dengan sangat kuat saat mendorong bayi keluar menjadi pemicu utama pecahnya pembuluh darah di matanya. “Kenapa sih bisa seperti ini, ini akibat aku ngeden ngeren tapi matanya pejam. Sebenarnya tidak boleh pejam mata ketika ngeden,” tulisnya dalam narasi yang kemudian dikutip secara luas oleh berbagai platform media sosial.

Baca Juga Misteri Wabah Hantavirus di MV Hondius: Argentina Selidiki Jejak Virus Andes di Ujung Dunia
Misteri Wabah Hantavirus di MV Hondius: Argentina Selidiki Jejak Virus Andes di Ujung Dunia

Kondisi ini tentu mengejutkan bagi banyak orang, terutama mereka yang sedang mempersiapkan diri untuk proses melahirkan. Visual mata yang merah pekat tanpa rasa sakit yang menyertai sering kali menimbulkan kesan menyeramkan, seolah-olah terjadi cedera serius pada organ penglihatan. Namun, benarkah menutup mata saat mengejan adalah penyebab tunggal dari fenomena ini?

Mitos Menutup Mata Saat Mengejan: Fakta atau Sekadar Isapan Jempol?

Dalam dunia medis, narasi yang berkembang di masyarakat sering kali berbenturan dengan fakta klinis. Menanggapi fenomena ini, dokter spesialis kandungan dr. I Gusti Ayu Sri Darmayani, SpOG, memberikan pencerahan yang sangat berharga. Menurutnya, secara ilmiah sebenarnya tidak ada aturan kaku atau larangan mutlak yang mengharuskan seorang ibu membuka atau menutup mata saat mengejan.

“Memang lebih baik jika mata terbuka, supaya ibu tetap fokus melihat ke bawah, mengurangi kecenderungan mengejan ke kepala dan memudahkan ibu mengikuti instruksi,” jelas dr. Ayu. Jadi, persoalannya bukan terletak pada apakah mata terbuka atau tertutup secara fisik, melainkan pada ke mana arah tekanan itu difokuskan. Ketika seorang ibu menutup mata dengan sangat rapat dan penuh ketegangan, ada kecenderungan alamiah bahwa tekanan tersebut akan lari ke arah wajah dan kepala, bukannya ke arah jalan lahir.

Baca Juga Waspada Jamu Oplosan! Panduan Lengkap Membedakan Produk Herbal Asli dan Ilegal demi Kesehatan Anda
Waspada Jamu Oplosan! Panduan Lengkap Membedakan Produk Herbal Asli dan Ilegal demi Kesehatan Anda

Anatomi Mengejan: Mengapa Pembuluh Darah di Mata Bisa Pecah?

Untuk memahami mengapa mata bisa memerah, kita perlu melihat bagaimana kesehatan ibu dipengaruhi oleh tekanan intra-abdomen saat persalinan. Mengejan adalah proses yang membutuhkan tenaga luar biasa besar. Secara fisiologis, ketika seorang wanita menahan napas dan mengejan (sering disebut sebagai teknik Valsalva), tekanan di dalam rongga dada dan kepala akan meningkat secara drastis.

Peningkatan tekanan yang tiba-tiba ini dapat menghambat aliran balik vena, yaitu aliran darah dari kepala kembali ke jantung. Akibatnya, pembuluh darah kecil atau kapiler di area yang sensitif seperti konjungtiva mata dapat mengalami tekanan berlebih hingga akhirnya pecah. Kondisi inilah yang secara medis disebut sebagai subconjunctival hemorrhage. Jadi, penyebab utamanya adalah teknik mengejan yang kurang tepat, di mana tekanan dialirkan ke bagian atas tubuh dan bukan ke arah otot panggul untuk mendorong bayi.

Mengenal Subconjunctival Hemorrhage dalam Dunia Persalinan

Meskipun tampak mengerikan, subconjunctival hemorrhage atau perdarahan subkonjungtiva pada dasarnya adalah kondisi yang jinak. Darah yang terjebak di bawah lapisan bening mata (konjungtiva) tidak dapat keluar, sehingga warna merahnya terlihat sangat mencolok karena latar belakang putih dari sklera mata. Namun, dr. Ayu menegaskan bahwa kondisi ini umumnya tidak disertai rasa nyeri.

Baca Juga Rahasia Kebugaran Donald Trump: Mengapa Sang Mantan Presiden Lebih Memilih Golf Ketimbang Treadmill?
Rahasia Kebugaran Donald Trump: Mengapa Sang Mantan Presiden Lebih Memilih Golf Ketimbang Treadmill?

“Kondisi ini umumnya tidak berbahaya, tidak nyeri, tidak mengganggu penglihatan, dan hilang sendiri dalam 1-2 minggu,” ungkap dr. Ayu menenangkan. Ibarat memar pada kulit, darah tersebut akan diserap kembali oleh tubuh secara perlahan. Warna merah pekat akan berubah menjadi kecokelatan atau kekuningan sebelum akhirnya kembali putih bersih seperti sedia kala tanpa memerlukan pengobatan khusus atau prosedur bedah.

Panduan Mengejan yang Benar: Fokus ke Bawah, Bukan ke Wajah

Agar terhindar dari risiko pecah pembuluh darah di mata atau wajah, para ahli tips persalinan menyarankan agar ibu fokus pada arah tekanan. Teknik mengejan yang benar seharusnya menyerupai saat seseorang sedang buang air besar (BAB) yang keras. Fokus kekuatan harus berada di otot perut dan panggul.

  • Fokuskan Tekanan ke Bawah: Arahkan tenaga ke otot panggul, bukan ke otot wajah atau leher.
  • Gunakan Pernapasan yang Teratur: Hindari menahan napas terlalu lama. Ikuti instruksi bidan atau dokter kapan harus mengambil napas dan kapan harus mendorong.
  • Tetap Buka Mata: Membuka mata membantu ibu tetap sadar akan lingkungan sekitar dan lebih mudah mengikuti arahan tim medis.
  • Posisi Tubuh: Pastikan dagu menempel di dada untuk membantu mengarahkan tenaga ke arah bawah.

Kapan Ibu Harus Khawatir? Membedakan Mata Merah Biasa dan Gangguan Serius

Walaupun sebagian besar kasus mata merah pasca melahirkan bersifat sementara, tetap ada kondisi langka yang memerlukan perhatian medis serius. dr. Ayu menyebutkan adanya laporan kasus mengenai perdarahan retina yang dipicu oleh tekanan mendadak yang sangat tinggi selama persalinan. Berbeda dengan perdarahan subkonjungtiva yang hanya di permukaan, perdarahan retina dapat memengaruhi fungsi penglihatan.

Baca Juga Potret Kelam Dokter Internship Indonesia: Antara Pengabdian, Eksploitasi, dan Ancaman Burnout Massal
Potret Kelam Dokter Internship Indonesia: Antara Pengabdian, Eksploitasi, dan Ancaman Burnout Massal

“Gejalanya bisa berupa penurunan penglihatan atau pandangan yang menjadi kabur secara tiba-tiba,” tambahnya. Jika seorang ibu merasa penglihatannya menjadi tidak jelas, muncul bintik-bintik gelap, atau merasa nyeri yang hebat di dalam bola mata setelah melahirkan, segera konsultasikan dengan dokter spesialis mata. Namun, perlu dicatat bahwa kebutaan permanen akibat mengejan adalah kejadian yang hampir tidak pernah terjadi dalam praktik medis normal.

Pentingnya Edukasi dan Pendampingan Selama Kehamilan

Kisah Olivia Ardhita menjadi pengingat penting bagi para calon orang tua tentang perlunya edukasi prenatal. Memahami cara kerja tubuh selama persalinan dapat mengurangi kecemasan dan membantu ibu untuk tetap tenang saat hari persalinan tiba. Perawatan pasca melahirkan juga mencakup pemulihan fisik ibu, termasuk memastikan bahwa kondisi seperti mata merah ini dipantau hingga sembuh total.

Banyak kelas ibu hamil atau senam hamil yang mengajarkan teknik pernapasan dan cara mengejan yang efisien. Mengikuti program seperti ini sangat disarankan agar saat proses pembukaan lengkap tiba, ibu sudah memiliki memori otot yang baik untuk mengejan dengan cara yang aman bagi dirinya dan bayi. Dukungan suami dan tim medis di ruang bersalin juga sangat krusial untuk mengingatkan ibu agar tetap fokus pada teknik yang benar.

Baca Juga Rayakan Semangat Sepak Bola, Hydro Coco Luncurkan Kampanye ‘Don’t Stop The Celebration’ yang Menginspirasi Kebersamaan
Rayakan Semangat Sepak Bola, Hydro Coco Luncurkan Kampanye ‘Don’t Stop The Celebration’ yang Menginspirasi Kebersamaan

Kesimpulan: Keindahan di Balik Perjuangan

Mata merah pasca melahirkan mungkin menjadi “medali perjuangan” yang tidak diinginkan bagi sebagian ibu, namun hal ini adalah bukti nyata betapa dahsyatnya kekuatan yang dikeluarkan oleh tubuh seorang wanita. Selama tidak ada gangguan penglihatan yang menyertai, kondisi ini hanyalah fase singkat dalam proses pemulihan yang panjang.

Bagi Anda yang sedang merencanakan kehamilan atau sedang menanti hari persalinan, jangan biarkan rasa takut akan mata merah menghantui Anda. Dengan teknik mengejan yang benar, koordinasi yang baik dengan tenaga medis, serta pemahaman akan sinyal-sinyal tubuh, proses melahirkan dapat dilalui dengan lebih nyaman dan aman. Kesehatan ibu dan bayi tetaplah menjadi prioritas utama di atas segalanya.

dr. Sarah Amelia

dr. Sarah Amelia

Praktisi kesehatan yang aktif mengedukasi gaya hidup sehat. Menyediakan informasi medis yang mudah dipahami dan akurat hanya di Suara Sehat.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *